(25)

1713 Kata
Cukup lama Keisha berbincang dengan Ibu mertuanya, mereka seakan tidak bosan membicarakan hal apa saja yang penting menarik untuk jadi bahan buah bibir. Hingga pukul sembilan lewat lima belas, Keisha pamit masuk ke dalam kamar karena sudah mengantuk. Sekaligus kelelahan karena buka toko dari siang hingga malam tiba. Keisha pun di suruh Bunda Kiran langsung naik ke lantai atas, di mana letak kamar Doni. Di lantai atas hanya ada kamar Doni saja, sementara kamar utama alias kamar Ayah dan Bunda ada di lantai bawah. Sejak berbincang-bincang dengan Bunda Kiran, Keisha tidak melihat batang hidung Doni. Dan sesuai dugaannya kalau Doni berada di kamar. "Asyik bangetnya, Kei. Bincang-bincang sama Bunda, sampe jam segini baru selesai." Sindiran itu menyambut kedatangan Keisha yang baru masuk ke dalam kamar. Keisha lantas tertawa pelan. "Biasalah, kita ini perempuan pasti banyak yang di omongin," bakas Keisha. Gadis itu membuka tas yang bawa oleh Doni tadi, mengambil satu set piayama berlengan pendek dan celananya sebatas atas lutut, malam ini dia tidak menggunakan piayama tipisnya karena sedikit sungkan memakainya di rumah mertua, ya meski dia memakai di dalam kamar saja sih, tapi Keisha sedikit merasa sungkan. Maka itu dia memutuskan memakai piayama super pendek ini. "Gue ganti baju dulu, ya," ujar Keisha. Doni hanya mengangguk pelan, lantas Keisha langsung masuk ke dalam kamar mandi Doni yang luasnya melebihi kanar mandi miliknya. Jujur, ini bukan pertama kalinya Keisha masuk ke sini, hanya saja dia tetap kagum bila masuk ke sini. Tatapan Keisha jatuh pada bathtub yang sangat besar, dua orang bahkan bisa masuk ke dalam situ. "Jadi pengen mandi gue, tapi besok pagi aja, deh," guman Keisha, buru-buru menggantikan pakaiannya. Setelah itu keluar dari kamar mandi dan masih mendapati Doni yang terlihat sibuk dengan laptopnya. "Udah nggak flu lagi?" tanya Keisha, gadis itu menempelkan tangannya ke dahi Doni. "Kei, flu itu di hidung bukan di dahi," jelas Doni. Keisha tertawa pelan lagi karena menempelkan tangan di dahi laki-laki itu. "Gue cuman cek suhu tubuh lo, mana tau tiba-tiba panas. Kan cuaca lagi nggak menentu sekarang, orang-orang gampang sakit. Apalagi lo ya alergi sana cuaca dingin," ujar Keisha. Gadis itu meringsut naik ke atas tempat tidur, membuka ponselnya dan mulai berkelana di media sosialnya. Tidak ada yang menarik, karena tidak ada yang mengirim pesan kepadanya sama sekali. Ya, karena Keisha tidak punya teman perempuan. Sedih sih, tapi Keisha bisa apa. Banyak teman sebayanya sangat iri terhadap kehidupannya yang super mewah. Keisha tidak mempedulikan penampilannya malam ini karena memakai piayama super pendek, toh dia sudah biasa. Akan tetapi, Keisha seakan lupa keberadaan Doni yang ada di sisinya, sejak tadi laki-laki itu melirik ke arah paha Keusha yang terekspos. "Nggak ada baju lainnya, Kei?" tanya Doni. Dahi Keisha mengkerut, gadis itu menatap Doni dengan tatapan heran. "Kenapa? Kan, biasanya gue pakai gini juga," sahut Keisha. Doni terdengar mendecak pelan. Menarik selimut untuk menutupi paha Keisha. "Tuh, tuh, paha lo tutup dulu. Mata gue sakit lihatnya," ujar Doni. Keisha mencebik pelan, tidak urung memakai selimut itu untuk menutupi pahanya. Seakan tahu kalau Doni bisa saja khilaf melihat paha putih mulusnya. "Bilang aja lo nggak tahan lihat paha putih gue," tutur Keisha. Gadis itu menarik sudut bibirnya. "Tahannya, Don. Gue harus gini karena AC nggak boleh dihidupkan, lo juga tau alasannya. Jadi, lo harus nahan hasrat lo." Keisha mengusap bahu Doni, seakan memberikan semangat lewat itu. "Iya, gue paham. Terus sampai kapan gue nahan terus?" tanya Doni, tatapan mereka langsung beradu. Keisha mengerjap pelan, dia sudah besar. Tentu saja sudah tahu makna perkataan Doni tadi. Tidak ada salahnya di sini, mereka sudah hampir empat bulan menikah. Dan selama ini Keisha tahu kalau Doni selalu menahan diri untuk tidak menyentuhnya secara lebih atau intim. Keisha berdeham pelan. "G-gue juga nggak tau," balasnya tergagap. "Kita juga nikah karena suatu hal, Doni." Keisha memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah Doni. "Iya, gue paham," sahut Doni. "Tapi gue nggak tau sampai kapan harus bisa nahan diri, Kei. Gue laki-laki, punya nafsu yang besar. Bisa aja suatu hari gue khilaf atau buta mata untuk menyentuh lo lebih intim, Kei." Doni berbicara panjang lebar. Tangan Keisha terkepal erat, satu lagi menggenggam ponselnya cukup kuat. Keisha sampai saat inu belum pernah berpikir sampai situ. Jangankan untuk berciuman, Keisha tidak pernah melakukan hal itu sama sekali. Alvaro dulu memang hampir melakukan hal itu, tetapi Keisha lantas sadar dan langsung menolaknya dengan cara halus. Keisha tidak mau melakukan hal aneh-aneh sebelum menikah, untuk saja Alvaro sangat pengertian terhadap dirinya. "Kita juga sah-sah aja melakukan itu. Bahkan kita dapat pahala dari itu, Kei," lanjut Doni. Keisha menelan ludahnya gugup. Saat matanya kembali beradu dengan Doni. Keisha buru-buru mengalihkannya. "Gue belum siap, nggak bisa Doni." Keisha menunduk, Keisha juga bertanya dalam hati. Apa dia berdosa bila menolak berhubungan intim dengan suami sendiri? Keisha tidak tahu jawabannya, karena selama ini dia sangat minim tentang pelajaran agama. Helaan napas terdengar dari Doni. Laki-laki itu terlihat mengangguk pelan. "Maaf karena udah membicarakan hal ini. Gue seharusnya sadar, Kei. Karena dihati lo sampai saat ini masih ada Alvaro. Cukup jadi suami lo aja gue udah bersyukur, maka itu gue nggak mau minta hal lebih dari lo." Doni tersenyum masam. Dan demi apa pun, Keisha tidak suka melihat senyuman jenis itu dari Doni. Keisha tidak tahu apa yang dia rasakan, meski Alvaro masih ada di dalam hatinya. Hanya saja dia tidak tega menyakiti Doni lagi. Laki-laki itu sudah banyak berkorban, hingga menikahinya karena Alvaro malah lari dari tanggung jawab. "Doni ...." Keisha menggenggam tangan Doni dengan lembut. Gadis itu mengembuskan napas pelan ketika Doni menatapnya dengan dalam. Keisha tidak kunjung membuka suara, gadis itu hanya memajukan tubuhnya hingga beberapa senti lagi dia memejamkan matanya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ini, saat itulah Keisha melakukan hal yang tidak dia pikirkan selama ini. Keisha mencium bibirr Doni di suruh oleh Doni. Keisha tahu kalau laki-laki itu juga sangat terkejut dengan perbuatannya saat ini. Ciuman itu cukup lama, sepertinya itu bukan ciuman, karena Keisha hanya menempelkan bibirnya saja tanpa melakukan pergerakan apa pun. Keisha kembali menjauhkan wajahnya, pipinya terasa panas sekarang. Dia sungguh malau dengan perbuatannya ini. "Ke-Kei ...." Suara Doni terdengar. Keisha hanya bisa mengulum bibirnya, dengan mata yang tidak berani menatap Doni sama sekali. "G-gue cuman." Keisha merutuk diri dalan hati karena masih tergagap, bahkan untuk berbicara rasanya sangat berat sekali. "Kenapa lo cium gue?" tanya Doni langsung. Keisha tersentak, karena laki-laki itu berbicara dengan frontal. Keisha memberanikan dirinya untuk menatap Doni lagi, kemudian menggeleng pelan. Dia tidak tahu kenapa melakukan hal tadi, hanya hati dan pikirannya seakan mendorong dirinya untuk melakukan hal itu. Keisha juga terkejut dengan tindakan sendiri. "G-gue cuman ...." Keisha tidak melanjutkan kata-katanya lagi karena Doni menangkup wajahnya, mata mereka kembali beradu. Saat itulah dia menyadari kalau di mata Doni ada binar bahagia yang terlihat. "A-apa gue boleh cium lo lagi, Kei?" tanya Doni, matanya pun menunjukkan penuh harap kali ini. Keisha memejamkan matanya kemudian mengangguk pelan. Saat itulah Keisha tidak mau membuka mata lagi, karena merasakan Doni menyatukan bibir mereka. Keisha hanya terdiam ketika Doni melanjutkan aksinya. Tidak lama kemudian ciuman itu terlepas, Keisha langsung membuka matanya, menatap manik mata milik Doni. "Makasih, Kei." Doni tertawa pelan. "Cuman begini aja gue udah senang banget," ujarnya lagi. Keisha hanya bergeming, matanya mengerjap sesaat kemudian dengan gugup kembali mencium Doni lagi. Kali ini dia yang memulai dan mengikuti instingnya sendiri, Keisha menggerakkan bibirnya. Doni pun langsung membalasnya dengan senang hati. Satu tangan Keisha meremas kaos hitam yang digunakan Doni saat ini. Mereka saling membalas ciuman seakan kegiatan ini adalah hal yang candu. Keisha kembali memejamkan matanya, sedikit malu ketika mata mereka beradu di saat seperti ini. Keisha merasakan pasokan udaranya habis, maka itu dia mendorong d**a Doni. Laki-laki itu seakan tahu dan langsung melepaskan tautan bibir mereka. Wajah Keisha kali ini terasa panas semuanya, sungguh ini adalah ciuman pertamanya tetapi dia merasa candu untuk kali ini. Dan ingin melakukan hal itu lagi dan lagi, tetapi merasa malu. Keisha menatap gamang ke arah Doni yang sekarang sudah memindahkan laptopnya ke atas nakas. Laki-laki itu kemudian menatapnya dengan mata yang menunjukkan hasrat tertahan. Keisha semakin gugup, dia tahu arti tatapan itu. "Kei ...." "A-apa?" Keisha masih gugup sekali "Gue mau lebih dari ciuman," ujar Doni. Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan menuntut. Keisha tidak menggenggam ponselnya lagi, benda itu dia letakkan di sisi tempat tidur. Seakan melupakan keberadaan sang pujaan hati, Keisha malah mengangguk pelan tanda menyetujui. Dia juga sama seperti Doni, ingin melakukan hal yang lebih dari ciuman. Begitu anggukannya terhenti, Doni langsung menciumnya lagi. Kali ini ciuman itu lebih menuntut ke arah yang lebih seakan yang di mau oleh keduanya. Keisha juga melingkarkan kedua tangannya ke leher Doni, mengikuti instingnya lagi. Tubuhnya perlahan direbahkan oleh laki-laki itu. Cahaya lampu kamar sedikit remang karena Doni sengaja mematikan lampu. Malam itu bersamaan hujan yang turun secara tiba-tiba. Baik Doni dan Keisha menghabiskan malam yang panjang. Keduanya sama-sama merasakan hal lebih yang belum pernah mereka rasakan sama sekali. Keisha adalah hal yang pertama untuk Doni begitu juga dengan Doni, dia adalah hal yang pertama untuk Keisha. Setelah tiga bulan penantian lamanya, akhirnya Doni merasakan malam penuh kenikmatan serta keringat yang menetes membasahi tubuh mereka berdua. Keisha hanya bisa memejamkan mata dan pasrah dengan permainan Doni yang penuh lembut. "Kei ...." "Hm?" "Keisha ...." Keisha mengernyit, pipinya terasa di tepuk pelan. Perlahan dia membukakan matanya dan cukup kaget melihat Doni yang ada di depannya. "Astaga?!" Keisha langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Pakaiannya masih utuh, juga ... Doni yang ada di depannya menatap dirinya dengan tatapan penuh tanya. "Lo kenapa?" tanya Doni. Keisha menggeleng ribut. Pikirannya melayang tentang kejadian itu, yang ternyata hanyalah mimpi belaka. Wajah Keisha langsung memerah saat memikirkan hal itu. "Kei? Wajah lo merah, lo sakit?" tanya Doni. Keisha kembali menggeleng. Kemudian menatap Doni yang pakaiannya masuh utuh di badan laki-laki itu. Astaga, kenapa Keisha bisa bermimpi itu sih? Sepertinya ada yang salah dengan dia. "G-gue cuman mimpi doang," ujar Keisha, mengigit bibirnya cemas. "Mimpi buruk?" tanya Doni. Namun, Keisha hanya menggeleng dan buru-buru turun dari tempat tidur kemudian berlari ke kamar mandi. Tidak mempedulikan kalau Doni menatapnya dengan keheranan. "Gue mimpi apaan, sih! Kok bisa mimpi mesumm begitu?" gumam Keisha, berdiri di depan wastafel dengan kedua tangan yang memegang wajahnya masih memerah. Keisha jadi termenung sebentar, tetapi malah mimpi itu yang terlintas di kepalanya. "Kayaknya gue sakit ini," lirih Keisha seraya menggeleng pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN