(Eleven)

1991 Kata
Senyum kecil terbit di bibirnya, Doni sang pemeran utama memegang jaket yang sudah dia kenakan. Salah kalau Doni terbawa perasaan karena tingkah laku Keisha barusan? Ah, hati Doni rasanya terlalu rapuh. Baru diperhatikan sekecil ini sudah merasa melayang ke angkasa. Doni menoleh ke dalam kamar lagi, Keisha menghidupkan televisi. Kernyitan tercipta di dahinya, ini sudah malam dan Keisha baru bangun tidur. Gadis itu juga belum makan malam sama sekali. Doni menghela napas, membawa laptop serta buku tebalnya ke dalam kamar. "Lo belum makan, kan? Ayo gue temani ke bawah!" ajaknya. Doni menatap Keisha yang masih bergeming ditempatnya. "Kalo nggak makan lo sakit lagi, Kei. Ayo makan, kebetulan Bunda tadi masak ayam saos manis lo. Itu kan makanan kesukaan lo." Doni sengaja melakukan itu, agar Keisha terpancing dan hendak makan. Dia juga sadar kalau Keisha masih sangat marah dengan dirinya. Sejak mulai detik ini, Doni tidak mau berharap banyak lagi pada Keisha. Cukup gadis itu menjadi istrinya, Doni sudah merasa lega. "Keisha ...." Doni memanggil nama itu. Keisha mengalihkan tatapannya dari tv ke Doni. Gadis itu terlihat kesal, tetapi tidak urung turun dari tempat tidur. "Temani," ujar Keisha. Doni mengulum senyumnya. Dia tahu kalau Keisha akan luluh juga. Gadis itu pun mana pernah berani turun ke dapur seorang diri. Pernah ada kejadian yang membuat Keisha trauma saat menginjak dapur di malam hari. Doni tahu itu karena dia adalah saksi waktu itu. Pukul delapan malam lewat lebih. Semua anggota keluarga pasti sudah berada di kamar masing-masing. Beberapa saklar lampu yang sudah dimatikan, Doni hidupkan kembali. Agar Keisha tidak takut ketika melangkahi anak tangga satu persatu. Akhirnya mereka sampai di dapur, tanagn Doni kembali menekan saklar membuat area dapur menjadi terang menderang. Keisha sudah lebih dulu melangkah membuka lemari atas, di mana tempat makanan di simpan. Doni hendak tertawa melihat Keisha yang kesusahan mengambil makanan di atas sana. Akan tetapi, Doni urungkan karena takut kalau singa betina mengamuk di malam hari begini. "Kalo nggak bisa, kan bisa minta tolong sama gue, Kei," ujar Doni. Mengambil satu piring yang berisi ayam saos manis. Ada dua potong lagi sisanya karena bunda Shayra akat memasak banyak sore tadi. Doni menangkup wajah, memperhatikan Keisha yang sangat lahap makan. Ah, pemandangan ini tidak pernah bosan Doni lihat karena sejak kecil Doni selalu melakukan hal yang sama. Doni menuangkan air putih ke dalam gelas kemudian menyodorkannya pada Keisha. Gadis itu memang terlihat sangat lapar. "Jangan lihatin gue terus." Keisha membuka suara, mulut gadis itu penuh dengan makanan. Menatap Doni sedikit sinis. "Nggak bisa, Kei," balas Doni. "Dari kecil gue selalu suka lihatin lo makan, entah kenapa tapi ini udah jadi kebiasaan gue sampe sekarang." Doni tersenyum tipis. Keisha diam saja, gadis itu terus menyantap makanannya hingga habis. Doni menarik selembar tisu di atas meja dan memberikannya kepada Keisha, lagi. Sudut bibir gadis itu ada sisa saosnya. "Gue mau ngomong serius sama lo." Keisha menatap Doni, kali ini dengan tatapan lebih serius. "Gue udah seriusin, Kei. Buktinya sekarang lo udah jadi istri gue," balas Doni, tertawa pelan melihat wajah masam Keisha. "Canda!" Doni mengibaskan tangan ke depan, masih dengan tawanya. "Lo tau kan gue masih bisa nerima pernikahan ini?" tanya Keisha. Doni mengangguk kaku, sebagai jawaban. "Gue cuman nekankan sekali lagi sama lo. Jangan pernah berharap apa-apa dari pernikahan ini, Don. Gue nggak bisa jadi istri yang patuh buat lo, nggak bisa menjalankan tugas seorang istri dengan layak. Karena gue berat melakukan itu." Helaan napas terdengar dari Keisha. "Masih ada nama Alvaro di dalam hati gue." Keisha memegang dadanya. "Sampai kapanpun, dia nggak akan pernah bisa gue singkirkan dari sini. Meski lo udah jadi suami gue. Gue berat melakukan itu. Laki-laki yang gue cintai sampai mati itu cuman Alvaro doang, nggak ada yang lain." Keisha berucap panjang lebar. Doni terdiam. Wajahnya kali ini tidak terlihat jenaka lagi. Sungguh demi apa, Doni berusaha kuat menahan sesak di dalam dadanya ini. Lagi-lagi dia mendapatkan penolakan. Perlahan Doni menarik sudut bibirnya, dia tidak mau menunjukkan kesedihannya sama sekali di depan Keisha. Dia tidak lemah. "Gue tau." Doni tersenyum getir. "Tapi meski lo begitu, gue tetap akan berusaha jadi suami terbaik buat lo. Dan semoga setelah itu, lo bisa melupakan Alvaro dan berbalik ke arah gue." Nyatanya, Doni masih saja berharap. "Jangan berharap terlalu tinggi Doni." Keisha berujar dengan tegas. "Iya, gue tau?! Tapi nggak ada salahnya kan, gue berharap sama istri gue sendiri?" sarkas Doni. "Lo udah jadi milik gue dan gue berhak mempertahankan lo di sisi gue. Nggak ada salahnya, Kei?!" Napas Doni tidak beraturan sekarang, dia hampir saja kehilangan kendali dam melampiaskan rasa sakit hati kepada Keisha. Doni perlahan mengembuskan napas, kemudian menatap arah lain. "Udah malam, Kei. Ayo ke kamar sekarang, pembicaraan ini udah selesai sampai di sini aja." Doni mendorong kursinya metika berdiri. Keisha menyorotnya dengan tatapan tidak terima. "Tapi, Don—" "Ke kamar atau gue tinggalin lo di sini sendirian?" tanya Doni, terdengar mengancam dan itu adalah kebenarannya. Pada akhirnya, Keisha tidak mampu menyangkalnya lagi. Gadis itu ikut berdiri dan berjalan di depan sementara Doni di belakangnya. Begitu tiba di dalam kamar, Doni langsung mengambil laptop dan bukunya kembali hendak dia bawa ke balkon kamar. Tugasnya masih menunggu dan dia harus menyelesaikan semuanya dengan cepat. Doni sengaja tidak menatap ke arah Keisha lagi. Dari lirikan matanya, Keisha masuk ke dalam kamar mandi. Doni menghela napas lagi, mengurut pelipisnya karena tiba-tiba merasa pusing. Doni memusatkan perhatiannya ke layar laptop dan buku secara bergantian. Setelah itu, jemarinya mulai bergerak lincah di atas keyboard. Cukup lama bergelut dengan semua tugas. Doni mengusap matanya yang sudah berair, mulutnya juga sudah menguap berulang kali. Doni melirik jam dari laptopnya, pukul 23.00. Ternyata dia sudah lama sekali di sini. Karena tanggung, tugasnya pun sebentar lagi selesai. Doni kembali melanjutkan, setengah jam kemudian Doni meregangkan otot-ototnya karena merasa kaku. Hampir tiga jam lebih dia duduk di balkon ini. Tubuhnya juga sudah mulai menggigil, jaket yang dia kenakan sudah tidajk membantu. Seharusnya Doni tahu, akibat belajar di balkon. Angin malam tidak bisa nengenai tubuhnya. Namun, Doni sangat menyukai tempat ini ketika belajar. Otaknya akan lebih fresh saat angin membelai kepalanya. Doni membawa laptop dan buku masuk ke dalam, setelahnya menutup pintu balkon dengan rapat-rapat. Usai meletakkan laptop serta buku tadi ke atas meja belajar. Doni menoleh ke arah AC, memastikan benda itu sudah mati atau tidak. Saat mengeceknya, Doni bersyukur karena benda itu sudah mati sejak tadi. Mungkin Keisha gang melakukannya, gadis itu bahkan sudah terlihat lelap sekali tidur di kasur sana. Tanpa melepaskan jaket lebih dulu. Doni naik ke tempat tidur, memejamkan mata dan mulai menyelami mimpi. Akan tetapi, baru lima belas menit memejamkan mata. Doni sedikit tersentak kala merasa tubuhnya dipeluk layaknya seperti guling. Ketika membuka matanya lagi, Doni cukup terkejut karena Keisha lah sang pelakunya. Gadis itu bahkan terlihat nyaman sekali setelah memeluknya cukup erat. Doni tersenyum tipis, dia tidak salah duga karena kebiasaan Keisha ternyata masih sama ketika mereka tidur bersama, saat masa kecil dulu. *** Matanya berbinar-binar menunggu kedatangan seseorang. Doni semenjak satu minggu yang lalu kata Bundanya sudah memiliki sepupu baru. Doni senang bukan main, akhirnya dia mempunyai seseorang untuk diajak bermain. "Bunda lama lagi?" tanya Doni kecil, binar matanya sedikit meredup ketika orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Bunda nampak tersenyum geli melihat tingkah anaknya. "Sebentar lagi sayang, sabar." Kiran mengangkat kepalanya lagi, kemudian tidak berapa lama berseru. "Nah, itu mereka." Doni menatap ke arah depan, mulutnya cukup terbuka lebar melihat seorang gadis kecil amat cantik di depan sana. Saking terpesonanya, Doni tidak mau mengalihkan tatapannya dari gadis itu walau sedetikpun. "Shayra, kamu apa kabar?" Doni menghiraukan orang tuanya yang berbincang dengan wanita di sisi gadis kecil itu. Matanya masih terfokus ke satu titik. "Oh, iya, Doni, salim Tante Shayra!" Bunda berseru dan menepuk bahunya pelan. Saat itulah Doni tersentak, dia langsung menyalim tangan Tante. "Aduh ... ponakan Tante tambah ganteng aja ini." Tante Shayra berjongkok di depannya. Doni tersipu mendengar pujian itu. "Oh, iya. Ini kenalin Keisha, dia putri Tante sekarang, sekaligus sepupunya Doni." Akhirnya Tante Shayra memperkenalkan gadis kecil itu, karena Doni sejak tadi ingin mengetahui siapa namanya. Doni mengangkat tangannya untuk berkenalan dengan gadis kecil itu. "Aku, Doni sekarang kita udah jadi saudara." Gadis di depannya terlihat malu-malu, tetapi tak urung menyambut uluran tangan Doni. "Keisha." Mendengar suaranya saja sudah membuat hati Doni luluh lantak. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, hingga sejak itu tanpa sadar dia sudah jatuh hati dengan sepupu barunya. Kecantikan gadis itu serta cara malu-malunya membuat Doni salah tingkah se diri. Satu bulan kemudian, Doni dan sepupu barunya sudah sangat dekat. Semua hal sudah mereka lakukan bersama-sama, dari mulai main bersama, makan bersama, tidur bersama bahkan mandi pun pernah bersama. Saat itu, ketika Keisha berkunjung ke rumah Doni. Doni sangat bahagia sekali, tidak mau membuang kesempatan. Doni mengajak sepupu kecilnya itu bermain ke taman. Hingga tanpa sengaja mereka malah diganggu oleh teman-teman naka Doni. "Doni ...." Suara lirih Keisha membuat Doni langsung menatap tajam ke arah teman-temannya. "Kalian jangan nakal! Dia sepupu aku, berarti dia juga teman kalian." Doni kecik berseru galak. "Anak cowok mana boleh main sama anak cewek, Doni. Kamu sama aja kayak b*****g di lampu merah sana." Satu teman Doni menyahut. Doni mengepalkan kedua tangannya. Dia sedikit lengah hingga tidak sadar kalau lollipop yang ada ditangan Keisha sudah di rebut paksa oleh anak laki-laki lain. "Huaaa ... Doni, lollipop Keisha." Hal itu mengundang tangisan dari Keisha sendiri. "Kalian selalu nakal! Dan ini yang bikin aku malas main sama kalian semua?!" Karena merasa tidak bisa melawan lima orang sekaligus hanya untuk menolong Keisha. Doni akhirnya memilih mundur saja, dia menarik tangan Keisha menjauh dari teman-teman nakalnya. Tidak memperdulikan seruan dari mereka semua. "Jangan nangis lagi, ya. Nanti aku beliin lollipop yang lebih gede dari tadi." Tangan mungil Doni menghapus air mata Keisha dengan perlahan. Keisha yang senggukan menatap Doni dengan mata yang sudah basah. "Beneran? Doni nggak bohong kan?" tanyanya. Doni menggeleng pelan. "Anak cowok nggak boleh bohong, nanti semisalnya aku lupa beliin kamu lollipop. Kamu boleh ingatin aku," ujar Doni, terdengar menyakinkan. "Sekarang kita ke air mancur aja. Aku mau ngenalin kamu sama seseorang." Doni kembali menarik tangan mungil Keisha. Mereka berdua berjalan menuju air mancur tepatnya ditengah-tengah taman. Doni mengulum senyum ketika orang yang ingin dia temui ada di sana. "Alvaro!" Doni melambaikan tangannya. Masih menggandeng tangan Keisha, Doni membawa gadis kecil itu untuk mendekati sahabatnya. "Kamu kapan pulang dari Surabaya?" tanya Doni, heboh. Pasalnya sahabat satu-satunya ini baru saja berlibur ke kota Surabaya. "Baru sampai pagi tadi." Alvaro, terdengarlah menjawab dengan singkat. "Oleh-oleh buatku mana?" Doni dengan cengirannya menengadahkan telapak tangan. "Ada di mobil, nanti ambil aja di sana," balasnya lagi. Doni langsung mengangguk. Ketika melihat tatapan Alvaro menyorot Keisha dan hal itu membuat Keisha sedikit takut. Doni tertawa pelan. "Nggak usah takut, Kei. Alvaro nggak nakal kayak anak-anak tadi," jelas Doni, seakan tahu apa yang ditakutkan Keisha. "Alvaro, kenalkan sepupu baru aku. Namanya, Keisha." Doni menatap dua orang itu secara bergantian. "Dan Keisha, ini sahabat aku namanya Alvaro. Kalian harus salam tangan sebagai tanda persahabatan," suruh Doni. Keisha pasalnya sudah gadis yang pemalu. Akhirnya mengulurkan tangan meski sedikit bergetar. Doni hampir saja menyemburkan tawa melihat wajah pias sepupunya. "Keisha." Bahkan suara gadis itu terdengar bergetar. Alvaro, sidingin seperti kutub utara membalas uluran tangan itu dengan tatapan datar menyorot wajah cantik Keisha. "Alvaro." Keduanya saling pandang sebelum tangan Doni mendarat ditengah-tengah jabatan tangan itu. "Nah! Berarti kita bertiga sekarang sudah jadi sahabat," seru Doni. "Turutin kata-kata aku, ya." Doni menatap dua orang itu bergantian. "Best friend forever, sahabat selamanya. Nggak boleh bertengkar apa pun ceritanya. Sampai kita tua nanti, kita tetap jadi sahabat." Alvaro dan Keisha mengikuti apa yang dikatakan Doni. Sebelum Doni akhirnya menarik tubuh Keisha dan Varo secara tiba-tiba untuk dipeluknya. "Yeay?! Sahabat selamanya." Hari itu Doni terlihat seperti orang amat bahagia sekali. Awal perkenalan singkat yang dia lakukan pada Alvaro dan Keisha. Sehingga akhirnya dua orang itu mengkhianati perjanjian yang Doni buat secara sepihak saat masih kecil. Hanya karena pasal cinta, persahabatan itu hancur begitu saja, dalam waktu tempo yang singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN