(31)

2036 Kata
Tahu tidak bagaimana rasanya ketika membangun rumah tangga, terus si suami belum pernah menyentuh istrinya sama sekali. Serius, Keisha merasa kalau kisahnya ini seperti kayak di dalam novel-novel itu. Awalnya pernikahan itu terpaksa tapi ujung-ujungnya mereka akan jatub cinta karena terbiasa. Satu yang dipertanyakan, apa Keisha akan seperti itu juga? Mencintai Doni karena sudah terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu. Balik lagi ke kondisi sekarang, Keisha masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat seusai Doni menempelkan bibir mereka tadi. Kemudian Keisha tanpa sadar mundur ke belakang, seakan takut karena serangan mendadak dari Doni nantinya. "Ng-ngapain lo cium gue, hah?!" Keisha berusaha hendak marah, tapi masih tergagap. Sungguh dia benar-benar deg-degan dengan hal tadi. "Salahnya gue cium istri gue sendiri?" Doni malah menyeringai dan itu membuat Keisha semakin merinding saja. "Apa sih, Don? Kalo mau cium itu harus permisi sama gue," ketus Keisha. Gadis itu masih menatap Doni dengan tatapan sedikit tajam. Doni malah tersenyum mendengar penuturan Keisha tadi. "Jadi, kalo gue permisi dulu sama lo. Lo izinin gue buat nyium lo?" tanyanya. Keisha malah tergagap sendiri. Dan dia seakan termakan dengan ucapannya tadi. "Nggak gi—" "Oke, Keisha gue permisi mau cium lo dulu, ya." Setelah mengucapkan itu, Doni langsung menarik pinggang Keisha sehingga satu tangan Doni melilit di pinggangnya itu. Sementara satu tangan lagi memegang pipi Keisha dan mulai menyambar bibir gadis itu. Mata Keisha membola, wajahnya memerah dengan detak jantung yang tak karuan. Saat Doni menggerakkan bibirnya, Keisha spontan menutup mata. Di awal-awalnya di tidak membalas ciuman Doni, tetapi ketika Doni semakin gencar menciumnya. Entah dapat dorongan dari mana, Keisha membalas ciuman Doni itu. Keduanya larut, saling membalas ciuman serta suara decapan mulai terdengar di dalam kamar itu. Keisha perlahan mendorong dadaa Doni, menyuruh Doni untuk menyudahi kegiatan mereka tadi. Napas keduanya memburu kencang, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Enak banget gila," Doni bergumam pelan. Akan tetapi, Keisha masih bisa mendengarnya, gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Rasa panas di pipinya masih terasa, sementara bibirnya terasa sedikit kebas karena ciuman tadi. Suasana di dalam kamar itu langsung berubah, rasanya sangat canggung sekali. Keisha malu, sangat malu, pun dia merasa sedikit puas karena rasa penasarannya dengan ciuman sudah terbayarkan karena tindakan nekad Doni tadi. "Mau ke mana?" Suara Doni yang terdengar serak-serak basah mengalun. Menahan pergelangan tangan Keisha karena dia hendak keluar dari kamar itu. "Ke-keluar, pasti Bunda sama Papa merasa aneh karena kita nggak turun," jelas Keisha yang masih tergagap. "Di sini aja dulu." Suara Doni kembali terdengar, Keisha tidak bisa lama-lama di dekat Doni. Dia masih merasa canggung sekali. "Nggak mau," tolak Keisha terang-terangan. "Nggak boleh nolak suami," tegas Doni yang seperti tidak mau dibantah. Keisha tidak berupaya, dia bisa saja berlari dan keluar dari kamar itu. Agar bisa menghindar dari Doni, tetapi kakinya malah tidak bisa bergerak. Dia seakan pasrah saja ketika Doni menarik tangannya lagi, kemudian sedikit tertegun karena Doni memeluknya. "Gue nggak bisa tepati kata-kata gue kemarin, yang gue bilang mau nyium atau berhubungan lebih sama lo setelah lo bisa melupakan masa lalu. Tapi gue malah termakan dengan omongan sendiri, gue nggak bisa nahan diri lagi untuk nggak nyium lo," ungkap Doni. Laki-laki itu mengusap rambut Keisha dengan lembut. "Tiap malam gue sering merhatiin lo yang udah tertidur nyenyak, terus mata gue malah natap ke arah bibir lo. Gue sering bertanya-tanya, kenapa gue nggak pernah berani cium lo. Terus tanpa sadar gue berprinsip sendiri buat nggak mau cium lo dulu. Lah, tadi gue malah ke lepas sendiri." Doni mendengkus pelan. "Gue malah keenakan nyium lo tadi," lanjut laki-laki itu. Keisha masih diam, kedua tangannya menjuntai ke bawah. Tidak membalas pelukan Doni. "Gue yang pertama buat lo kan, Kei? Itu tadi first kiss lo kan?" Doni bertanya bertubi-tubi. Keisha enggan menjawab, tetapi karena terus didesak oleh Doni. Akhirnya Keisha mengangguk pelan dengan mulut yang masih bungkam. Meski Doni tidak tahu kalau first kiss ya hilang malam tadi, ketika nekad sendiri mencium laki-laki ini. "Gue senang kalo gue ini yang pertama buat lo, gue juga gitu kok, itu tadi first kiss gue," ungkap Doni. "Syukurlah kalo lo dulu nggak main macem-macem pas pacaran sana Alvaro. Gue juga percaya kalau Varo pasti nggak berani apa-apain lo." Doni terus berbicara panjang lebar dan Keisha mendengarkan dengan saksama. Di saat seperti ini, dia benar-benar bimbang dengan perasaannya sendiri. Ciuman tadi terutama, itu maksudnya apa? Maksudnya kenapa dia membalas ciuman itu? Kenapa dia diam saja ketika dipeluk Doni seperti sekarang? Apakah dia mulai menyukai laki-laki ini? Atau malah, dia hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya saja. Plin plan memang. "Kei ...." Doni mengurai pelukan mereka. Keisha terpaksa mendongak karena wajahnya ditangkup oleh tangan besar Doni. "Kenapa lo balas ciuman gue tadi? Apa ... apa lo udah mulai suka sama gue?" tanya Doni, laki-laki menanyakan hal sama, padahal Keisha sendiri bertanya-tanya hal itu dalam hatinya. Dan tentu saja dia tidak tahu apa jawabannya. Bagaimana perasaannya terhadap Doni? Keisha juga tidak tahu. Sudah berapa hari Keisha gundah gulana seperti saat ini. "Kak Kei, Bang Doni! Kalian ngapain, sih? Itu Bunda udah nunggu dari tadi, katanya mau sarapan bareng?!" Teriakan itu dari luar kamar. Baik Doni dan Keisha saling menatap ke arah pintu kamar yang tertutup. Ahmad bahkan mengetuk kamar mereka. "I-iya, tunggu sebentar," ujar Keisha. Gadis itu menurunkan tangan Doni dari wajahnya kemudian berjalan ke arah pintu. Membiarkan Doni yang masih bergeming di tempatnya tadi. Keisha tidak bisa menjawab sekarang juga. "Kalian ngapain, sih?" tudung Ahmad lagi ketika pintu kamar sudah Keisha buka. "Ini urusan orang dewasa, bocil jangan ikut-ikutan." Tahu-tahu Doni sudah ada di sebelah Keisha, laki-laki itu segera merangkul bahu Ahmad yang berdiri di depannya. "Udah, udah, sekarang kita ke bawah," ajak Doni. Laki-laki itu masih merangkul Ahmad, sementara Keusha dari belakang hanya bisa mengikuti langkah dua orang itu. *** Cinta sepihak itu tidak enak. Doni sudah merasakan itu bertahun-tahun lamanya. Sok tegar di depan orang-orang padshal di dalam hatinya ambyar ketika melihat gadis yang dia sukai malah pacaran sama sahabat sendiri. Rasanya tuh kayak campur aduk, mau egois sama perasaan sendiri, Doni tidak mau kebahagiaan gadis yang dia cintai malah rusak begitu saja. Namanya tuh, Doni kayak tidak memikirkan perasaan orang. Padahal perasaannya juga harus dipikirkan. Tiap hari bertemu tuh dadaa Doni rasanya makin sesak. Akan tetapi, dia mencoba baik-baik saja, apalagi melihat senyumannya di wajah gadis itu. Beuh, rasanya Doni bahagia banget melihat itu. Doni sudah jadi sadboy di usia dini, Keisha tuh entah dari sudut mana memandang Alvaro. Padahal sahabatnya itu cuek banget orangnya, beda sama dia yang harmonis. Akan tetapi, Doni tidak boleh begini, kesannya Doni kayak membandingkan dirinya sendiri dengan Alvaro, tidak baik begitu. "Sendiriku berharap, memberi kasih walau tak kembali." Ampun, Doni makin nelangsa mendengar lagu itu. Kayak pas banget sama dirinya yang sekarang. Sudah punya istri, tapi istrinya belum bisa lupa sama mantannya. Kayak kehadiran Doni itu sia-sia lho, tapi sekali lagi Doni tidak keberatan. Asal Keisha nyaman-nyaman saja kalau di dekatnya. "I maybe not yours and you're not mine." "But i'll be therr for you when you need me." "It is only me. Believe me girl, it's only me." (Kaleb J— It's only me) "Aku memang bukan, rasa yang kau mau." "Tapi ku selalu ada untukmu." "Heh, woy! Matiin tuh lagu." Suara Doni menggema di dalam kelas. Memang kurang kerjaan tuh temannya, dia baru masuk ke dalam kelas langsung di sambut dengan lagu galau itu. "Kenapa sih, Don? Gue lagi mau dengar lagunya, cocok banget sama nasib gue sekarang." Oh, ternyata Ferdy yang memutar musik yang kencang tadi? Tidak tahu saja kalu Doni juga merasakan hal yang sama. "Masih pagi, jangan puter lagu yang galau-galau. Gue pusing dengarnya," keluh Doni. Mengurut pelipisnya pelan, ketika memejamkan mata, bayangan tentang ciuman di dalam kamar tadi malah terlintas begitu saja. Kan, Doni jadi ingat, terus mau lagi. "Apa dah. Lo enak udah punya istri, terus saling cinta juga," ujar Ferdy, laki-laki itu merebahkan kepalanya di atas meja, menghadap ke arah Doni. Doni langsung tersenyum kecut. Tidak tahu saja Ferdy, kalau nasib mereka sama. "Emangnya lo kenapa? Ditolak Selly atau gimana?" tanya Doni, jadi ingat dengan adik kelasnya itu. Ferdy terlihat mengeluh pelan. "Gue tadi ke temu sama dia, terus basa-basi minta nomornya. Eh, malah ditinggalin gitu aja. Kayaknya gue udah ditolak duluan padahal belum berjuang sama sekali," keluhnya. "Sabar bro." Doni mengusap bahu Ferdy, prihatin sekali dengan temannya ini. "Dia lagi mencoba untuk lupain gue. Kalo lo siap, bantu dia, yah. Terus balikin senyumnya lagi. Kalo lo berhasil, gue kasih hadiah nanti," ujar Doni, cukup serius. "Jangan memberi harapan, Don. Lagian ini keinginan gue buat dekatin Selly. Tuh cewek udah mencuri hati gue pas di awal pertemuan itu." Ferdy terduduk tegap, sementara matanya menerawang ke arah depan sana. "Bucin, bucin. Tuh luluhin dulu hatinya si Selly, baru bucin," ledek Doni. Ferdy lantas berdecak keras. "Ya lo bantu doa, dong. Gue gampang menyerah, tapi buat Selly kayaknya nggak berlaku deh. Tuh cewek udah ada daya pemikatnya," ujar laki-laki itu dengan senyum. "Iya, iya gue bantu doa deh." *** Tumben sekali panas di musim penghujan begini. Tapi syukurlah kalau panas begini, flu Doni bakal tidak kambuh nantinya. Namun, saat panas-panas begini. Tenggorokan suka kering, Doni saja merasakan itu. Di saat menyusuri jalan menuju toko bunga Keisha. Mata Doni tidak sengaja melihat tempat jualan es dawet. Terus Doni malah memberhentikan motornya di depan warung es dawet itu. Kelihatannya enak minum es di siang-siang begini. Doni jadi mau. "Pak, es dawet tiga porsi!" "Siap, Mas!" Doni mendudukkan bokongnya di salah satu kursi kayu panjang. Doni jadi menatap ke sekeliling, banyak juga yang mampir ke warung ini. Lima menit menunggu pesanannya jadi, Doni langsung membayar dan bergegas menuju toko Keisha. Istrinya itu pasti senang kalau Doni bawakan es dawet. Doni sudah kelihatan jadi suami romantis tidak? Pasti iyalah. Doni memarkirkan motornya di depan toko bunga itu. Mengambil kresek yang berisi es dawet tadi, sengaja Doni gantung dibagian depan. "Kei!" panggil Doni ketika masuk ke dalam toko. Dia tidak merasa canggung pasal ciuman pagi tadi, toh sudah lewat juga. Akan tetapi, Keisha kelihatannya masih canggung saja. Buktinya pas Doni panggil gadis itu malah menoleh sedikit. Padahal di sini Doni yang harus marahnya. Karena Keisha tidak kunjung menjawab pertanyaannya, baik pertanyaan kemarin atau pertanyaan pagi tadi. Doni tuh rasanya kayam digantung, sudah kayak jemuran saja rasanya. "Mbak, Fina. Saya bawain es dawet nih, di minumnya." Doni tersenyum kecil pada karyawan satu itu. "Iya, Doni. Makasih." Doni masuk ke dapur dalam toko itu. Memang disengaja kalau interior toko ini dibuat ada dapur. Biar bisa digunakan untuk menyimpan alat makan, itu saja sih. Dia kan sering bawa makanan ke sini. "Doni lo ngapain beli es dawet? Nggak takut flu lo?" tuding Keisha. Ah, ternyata gadis itu mengikutinya ke dapur. Doni langsung nyengir saja. "Lagi pengen, Kei. Terus hari ini tumben banget panas, tenggorokan gue sampe kering nih." Doni mengusap lehernya. "Kalo lo flu gimana? Lo pahamkan kalo bulan ini cuaca nggak menentu, kadang hujan kadang panas. Imun lo juga nggak terlalu kuat, Don. Kena air hujan aja lo langsung pingsan," oceh Keisha. Yang sebenarnya ditelinga Doni terdengar seperti khawatir. Doni tersenyum lebar, kemudian menunduk sebentar untuk mengecup bibir Keisha. Kan, Doni tidak bisa menahan diri kalau pasal yang satu itj. Kayak usah candu saja bawaannya, jadi maklum saja. "Doni!" Suara Keisha yang memperingatinya, hanya Doni balas dengan tawa. "Jangan nyium disembarang tempat, deh. Kalo Mbak Fina lihat gimana? Nggak malu, hah?!" Gadis itu masih mengomel. Doni tahu kalau perkataan Keisha itu ada benarnya juga. Dipergoki sama Bunda dan Ahmad saja dia sudah malu, apalagi dipergokinya sama orang lain. Bisa-bisa Doni tambah malu, cuy. "Udah jangan ngomel lagi. Kalo ngomel terus, gue cium nih!" ancam Doni. Hal itu ternyata bermanfaat, buktinya Keisha langsung diam. "Nah, gitu dong." Doni tersenyum manis seraya mengusap kepala Keisha. "Lo makin manis kalo penurut begini." "Gombal aja terus, Don," sindir Keisha. Memang dari dulu, Keisha tidak terlalu suka digombalin. Kecuali yang menggombal itu adalah Alvaro. Ah, mengingat nama laki-laki itu sudah bisa membuat mood Doni memburuk. "Udah jangan cemberut gitu. Mending kita minum es dawet!" seru Doni. Laki-laki itu mengambil dua gelas untuk tempat esnya nanti, kemudian keluar dari area dapur dan duduk di sebelah kursi kasir, Keisha juga ikut duduk di kursi biasanya. "Awasnya kalo lo flu nanti, gue nggak mau rawat lo!" Oh, ternyata gadis itu balik mengancam. Doni jadi tersenyum gemas. "Iya, iya, tuh esnya di minum!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN