(Ten)

1713 Kata
Ketika masuk ke dalam kamar dengan tangisan, Keisha langsung membuka laci nakas. Di dalam sama dia menyimpan foto dirinya dan Varo saat masa sekolah dulu. Senyuman di dalam foto itu membuat dadaa Keisha terasa nyeri, sakit rasanya amat sakit. "Var ... kamu di mana, hah? Aku butuh kamu di sini. Nggak ada bisa ngertiin aku selain kamu," isaknya pilu. Merasa amat merindukan sosok kekasih pujaan hatinya ini. "Kenapa kamu pergi ninggalin aku, hah? Kenapa nggak aja aku sekalian kalo gitu?" omel Keisha, tangisannya belum terhenti, gadis itu senggukan pelan. "Aku nggak kuat di sini sendirian. Semua orang selalu nuntut aku ini dan itu, nggak ada yang ngerti perasaan aku." Keisha sangat kesal sekaligus benci dengan posisinya sekarang. Dia terus dipaksa untuk menghormati dan memenuhi kebutuhan Doni yang sekarang sudah menjadi suaminya. Mampu mengurus diri sendiri saja saat ini, Keisha merasa lega. Bagaimana mengurus orang lain lagi? Lagipula baginya Doni sudah besar bukan seperti anak kecil lagi yang perlu di urus setiap hari. Tangan mungil itu membelai bingkai foto tadi. Keisha tersenyum pedih, begini rasanya ditinggalkan oleh seseorang. Ternyata dia tahu bagaimana rasa sakit hati papanya ketika ditinggal oleh Mama untuk selama-lamanya. Dulu saat itu Keisha tidak bisa merasa sakit, dia hanya sekedar menangis karena Mama tidak kunjung membuka mata. Sehingga satu tahun kemudian, dia bertemu dengan Bunda Shayra. Mereka dekat dan makin kelamaan dekat, tidak berapa lama Papa menikahi Bunda karena ada rasa cinta lama yang belum pernah hilang dari keduanya. Keisha saat itu merasa senang, selain bisa dapat sosok pengganti Mama. Dia juga merasa senang karena Papa akhirnya bisa tersenyum setelah menikah dengan Bunda Shayra. Keisha memposisikan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berbaring miring sambil memeluk bingkai foto itu. Keisha juga menghapus air matanya yang masih setia membahasi pipi mulusnya, lama melamun dan menatap kosong ke arah jendela. Akhirnya Keisha tertidur, tetapi belum sepenuhnya tertidur pulas. Dengan mata terpejam, Keisha bisa mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Hidungnya juga bisa mencium wangi parfum seseorang, dia mengenali siapa orang ini. Apalagi kasur bergerak pelan bersamaan sapuan halus di atas kepalanya membuat Keisha merasa nyaman. Saat seperti dirinya kecil dulu, kalau susah tidur siang sosok ini yang akan turun tangan untuk menidurkannya. Mungkin Keisha sudah keterlaluan tadi dengan orang ini, tapi sungguh Keisha dari dulu memang tidak pandai mengatur emosinya. Doni, satu nama yang membuat Keisha merasa bersyukur memiliki sepupu laki-laki. Doni sejak dulu selalu ada untuknya, sebelum dia menjauh karena permintaan Varo. Karena takut diancam putus, akhirnya mau tidak mau Keisha pun menjauhi Doni. Dia juga sadar, Doni pasti terluka karena sifatnya dulu. Namun, apa bisa dibuat karena Keisha sudah amat cinta sekali dengan Varo. Bucinnya sudah tingkat akut. "Maaf, Kei. Gue nggak bisa ngertiin perasaan lo sekarang. Tapi gue bakal berusaha jadi suami yang baik buat lo. Lo hanya perlu tetap disamping gue, dan jangan pernah pergi ke mana-mana. Karena lo itu sudah jadi milik gue sekarang." Keisha mendengar itu meski samar-samar. Usai perkataan itu, Keisha bisa merasakan dengan jelas bagaimana kecupan halus mendarat di dahinya. Pun, usapan lembut itu kembali terasa semakin membuat Keisha terkena dan akhirnya tertidur pulas. *** Keisha merasa tadinya tidur di dalam kamar setelah menangis cukup lama. Serta dia juga dapat merasakan kedatangan Doni sebelum tidurnya benar-benar pulas. Dan sekarang, Keisha tidak tahu di mana dirinya ini. Sebuah taman dengan ada air mancur di hadapannya. Keisha lagi-lagi merasakan kalau tempat ini cukup familiar dimatanya. Keisha mengusap lengannya yang tidak tertutupi. Dia menunduk menatap baju yang masih dia kenakan tadi. Apa dia mengigau sampai-sampai jalan ke taman ini? Ah, itu tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, dirinya di mana ini sekarang? Tubuh Keisha mendadak menegang ketika kedua matanya ditutup secara mendadak. Gugup tiba menghampiri dirinya, Keisha memegang tangan yang menutup matanya itu. "I-ini siapa?" tanyanya tergagap. Tidak berapa lama dia mendengar suara tawa kecil dari arah belakang. Dia kenal suara itu. "Al, ini kamu Al?" tanya Keisha menggebu-gebu. Tidak bisa menutupi rasa penasarannya, Keisha pun melepaskan tangan yang menutupi matahari dengan paksa. Dia menoleh ke belakang, dan benar adanya. Itu benar-benar, Varo. "Al!" Keisha langsung berdiri dan memeluk sosok itu dengan erat. "Kamu ke mana aja, sih? Aku kangen banget tau!" tanya Keisha wajahnya teredam di depan dadaa bidang Varo. "Jangan pernah tingalin aku, Al. Di sana nggak enak sendirian tanpa ada kamu," sambung Keisha, lagi. "Maaf." Hanya itu yang keluar dari mukut Varo. Laki-laki itu hanya bisa menggumamkan kata maaf, membuat Keisha semakin erat memeluk Varo. Enggan melepaskan diri karena dia takut kalau ini hanyalah mimpi semata. Usapan lembut dibelakang kepalanya sangat Keisha rindukan berapa hari ini. Keisha sedikit merenggangkan pelukan, mendongak menatap wajah tampan milik Varo. "Kamu dari mana aja, Al? Kenapa kamu nggak datang di pernikahan kita, ha?! Kamu udah nggak cinta sama aku lagi?" Bola mata Keisha sudah berkaca-kaca, dia ingin menangis lagi untuk saat ini. Bertemu Varo adalah hal yang paling dia inginkan saat ini. "Maaf." Lagi-lagi hanya itu yang dikatakan Varo. Karena sebal, Keisha menepuk dadaa Varo, tidak cukup kuat. "Jangan terus minta maaf! Aku muak dengar itu mulu." Air mata Keisha sudah meluruh membasahi pipinya lagi. Akan tetapi, Keisha dapat merasakan ibu jari Varo bergerak untuk menghapus jejak air mata itu. "Jangan, nangis. Aku minta maaf." Varo akhirnya berkata cukup panjang. "Kamu harus sabar, ya. Tunggu aku pulang setelah masalah ini semuanya selesai." Lantas kening Keisha langsung mengkerut. "Kamu mau ke mana? Jangan pergi lagi, Al." Keisha merengek, dia ingin menangis lagi. "Aku harus pergi, Kei. Aku janji nggak akan lama." Varo mengusap pipi dengan lembut. "Cukup tunggu aku dan aku udah merasa senang. Jangan sering nangis, nanti kamu bisa sakit," jelas Varo. "Tolong bahagia meski kamu nggak lagi samaku." Keisha mulai terisak lagi. "Gimana aku bisa bahagia, Al? Kalo semua sumber kebahagiaanku itu dari kamu?!" isaknya. "Kamu egois karena mau pergi ninggalin aku," lirih Keisha. Gadis itu menunduk, tetapi tidak urung membakas pelukan Varo ketika laki-laki itu membawanya ke dalam pelukan. "Aku yang salah. Aku minta maaf. Maaf banget, Kei." Helaan napas Varo terdengar. "Kamu nangis juga karena aku." Perlahan pelukan itu terlepas karena Varo memegang kedua bahunya. Laki-laki itu menatap wajah Keisha dengan lamat. "Tunggu aku, Kei. Aku janji akan pulang secepatnya, setelah itu kita akan bahagia sama-sama." Keisha memejamkan mata ketika Varo memajukan wajah untuk mengecup keningnya dengan lembut. Saat membuka mata, Keisha mendadak panik karena tidak mendapati Varo di depannya lagi. "Al! Kami di mana?!" Keisha menatap sekeliling dengan wajah panik. "Al! Kami benaran tinggalin aku lagi?!" "Alvaro?! Muncul sekarang juga kalo nggak mau aku benci sama kamu?!" "ALVARO?!" Keisha berteriak kencang dengan mata terbuka lebar secara paksa. Napasnya tersengal-sengal, lalu gadis itu duduk bersandar di kasur. Keisha meraup wajahnya dengan kasar. Lagi-lagi mimpi itu datang, Varo seakan suka mengganggu tidurnya hanya untuk mengatakan menunggu kepulangan laki-laki itu. Keisha menatap bingkai foto yang ternyata masih dia peluk sejak tadi. Mata mengedar ke seluruh penjuru kamar. "Pasti mimpi lagi," celutuk seseorang. Keisha cukup terkejut melihat Doni yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Segitu cintanya kamu sama Varo, ya, Kei. Sampe-sampe sering ke bawa mimpi." Doni terlihat tersenyum kecil. Keisha tidak ada niat untuk membalas perkataan laki-laki itu. Dia menatap jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul 8 malam. Ternyata dia sudah lama tidur, dan mungkin saja dia akan susah tidur setelah ini. "Gue mau mandi," ujar Keisha, raut wajahnya masih dingin. Masih belum bisa melupakan pertengkaran sore tadi. "Jangan lama-lama mandi, ya. Ini udah malam, lo bisa sakit karena berendam lama." Doni memperingatinya, tetapi Keisha memilih tidak menjawab. Begitu memasukan tubuhnya ke dalam bathtub yang sudah terisi air penuh dengan busa. Keisha memejamkan mata, berharap pikirannya lebih fresh setelah ini. Varo pergi meninggalkannya tetapi seakan jahat karena terus datang ke dalam mimpinya. Dan itu sangat tidak adil menurut Keisha. Bisa tidak kalau Varo pulang sekarang? Dia ingin memeluk laki-laki itu dengan erat lagi. Dan Keisha bisa meminta Varo pergi membawanya dari sini. Pernikahannya dengan Doni tidak dia harapkan sama sekali. Pernikahan ini mungkin saja akan berakhir ditengah jalan karena Keisha tidak pernah mencintai Doni sama sekali. Dia amat mencintai Varo, hanya laki-laki itu yang bisa membuat dirinya jatuh sejatuhnya. "Kei! Kamu nggak kenapa-napa, kan? Udah 25 menit kamu di dalam kamar mandi, lho." Lantas Keisha membuka matanya. Mengembuskan napas pelan karena mendengar teriakan Doni dari luar sana. "Iya." Keisha hanya membalas dengan singkat. Gadis itu keluar dari bathtub dan membilas tubuhnya di bawah shower. Setelah itu meraih jubah mandi di atas gantungan dan memakainya. Keisha keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. "Lo ngapain di sini?" tanya Keisha, sedikit bingung mendapati Doni yang berdiri di dekat pintu kamar mandi. "Nungguin lo, gue khawatir lo kenapa-kenapa di dalam," balas Doni. Laki-laki itu memang benar terlihat khawatir. "Gue bukan anak kecil lagi, Don. Nggak perlu dikhawatirkan," sahutnya. Keisha berjalan ke arah lemari dan membukanya untuk mengambil satu set piayama yang akan dia kenakan. Keisha sudah selesai mengenakan baju tidurnya. Gadis itu duduk di depan meja rias seraya mengeringkan rambutnya dengan mesin pengering rambut. Dia sempat melirik Doni yang begitu fokus mengerjakan sesuatu di balkon. Keisha mengembuskan napas pelan. Kata Tante Kiran, Doni itu alergi sengan angin malam. Dan sekarang laki-laki itu malah duduk di luar balkon dengan kaos yang tidak tebal. "Ck!" Keisha mendecak pelan. Setelah memastikan rambutnya benar-benar kering. Keisha berjalan membuka tas yang Tante Kiran bawa tadi. Dia mengeluarkan satu jaket tebal dari sana. Kemudian mendekatkan Doni dengan jaket ditangannya itu. Keisha melebarkan jaket tadi dan memasangkan ke tubuh Doni. Perlakuannya itu tentu saja mengundang tatapan heran dari Doni. "Eh?" "Tante Kiran bilang lo nggak bisa kena angin malam. Jadi, jangan aneh-aneh kalo mau alergi lo kambuh tiba-tiba." Keisha masih menatap Doni dengan tatapan tidka bersahabat. Dia cukup terpaksa melakukan hal ini karena takut Doni kambuh. Dan dia juga pasti yang akan repot sendiri karena mengurusi Doni yang sakit. Ck! Membayangkan hal itu saja membuat Keisha sudah kesal setengah mati. "Jadi, Bunda udah cerita semuanya?" Doni malah menanyakan hal itu. "Hm." Karena malas membuka suara, Keisha memilih menjawab dengan gumaman saja. Doni nampak tersenyum setelahnya, tetapi Keisha tidak mau menanggapi. "Makasih, Kei." Doni memasang jaket itu dengan benar ke tubuhnya karena Keisha tadi hanya menyampirka benda itu ke bahu Doni saja. Merasa tidak ada urusannya lagi, Keisha memutar tumitnya untuk berlalu dari sana. Mungkin saja perlakuan mendadaknya tadi bisa membuat Doni berprasangka lain. Bukan! Keisha bukan mulai perhatian dengan laki-laki itu, hanya saja Keisha tergerak melakukan hal tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN