(22)

1737 Kata
Desember sebentar lagi tiba, tanda tahun akan berganti dalam satu bulan lebih lagi. Musim hujan pun sudah datang, sejak siang, sore maupun malam, hujan bisa datang saja. Satu musim yang tidak Doni sukai, dia punya kelemahan tentang cuaca yang dingin. Meski dia sudah bersiaga untuk memakainya jaket tebal ke mana-mana. Akan tetapi, flu juga akan menyerangnya, sama seperti saat ini. "Hachim?!" Sudah berapa kali dia bersin, hidungnya juga memerah. Doni mengusap hidungnya yang terasa gatal, matanya juga ikut berair. "Hah ...." Doni mengembuskan napas perlahan, hidungnya bahkan mampet sebelah. Hal yang membuat Doni sudah bernapas saja. Pintu kamar terbuka, Keisha masuk ke dalam dengan teh hangat yang di bawa gadis itu. "Masih bersin-bersin lagi?" tanya gadis itu. Doni mengangguk. "Iya— hachim!" Doni menatap sendu pada Keisha, sungguh di kondisi seperti ini yang sangat Sini benci. "Minum dulu teh, ya," suruh Keisha. Doni menurut saja, meniup teh itu dengan pelan kemudian meneguknya perlahan. "Pusing nggak?" tanya Keisha, duduk pinggiran kasur sementara Doni duduk bersandar di kepala ranjang. "Nggak pusing, tapi bersinnya nggak berhenti," gerutu Doni, mencabut satu tisu yang ada di atas nakas kemudian mengusap hidungnya. Keisha tampak turut prihatin. "Libur dulu kuliah hari ini, istirahat aja," pinta Keisha. "Nggak bisa." Doni menolak dengan gelengan. "Ada kuis hari ini, lumayan itu buat tambah nilai gue," lanjut Doni. "Don." Keisha terlihat tidak suka atas jawabannya. "Satu hari nggak ikut kuis nggak bikin lo rugi," jelasnya. "Rugi buat gue, Kei!" balas Doni cepat. "Gue bakal aman kalo nilai gue baik-baik aja." Doni memalingkan wajahnya, sebenarnya tidak mau berdebat di saat seperti ini. Dahi Keisha mengkerut. "Lo makin kelihatan ambis, Don. Pikirin diri lo dulu, jangan mikir nilai aja." "Gue harus cepat lulus, Kei. Lo tanggung jawab gue sekarang, mau sampai kapan kita numpang di rumah Papa lo terus?" tanya Doni, kembali mengusap hidungnya dengan tisu. "Gue bakal cepat lulus dan kerja di kantor Papa untuk menggantikan posisinya, setelah itu gue bakal rajin kerja buat beliin rumah untuk lo sekaligus menafkahi lo." Doni menjelaskan, menatap lekat Keisha. "Ya, nggak gini juga, Don. Baik gue, Bunda dan Papa nggak masalah kita tinggal di sini dulu. Jangan terlalu memaksakan diri, Don. Lo itu manusia bukan robot yang di suruh lulus kuliah dalam jangka satu tahun," ujar Keisha, bergeming di tempatnya. Doni menarik sudut bibirnya. "Nggak apa-apa, Kei. Gue udah mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bagi gue, sejak itu gue nggak mau mengorbankan apa pun lagi. Gue mau rajin belajar biar lulus dengan nilai yang memuaskan, sekaligus Ayah bisa bangga sama gue. Anak yang selama ini hanya bisa menyusahkan dirinya." Doni tersenyum miris, dia dan Dimas sudah lama tidak bertemu. Akan tetapi, dia tahu kalau pria itu terus memantaunya dari jauh. "Gue jadi kangen Ayah sama Bunda, Kei. Nanti malam kita nginap di sana lo mau, nggak?" tanya Doni, sungguh dia sudah merindukan rumahnya itu. "Gue ikut aja, sekalian gue udah lama nggak ke temu sama Bunda Kiran." Keisha tersenyum kikuk. Doni mengangguk pelan. "Makasihnya, Kei. Mungkin lo makin ribet untuk satu bulan ini karena gue terus terkena flu kalau hujan tiap hari turun terus cuaca semakin dingin kayak sekarang," ujarnya, laki-laki itu mengeratkan jaket yang dia kenakan saat ini. "Nggak apa-apa, kata Bunda ini udah tugas gue," balas Keisha. Doni semakin tersenyum senang mendengar jawaban ini. "Gue mau tidur bentar, jam sebelas nanti baru ada jam kuliah. Nanti jangan lupa bangunkan, ya?" pinta Doni, mulai merebahkan tubuhnya yang terasa sangat dingin sekali. "Iya, lo tidur aja dulu." Keisha menyelimutinya tubuh Doni, agar laki-laki itu tidak kedinginan nantinya. Jam 10.30 Keisha langsung membangunkan Doni, untungnya Doni tidak susah dibangunkan. Laki-laki itu akan tersentak dengan sendirinya ketika merasa tepukan di pipi. "Udah jam berapa sekarang?" tanya Doni, suaranya terdengar serak tanda baru bangun tidur. Mengucek matanya beberapa kali. "Setengah sebelas, lo siap-siap dulu, gih. Jangan mandi dulu! Ntar flu lo makin menjadi," tutur Keisha. Gadis itu berjalan menuju lemari untuk mengambilkan satu set pakaian Doni yang akan dipakai ke kampus. "Kalo nggak mandi bau, lah, Kei," sahut Doni. Menyibak selimutnya dan duduk perlahan-lahan. Doni ini tipe orangnya tidak suka dilarang mandi. Dia merasa sedikit aneh pada tubuhnya kalau tidak mandi dalam satu hari. "Ya, tinggal pake deodorant sama minyak wangi, Don." Keisha meletakkan pakaian Doni di sisi tempat tidur. Kemudian gadis itu berkecak pinggang. "Lo mau kalo flu lo makin susah sembuh, kalo lo, ya tetap mau mandi juga?" tanya Keisha. Doni mengembuskan napas pelan, kalau sudah begini Doni tidak bisa apa-apa lagi, selain menuruti apa yang dikatakan Keisha. "Iya, iya, gue nggak mandi." Doni pun berdiri, membawa pakaiannya tadi ke dalam kamar mandi hendak menggantinya. Doni bahkan berjalan sedikit lemas. Tidak lama kemudian Doni keluar dari sana, sedikit lebih fresh karena menyempatkan mencuci mukanya sebentar saja. "Mata kuliah lo, habis jam berapa?" tanya Keisha, gadis itu juga kelihatan sedang bersiap-siap juga. "Jam tigaan kayaknya," sahut Doni. Berjalan ke arah meja belajar kemudian memasukkan beberapa bukunya ke dalam sana. "Lo mau ke toko bunga?" tanya Doni. Keisha hanya mengangguk sebagai balasan. "Gue anterin kalo gitu." Keisha langsung menggeleng. "Lo nggak boleh bawa motor sebelum lo sehat. Gue udah bilang sama Mamang tadi buat anterin kita berdua," jelas Keisha. Doni memilih menurut saja, dia juga tidak yakin bisa membawa motor dengan selamat sampai ke kampus nanti. Pasti fokusnya teralihkan karena bersin-bersin. Doni menunduk ketika bersin itu kembali menyerang, hidungnya juga masih mampet seperti tadi. Setelah bersiap-siap mereka berdua turun ke lantai bawah. Doni di suruh Keisha ke depan lebih dulu. Sementara gadis itu ke dapur entah mencari apa di sana. "Mang," sapa Doni pada supir pribadi yang sudah lama bekerja di sini. "Iya, Den. Berangkat sekarang kan?" tanya si Mamang. Doni mengangguk pelan. "Iya, Mang. Tapi tunggu Keisha dulu, dia masih di dalam," ujarnya, Doni lebih dulu masuk ke dalam mobil. Kali ini memakai hoodie hitam dengan dalaman kaos yang cukup tebal, Keisha sudah mempersiapkan segalanya. Doni lantas tersenyum tipis dengan sikap Keisha yang semakin hari semakin perhatian dengannya dan Doni cukup merasa spesial sekarang. "Mang, Ac-nya boleh dikecilin aja nggak?" Ah, ternyata sudah datang. Doni tidak menyadari hal itu karena sibuk dengan pemikirannya sejak tadi. "Boleh, Non." Mobil mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah dan siap membelah jalan raya. Siang ini cuacanya mendung dengan gerimis kecil-kecil. Akan tetapi, siap yang menduga kalau dipertengahan jalan kalau hujan semakin deras. Gerimis tadi sudha digantikan dengan hujan yang lebat. Doni mendesah kecil, cuaca semakin dingin saja. Dia menatap buliran air yang mengenai kaca jendela mobil. Perjalanan menuju kampus cukup lama karena terhambat oleh hujan. "Doni," suara Keisha yang mengintruksikan membuat Doni menoleh pada gadis itu. "Apa?" tanyanya. Keisha tidak menjawab, gadis itu malah membalutkan syal rajut ke leher Doni. Cukup menghantarkan kehangatan di sana. "Biar nggak terlalu kedinginan," ujar Keisha. "Terus ini ada obat flu lo, jangan lupa minum pas usai makan siang nanti. Biar cepat sembuh." Keisha kembaki melanjutkan. Doni langsung tersenyum hangat. "Makasih," ujar Doni dengan tulus, memasukkan obat tadi ke dalam tasnya. Menatap Keisha sengan intens. "Gue beruntung karena lo jadi istri gue sekarang, Kei. Gue harap hubungan ini akan tetap bertahan hingga kita menua nanti." *** Kuliahnya berjalan lancar jadi ini. Doni tersenyum lebar ketika keluar dari ruang kelas, memperbaiki letak syal rajutnya yang sedikit berantakan. Teman sekelasnya tadi menatapnya dengan aneh karena memakai syal, karena cukup berlebihan. Akan tetapi, setelah mengetahui kalau Doni sedang flu, merasa memaklumi malah sedikit tampak prihatin karena Doni bersin-bersin terus sepanjang mata kuliah berjalan. Kuis hari ini juga berjalan cukup lancar. Doni berdoa agar hasilnya nanti cukup memuaskan, agar dia bisa menunjukkan dengan ayahnya nanti. Pukul 3 sore. Hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu. Langit berubah menjadi cerah, langit biru terlihat bila mata memandang. Doni bergegas ke parkiran, kata Keisha tadi, si Mamang akan menjemputnya bila pulang kuliah. Namun, saat sampai di sana. Dia belum melihat ada si Mamang, maka dengan terpaksa Doni duduk di pos satpam untuk menunggu si Mamang datang. Akan tetapi, ada yang mengusik Doni saat ini. Dari kejauhan dia bisa melihat dengan jelas kalau Selly sedang berjalan menuju ke arahnya, bukan hanya Selly saja. Ada beberapa mahasiswa yang mengikut langkah gadis itu dari belakang. Setelah Selly berdiri di depannya lantas Doni mengernyit, melihat ekspresi wajah Selly yang terlihat menatangnya. "Gue ke sini mau nantang Kak Doni. Ini permintaan terakhir gue," ujar Selly, menatap Doni yang tidak gentar. "Ada beberapa teman gue yang gue bawa ke sini. Mereka bakal jadi juri untuk menentukan siapa pemenang diantara kita nanti." Selly pun mengangkat tas yang berbentuk biola itu. Tidak perlu dijelaskan lagi, Doni sudah tahu maksud dari Selly. Doni tertawa pelan kemudian mengusap hidungnya. "Gue nggak minat, Sel," tolak Doni mentah-mentah. Selly begini mungkin karena penolakannya kemarin. "Kalo lo nolak, itu tandanya lo lemah, Don. Masa lo nggak berani terima tantangan gue, oh, atau lo takut kalah dari gue?" tanya Selly, masih menantang Doni dengan senyuman remeh gadis itu. "Kalo gue kalah, gue bakal nggak maksa lo buat ngajarin gue latihan. Dan kalo gue menang, lo harus ngajarin gue untuk latihan biola, " lanjut Selly. Doni kemudian menatap sekeliling, teman-teman Selly juga tersenyum mengejek. Lantas dia mengembuskan napas pelan, kembali menatap Keisha. "Gue bukan tandingan, lo!" ujar Doni. Sungguh, dia hampir saja mau menerima tantangan tadi, kalau saja matanya tidak sengaja melihat salah satu orang kepercayaan ayahnya. Penjagaan Doni sepertinya semakin diperketat. "Gue tetap nggak mau terima tantangan lo, sampai kapanpun," lanjut Doni. Selly juga terlihat sangat kecewa atas penolakannya. Doni mendesah lega karena mobil jemputannya sudah datang. Dia harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. "Gue balik dulu, kalo mau cari lawan, cari orang lain aja, Sel." Doni memutar tumitnya, berbalik meninggalkan orang-orang di sana. Beberapa langkah lagi Doni sampai di depan mobilnya, langkah laki-laki itu langsung terhenti ketika mendengar alunan musik yang sering dia mainkan saat dulu. Doni memejamkan matanya, tangannya sontak terkepal kuat. Melodi yang dibawakan oleh Selly ini adalah salah satu melodi favorit Doni. Helaan napas terdengar dari Doni. Dia tetap bergeming di tempatnya, menunggu alunan musik tadi terhenti. Setelah itu tanpa menoleh lagi ke belakang, Doni masuk ke dalam mobil begitu saja. Dia juga sempat melirik ke arah Selly yang semakin menatapnya dengan penuh kekecewaan. Doni menunduk dalam, menatap kedua tangannya yang sudah lama tidak memegang alat musik itu. Doni langsung mengepalkan kedua tangannya kembali, terus membohongi diri sendiri dengan cara begini. Hidup Doni sudah di atur oleh ayahnya, jadi dia tidak punya alasan untuk kembali memainkannya alat musik itu. Tidak mau pernikahannya terancam karena dia kembali memainkan biola. Pengorbanan perlu dilakukan ketika kita ingin mendapatkan sesuatu. Seperti Doni saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN