Waktu rasanya semakin cepat saja berlalu. Pagi berganti siang, siang berganti malam, begitu saja seterusnya. Hingga kita tidak menyadari kalau waktu semakin bergerak cepat di dunia ini. Kelalaian sering kita lakukan, sampai lupa apa tujuan kita diciptakan ke dunia ini. Godaan dunia tidak bisa ditahan, terkadang bahkan melupakan Sang Maha Kuasa, dan sekaligus lupa bersujud untuk memohon ampun kepada-Nya.
Sama seperti Keisha sekarang, dia merasa jauh dengan Sang Maha pencipta. Masalah yang dilalui selama ini terkadang membuatnya lupa meminta pertolongan pada Allah SWT. Keisha juga bukan muslimah yang taat, dia juga sering lalai menjalankan perintah dari Allah.
Hanya saja semenjak menikah, dia selalu diingatkan Doni untuk memenuhi tugasnya sebagai hamba. Laki-laki itu juga tidak bosan membangunkannya setiap subuh untuk menyuruhnya sholat berjamaah. Doni juga bukan laki-laki yang sholeh, dia terkadang suka khilaf juga. Akan tetapi, dari kecil dia sudah diajarkan untuk tidak meninggalkan sholat barang satu saja, Doni juga merasa ada yang kurang kalau dia tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba di muka bumi ini.
Dan malam ini, hati Keisha tergerak untuk melakukan sholat istikharah. Sesuai yang dilakukan bundanya dulu saat dirinya dilanda bingung untuk memilih salah satu di antara dua laki-laki yang ada di dalam hidupnya. Keisha juga berada di posisi itu sekarang, dia tidak mau salah ambil jalan.
Meski dia masih mencintai Alvaro di saat ini, tetapi dia merasa sedikit janggal di hatinya tentang perasaannya itu. Kemudian tentang Doni, jujur saja kalau Keisha memang nyaman di dekat laki-laki itu. Keisha juga merasa aman di sisi Doni, karena sejak kecil Doni lah yang menjadi tamengnya. Laki-laki itu juga yang berusaha membuat Keisha tertawa bagaimana pun kondisinya.
Heran saja, dulu saat kecil Keisha tidak bisa jauh dari Doni. Akan tetapi, setelah besar dia malah tidak berpikir luas dan malah menjauh dari Doni karena permintaan tak masuk akal dari pacarnya dulu. Kalau boleh jujur, Keisha cukup menyesal ketika menjauhi Doni. Sering juga Keisha melihat dari kejauhan kalau Doni seperti orang kesepian. Akan tetapi, di satu sisi dia merasa bahagia karena Doni dekat dengan adik kelas mereka. Sehingga Doni tidak merasa kesepian lagi.
Semenjak menjauhi Doni, kehidupannya terus berputar tentang Alvaro saja. Sejak pulang sekolah hingga pulang sekolah dia akan bertelepon dengan laki-laki itu. Seakan dunia ini hanya milik mereka berdua, Keisha juga mengabaikan orang-orang di sekitarnya, terutama Bunda. Dan lebih parahnya, Keisha pernah membentak Bunda karena tidak suka di tanya-tanya melulu.
Keisha marah dan meluapkan emosinya tanpa sadar, dan ujung-ujungnya dia sendiri yang menyesal. Begitulah Keisha, hingga kejadian di mana Alvaro tidak datang di pernikahan mereka. Lambat laun Keisha merasakan kalau itu merupakan karma untuknya karena dulu pernah mengabaikan orang sekitarnya. Menganggap Alvaro adalah sumber kebahagiaannya, ternyata bukan. Malah laki-laki itulah yang memberikan luka kepadanya karena tidak bertanggung jawab untuk datang ke pernikahan mereka.
Terkadang apa yang dikatakan Doni ada benarnya, kalau Alvaro itu berengsek dan tidak bertanggung jawab. Hanya saja, Keisha terus berpikir positif tentang laki-laki itu. Kalau Alvaro ada alasan melakukan tindakan itu, Keisha saja yang tidak tahu apa alasannya.
Di sunyi malam begini, Keisha bersujud di atas sajadah. Mulutnya tergerak untuk melafalkan bacaan sholat, sementara pikirannya terfokus dengan satu tujuan. Keisha ingin meminta bantuan dari Allah lewat sholat istikharah di pertengahan malam seperti ini.
Keisha mengucapkan salam setelah sholatnya berakhir. Kemudian gadis itu melafalkan beberapa ayat setelah sholat, dan terakhir kali dia menengadahkan tangan dengan kepala mendongak. Gadis itu memulai doanya dalam hati, Keisha benar-benar butuh pertolongan sekarang.
Keisha sadar kalau dirinya datang di saat ada dia butuh pertolongan. Akan tetapi, dia tahu kalau Allah itu Maha baik. Dari malam ini Keisha juga menaruhkan doa agar dirinya bisa menjadi perempuan yang taat kepada perintah Allah. Minimal melaksanakan lima waktu dan tidak ada bolong-bolong lagi nantinya.
"Aamiin." Keisha mengusap kedua tangannya ke wajah. Mukenah putih yang dia kenakan terlihat terang di antara temeram lampu kamarnya.
Keisha tidak berdiri seusai sholat. Dia terdiam di sana sambil menatap sajadah, pikirannya berkecamuk tetapi hatinya tersa tentram setelah melaksanakan sholat malam ini. Keisha perlahan nenarik sudut bibirnya kemudian berdiri dan melepaskan mukenanya. Meletakkan mukena dan sajadah tadi ke tempat semula.
Lantas Keisha kembali ke atas tempat tidur. Doni tidur membelakanginya, untung saja laki-laki itu tidak terganggu karena tempat tidur bergerak saat Keisha naik ke atas sana. Keisha merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Pikirannya cukup tenang sekarang, apalagi hatinya yang terasa adem sekali. Keisha tidak menyangka kalau kenikmatan setelah sholat seperti ini. Hati tenang, pikiran juga tenang. Tidak ada yang mengganjal di hatinya saat ini, dia hanya bisa menunggu sampai kapan dia bisa mengambil keputusan yang tepat. Tidak bosan, terus meminta pertolongan dari Allah SWT.
Keisha mengembuskan napas pelan, dia berbaring miring menghadap punggung Doni. Akan tetapi, tidak berapa lama, Doni juga berbalik ke arahnya. Jadilah Keisha menatap wajah nyenyak Doni, laki-laki itu kelihatan lelah karena sejak selesai makan malam. Doni mengerjakan tugas kuliahnya, hingga Keisha lebih dulu tidur dari laki-laki itu. Makanya Keisha bisa bangun di tengah malam begini, karena tidur di awal waktu.
Beda dengan Doni. Keisha tidak tahu jam berapa laki-laki itu tidur. Keisha terus menatap wajah laki-laki itu, lamat-lamat dia akhirnya menyadari kalau Doni itu benar-benar tampan. Mungkin dulu Keisha terlalu fokus dengan Alvaro sehingga melupakan kalau sepupunya itu juga sama tampannya dengan Alvaro.
Mereka juga mempunyai perbedaan. Kalau Alvaro dengan wajah datar masih terlihat tampan, apalagi ada lesung pipi laki-laki itu ketika tersenyum. Sementara Doni dengan wajah konyol akan tetap tampan di mata yang tepat.
Tidak sadar, Keisha sekarang mengangkat satu tangannya dan meletakkan ke pipi Doni. Kemudian mengusap pipi suaminya itu, Keisha bertindak di luar nalarnya. Gadis itu terus menatap wajah Doni, sehingga tatapannya jatuh kepada bibir tipis Doni. Beda dengan bibir Alvaro yang sedikit tebal.
"Kok gue beda-bedain mereka sih?" gumam Keisha, kesal dengan dirinya yang terus membedakan dua laki-laki itu.
Keisha sadar kalau dirinya belum selesai dengan masa lalunya karena itu dia terus membedakan antara Alvaro dan Doni. Kalau Doni tahu, mungkin laki-laki itu akan sakit hati dengan perilakunya.
Tangan Keisha kini tanpa sengaja menyentuh bibir tipis itu. Keisha menelan salivanya perlahan, rasa penasaran tentang ciuman itu masih ada. Keisha tidak tahu kenapa dirinya selancang ini. Pikiran dan hati Keisha bertolak belakang, tetapi malam ini Keisha malah mengikuti kata hatinya. Tidak sadar kalau tingkahnya malam ini membuat jantungnua berdetak kencang dari biasanya.
Cup
Satu kecupan manis Keisha berikan kepada Doni, tepatnya ke bibir laki-laki itu. Keisha bahkan terkejut dengan aksinya itu. Mata Keisha terbelalak, sedikit menjauhkan wajahnya dari Doni. Dia menatap wajah Doni yang masih tertidur nyenyak, seakan tak terganggu dengan apa yang dia lakukan tadi.
Wajah Keisha kini juga memerah. "Gue gila," gumam Keisha. Gadis itu mengulum bibirnya. Sekarang Keisha baru merasa malu sendiri. "Gila!"
Keisha ingin berteriak, rasanya dia sudah menjadi gila saja. Akan tetapi, kalau Keisha langsung berteriak, Doni akan terbangun tidak hanya itu, baik Bunda, Papa dan Ahmad ikut terbangun. Mereka semua tentu saja khawatir dengan dirinya.
Maka itu Keisha memutuskan berbalik dan membelakangi Doni. Selain mimpi mesumm waktu itu, Keisha sekarang bahkan nekad mencium laki-laki itu yang sedang tertidur lelap. Keisha berusaha memejamkan matanya, berharap rasa malunya itu akan hilang esok hari, tetapi lagi-lagi Keisha salah. Malahan rasa malu itu semakin menjadi, sekaligus canggung dengan Doni.
Apalagi laki-laki itu berbicara tentang suatu hal yang aneh. Membuat Keisha ingin menenggelamkan dirinya ke rawa-rawa saat itu juga.
***
Pagi hari yang cerah, Doni merasakan tubuhnya lebih segar pagi ini. Tidak seperti kemarin malam, pikiran dan tubuhnya sangat lelah rasanya. Semakin banyak tugas, membuat Doni semamin frustrasi saja. Bahkan malam tadi dia tidur hampir tengah malam, hanya bisa menatap Keisha yang sudah lebih dulu tertidur, sementara dirinya harus mengerjakan semua tugasnya karena akan di kumpulkan besok juga.
"Kei!" teriak Doni. Laki-laki itu sedang berada di dalam kamar mandi, yang sialnya dia lupa bawa handuk tadinya.
"Apa?"
"Gue lupa bawa handuk, ambilin dong."
"Iya."
Tumben sekali, batin Doni. Biasanya Keisha akan berteriak memarahinya karena dia lupa bawa handuk. Akan tetapi, pagi ini Keisha sedikit berbeda, Doni juga teringat tentang mimpinya malam tadi. Entah kenapa Doni bisa bermimpi seperti itu. Hanya saja dia merasa kalau mimpi itu seakan nyata saja. Keisha menciumnya.
"Handuknya ada di gagang pintu. Gue turun ke bawah dulu, mau bantu Bunda masak sarapan."
Doni tersentak mendengar suara istrinya itu.
"Iya, Kei. Makasihnya, sayang!" Doni tertawa pelan, dia pikir Keisha akan berteriak untuk memperingatinya karena sudah memanggil dengan sebutan itu. Akan tetapi, lagi-lagi gadis itu tidak berteriak sama sekali.
"Bini gue kenapa, ya? Aneh banget pagi ini," gumamnya. Melilitkan handuk ke pinggangnya, nanti ada terbang kan bisa bahaya. Wkwk.
Sepuluh menit Doni gunakan untuk bersiap-siap berangkat ke kampus, laki-laki itu turun ke lantai bawah hendak sarapan pagi.
"Bund, Keisha mana?" tanya Doni. Bunda tampak terlihat menata sarapan pagi ke atas meja, sementara Keisha tidak terlihat sama sekali.
"Ada di dapur, Bunda suruh ambil piring tadi."
Doni mengangguk pelan. Dia akhirnya berjalan ke arah dapur yang di batasi oleh tembok. Doni bisa lihat kalau Keisha sedang mengambil beberapa piring.
"Kei!"
"Apa?" sahut Keisha, anehnya gadis itu tidak menatap ke arah sama sekali.
Doni menggaruk kepalanya, jadi bingung dengan tingkah Keisha pagi ini.
"Itu, lo lihat ikat pinggang gue nggak? Udah gue cari-cari tadi, tetap nggak dapat juga," ujar Doni. Laki-laki itu juga menyingkap kausnya, agar Keisha percaya kalau ikat pinggangnya hilang entah ke mana. Ini juga alasan Doni cepat-cepat turun ke bawah, mau tanya Keisha tentang ikat pinggangnya.
"Entar gue cariin, lo sarapan aja dulu," suruh Keisha. Gadis itu berlalu dari hadapannya, dan tak kunjung melihat dirinya sama sekali.
Doni menurunkan bahunya, dia takut kalau Keisha berubah lagi. Saat melihat Keisha keluar dari area dapur, Doni mengikutinya dari belakang. Begitu juga ketika gadis itu pergi dari riang makan, Doni masih ikutin dari belakang. Hingga mereka sampai di kamar Keisha.
"Kenapa terus ikuti gue, sih? Kan tadi gue suruh lo ya sarapan dulu. Biar gue yang cari ikat pinggang lo," oceh Keisha. Yang sepertinya terdengar jengkel karena Doni terus membuntuti gadis itu.
Doni lantas tertawa pelan. Akan tetapi, tawanya langsung menghilang ketika Keisha tiba-tiba berbalik ke arahnya, jarak Doni tadinya sangat dekat dengan Keisha. Sehingga saat gadis itu berbalik, bibir Doni menyentuh dahi Keisha mengingatkan tinggi gadis itu hanya setinggi dagunya saja.
Mata Keisha melotot, begitu juga dengan Doni. Tidak menyangka kalau hal itu akan terjadi, ya meksi dia sudah pernah mencium dahi Keisha. Akan tetapi, rasanya tetap saja deg-degan.
"Jangan deket-deket!" Keisha mendorong tubuhnya agar menjauh.
Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat wajah Keisha yang sedikit memerah, Doni paham kalau gadis itu ternyata bisa blushing juga karena kejadian absurd itu.
Keisha tidak mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu berbalik dan mencari keberadaan ikat pinggangnya yang entah ke mana, Doni tidak bisa kalau tidak pakai ikat pinggang. Kayak ada kurang gitu, ya kan.
"Ini apa?" Keisha kembali berbalik ke arah Doni saat berhasil mendapatkan ikat pinggang Doni yang ternyata jatuh ke bawah kolong tempat tidur.
"Lah, kok bisa lari ke situ dia, ya."
"Ya, mana gue tau! Lo aja yang suka naruh barang sembarangan!" gerutu Keisha.
Doni kembali tertawa pelan. Laki-laki langsung mengambil ikat pinggang yang ada di tangan Keisha, kemudian tanpa ragu memasang benda itu di depan Keisha. Membuat Keisha terpaksa memalingkan wajahnya, tidak tahan melihat perut Doni yang ada rotinya meski terlihat samar. Keisha jadi ingat, kalau laki-laki ini dulunya suka sering pergi ke tempat gym.
"Udah, kalo gitu gue mau ke bawah lagi."
Keisha baru saja hendak pegi melangkah, tapi Doni buru-buru menatao Keisha dengan lekat.
"Lo kenapa? Dari bangun tadi diam-diam aja, gue ada salahnya?" tanya Doni.
Namun, Keisha hanya menggeleng pelan. "Nggak ada, gue cuman ...."
Doni terlihat menunggu kelanjutan ucapan Keisha, tetapi gadis itu tak kunjung buka suara lagi. Maka itu Doni teringat dengan mimpinya malam tadi.
"Kei, gue mimpi sesuatu."
Keisha tampak tertarik dengan hal itu. "Gue mimpi kalo lo cium gue, rasanya juga kayak nyata banget." Doni menampilkan senyum menggodanya, sudah menduga kalau wajah Keisha akan memerah karena hal itu.
"Mi-mimpi kan cuman bunga tidur." Bahak Keisha tergagap menjawab hal itu.
"Iya, sih." Doni bergumam, tetapi siapa sangka setelah itu Doni menarin tangan Keisha agar tubuh gadis itu menempel padanya. Keisha pun tidak bertindak apa-apa, cukup terkejut dengan perlakuan Doni.
"Lo mau ngapa—"
Keisha tidak melanjutkan ucapannya lagi, karena Doni langsung mencium bibirnya. Hanya menempelkannya saja, dan itu mampu membuat tubuh Keisha membeku.
"Rasanya sama kayak tadi, Kei," kata Doni. Laki-laki itu bahkan tidak gugup sama sekali.
Beda dengan Keisha, yang mati-matian menahan teriakannya. Karena dia benar-benar di cium oleh Doni tadi. Kali ini bukan mimpi atau dirinya yang bertindak lebih dulu, melainkan Doni yang memulai.