(21)

1556 Kata
"Gue tetap mau buka toko, Doni?!" Lihatlah, gadis ini sangat keras kepala. Doni sudah berulang kali melarang untuk tidak membuka toko bunga untuk hari ini. Karena gadis itu masih terlihat sedikit pucat karena diare yang mendera Keisha. "Kei, bisa dengerin apa kata suami nggak? Lo masih sakit, tuh wajah lo masih kelihatan pucat juga," ujar Doni, yang sebenarnya sangat gregetan sendiri melihat tingkah Keisha ini. Namun, Keisha tetap menggeleng. "Toko bunga baru satu bulan dibuka, Don. Masa gue tutup, sih? Ntar pelanggan gue malah lari lagi," balas Keisha, tetap bersikeras. Doni jadi merotasikan bola matanya. "Satu hari libur nggak bikin pelanggan lo lari, Kei." Doni memakai kaos hitam yang baru dia ambil di dalam lemari. Kemudian laki-laki itu menyambar laptopnya di atas meja belajar dan membawanya ke tempat tidur. Sebelum pergi kuliah siang nanti, dia ingin mengerjakan tugasnya yang belum selesai. "Doni ... ayolah! Gue mau buka toko, kasian Mbak Fina ntar dia udah nungguin di toko," ujar Keisha, gadis itu mendekati Doni yang sudah sibuk di depan laptopnya. "Tenang, Mbak Fina udah gue telepon tadi. Dia juga nggak masalah kalo toko tutup." Doni menyipitkan matanya, membaca salah satu soal kemudian mengisi jawabannya. "Lo, ah. Gue mau buka toko, Doni ...." Keisha merengek, gadis ini sudah terlihat seperti sepupunya yang dulu. Selalu merengek dengannya agar dibelikan lollipop, bila Papa Denis tidak mau membelikan Keisha. "Ntar lo masuk kuliah, gue nggak ada teman di rumah. Bunda juga belum pulang," lanjut Keisha. Gadis itu terus saja merengek. Doni menghela napas pelan, kemudian menatap Keisha yang bergeming di tempat. "Lo mau banget buka toko?" tanya Doni. Keisha langsung mengangguk semangat. "Oke, gue bakal izinin buka, kalo lo jangan terlalu capek. Terus jangan makan pedas-pedas untuk seminggu ini, lo juga harus banyak duduk di toko. Biar Mbak Fina aja yang kerja, lo mantau dia aja, kan lo masih sakit." Doni berbicara panjang lebar. Keisha tampak mencebikkan bibirnya. "Tapi kan—" "Buka toko atau nggak sama sekali?" timpal Doni. "Ish, iya, iya, buka toko. Gue janji nggak bakal kecapean hari ini," sahut Keisha. Gadis itu terlihat sebal sekali, tetapi Doni tersenyum senang karena Keisha akhirnya tidak keras kepala lagi untuk menentang ucapannya. "Istri pintar." Doni menepuk puncak kepala Keisha lembut. "Sekarang lo buatin kopi untuk gue, buka tokonya siang aja sekalian gue pergi kuliah," lanjut Doni. Kembali menatap layar laptopnya. "Doni, itu nggak kelamaan bukanya?" tanya Keisha, gadis itu seakan tidak mau buka toko bunga di siang hari. "Lah, lo bilang kan, kalo gue pergi kuliah lo bakal nggak ada teman di rumah? Sekarang gue masih di rumah ini, jadi buka tokonya siang aja," jelas Doni. Laki-laki itu tersenyum lebar. "Iya, iya, deh. Lo selalu menang untuk hari ini," ujar Keisha cukup sedikit kesal. Akan tetapi, gadis itu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar untuk membuat kopi buat Doni. Doni tersenyum tipis. Mencoba fokus untuk menyelesaikan tugasnya yang akan dikumpulkan hari ini. Benar-benar banyak tugas, mengingat Doni hanya mengambil perkuliahan satu tahun saja untuk meraih gelar dibelakang namanya nanti. Ada juga yang mau Doni ceritakan. Meski hubungan dia dan Keisha baik-baik saja berapa bulan ini. Akan tetapi, Doni tidak pernah menyentuh Keisha lebih intim lagi. Dia takut melakukan itu, takut kalau Keisha akan membencinya. Meski dia harus rela menahan diri berdekatan dengan gadis itu. Apalagi Keisha akan memakai pakaian cukup tipis di malam hari, karena AC dimatikan. Kan, Doni sendiri tidak tahan terkena dingin sedikit saja. Maka itu Keisha memutuskan untuk memakai pakaian sialan itu. Dia juga tahu kalau Keisha sadar akan tatapannya yang seakan meminta lebih, tetapi gadis itu terlihat biasa saja dan terkesan cuek. Oh, ayolah, dia ini laki-laki normal. Melihat gadis yang berpakaian super pendek dan tipis pasti tergiur sendiri. Untung saja Doni bisa berpikir jernih, tidak mau membuat Keisha tidak nyaman di dekatnya. Gadis itu menerima dirinya saja Doni sudah sangat senang, maka itu Doni tidak mau menghancurkan imagenya di depan gadis itu. Biarlah Doni menahan diri, agar Keisha nyaman di dekatnya dan tidak membencinya lagi. Doni bahagia kalau rumah tangga mereka akan begini-begini saja. Doni juga tidak mau berharap kalau Keisha mau mengandung anaknya nanti. Biarkan gadis itu menerimanya lebih dalam lagi, sehingga gadis itu akan memberikan hak Doni dengan sendirinya tanpa Doni minta sama sekali. Jangankan berhubungan itu, berciuman saja mereka tidak pernah. Paling saja Doni mencium pipi Keisha, sudah itu saja. Karena aktivitas cium pipi sudah lama dia lakukan pada gadis itu, sebelum mereka menikah. Doni merasa hal itu adalah hal yang biasa, sebuah ciuman pipi yang mengungkapkan perasaan sayangnya pada Keisha. "Nih, Doni. Kopi buatan gue, semoga suka." Keisha datang dan meletakkan nampan yang di atasnya ada satu cangkir berupa kopi. "Wah, makasih istri." Doni tersenyum manis, mengambil kopi itu dan menyeruputnya sedikit. "Enak nggak?" tanya Keisha, penuh harap. Doni juga tahu kalau ini adalah kopi kedua yang pernah Keisha buatkan untuk dirinya. "Lumayanlah, lo harus belajar lagi sama, Bunda. Biar kopinya lebih enak lagi," ujar Doni, dia akan jujur daripada membohongi Keisha, semata-mata membuat gadis itu bahagia. Percuma saja rasanya, ini kan pasal kemampuan Keisha dalam membuat kopi. Usai makan siang dan melaksanakan sholat berjamaah. Doni dan Keisha langsung bergegas pergi meninggalkan rumah. Doni lebih dulu mengantarkan Keisha ke toko bunga gadis itu. Mbak Fina juga sudah datang lebih dulu, kebetulan kunci serap toko Keisha berikan pada wanita itu. Agar bisa lebih dulu membuka toko dan dirinya akan menyusul nanti. "Hati-hati," pesan Keisha. Gadis itu mencium tangan Doni dan untuk kali ini Doni membalas dengan ciuman di pipi. Tidak seperti biasanya, kalau setelah Keisha menyalim tangan Doni akan langsung pergi, tetapi hari ini dia ingin mengambil kesempatan. "Sembarangan cium! Ini di depan umum tau!" Keisha melototinya, Doni hanya tertawa pelan karena sangat lucu melihat ekspresi wajah Keisha seperti itu. "Ya elah, Kei. Cuman cium pipi doang, bikan cium bibir," sahut Doni, menyeringai lebar. Sementara Keisha semakin melotot. "Udah, sana lo pergi! Ntar telat lagi," usir gadis itu terang-terangan. "Iya, iya, tegaan banget lo usir suami sendiri," gerutu Doni, wajahnya seketika cemberut. Kemudian menarik gas motornya dan berlalu dari toko bunga itu. Beberapa menit kemudian motor Doni memasuki area kampus, dia langsung memarkirkan motornya di sana. Laki-laki itu tersenyum lebar ketika melihat Selly yang kebetulan baru datang juga. "Sel!" Doni menghampiri gadis itu. Ingin menjalankan misi agar gadis ini bisa berkenalan dengan teman sekelasnya. "Gimana, lo mau kan kenalan sama teman gue itu?" tanya Doni. "Gue jamin, deh, orang benar-benar baik," lanjutnya. Selly tampak berpikir sebentar, kemudian tidak berapa lama mengangguk pelan. "Gue bakal mau, kalo ada syaratnya," ujar Selly. Doni terus menatap Selly, menantikan apa salah satu syaratnya. "Lo harus mau ngajarin gue latihan biola, soalnya satu bulan lagi gue ada turnamen untuk mewakilkan kampus ini," ujar Selly. Doni langsung terdiam, mengajari Selly? Itu berarti dia akan memegang alat musik itu lagi setelah kian lama. "Sel, gue nggak bisa. Tapi lo tau kan? Kalo sekarang gue lagi banyak tugas, gue nggak boleh lalai sedikitpun. Karena batas gue cuman satu tahun, kalo gue nggak lulus secepat itu. Ayah gue bakal marah besar," jelas Doni, sangat berat menerima persyaratan itu. Selly langgsung bersedekap. "Ya udah kalo begitu, gue nggak mau kenalan sama teman lo itu," balasnya. Doni menggaruk kepalanya, sedikit bingung. Dia terdiam sebentar. "Udahlah! Gue nggak jadi tolong teman gue itu, gue nggak mau ambil resikonya." Doni akhirnya pasrah, gara-gara ingin menolong teman baru, dia malah terkena imbasnya nanti. Tidak! Doni tidak mau hal itu terjadi. "Jadi lo nggak mau ngajarin gue gitu?" sambar Selly. Doni mengangguk kaku, sangat tidak enak sekali dengan Selly. Akan tetapi, sejurus kemudian Selly memeluk lengan. "Ayolah Kak Doni, gue mohon banget bantuan lo. Gue nggak mau kalah." Selly mengerjapkan matanya dengan polos, merengek selerti anak kecil di depannya. "Nggak bisa, Sel. Lo tau kan, Ayah gue kayak gimana?" tanya Doni, sekali lagi dengan berat hati menolak permintaan Selly. "Kan bisa diam-diam, Kak. Gue janji, deh, pas latihannya di rumah gue aja. Biar nggak ketahuan," ujar Selly, ternyata masih tidak mau menyerah juga. Doni jadi menatap sekeliling, kemudian menunduk lagi menatap Selly. "Mata-mata Ayah gue banyak, Sel." Doni menggeleng berat. "Gue nggak bisa untuk kali ini. Lo pasti menang kalo berusaha sekuat mungkin tanpa perlu gue ajarin," tandas Doni. Doni tahu, sejak dulu dia sering dipantau oleh mata-mata ayahnya, hanya untuk memastikan dirinya belajar dengan benar atau tidak. Itu saja, sehingga Doni tidak heran bagaimana ayahnya akan tahu bagaimana tingkah dan perbuatannya di luar sini. "Parah lo," seru Selly, wajahnya berubah sinis. "Ayolah, Sel. Gue juga ada alasan untuk melakukan ini semua. Gue rela nggak melanjutkan mimpi gue, demi seseorang yang gue sayangi," ujar Doni, sebenarnya tanpa sadar mengatakan hal itu. Sejak itu Selly menatapnya dengan lamat. "Jangan bilang, lo ngelakuin ini karena Kak Keisha, Don?" tanya Selly. Tidak perlu lama-lama menebak apa yang dikatakan Doni tadi. Doni menelan ludahnya sendiri, sedikit gugup. "Nggak itu aja, lo nggak tau cerita yang sebenarnya." Doni memalingkan wajahnya, enggan menatap Keisha. "Apa ada yang lo sembunyikan dari gue, Don?" tanya Selly lagi. Doni menggeleng pelan. "Kelas gue sebentar lagi dimulai, gue duluan." Pada akhirnya Doni memilih lari saja, atau tidak mau melanjutkan pembicaraan ini lagi. Doni mengepalkan kedua tangannya, takut kalau Selly akan bertindak untuk mengetahui semuanya. Doni tidak siap kalau gadis itu akan sedih atau lebih parahnya membenci dirinya ini. Doni terlalu beropini lebih dulu tanpa tahu bagaimana perasaan Selly sebenarnya. Masih sama seperti dua tahun yang lalu? Atau sudah berubah? Tidak ada yang tahu selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN