(20)

1838 Kata
Waktu cepat berlalu, rasanya Doni baru saja mengucapkan janji suci pernikahan, dan dia sudah sah menjadi suami dari sepupunya. Gadis yang amat dia cintai. Tiga bulan berlalu, semuanya berjalan baik-baik saja. Doni tetap berkuliah yang sialnya semakin hari, tugas kuliah makin banyak saja. Membuat waktunya bersama Keisha terkadang berkurang. Sementara istrinya itu, sejak satu bulan yang lalu memutuskan membuka toko bunga. Mengingat kegemaran Keisha pada bunga sama seperti mendiang Mama Echa. Atas bantuan dari Papa mertua, Keisha akhirnya bisa membuka toko impiannya itu. Keisha juga tidak akan kesepian lagi di rumah karena setiap hari hanya berkurung diri. Ingin pergi ke mana-mana Keisha tidak bisa, sejak dulu dia tidak punya teman perempuan. Itu yang sangat menyayangkan sekali untuk dirinya. Para gadis-gadis itu sangat membenci Keisha hanya karena Keisha dekat dengan Doni maupun Alvaro. Biasalah, orang-orang akan iri pada sesuatu yang sangat berharga itu. Ya, misalnya Keisha ini. Keisha tidak terlalu manja, tetapi apa yang ingin dia inginkan. Baik Papa dan Bunda akan mengabulkan seusaha mungkin. Lagian, Bunda tidak mau anak-anaknya terlalu manja. Ahmad saja yang baru berumur 14 tahun sudah bisa mandiri karena didikan kedua orang tua mereka. Doni juga sebetulnya ingin sekali memiliki saudara kandung. Akan tetapi, itu tidak pernah terkabulkan. Bundanya sudah dua kali keguguran dan itu membuat mereka semua tidak mau berharap lebih, terutama dengan traumanya Bunda tidak ingin mengandung lagi. Takut gagal menjaga calon bayinya sendiri. Maka itu, Doni menelan pahit-pahit keinginan terbesarnya itu. Tidak heran kalau dia sangat menyayangi Keisha maupun Selly yang sangat dekat dengannya. Sebab dulu, Doni sangat menginginkan adik perempuan. "Selly!" Doni melambaikan tangannya pada gadis di depan sana. Doni tersenyum kecil melihat gadis itu, kebetulan sekali mereka bertemu di parkiran ini. "Kenapa?" tanya Selly, gadis itu tumben sekali to the point. Doni langsung mengeluarkan satu kertas yang sengaja disobek dengan beberapa nomor yang tertulis di sana. "Ini ada titipan dari teman satu kelas gue, kayaknya dia naksir sama lo. Terus minta tolong sama gue, buat kasih nomornya sama lo," jelad Doni. Dia tentu saja tidak keberatan kalau Selly disukai oleh teman satu kelasnya. Kebetulan sudah tiga bulan kuliah, Doni mendapatkan satu persatu teman yang sangat ambis sekali dalam belajar. "Kalo dia mau kenalan sama gue, ya, usaha sendiri. Bilang aja kayak gitu sama dia, gue nggak suka pake perantara," balas Selly, gadis itu bersedekap, menatap kertas tadi tanpa minat. Mengembuskan napas pelan, Doni sudah menduga kalau begini juga reaksi Selly. Doni mengangguk pelan. "Oke, deh. Ntar gue bilang kayak gitu sama dia," ujar Doni, kembali memasukkan kertas tadi ke aaku celananya. "Cowoknya ganteng loh, Sel. Jangan ditolaknya kalo dia mau pendekatan sana lo," lanjut Doni. Tersenyum berharap pada gadis ini. Selly masih bersedekap. "Ya, lihat kayak gimana sifatnya nanti, kalo dia tipe-tipe buaya. Gue nggak nau nerima," balasnya. "Dia baik, kok. Gue juga udah tau gimana sifat aslinya," ujar Doni lagi. Selly tampak mengernyit. "Ya udah, sih. Itu kan menurut lo, gue belum tau sifatnya kayak gimana. Kan belum kenalan juga." "Oke, besok gue suruh dia temui lo di gedung sebelah." Doni tersenyum. "Kelas gue udah selesai, gue mau pulang. Dulu, ya," pamit Doni. Mengusap rambut Selly dengan pelan. "Iya, hati-hati." Selly melambaikan tangan padanya yang dia balas seadanya. Doni naik ke atas motornya, memakai helm. Saat melewati Selly sekali lagi, dia mengangguk sebentar kemudian menarik gas motornya, meninggalkan area kampus itu. Hubungannya dengan Selly baik-baik saja. Hanya saja, Doni sedikit khawatir, kalau mereka semakin dekat. Bisa saja Selly tanpa sadar berharap lebih padanya. Sementara dirinya sudah jadi suami orang sekarang. Ya, Doni belum jujur juga pada Selly. Meski dia mengetahui perasaan gadis itu beberapa tahun yang lalu. Bisa saja kan, perasaan Selly tetap sama terhadap dirinya? Doni akan bertambah bersalah kalau Selly semakin jatuh cinta padanya. Doni hanya bisa terus berdoa, agar Selly tetap sadar kalau mereka adalah dua ormag yang tidak bisa bersama sampai kapanpun. Selain dirinya sudah menikahi gadis yang amat dia cintai. Dia dan Selly juga beda agama, mereka tidak seiman. Doni juga dari dulu tidak ada rasa terhadap gadis itu. Sudah dibilang kalau rasanya tetap katuh pada Keisha, karena sampai kapanpun gadis itu adalah pemenang dihatinya. Motor Doni terhenti di salah satu toko pinggir jalan. Lima belas menit membelah jalanan kota, akhirnya dia sampai ditempat ini. Tempat yang sudah sering dia kunjungi berapa minggu ini, yaitu toko bunga Keisha. Doni mendongak menatap nama toko yang tertulis diatas sana. 'Keisha's flower.' Doni tersenyum tipis, kemudian mendorong pintu kaca di depan sana dan masuk ke dalam toko. Wangi berbagai bunga langsung menyambutnya, serta warna-warni bermacam bunga. Sangat indah dipandang dan Doni sangat menyukai tempat ini, jujur saja, apa yang Keisha sukai dia pasti menyukainya. Terkecuali, Alvaro. Laki-laki itu sudah masuk dalam daftar hitamnya, sejak sepihak memutuskan tidak mau menikahi Keisha. Doni tidak tahu, ketidak tanggung jawabnya Alvaro itu membawa keberuntungan terhadapnya atau membawa mala petaka. Hanya saja, Domi sangat takut ketika laki-laki itu datang dan langsung merebut Keisha kembali. Sama seperti yanh dikatakan oleh Alvaro sendiri. "Mbak, Keisha mana?" tanya Doni kepada satu-satunya karyawan toko bunga ini. Karyawan Keisha ini umurnya lebih tua dari mereka, Mbak Fina merupakan orang yang membantu Keisha untuk merangkai bunga-bunga serta mengantarkan pesanan pembeli. "Ada di sudut ruangan kayaknya, Don. Tadi ada bibit bunga baru yang masuk, lagi nanam itu juga kalo nggak salah, Keisha, ya." Mbak Fina menunjukan salah satu sudut ruangan yang menjadi tempat penanaman bunga di sana. Kalau sudah ada bibit bunga baru yang masuk, gadis itu akan fokus terhadap tanaman-tanaman itu, terkadang sampai lupa waktu sendiri. Doni menatap sekeliling, tersenyum kecil ketika mendapati Keisha ada di sana. Doni menatap kaca jendela yang memperlihatkan jalan raya yang sedikit macat di siang hari ini. "Kei," sapa Doni. Keduanya jelas-jelas baik-baik saja. Setelah Keisha berusaha menerima semuanya, gadis itu langsung bersikap baik seperti sedia kala. "Udah makan siang?" tanya Doni, dan gelengan pelan yang Doni dapati. Doni mengembuskan napas pelan, benar bukan? Kalau sudah fokus menanam bunga, gadis itu lupa dengan waktu. "Kelupaan, Don. Gue lagi fokus nanam salah satu bunga yang gue suka," balas Keisha. Gadis itu mengambil salah satu tempat penyiram tanaman, kemudian menyirami tanamannya tadi. "Ya, jangan sampai lupa makan dong, Kei. Udah sering gue bilang, nggak usah nanam sendiri. Mending tinggal beli jadi aja," oceh Doni. Laki-laki itu berkecak pinggang. "Nggak asik kayak gitu, enakan tanam sendiri daripada beli jadi," balas Keisha. Gadis itu memberikan tempat penyiram tanaman tadi pada Doni. "Tolong siram bagian bunga sana, habis ini kita langsung cari restoran buat makan siang." Keisha melanjutkan, menunjukkan beberapa bunga yang sudah mekar dijejeran dekat jendela kaca. Kalau begitu, Doni tidak bisa menolak lagi. Dia akan dengan senang hati menyirami tanaman tadi atas permintaan Keisha. Lagian Doni senang-senang melakukan ini. Ada enam bunga yang Doni siram, setelah selesai Doni langsung berbalik dengan senyumannya. "Udah selesai!" Doni meletakkan benda yang dia pegang tadi ke tempat semula. "Sekarang ayo cari restoran, gue mau makan dimsum kepiting," seru Doni dengan semangat. Keisha juga terlihat baru selesai mencuci tangannya yang sedikit kotor tadi. "Wah, kebetulan banget. Gue mau makan ramen, kita ke restoran biasa aja, yuk!" ajaknya. Doni memicing tajam, menatap Keisha penuh selidik. "Makan ramennya jangan pedas-pedas, Kei!" peringatnya. Keisha langsung mengibaskan tangannya. "Gampang itu, lo jangan khawatir, deh," sahut Keisha. Gadis itu berjalan lebih dulu darinya. "Mbak, Fina jaga toko bentarnya. Kita mau makan siang, Mbak mau dibawain apa?" tanya Keisha, memang Bos yang baik gadis satu ini. "Apa aja, Kei. Mbak makan yang kamu bawa nantinya," sahut perempuan itu. Sebenarnya Mbak Fina ini adalah single parents, anaknya sudah masuk sekolah. Sehingga Keisha tidak berpikir dua kali untuk menerima wanita ini sebagai karyawannya. Selain bisa menolong, Keisha juga tidak khawatir kalau anak Mbak Fina tidak akan putus sekolah ditengah jalan karena Mbak Fina sudah lama mencari pekerjaan. Sebelum dia terima bekerja di sini. "Oke, Mbak. Kita pergi dulu, ya, Assalamualaikum," pamit Keisha. Doni mengikut dari belakang. *** Seharusnya Doni tahu, kalau Keisha itu sangat keras kepala dan sangat jarang untuk menuruti apa perkataan orang-orang disekitarnya. Doni sudah melarang untuk tidak makan ramen yang pedas-pedas. Dan gadis itu malah memesan ramen dengan level terpedas. "Gue nggak tanggung jawab nanti kalo tengah malam lo sakit perut. Dan nggak bakal mau temani lo ke kamar mandi," ujar Doni. Laki-laki itu bersedekap dengan wajah datar. "Tenang aja, gue udah sedia pencegahnya." Keisha tampak menyeringai lebar, gadis itu menunjukkan satu tablet obat pencegah diare. Doni sampai geleng kepala melihatnya itu. "Serah lo." Doni duduk tegap, menatap binar dinsum yang sudah dia oesan tadi akhirnya datang juga. Laki-laki itu meneguk ludahnya sendiri ketika tatapannya beralih pada ramen milik Keisha yang kuahnya berwarna merah sekali. "Kei, lo yakin mau makan itu?" tanya Doni, ngeri sendiri melihat bentuk ramen itu. Keisha menganguk santai. "Tenang aja, gue bakal habisi ini," sahutnya dengan penuh percaya diri. Doni pasrah saja, dia memakan dimsum kepitingnya dengan lahap. Hingga berapa menit kemudian mengusap perutnya karena kekenyangan, kebetulan dimsumnya dia pesan cukup banyak. "Kenyang banget gue," gumam Doni, menyeruput jus miliknya di atas meja. Dia menatap Keisha yang sekarang sudah menangis sendiri karena berusaha keras untuk menghabiskan ramen tadi. Doni menatap gadis itu dengan senyuman mengejek. "Tuh, nangis sendiri. Katanya bakal bisa habisi sendiri," ejeknya. "Diem, deh! Ini pedes banget beneran," ujar Keisha. Gadis itu berulang kali menyeruput jus jeruk milik sendiri, kemudian memakan ramennya lagi. Begitu terus hingga ramen di mangkuk tadi sudah habis ludes. Doni bahkan menganga, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Udah, gue mau bayar dulu," ujar Doni. Laki-laki itu berdiri dari duduknya dan menuju tempat kasir. Hingga di malam harinya, Keisha terlihat menyesal karena tidak mau mendengarkan apa yang dilarang oleh Doni. "Kan, udah gue bilang, jangan makan pedas-pedas," omel Doni, laki-laki itu menuntun Keisha agar rebahan di atas tempat tidur. Karena sudah ketiga kalinya bolak balik ke kamar mandi. "Perut gue melilit banget ini, Don," ringis Keisha. Doni hanya menatap gadis itu dengan datar. "Ini kayaknya hukuman buat lo, nggak denger omongan suami sendiri." Doni kembali mengomel, meski tangannya sibuk membuka ponsel hendak menghubungi dokter pribadi mereka. "Udah, sabar bentar. Dokternya lagi jalan ke sini," ujar Doni lagi. Laki-laki itu duduk dipinggiran kasur, mengusap dahi Keisha yang mengeluarkan keringat dingin. "Tahan dulu." "Sakit banget, Don," rengek Keisha. Begitu terus hingga dokter yang dia telepon tadi datang dan memeriksa keadaan Keisha. Untung saja satu malam ini Bunda Shayra, Papa serta Ahmad sedang menginap di salah satu hotel karena menghadiri acara keluarga di luar kita. Sehingga mereka hanya berdua di rumah ini, ah ralat, masih ada Bibi kok. Keisha langsung tertidur setelah meminum obat pemberian dokter. Sementara Doni berterima kasih pada dokter tadi dan mengantarkannya hingga ke depan teras rumah. Doni mengembuskan napas lega, mengusap sedikit peluhnya di dahi. Dia menghampiri Keisha yang sudah tertidur nyenyak. "Keras kepala banget, sampe-sampe omongan gue nggak didenger," gumam Doni, laki-laki itu tertawa pelan. Sebelum mengecup dahi Keisha dan merebahkan tubuhnya di sebelah gadis itu. Untuk saat ini mereka masih baik-baik saja, tidak tahu kedepannya bagaimana lagi. Keluarga yang tentram, status yang terlihat harmonis dan terlihat bahagia di depan semua keluarga. Sementara Doni, was-was sendiri, takut kalau Alvaro akan pulang secepat mungkin. Dia tidak mau posisi ini akan digantikan oleh laki-laki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN