(23)

1568 Kata
Mungkin kelihatannya Keisha selama ini baik-baik saja meski hubungannya dan Doni berjalan semestinya. Keisha hanya ingin mengikuti alur hidupnya saja. Menerima Doni sebagai suaminya meski di dalam hatinya masih ada nama Alvaro yang tersemat di sana. Tidak bisa untuk dihilangkan nama itu, Keisha merasa sangat berat. Alvaro seperti susah untuk dia lupakan, ada keterkaitan sendiri untuk dirinya dan Alvaro. Alvaro juga tidak ada kabar lagi semenjak telepon waktu itu berakhir dan pesan terakhir yang dikirimkan oleh Alvaro sendiri. Berpesan untuk menunggu laki-laki itu hingga kembali ketika sudah waktunya. Keisha bimbang, apa dia akan menerima Alvaro saat laki-laki itu kembali dan malah meninggalkan Doni yang selalu ada untuknya. Atau justru menghiraukan Alvaro dan melanjutkan hubungannya dengan Doni hubgga maut memisahkan keduanya. Satu yang dipertanyakan, apa Keisha bisa meninggalkan Alvaro nantinya? Atau tega untuk menyakiti Doni lagi? Keisha tidak tahu jawabannya. Baik Alvaro dan Doni punya posisi masing-masing di hatinya. Dua laki-laki itu penting di hidupnya. Alvaro dengan sifat dinginnya tapi sangat mencintai dirinya sekaligus menyayanginya apa adanya. Sementara Doni dengan sifat jahilnya, juga sama mencintainya amat mendalam. Mereka bertiga sama-sama terjebak dalam cinta segitiga ini. Keisha sampai pusing memikirkan hal itu. "Kei!" "Iya, Mbak?" Keisha sedikit tersentak dengan panggilan itu, dia lagi-lagi melamun memikirkan bagaimana jadinya nanti saat Alvaro tiba-tiba datang di kehidupannya. "Kamu ngelamun lagi? Jangan sering ngelamun, Kei. Nggak baik," ujar Mbak Fina. Karyawan toko bunganya. Keisha lantas tersenyum tipis. "Makasih udah ingetin, Mbak. Saya baka usahain," balas Keisha. Mbak Fina memang sudah tidak heran lagi dengan tingkahnya yang sering melamun, wanita itu seakan paham karena sudah satu bulan ini mereka bekerja. "Ada pesanan satu rangkaian bunga lagi, Kei. Mbak atau kamu yang ngerangkai?" tanya Mbak Fina, mereka sering berbagi tugas seperti ini. Keisha menatap tanamannya sejenak. "Biar aku aja, Mbak. Mbak bisa jeput anak Mbak ke sekolah dulu," ujar Keisha. Jam 1 siang, itu berarti waktu anak-anak sekolah pulang. Keisha sudah hafal ketika jam segini, Mbak Fina pasti pamit sebentar untuk menjemput anaknya. "Lah, iya. Mbak sampai kelupaan, Kei. Makasih udah ingetin," tutur Mbak Fina. "Mbak izin sebentarnya, Kei. Mbak janji nggak bakal lama." Keisha mengangguk pelan, menatap Mbak Fina yang tampak tergesa-gesa keluar dari toko bunga. Keisha kemudian berdiri dan mengambil beberapa tangkai bunga untuk dirangkainya. Di saat seperti ini Keisha selalu teringat masa kecilnya, di mana dia suka sekali membantu mamanya merangkai bunga. "Mama, Kei mau belajal buat ini." Keisha kecil yang belum bisa mengatakan huruf R dengan benar— menunjuk bunga-bunga yang tertata rapi di atas meja. Bunga itu sudah dirangkai oleh sang mama. "Mau Mama ajarin nggak?" Echa— sang mama bertanya. Mendengar itu Keisha langsung mengangguk semangat. Seperti hari biasanya dia akan menemani sang mama ke toko bunganya. Di rumah hanya ada pembantu, papanya bekerja di kantor, hingga Keisha di bawa Mama ke sini setiap hari. "Iya, Ma." "Sini! Biar Mama ajarin," ujar Echa. Keisha kecil memperhatikan gerakan tangan sang mama yang lihai merangkai beberapa bunga. Hasilnya sangat indah dan selalu membuat Keisha selalu terpukau sendiri. "Awal-awal sebelum merangkai bunga, kamu harus tentuin konsepnya dulu." Mama menjelaskan, Keisha mendengar dengan saksama. "Cala tentuin konsep kayak gimana, Ma? Keisha ndak tau." Keisha kecil cemberut, menatap sendu bunga-bunga yang belum dia rangkai sama sekali. Mama malah tertawa pelan setelah itu. "Caranya mudah sayang. Kamu harus memikirkan konsepnya dari sini." Mama mengetuk kepala Keisha membuat Keisha semakin bingung sendiri. "Kalau belum paham nggak apa-apa kok. Keisha masih kecil, tapi Keisha harus ingat dengan jelas apa yang Mama bicarakan saat ini," ujar Mama. "Perhatikan cara Mama merangkai bunga dan dengarkan apa yang Mama jelaskan, oke?" lanjut Echa. Keisha mengangguk pelan, sangat penurut sekali. "Setelah menentukan konsepnya, kamu harus pilih kombinasi jenis bunga apa aja," jelas Mama lagi. Wanita itu mengambil beberapa bagai jenis bunga yang terletak di atas meja. "Untuk yang ketiga, Keisha harus sesuaikan perpaduan warna bunga dengan tema yang kita inginkan," ujar Mama. Mata polos Keisha terus memperhatikan mamanya yang memilih beberapa bunga-bunga itu. "Selanjutnya pilih vas bunga yang bakal kamu gunain." Mama beralih mengambil vas bunga yang ada di dekat mereka. Mama tersenyum lembut menatap Keisha, mengusap rambut Keisha dan kembali menjelaskan cara merangkai bunga tersebut. "Kemudian potong tangkai bunga, untuk cara pemotongannya, Keisha harus sesuaikan dengan ketinggian Vas bunga." Mama menoleh kepada Keisha yang sangat fokus memperhatikan penjelasan Mama tentang cara merangkai bunga di dalam vas tadi. "Langkah berikutnya, tata bunga di dalam vas." Tangan Mama begitu lihat memasukkan beberapa bunga tadi ke dalam vas berbentuk persegi itu. Keisha memiringkan kepalanya dan tetap memperhatikan. "Dan yang terakhir," Echa mengambil teko air yang ada di atas meja dan menuangkannya ke dalam vas bunga. "Air sangat dibutuhkan di sini, supaya bunganya terlihat segar. Serta untuk mempercantik, Mama selalu menambahkan aksesoris di dalam rangkaian bunganya biar semakin terlihat cantik." Mama memasukkan beberapa tumbuhan pakis untuk penambahan aksesoris. Keisha langsung tersenyum lebar melihat rangkaian bunga yang ada di dalam vas itu. Mata polosnya berbinar. "Gimana, Keisha. Cantik nggak?" tanya Mama. Keisja mengangguk cepat. "Sangat cantik, Ma. Setelah besal nanti Keisha mau jadi kayak Mama. Selalu pandai melangkai bunga," ungkap Keisha kecil. Mama hari itu hanya bisa tersenyum gamas dan mengusap rambut Keisha. "Mau jadi apa pun kamu nantinya. Mama akan tetap bangga sama kamu, Keisha. Karena kamu anak Mama satu-satunya," ujar Mama dengan lembut. Keduanya saling tersenyum. Sebelum Keisha terlihat khawatir karena mamanya tiba-tiba batuk hebat bahkan mengeluarkan darah dari mulutnya. "Mama ndak apa-apa? Mama beldalah," lirih Keisha. Gadis kecil itu sudah meneteskan air matanya karena melihat darah uang keluar dari mulut sang mama. Hari itu Keisha tidak tahu apa-apa yang terjadi. Sebelum akhirnya Mama meninggalkannya bersama Papa. Mama terlihat tenang saat terbujur kaku di atas ranjang pesakitan. Hingga lambat laun, Keisha paham. Kalau mamanya saat itu mengidap leukemia, Mama sudah lama bertahan untuk dirinya. Akan tetapi, Mama sudah tidak sanggup lagi menahannya semua rasa sakit itu, hingga puncaknya memilih meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. "Hiks ...." Keisha tidak bisa menahan tangisannya lagi. Ketika mengenang masa-masa itu, hati Keisha terasa sangat sesak. Sejak kecil dia sudah ditinggalkan oleh sang mama. Akan tetapi, dia cukup bersyukur karena Tuhan mendatangkan orang-orang baik ke kehidupannya. Contohnya seperti Bunda Shyara. Bunda yang sudah merawat dirinya dari kecil sampai besar seperti sekarang. Bunda memang bukan wanita yang melahirkannya, tetapi Bunda yang selalu mengerti dengan dirinya. Bahkan Papa saja tidak bisa seperti Bunda ataupun Mama. Namun, Keisha lagi-lagi bersyukur karena Papa tidak berubah ketika menikah lagi. Papa tetap sayang dengan dirinya meski sudah mempunyai istri baru bahkan anak dari Bunda Shayra. Papa selalu mengedepankannya, tidak urung kalau Keisha merasa bangga menjadi anak Papa, Mama dan Bunda. "Ma ... Keisha sekarang udah bisa merangkai bunga sama seperti Mama. Mama pasti banggakan sama aku?" lirih Keisha, membiarkan air matanya terus menetes. Sementara tangannya sibuk merangkai bunga-bunga yang ada di depannya. Keisha mengusap air matanya, tidak mau menangis lama-lama. Doni pasti bisa curiga saat melihat natanya sembab dan sedikit bengkak nantinya. *** Pukul 8 malam. Toko baru Keisha tutup, Doni yang menyuruh. Laki-laki itu bahkan mengomel sejak tadi karena dia sedikit memperlambat penutupan toko. Biasanya Keisha tutup sore atau jam 7 malam. Akan tetapi, malam ini Keisha memang sengaja melakukan itu. Entahlah, dia suka mendengar suara Doni yang mengomel. Rasanya seperti radio rusak. Astaga Keisha, kamu sudah seperti istri durhaka saja. "Besok-besok kalo tutup jam segini lagi, gue bakal suruh Om Denis buat tutup toko lo ini selama-lamanya," ujar Doni, masih saja mengomel ketika dirinya baru saja sampai di depan halaman rumah. "Udah, ih! Kok malah makin ngomel? Kan gue udah pulang dengan selamat?" bakas Keisha. Doni tampak merotasikan bola matanya, mengajak Keisha masuk ke dalam rumah. Memang saat pulang tadi, Keisha melarang Doni untuk menjemputnya karena dia tahu kalau laki-laki itu belum terlalu sehat. "Katanya kita mau nginap di rumah Ayah sama Bunda, masa datang jam segini ke rumah mereka?" ujar Doni. Keisha meringis pelan, jujur, dia melupakan hal itu. "Maaf, Doni. Gue lupa," cicit Keisha. "Gimana dong ini?" Keisha bertanya, raut wajahnya sedikit panik melihat ekspresi Doni yang berubah datar. "Udah gue duga, sih lo lupa." Doni menjawab dengan ketus. "Udahlah, nggak usah nginap," lanjutnya lagi. Kemudian berlalu dari sana meninggalkan Keisha di bawah tangga. Keisha menggigit bibirnya cemas. Dia sangat menyesali dirinya yang suka pelupa sekarang. "Bujuk sana! Suami kamu itu lagi ngambek, dari tadi dia udah mondar mandir terus karena kamu belum pulang-pulang juga," ujar Papa, yang dayang dari arah belakang dam mengusap kepala Keisha dnegan lembut. Papa bakal jadi orang baik kalau tidak ada yang mengungkit tentang kejadian Alvaro yang tidak datang ke pernikahan hari itu. "Keisha benar-benar lupa, Pa. Tadi di toko banyak pesanan," ujar Keisha. Papa mengangguk paham. "Ya udah, kamu jelasin aja kayak gitu. Doni pasti paham kok." Papa tersenyum lembut. "Kalau mau Doni nggak makin ngambek kamu tinggal cium dia aja, Kei. Bunda sering ngelakuin itu kalo Papa kamu lagi ngambek," sambar Bunda yang baru datang. Keisha tertawa pelan, apalagi melihat wajah papanya yang memerah seakan salah tingkah. "Bund!" tegur Papa. "Papa mending kalo udah di cium sama Bunda bakal luluh. Lah, kalo Bunda lagi ngambek. Papa malah cosplay jadi tukang pijat." "Ya, itu kan syarat kalo mau Bunda nggak ngambek lagi." "Nggak percaya Papa. Sekali peluk aja Bunda udah langsung luluh, Papa yakin itu," balas Papa. Keisha menggeleng pelan karena orang tuanya malah berdebat hal-hal yang kecil. "Udah," ujar Keisha yang ada ditengah-tengah mereka. "Papa sama Bunda lanjut aja, Keisha mau ke atas dulu." Keisha langsung berlari menaiki tangga. Memikirkan berbagai cara untuk membujuk Doni. Karena laki-laki iti jarang sekali mengambek seperti saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN