Doni: gue lagi di jalan pulang nih, lo mau nitip apa?
Doni mengulum bibirnya, menatap ke arah jalan karena saat ini dia pulang naik gojek, mengingat dia yang tidak membawa kendaraan hari ini.
Keisha: lo pulang naik apa?
Laki-laki itu hanya bisa menggeleng pelan karena Keisha malah balik bertanya.
Doni: naik gojek, lo nggak nitip sesuatu gitu?
Sebenarnya saat berkendara atau dibonceng tidak baik memainkan ponsel, takut di jambret nantinya. Akan tetapi, mengingat Keisha, dia jadi ingin bertanya apa gadis itu mau dibawakan sesuatu? Misalnya makanan mungkin.
Keisha: seblak aja, bawa ke toko bunga. Kita pulang sebelum maghrib nanti.
Doni: oke, tunggunya.
"Pak, boleh mampir beli seblak dulu nggak? Nanti saya tambahin ongkosnya," ujar Doni.
"Boleh, Mas. Bentarnya saya cariin tempat kual seblak yang paling enak."
"Siap, Pak!"
Doni menatap jalanan lagi, pukul 4 sore lewat lebih sekarang. Mata kuliahnya baru saja berakhir, dan Doni semakin pusing saja karena tugas semakin banyak dari sebelumnya. Ini nih yang membuat Doni dulu tidak mau kuliah, takut tugas kuliah banyak. Akan tetapi, dia bisa apa buat?
Menikah tanpa meminta persetujuan dari orang tua. Inilah hukuman buatnya, Doni juga pasrah-pasrah saja. Tidak ada salahnya ketika dirinya nanti di lantik sebagai CEO setelah lulus kuliah. Toh, begitu nantinya, kehidupannya dan Keisha akan terjamin.
"Mas, ini tempat seblak, ya. Saya tunggu di sini aja, ya." Suara Bapak tukang gojek tadi menyadarkan Doni.
Laki-laki itu mengangguk pelan dan melepaskan helm dari kepalanya. "Sebentarnya, Pak."
Tidak lama memesan seblak dua porsi. Dia tidak terlalu suka dengan makanan ini, tetapi mengingat ada Mbak Fina yang merupakan karyawan Keisha. Makanya Doni pesan dua untuk mereka.
Usai membeli seblak tadi, Doni langsung menyuruh gojek tersebut mengantarkannya ke alamat awal tadi. Doni tersenyum kecil setelah sampai di depan toko bunga Keisha.
"Ini, Pak. Makasihnya." Doni tersenyum lebar ketika memberikan bayaran ongkos yang dia lebihkan kepada bapak-bapak tadi.
"Sama-sama, Mas."
Doni kemudian memutar tumitnya, berjalan membuka toko bunga yang terbuat dari kaca itu. Di dalam toko bunga terlihat banyak pelanggan. Keisha dan Mbak Fina terlihat sedikit sibuk. Maka itu Doni memutuskan duduk di dekat kasir. Biasanya Keisha suka duduk di situ sembari menunggu pelanggan yang datang.
Karena bosan menunuKeisha yang masih belum selesai dengan pekerjaannya. Doni memilih membuka ponselnya saja, iseng-iseng membuka i********: miliknya. Akan tetapi, hal itu ternyata mengundang kegundahan di dalam hati Doni setelah membaca satu DM yang dikirim oleh akun seseorang.
Doni membuka pesan itu, menelan ludahnya perlahan saat matanya membaca satu persatu huruf itu.
Begini isi pesannya;
Ponsel lama gue hilang, makanya gue kirim pesan lewat sini. Gue cuman mau nanya, gimana kabar Keisha? Gue tiba-tiba kangen sama dia
Dari nama akun itu dia sudah tahu siapa yang mengirim pesan tadi. Siapa lagi kalau tidak Alvaro? Laki-laki itu entah apa maunya, sudah lari dari tanggung jawab. Dan sekarang malah santainya menanyakan kabar Keisha yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya sekarang.
Doni langsung memblokir akun Alvaro, dia juga tidak mau membalas pesan tadi. Rasanya tidak penting. Tugasnya semakin berat sekarang, dia harus membuat Keisha jatuh cinta kepadanya agar gadis itu tidak akan pernah meninggalkan dirinya lagi setelah Alvaro datang ke kehidupan mereka.
"Doni! Ngelamun apa sih?"
Doni tersentak pelan, dia tersenyum kecil ketika melihat istrinya sudha berdiri di depannya. Kemudian menatap keadaan toko yang sudah sedikit sunyi sekarang, dan Mbak Fani yang terlihat sibuk merangkai bunga.
"Udah selesai kerjaannya?" tanya Doni
Keisha mengangguk pelan. "Seblak kiriman gue mana?" Ternyata Keisha menagih hal itu.
Lantas Dini memberikan satu kantung kresek yang terdapat dua styrofoam berisikan seblak. "Nih, gue beliin dua porsi. Kasih Mbak Fina satu," ujarnya.
"Lo nggak mau?" tanya Keisha.
Doni menggeleng pelan. "Nggak, udah kenyang gue." Setelah itu Doni melihat Keisha berjalan ke arah dapur, mungkin mengambil sendok agar gadis itu busa cepat-cepat memakan seblaknya.
Doni pun sekarang memilih membuka file di mana tugas kuliahnya sudah di kirim ke dalam grup, kali ini tugasnya makin macam-macam saja. Ribet kalau Doni jelaskan.
Tak berapa lama Keisha datang lagi ke tempat semula, gadis itu duduk si kursi kasir tepat di sebelah Doni.
"Mbak, Fina. Ini ada seblak, ntar ambil aja ya," ujar Keisha sedikit berteriak.
"Iya, Kei."
"Lo bener nggak mau?" Keisha kembali menawarkan kepada Doni.
Doni tadinya yang fokus sedang membaca beberapa tugas di ponselnya kembali mendongak dan menggeleng pelan.
"Lagi lihat apa, sih?" Oh, Keisha terlihat sedikit terusik karena Doni terus-terusan menatap ponsel. "Tugas kuliah?" tanya Keisha lagi.
"Iya."
Keisha terdengar mendengkus pelan, gadis itu memasukkan satu sendok seblak ke dalam mulutnya. "Alasan gue nggak mau kuliah ya, karena tugas. Lo juga pasti tau kalo otak gue di bawah rata-rata," gadis itu tertawa pelan.
Doni mengulum senyumnya. Jadi ingat dulu saat di masa SMP, Keisha kerap kali menyalin tugas sekolah dari bukunya, saat itu mereka satu kelas bersama Alvaro juga. Di antara mereka bertiga, hanya Doni yang terlihat lumayan otaknya.
Keisha tidak tertarik sama sekali dengan pelajaran apa pun, kecuali bahasa Indonesia dan kesenian. Kalau Alvaro paling suka pelajaran olahraga sih, ya karena laki-laki itu sangat suka sekali dengan basket. Kalau Doni mah, mau apa pun dia suka. Selagi itu bukan sejarah, karena Doni bosan untuk mengulang masa lalu terus.
"Kepala lo nggak pusing, Don. Karena hampir tiap hari ada tugas mulu, gue aja yang lihatnya pusing sendiri," oceh Keisha.
"Enggak pusing, karena gue ngerjainnya selalu ingat lo. Ya, gue berusaha keras kan mau bahagiain lo nantinya," jelas Doni diselingi gombalan.
Keisha lantas mengdengkus geli. "Bisa aja lo, ah!" Dia tertawa pelan.
Tawa Doni juga mulai terdengar. "Ya makanya lo harus doain gue tiap hari, biar gue bisa cepat lulus."
Keisha tidak menjawab, gadis itu malah terlihat fokus menghabiskan seblaknya. Hingga ada pertanyaan yang kerap kali hinggap di kepalanya, Doni memperhatikan Keisha dengan intens. Dia ingin menanyakan hal itu, apa Keisha bisa menjawabnya atau tidak.
"Kei,"
"Hm?"
Doni mengembuskan napasnya perlahan. "Kalo Alvaro datang lagi, apa lo mau tinggalin gue, Kei?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Gerakan tangan Keisha pun terhenti, gadis itu tidak jadi menyuapkan seblak tadi ke dalam mulutnya. Pun, raut wajahnya yang terlihat berubah.
"Apa pernikahan yang nggak lo inginkan ini, bakal tandas di tengah jalan? Karena kehadiran seseorang dari masa lalu," tanya Doni lagi.
Keisha di sebelahnya langsung tertunduk, bajkan gadis itu terlihat tidak tahu hendak menjawab apa. Maka Doni hanya bisa tersenyum tipis.
"Gue nggak mau berharap lebih, tapi gue mau terus berusaha untuk bikin lo jatuh cinta sama gue. Jangan larang gue, ya, Kei? Karena lo berarti banget di hidup gue."
Pernikahan yang tidak diinginkan oleh sepihak. Akan tetapi, Doni terus berjanji dengan dirinya, kalau Keisha harus bisa dia taklukkan apa pun caranya. Hingga gadis itu tidak bisa melepaskannya sama sekali. Keisha adalah hidupnya, dia tidak rela untuk kehilangan gadis ini untuk ke dua kalinya.
Cukup hari itu mereka tidak akur, karena permintaan absurd dari Alvaro. Keisha yang dibutakan oleh cinta hanya menurut saja saat itu.
***
"Bunda."
"Iya, Kak. Kenapa?" Shayra menatap anak sulungnya.
"Keisha mau tanya sesuatu."
Kernyitan heran tercetak jelas di dahi wanita yang sudah berumur kepala empat itu. "Ya, tanya aja, Kak," sahutnya dengan tawa pelan.
Keisha terdiam sejenak, pertanyaan Doni sore hari tadi tidak bisa dia jawab. Kalau pertama kali mereka menikah, dan Doni menanyakan hal itu. Maka dengan cepat Keisha menjawab kalau dia akan menunggu Alvaro datang serta kembali ke laki-laki itu. Akan tetapi, untuk kali ini, Keisha semakin bingung saja.
Alvaro sedang jauh di sana, dan Keisha masih mencintainya. Sementara di satu sisi dia tidak mau melukai hati Doni lagi. Doni terlalu baik, jasa laki-laki itu sangat berarti di hidup Keisha. Hingga dia tidak bisa memutuskan sesuatu, walau untuk hidupnya ke depan nantinya. Sungguh rumit dan bikin kepala Keisha pusing saja.
Maka itu dia memutuskan menanyakan sesuatu pada bundanya di ruang tengah ini setelah makan malam selesai. Doni juga ada di kamar, laki-laki itu sibuk mengerjakan tugas-tugas kampusnya.
"Dulu kata Bunda. Papa menikah sama Mama Echa karena perjodohan dan saat itu Bunda sama Papa lagi sama-sama suka, tapi diam-diam aja gitu." Keisha mulai membuka suara, mengingat cerita cinta orang tuanya dulu. "Terus, Papa juga nggak bisa nolak permintaan pamannya yang waktu itu sudah berjasa banget dalam hidupnya, maka itu menikahi Mama Echa meski amat terpaksa, lamban laun rasa cinta itu timbul juga. Dan jadilah Keisha yang sekarang."
"Kak." Shayra malah tertawa, cukup geli karena anaknya itu berbicara dengan terselip nada bercanda. Keisha juga tertawa pelan.
"Sekarang Kei, mau nanya. Gimana perasaan Bunda pas tahu kalau Papa nikah sama perempuan lain," ujar Keisha.
Shayra lantas tersenyum kecil. "Bunda patah hati, ya jelas itu dong. Tapi Bunda nggak bisa apa-apa, pasrah aja karena itu juga takdir dari yang di atas. Terus Bunda pikir kalau Papa itu bukan jodohnya Bunda," jelas wanita itu.
"Eh, nggak taunya berapa tahun kemudian Papa kamu datang lagi, terus bawa anak kecil yang imut banget. Waktu itu Bunda bingung karena lagi dekat sama seseorang atas permintaan Om Dimas, soalnya Bunda nggak nikah-nikah juga. Bunda enggak bisa milih, antara Papa kamu dan laki-laki itu."
Keisja tertarik mendengar cerita yang ini, karena dulu dia tidak pernah mendengarnya secara detail saat Bundanya sedang bercerita. Pasti ujung-ujungnya di skip saja.
"Bang Dimas juga larang Bunda buat nerima Papa kamu lagi. Karena dia cukup marah waktu Bunda ditinggal nikah, padahal kita sama-sama cinta tapi, ya diam-diam aja. Orang-orang disekitar kita pun tau kalau kita berdua ada rasa yang sama, tapi ya, namanya rencana Tuhan siapa yang tahu," ucap Shayra.
"Terus Bund?" tanya Keisha. Sungguh ingin sekali mendengar kelanjutannya.
Shayra malah mencubit pipi Keisha dengan gemas. "Karena Bunda lagi bingung, sekaligus hati Bunda udah terlanjur jatuh hati sama kamu waktu itu. Jadinya, Bunda minta pertolongan dari Allah lewat shalat istikharah untuk milih yang siapa. Hingga akhirnya sudah dapat jawaban, Bunda milih Papa kamu dan percaya kalau dia adalah jodoh Bunda meski ya duda anak satu. Bunda nggak masalah, Bunda juga percaya kalau Papa bisa bahagiain Bunda."
"Dan buktinya sekarang kita bahagia sekaligus kamu dapat Adik yang gemes kayak Ahmad," lanjut Shayra.
"Gemes kayak gimana, Bund? Wong dia nyeselin kayak gitu." Keisha mengerucutkan bibirnya.
Kemudian menatap bundanya untuk menanyakan satu hal lagi. "Terus nasib laki-laki yang Bunda nggak pilih itu gimana? Dia nggak kecewa sama Bunda atau maraj sekalipun?" tanya Keisha bertubi-tubi.
Shayra malah tersenyum. "Dia nggak marah sama sekali, ikhlas katanya karena rela Bunda nikah sama laki-laki pilihan Bunda. Asal Bunda bahagia, dia enggak apa-apa. Bunda juga nangis waktu itu, tapi berapa bulan kemudian Bunda juga bersyukur karena dia udah dapat pengganti Bunda. Malah dia terlihat bahagia banget. Begitulah kisah cinta, memang rumit."
Keisha lantas tertegun. Dia sedikit diberikan kecerahan dari kisah cintanya dulu. Sekarang Keisha bisa memutuskan kalau dia meminta bantuan dari Allah. Keisha akan mencoba hal itu, apa yang akan dapat dari jawaban itu. Keisha tidak mau mengambil keputusan yang salah kalai menyangkut kehidupannya ke depan nanti.