(26)

1787 Kata
Mimpi itu katanya cuman bunga tidur. Akan tetapi, Keisha masih tidak habis pikir kenapa dia bisa memimpikan hal yang aneh seperti itu. Dia dan Doni sudah berhubungan ke hal yang lebih jauh dan di dalam mimpi itu dia malah biasa-biasa dan mau-mau saja saat di ajak seperti itu. Meski cuman mimpi semata, Keisha masih bisa merasakan bagaimana sapuan lembut dari ciuman Doni. Bagaimana Doni memperlakukannya di dalam mimpi itu serta lenguhan dari suaranya yang membuat Keusha geli sendiri. "Gila," gumam Keisha, gadis itu memukul pipinya yang masih terasa panas. Di dalam kamar ini hanya dia sendiri, mungkin Doni sudah lebih dulu turun ke bawah. Setelah memoleskan sedikit bedak dan lipstik, Keisha memilih keluar dari kamar. Begitu menapakkan kakinya ke area dapur karena dia sudah menduga kalau Ibu mertuanya pasti ada di sini. Akan tetapi, tidak hanya ada Bunda di sana, Doni juga ada. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu di dapur ini. "Bunda," sapa Keisha, tersenyum kecil. "Keisha, sini sayang. Bantu-bantu Bunda masak sarapan pagi," ajak Bunda Kiran. Keisha meringis pelan. "Maaf, ya Bunda karena Keisha agak kelamaan bangunnya." Keisha merasa tidak enak karena bangun di jam enam lewat lebih. Bunda Kiran tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, Bunda maklum kok. Doni juga udah bilang kalo kamu kemarin sibuk di toko karena banyak pesanan," ujar wanita itu. Keisha tidak tahu harus mengatakan apa. Mendapatkan mertua sebaik Bunda Kiran, Keisha sudah merasa beruntung. Dia sempat berpikir kalau Bunda Kiran akan menentang pernikahannya dengan Doni. Hanya saja saat ini, Keisha belum melihat Ayah mertua. Sejak dulu dia sangat takut dengan orang tua satu itu, tatapan penuh intimidasinya membuat Keisha kikuk sendiri. "Bunda mau masak apa?" tanya Keisha, mendekati Bunda. "Doni mau minta masakin nasi goreng kesukaannya," balas Bunda. Keisha langsung melirik Doni yang membuka kulkas. Saat matanya bertemu dengan netra Doni, wajah Keisha langsung memerah. Sialnya, matanya tidak bisa dikompromikan, dia malah salah fokus dengan bibirr Doni yang terbuka untuk memasukkan beberapa potongan buah ke dalam mulutnya. Keisha langsung memalingkan wajahnya, menggeleng pelan karena tidak mau berpikir aneh-aneh terus. "Kei, kamu kenapa? Wajah kamu merah, kamu sakit?" tanya Bunda. Keisha langsung menggeleng ribut. "Keisha nggak sakit Bunda! Keisha cuman dikit kegerahan," alibi Keisha. "Masa sih?" Bunda terlihat tidak percaya dengan perkataannya tadi. "Masih pagi begini kok udah kegerahan?" tanya Bunda lagi. "Keisha juga pas Doni bangunkan tadi, wajahnya merah, Bund. Pas aku tanya dia lagi sakit, jawabannya tetap enggak," sahut Doni. Laki-laki itu bersandar di belakang pintu kulkas yanh tertutup. Keisha hanya mengulum bibirnya, kemudian tersenyum kecil dan memilih membantu Bunda menyelesaikan masakannya di pagi hari ini. Usai memasak, Keisha membantu Bunda untuk menata beberapa makanan di atas meja. Sarapan pagi ini sederhana saja. Bunda memasak nasi goreng kesukaan Doni, dan ayam goreng krispi kesukaan Ayah mertuanya. "O-om," sapa Keisha ketika mendapati sang ayah mertua di kursi paling ujung, tempat duduk yang di khususkan untuk kepala keluarga di rumah ini. Dimas tidak tersenyum, hanya membalas sapaannya dengan gumaman saja. Dan itu membuat Keisha kikuk sendiri, tidak mau merasa canggung karena berduaan di ruang makan ini bersama Ayah mertuanya. Keisha lantas pergi ke dapur lagi. Doni masih ada di dapur, laki-laki itu sibuk sendiri di dekat kulkas. "Ke ruang makan sana! Ayah kamu juga udah duduk di sana," suruh Keisha. Doni mengangguk pelan, kemudian pergi ke ruang makan seperti yang dikatakan Keisha tadi. "Ada yang perlu Keisha bantu lagi, Bunda?" tanya Keisha pada Bunda yang masih ada di dapur. "Nggak ada, Kei. Semuanya udah di tata di ruang makan. Kita langsung sarapan, yuk," ajak Bunda Kiran. Keisha hanya mengangguk dan mengikuti Ibu mertuanya dari belakang. Ini pagi pertamanya dana sarapan pertamanya di rumah mertua. Dan rasanya seperti ini, sedikit deg-degan karena Ayah mertuanya tidak sehangat papanya yang terkadang suka mengajak dirinya bercanda. Keisha mengambil piring kosong yang ada di depan Doni, mengambilkan nasi goreng dan satu ayam goreng untuk suaminya itu. Iya, suami, hanya mengakui Doni sebagai suami, wajah Keisha lagi-lagi memerah. Astaga, dia sering sekali tersipu malu sekarang. "Doni pimpin doa, ya," suruh Dimas. Doni lantas mengangguk mendengar suara titahan itu. Mereka berempat langsung menengadahkan tangan dan berdoa sebelum makan. Sarapan pagi berjalan lancar. Dimas lebih dulu menyelesaikan sarapannya kemudian berdiri dan diikuti oleh Kiran karena suaminya itu hendak berangkat pergi ke kantor. Baik Keisha dan Doni sama-sama berdiri dan menyalim tangan pria itu tanda hormat. Sebelum berlalu di ruang makan, Dimas menatap Doni. "Sebelum pulang, kamu masuk ke ruang kerja saya. Di sana ada beberapa dokumen, kamu pelajari itu," ujarnya. Doni mengangguk kaku. "Mas, Doni masih kuliah. Tugasnya pasti banyak, jangan disuruh mempelajari hal-hal berbau kantor lah untuk saat ini." Bunda ternyata angkat suara, seakan tahu dengan posisi Doni yang terus ditekan untuk jadi yang sempurna. "Kiran, ini urusan saya dengan Doni. Kamu juga tau alasannya." Dimas menatap tajam sang istri. Keisha yang berada di situ merasakan keadaan ruang makan ini mendadak mencekam sekali. "Udahlah, saya mau berangkat dulu," ujar Dimas yang sepertinya tidak mau memperpanjang masalah di pagi hari ini. "Aku antar ke depan, Mas," sahut Kiran. Hal yang bisa dia lakukan ketika suaminya hendak pergi bekerja. Keisha kembali terduduk setelah melihat kepergian dua mertuanya dari ruang makan ini. Menatap Doni yang sudah melanjutkan sarapannya lagi. "Lo kuliah jam berapa?" tanya Keisha. "Jam 10 nanti, sekalian gue anterin lo ke toko bunga," bakas Doni. Keisha menaikkan satu alisnya. "Anterin gue naik apa? Wong kita kemarin di anter sama si Mamang ke sini," tutur Keisha. "Lah, iya." Doni menepuk dahinya. "Gue lupa astaga," ujar Doni lagi seraya terkekeh pelan. "Apa kita telepon si Mamang aja buat jeput kita?" tanya Keisha. Doni terlihat menggeleng pelan. "Nggak usah, nanti kita naik taksi aja. Pas pulang kuliah gue juga ke toko lo langsung, nanti kalo mau pulang ke rumah lo baru suruh di Mamang jeput lagi," jelas Doni. Keisha mengangguk, menyetujui hal itu. Setelah sarapan paginya habis. Keisha langsung berdiri dan menyusun piring kotor untuk dia bawa ke dapur lagi. "Bunda sejak kapan nggak pakai jasa pembantu lagi, Don? Kasian kalo Bunda bersihin ruang sendiri," ucap Keisha saat ini dia sedang mencuci piring sementara Doni mengangkat sisa makanan dsri atas meja dan meletakkannya di dalam lemari tempat penyimpanan. "Udah lama juga, terakhir kali punya pembantu yang kebetulan janda. Terus Bunda pecat karena ketahuan goda Ayah sama gue. Bunda marah besar, terus nggak mau lagi pake jasa pembantu," terang Doni. Keisha tertawa pelan. "Iya, gue baru inget cerita itu dari Bunda. Katanya lo sengaja di goda pas dia bersihin kamar lo," ujar Keisha. "Emang lo benaran nggak ke goda, Don?" Keisha bertanya lagi. "Nggak lah! Ngapain tergoda sama janda. Wong gue masih demen sama gadis ting-ting kayak lo." Doni menaik turunkan alisnya, membantu Keisha mencuci piring dengan menyusun piring ke tempat semula. Keisha langsung terdiam mendengar itu. Pikiran kembali berkelana tentang mimpinya itu. Memang Keisha berusaha baik-baik saja di depan Doni, biar tidak dicurigai lagi kalau dia mimpi seperti itu. Bisa dibilang itu mimpi basah? Atau tidak. "Kei," "Apa?" balas Keisha, berusaha tetap fokua dengan cucian piringnya yang tinggal sedikit lagi. "Lihat gue dulu!" suruh Doni. Keisha menghela napas pelan, dia lantas menoleh ke samping di mana ada Doni di sana. Mata Keisha terbelalak saat merasakan Doni mencium bibirnya, Keisha langsung memejamkan matanya dan membiarkan Doni menciumnya lebih dalam lagi. Keisha semakin terbuai dan perlahan membalas ciuman itu. Tidak sadar kalau tangannya sudah melingkar di leher Doni. Juga kedua tangannya Doni yang melingkar di pinggangnya. Tubuh Keisha terangkat dan dia di dudukkan di dekat wastafel pencucian piring. Tak berapa lama ciuman mereka terlepas, wajah Keisha memerah padam. Matanya kembali beradu dnegan netra Doni. "Manis, Kei," bisik Doni tepat di telinganya. Keisha merinding mendengar itu. "Bibir lo manis, gue suka." Doni lanjut berbisik. "Keisha!" "Kei!" "Hah?!" Keisha melotot, bahunya berulang kali ditepuk membuat dia menoleh ke samping dan mendapati Doni yang sedang menatapnya penuh keheranan. "Lo kenapa? Melamun terus dari tadi? Tuh, piringnya udah habis lo cuci semua," ujar Doni. Laki-laki itu masih menatapnya dengan penuh keheranan. Keisha mengerjapkan matanya berulang kali. Kemudian mencuci tangannya, lantas bergumam. "Doni, kayaknya gue benar-benar sakit, deh." "Lo demam?" tanya Doni langsung, bahkan laki-laki itu menempelkan tangannya di dahi Keisha. Keisha menggeleng pelan. "Masalahnya, gue nggak tau. Kalo gue ini sakit apa," sahutnya. Bahunya melemas, kembali merutuki diri sendiri karena bisa membayangkan ciuman panas itu lagi? Apa dia haus ciuman karena bisa-bisa melamunkan hal tidak senonoh itu. "Gue gila." Keisha bergumam lagi. "Lo kenapa, sih?" tanya Doni lagi. Menarik kedua bahu Keisha agar berhadapan dengannya. Keisha hanya mengerjap pelan. Sekali lagi, matanya salah fokus kepada bibir tipis Doni itu. Keisha menggeleng pelan, sedikit bingung dengan dirinya yang sekarang ini. "Gue benar-benar gila," gumam Keisha. Lagi-lagi salah fokus dengan bibir Doni. "Lo kenapa, sih Kei? Dari tadi perasaan lihat bibir gue dulu," ujar Doni. Keisha langsung gelagapan. Gadis itu memalingkan muka dan tidak mau menatap Doni. "Lo jangan kepedean!" ketus Keisha. Pemikirannya yang blank tadi seketika hilang begitu saja. "Ngaku aja, Kei." Doni menatapnya, tetapi Keisha enggan menatap laki-laki itu. "Oh, atau lo kepengen gue cium, nih?" tanya Doni dnegan tatapan jahilnya. "Jangan! Gue nggak mau ciuman sama orang yang lagi flu," ujar Keisha. Menggigit bibirnya kembali karena menyesali perkataannya tadi. "Gitunya." Doni manggut-manggut. "Berarti kalo gue nggak lagi flu, lo mau gue cium?" tanya Doni. "Nggak usah ngarep! Siapa yang mau ciuman sama lo!" Keisha berbicara ketus lagi. Meski dalam jati, benar-benar bertanya bagaimana rasanya berciuman? Akan tetapi, dia tidak mau melakukan hal itu bersama Doni. Doni bukanlah laki-laki yang dia cintai saat ini. Dia hanya penasaran dengan rasa ciuman itu. "Lah, padahal lo sendiri yang lihat ke arah bibir gue dari tadi," sambar Doni. "Perasaan lo kali," balas Keisha, masih saja mengelak. Dari sudut matanya, Keisha bisa melihat kalau Doni sedang tersenyum miring. Lantas tak berapa lama dia merasakan kedua tangan Doni berpindah ke pinggangnya. Laki-laki itu melingkarkan tangannya di sana. Keisha menahan napas sesaat. "M-mau ngapain lo?" tanya was-was. "Sssttt." Jantung Keisha semakin berdetak lebih kencang karena Doni semakin mendekatkan wajahnya, tidak mau melihat apa yang terjadi selanjutnya. Keisha memejamkan matanya refleks. Dia pikir kalau Doni benar-benar menciumnya. "Ngapain tutup mata, Kei? Lo benar-benar mau gue cium, ya?" Suara Doni berbisik di telinganya. Keisha langsung membuka matanya. Menatap Doni yang sekarang malah menyeringai lebar. "Jujur, gue mau cium lo saat ini. Tapi gue takut kalo lo bakal ngebayangin kalo gue ini adalah Varo, bukan Doni," ujar laki-laki itu. Mampu membuat Keisha tertegun. "Gue bakal menyentuh lo lebih dari ini. Setelah memastikan kalo lo benar-benar melupakan Alvaro seutuhnya," lanjut Doni lagi. Kembali membuat Keisha bergeming di tempatnya. Dia benar-benar kalah telak, karena apa yang dikatakan Doni ada benarnya. Bahwa dia benar-benar masih mencintai Alvaro. Laki-laki itu masih ada di dalam hatinya. Akan tetapi, rasa penasarannya dengan ciuman lebih besar ketimbang mengingat Alvaro yang masih ada di dalam hatinya. Keisha bahkan tidak mengerti, kenapa dirinya bisa jadi seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN