(27)

1707 Kata
Doni tidak tahu kenapa sikap Keisha sedikit aneh setelah bangun tidur pagi ini. Gadis itu bahkan terang-terangan menatap ke arah bibirnya, jelas saja Doni aneh melihat itu. Sebagai laki-laki, ada naluri ingin mencium Keisha atau bahkan lebih dari itu. Akan tetapi, Doni lagi-lagi sadar kalau hal itu tidak akan dia lakukan sebelum Keisha sudah usai dengan masa lalunya. Dia hanya takut kalau Keisha akan terus membayangkan Alvaro ketika melakukan hal itu, begitulah pemikiran Doni saat ini. Taksi sudah melaju sedikit jauh dari toko bunga Keisha. Dia memutuskan mengantarkan gadis itu lebih dulu, barulah dia pergi ke kampus. Mengembuskan napas pelan, Doni menyandarkan punggungnya. Sedikit terpikir dengan Selly, apakah gadis itu akan tetap mengusiknya karena ingin menjadikan dirinya ini sebagai guru biolanya. Doni harap Selly sudah menyerah dan tidak memaksanya terus. "Ini, Pak. Terima kasihnya." Doni memberikan ongkos taksinya, tersenyum tipis kepada sang supir kemudian keluar dari taksi itu. Doni berjalan memasuki gerbang sekolah, tetapi baru saja sampai di lorong kampus dia malah bertemu dengan teman satu kuliahnya. "Woy, Don. Gimana itu pdkt gue sama si Selly? Katanya lo mau comblangin kita berdua." Bahu Doni rangkul oleh laki-laki itu. Doni mendengkus pelan. "Dia nggak mau surat-menyurat, terus katanya lo harus gerak sendiri tanpa bantuan dari gue. Gih, sana pdkt sendiri," suruhnya. "Heee, nih anak. Katanya mau comblangin gue, gimana sih?" "Tapi anaknya nggak mau, Ferdy. Dia rasa susah orangnya, kalo lo benar-benar naksir sama si Selly. Lo sendiri lah yang turun tangan buat dekat sama dia," kata Doni. Ferdy— nama temannya— kebetulan duduk mereka bersebelahan, maka itu dia sedikit dekat dengan laki-laki itu. Doni pikir selama berkuliah di sini dia tkdak akan memiliki teman, ternyata dia salah. "Ya, namanya gue nggak tau cara pdtk-an. Pacaran aja belum pernah," balas Ferdy dengan dengkusan kasar. "Itu salah lo sih," sambar Doni. Bahu Doni masih di rangkul oleh Ferdy kian mengeratkan rangkulan itu. "Si anak! Lo emangnya pernah pacaran?" tanyanya. Doni sontak menggeleng dengan cengiran khasnya. "Sialan!" Ferdy tertawa. "Lo ledek gue nggak pernah pacaran, lah lo sendiri juga kayak gitu," omelnya. "Ya gimana, sih. Meski gue nggak pernah pacaran gue punya seseorang yang bikin hidup gue berwarna," balas Doni, mengangkat bahunya acuh. Ferdy terlihat berdeham, mereka sudah sampai di dalam ruang kelas. Beberapa teman mereka juga sudah ada di sana, karena sepuluh menit lagi jam kuliah akan berlangsung. "Tapi gue mau tanya sesuatu sama lo," ujar Ferdy. Doni langsung menaikkan satu alisnya menunggu pertanyaan dari Ferdy itu. "Lo dari SMA kan kenal sama Selly?" Fredy akhirnya bertanya, dia pernah membicarakan hal itu kepada Ferdy, sejak awal laki-laki itu mengatakan ketertarikan dengan Selly. Doni mengangguk sebagai jawaban. "Nah, apa lo nggak pernah ada rasa sama tuh cewek? Masa kalian dekat gitu aja, tanpa ada rasa sama sekali." Ferdy kembali melanjutkan ucapannya. Doni meringis mendengar itu. Sejujurnya selama ini dia hanya menganggap Selly sebagai adiknya sendiri, tidak lebih dari dulu. Hanya saja Selly yang memendam rasa kepadanya. "Enggak ada," balas Doni. "Gue nggak bisa buka hati karena ada seseorang yang sampai saat ini bersemayam di hati gue." Lebih baik Doni mengatakan hal itu, daripada Ferdy terys bertanya-tanya tentang perasaannya terhadap Selly. Yang sesungguhnya tidak ada rasa apa-apa. Keisha tetap nomor satu di dalam hatinya, tidak ada yang lain. "Masa sih?" Ferdy kelihatan tidak percaya. "Gue merasa janggal sama pertemanan kalian ini," lanjut Ferdy lagi. Doni mengembuskan napasnya pelan. Satu kelas ini tidak ada yang mengetahui dirinya yang sebenarnya sudah menikah. Doni benar-benar menutupi identitasnya itu, tetapi rasanya saat ini dia sudah tepat untuk mengumumkannya. "Lo tau apa ini?" tanya Doni, menunjukkan cincin yang tersemat manis di jarinya. Alis Ferdy bertaut melihat cincin bulat berwarna silver itu. "Itu cincin lah, b**o! Tapi ... kalo dilihat-lihat cincinnya kayak cincin kawin, bro." Doni tersenyum kecil. "Nah, itu lo tau!" ujarnya. Mata Ferdy membola, seakan tahu apa yang mereka ceritakan saat ini. Ferdy langsung menuding Doni dengan heboh. "Itu berarti lo udah nikah, bro?" tanyanya, Doni hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya. Dia bisa melihat kalau teman satu kelasnya langsung menatap ke arah Ferdy yang sudah heboh di tempatnya. "Sialan! Lo benaran udah nikah?" tanya Ferdy lagi. Doni jadi gemas sendiri. "Iyaaa Ferdy." "Buset! Kapan woy?! Kok nggak undang-undang gue," ujar Ferdy lagi. Doni merotasikan bola matanya. "Gue nikah sebelum masuk ke sini. Ya, gimana mau ngundang lo ogeb!" Doni semakin gemas dengan sikap temannya itu, maka tidak peduli lagi Doni menoyor kepala Ferdy. Lagian mereka seumuran kok, jadi tidak masalah. "Jadi, ceritanya lo nikah muda gitu?" Oh, ternyata Ferdy masih mengintrogasinya. Doni jadi lelah sendiri meladeni dan menjawab semua pertanyaan dari Ferdy. "Ya, begitulah kiranya. Ceritanya juga panjang buat gue ceritain, bisa-bisa melebihi satu novel," seloroh Doni dengan tawa pelan. "k*****t lo!" Ferdy ikut-ikutan tertawa. Di sela tawa mereka berdua, Doni sedikit tersentak karena Ferdy menyenggol lengannya. "Apa?" tanya Doni terlihat bingung. "Tuh! Lo lihat dulu, dia kayaknya udah kama berdiri di sana. Apa dia mau lihat gue ya?" Ferdy bertanya dengan kepedean. Doni langsung menoleh ke arah yang Ferdy tunjuk. Dia tertegun melihat Selly dengan tas biolanya berdiri di ambang pintu kelas. Gadis itu tampak bergeming, dalam hati Doni juga bertanya-tanya. Apa gadis itu mendengar pembicaraan mereka tadi? Bisa mungkin, bisa saja tidak. Karena jarak mereka tidak terlalu dekat. "Sel, lo ngapain ke sini?" tanya Doni dengan wajah bingung. Laki-laki itu berdiri dari duduknya, diikuti oleh Ferdy dari belakang. Tiba di depan Selly. Doni dilanda resah karena gadis itu menatapnya dengan lekat. Tidak lama setelah itu, Selly menarik tangan kirinya di mana ada cincin nikahnya yang tersemat di jari manisnya. Doni menahan napasnya. "Jadi benar kalo ini cincin nikahnya, Don?" tanya Selly pelan. Doni mengulum bibirnya. Ini salahnya karena dari awal tidak jujur dengan gadis yang sudah lama memendam rasa terhadapnya. "Sel—" "Lo cuman perlu jawab pertanyaan gue." Tatapan Sellu berubah tajam. "Iya atau enggak!" tekan gadis itu. Doni mengusap wajahnya dengan satu tangan. Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya memilih mengangguk pelan dan tidak berani menatap Selly. Dia terlihat seperti ketahuan selingkuh, sedang Ferdy yang ada diantara mereka hanya bisa diam dan menangkap pembicaraan itu. "Oke ... seharusnya dari dulu gue nggak berharap lebih sama lo, Don." Selly menunduk. "Gue yang salah di sini, karena terlalu berharap lebih kalo lo juga punya rasa sama dengan gue," lirih Selly. "Sel," "Kenapa nggak jujur dari awal sih, Don? Biar gue sadar diri dan nggak langsung berharap lagi. Gue sebenarnya nggak percaya pas dengar pembicaraan kalian dari jauh. Tapi, setelah dapat akuan dari lo. Gue kayak ...." Selly tidak melanjutkan ucapannya lagi. "Sel, nggak gitu." "Gue nggak pernah jujur sama perasaan gue sama lo selama ini." Selly tertawa pelan, kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Doni. "Tapi Don ... gue tau kalo lo cukup peka dengan perlakuan gue selama ini. Lo juga tau gimana perasaan gue ke elo, makanya gue nggak mau berterus terang," lanjut Selly. "Maaf. Maaf karena selama ini udah lancang suka sama lo. Gue minta maaf sekali lagi." Selly kembali menunduk dengan suara sesal. Demi apa Doni membenci melihat raut wajah Selly saat ini. Dia ingin mengatakan maaf juga karena sudah tidak bisa membakas perasaan gadis itu. "Gue permisi dulu." Selly berlari meninggalkan mereka berdua di depan kelas sana. "Doni?" Ferdy tentu terkejut mendengar semuanya. Doni menggeleng pelan, kembali mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Gue nggak tau bakal kayak gini jadinya," ujarnya pelan. "Lo belum jujur sama dia?" tanya Ferdy. Dan Doni hanya bisa menggeleng. "Gue nggak mau dia terluka karena sejak dulu gue udah tau kalo dia mendam rasa sama gue," jelas Doni. Ferdy janya bisa menganga mendengar pengakuan itu. "Lo tau, Don? Terus jangan bilang karena hal itu, lo fine-fine aja pas mau comblangin gue sama dia?" Doni mengulum bibirnya, mengangguk pelan karena apa yang dikatakan oleh Ferdy itu benar juga. "Gue nggak mau dia sakit hati pas dengar gue udah nikah. Karena gue nggak mau lihat dia sedih, dia udah gue anggap sebagai adik sendiri, Fer!" "Tapi lo udah nyakitin dia sekarang! Coba aja lo jujur dari awal, mungkin dia pasti bisa menerima status lo yang udah jadi suami orang." Doni hanya mengepalkan tangannya. "Gue juga cinta sama istri gue sekarang, dari dulu malah gue cinta sama dia. Tapi gue nggak pernah mau menyakiti hati siapapun, termasuk perasaan Selly. Karena dia udah kayak adik di mata gue," ujar Doni lagi. Laki-laki itu menunduk dalam. Ferdy jadi bingung melihat kisah cinta temannya ini. "Makanya, Fer. Gue mau lo dekatin dia, biar dia bisa move on dari gue. Gue nggak akan pernah bisa bakas perasaannya sampai kapanpun." "Dan tanpa sadar lo bikin gue masuk dalam skenario percintaan kalian yang rumit ini. Lo udah punya istri sekaligus cinta sama istri lo, sementara ada gadis lain yang dari dulu udah mendam rasa sama lo." Ferdy menggeleng pelan. "Udahlah! Gue malah pusing mikirin rumitnya percintaan kalian. Ini salah satu alasan gue nggak mau pacaran dari dulu," sambung Ferdy. "Ini kenapa kalian berdiri di depan pintu?" Suara lain menyentak mereka. Doni langsung menundukkan sopan kepada dosen yang akan mengajar di kelas mereka. Kemudian duduk di kursinya dengan perasaan gundah. Di sebelahnya ada Ferdy yang berbisik. "Lo nggak mau susul di Selly?" tanyanya. "Buat apa?" Doni malah balik bertanya membuka Ferdy mendecak pelan. "Ya buat jelasin semuanya biar dia paham. Kalau lo nggak akan pernah bisa balas perasaannya sampai kapanpun," jelas Ferdy. "Tapi ... gue takut dia makin sakit hati," lirih Doni. Sekali lagi Ferdy mendecak. "Ya diberi pengertian lah b**o. Jelasin semuanya sedetail mungkin." Doni menunduk, berperang batin dan pikirannya sendiri. Sementara di depan sana ada snag dosen yang sudah memulai mata kuliah hari ini. "Kita kuis hari ini," ujar sang dosen tiba-tiba. Semua mahasiswa berseru tidak terima. "Kok dadakan sih, Pak? Saya mana belum belajar sama sekali," keluh lainnya. "Nggak ada larangan buat saya yang mau adain kuis dadakan. Kalo masih ada yang protes, silakan keluar dari kelas saya." Jelas saja setelah mendengar hal itu, semua mahasiswa hanya bisa diam dan tidak membantah lagi. Begitu juga dengan Doni yang hanya diam sepanjang kuis berlangsung. Dia bahkan tidak fokus menjawab semua kuis-kuis itu. Hingga akhirnya dia pasrah saja, untuk kali ini dia pasti gagal dalam kuis dadakan. Ayahnya pasti marah karena nilainya turun. Sungguh kali ini Doni memang tidak bisa fokus. Pikirannya selalu dihantui oleh Selly yang saat ini pasti merasa tidak terima dengan faktanya kalau dia sudah menikah. Gadis itu pasti sakit hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN