(16)

1801 Kata
Dia cukup terkejut mendapati Doni masuk ke dalam rumah dengan dipapah oleh satpam rumah. Rasa khawatirnya menyeruak begitu saja ketika melihat wajah Doni pucat seperti kemarin. Laki-laki itu juga mengeluh pusing, maka itu Keisha sangat berinisiatif untuk memijat kepala Doni. Dengan laki-laki itu berbaring di atas pahanya. "Ini akibat lo nggak ngikutin apa yang gue bilang tadi." Dia masih mengomel. Doni sejak dulu suka sekali membuat orang sekitarnya khawatir ketika laki-laki itu tiba-tiba jatuh sakit. Satu lagi, Doni akan terlihat manja bila sakit begini kepada Tante Kiran. "Ngomel aja, Kei. Biar kepala gue makin pusing." Itu merupakan kalimat sindiran yang Keisha dengar. Gadis itu mendengkus kasar, mengurut kepala Doni dengan telaten. Di saat seperti ini, dia jadi ingat ketika Varo kelelahan atau pusing sedikit, laki-laki itu akan berbaring di atas pahanya. Keisha menggeleng pelan. Kenapa sehari saja dia tidak bisa untuk tidak memikirkan Varo? Ayolah, Keisha sedikit jengah, laki-laki itu sampai sekarang tidak ada kabar. Tiap kali Keisha mengirimi pesan atau menelepon nomor Alvaro. Tidak ada jawaban, nomornya bahkan sudah tidak aktif lagi. Sial! Laki-laki seakan benar-benar ingin pergi dari kehidupannya. "Gue tiba-tiba kangen Bunda." "Gue juga kangen Alvaro." Tidak sadar, Keisha tidak sadar mengatakan hal tadi. Dia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat ketika Doni menatapnya dengan intens. Laki-laki bahkan duduk dan tidak lagi rebahan di atas pahanya. "Keisha." Wajah pucat itu memperhatikannya dengan lekat. Mau tidak mau, Keisha menatap sepupunya itu. "Jangan berdebat, Don. Lo lagi sakit," ujar Keisha, sengaja sekali karena ingin mengalihkan topik. "Maka itu, gue mohon sama lo, jangan sebut nama laki-laki itu lagi. Gue masih sakit, tolong fokus untuk diri gue buat saat ini," jelas Doni, laki-laki itu terlihat memohon. Maka, Keisha hanya mengangguk pelan. "Sorry ... gue bakal mengerti keadaan sekarang, nggak seharusnya gue selalu mikirin dia." Keisha sedikit sesal. "Nggak apa-apa." Senyuman tiois yang Keisha lihat di bibir Doni. Laki-laki itu seakan memakluminya. "Lo nggak membangkang aja gue udah bersyukur, Kei. Apalagi nurutin apa yang gue mau tadi," lanjut Doni. "Itu, karena lo masih sakit, Don," sahutnya. "Jangan terlalu berharap lebih sama gue, ya. Karena gue takut nggak bisa balas perasaan lo itu, Don." Keisha menatap manik mata laki-laki itu. Dia tidak akan pernah bosan mengingatkan Doni terus menerus. Karena Keisha sendiri merasa sangat sulit untuk melupakan Alvaro dalam hidupnya atau menerima Doni sebagai suaminya saat ini. "Gue paham," balas Doni. Laki-laki masih tersenyum tipis. "Soal keadaan sekarang, lo bakal terbiasa nantinya." Keisha berusaha menarik sudut bibirnya sedikit. Cukup terkejut saat Doni kembali merebahkan kepala di atas pangkuannya. "Pijat lagi, Kei. Sakit kepala gue cukup mendingan karena lo pijat tadi," suruh Doni. Keisha menurut, kembali memijat kepala laki-laki itu. Berharap Doni akan cepat sembuh dari dirinya juga akan sedikit terbebas dari rasa tanggung jawab untuk menjaga laki-laki ini. Ada lima belas menit diposisi seperti itu. Keisha cukup bernapas lega ketika Doni sudah tertidur pulas di atas pahanya. Keisha mengusap dahi laki-laki itu dengan pelan. Kemudian perlahan meletakkan kepala Doni ke atas bantal sofa sebagai ganti pahanya yang kini sedikit merasa kebas. "Bunda." Keisha memasuki area dapur. Bunda terlihat sibuk membantu bibi untuk memasak makan siang. "Iya, sayang? Butuh sesuatu?" tanya Bunda, wanita itu menoleh pada Keisha. "Heem, boleh minta tolong telepon Tante Kiran nggak? Soalnya Doni katanya tiba-tiba kangen sama Tante," ujar Keisha. Dia juga bisa menebak kalau di saat skait begini Doni pasti sangat merindukan sosok Bunda. Karena Keisha begitu juga, ketika sakit dia akan terlihat manja dengan bundanya ini. "Boleh, kok," sahut Bunda Shayra. "Tapi Kakak aja, ya yang nelepon sendiri. Tangan Bunda udah kena tepung soalnya." Bunda Shayra menunjukkan kedua tangannya yang terlihat kotor karena tepung, ah, Bunda mungkin sedang membuat bakwan dari udang seperti pesanannya tadi. "Boleh Bunda. Ponsel Bunda mana?" tanyanya. "Di atas situ, Kak," tunjuk Bunda Shayra ke atas meja yang tidak jauh dari sana. Keisha mengangguk paham, berjalan ke arah sana dan mengambil ponsel bundanya. Sekalian membuka ponsel itu, tidak sulit karena Keisha tahu apa kata sandi ponsel bundanya, yaitu tanggal lahir dirinya. Sesayang itu Bunda dengannya, terkadang Keisha merasa amat jahat ketika tidak sadar melawan Bunda saat emosi sesaat. "Assalamualaikum, Tante," sapa Keisha ketika sambungan telepon telah terhubung. "Waalaikumsalam, ini Keisha, ya?" "Iya, Tan." "Kok, masih manggi Tante, sayang? Panggil Bunda, dong, kan Keisha udah jadi menantu Bunda sekarang," jelas Tante Kiran di seberang sana. Keisha meringis sebentar. "Oh, maaf, Tan, udah kebiasaan hehehehe." Gadis itu nyengir sebentar. "Eh, maksudnya Bunda," lanjutnya lagi, merasa sedikit malu serta canggung. "Nggak apa-apa, Bunda bisa maklum kok. Ada apa, ya, Kei? Kok nelepon Bunda dari ponsel Shayra?" Bunda Kiran menanyakan maksud tujuan Keisha untuk menghubungi wanita ini. "Itu, Bunda. Doni kan sakit ...." Keisha menjeda ketika mendengar suara Bunda Kiran yang terdengar khawatir. "Iya, Bunda, Doni nggak apa-apa, kok. Sekarang dia udah tidur karena baru pulang kuliah," jelad Keisha lagi. "Doni tadi sempat bilang sama aku, katanya kangen sama, Bunda," ungkap Keisha. Terdengar suara tawa pelan di sana. "Astaga anak itu masih aja manja padahal udah punya istri." "Ya, udah nanti pas mau makan siang Bunda datang ke sana. Sekalian bawa makan kesukaan Doni. Dia pasti bakal susah di suruh makan karena alasan lidahnya pahit," ujar Bunda Kiran. "Iya, Bunda. Terima kasihnya." "Sama-sama sayang, seharusnya nggak perlu ucap terima kasih. Toh, Doni masih tetap anak Bunda kok." "Kalo gitu, Bunda tutup dulu, ya, sayang. Bunda mau lanjut masak. Assalamualaikum," pamit Bunda Kiran. "Waalaikumsalam Bunda." Keisha menghela napas lega. Kembali meletakkan ponsel bundanya ke atas meja itu. "Udah, Bund. Makasihnya." Keisha tersenyum lebar, mengecup pipi bundanya dengan sayang. "Sama-sama, Kak." Bunda tersenyum lembut. "Kakak nggak lagi sibuk kan? Bantu Bunda sama Bibi, ya?" pinta wanita itu. "Siap Bunda!" Keisha merasa keadaan rumah seperti biasanya. Apalagi Bunda sudah memanggilnya dengan sebutan Kakak, itu artinya Bunda ingin rumah ini seperti sedia kala sebelum pernikahannya kemarin itu terancam batal. *** Sudah masuk jam makan siang. Keisha mengusap peluh di dahinya karena baru selesai membantu Bunda dan Bibi memasak. Gadis itu bergegas ke ruang tengah lagi untuk melihat keberadaan Doni. Apa laki-laki itu sudah bangun apa belum. Ternyata belum. Keisha menghela napas pelan, dia harus membangunkan Doni agar makan siang dan laki-laki itu segera minum obatnya. Ngomong-ngomong Bunda Kiran juga belum datang, mungkin sedang di jalan. "Doni, bangun." Keisha menepuk pipi laki-laki itu pelan. "Bangun, Don. Makan siang, hei! Terus minum obat," ucap Keisha. Akan tetapi, Doni terlihat nyenyak sekali tidurnya. "Doni!" Keisha cukup kesal. Dia tahu kalau Doni itu tipenya bukan orang yang susah dibangunin. Dia juga tahu kalau laki-laki ini pura-pura masuh tertidur karena dia sudah melihat kelopak nata Doni sudah bergerak-gerak sejak awal dia membangunkan laki-laki ini. Cukup kesal dengan tingkah Donu. Keisha tersenyum miring, gadis itu segera memencet hidung Doni agar laki-laki itu segera bangun. "Akh!" Benar saja! Doni langsung vangun dan terduduk dengan napas terengah-engah. Karena Keisha cukup lama memencet hidung Doni. "Lo mau bunuh gue, ya?" tanya Doni, laki-laki itu menatapnya dengan penuh kesal. Keisha jadi bersedekap. "Ya, itu salah lo! Pura-pura masih tidur padahal udah bangun," ketusnya. "Lo tau dari mana?" tanya Doni lagi, mungkin laki-laki ini tidak percaya dengan ucapannya tadi. "Karena kelopak mata lo gerak!" sahut Keisha, kemudian berdiri. "Udah, ah! Lo cuci muka sana! Terus ke ruang makan karena Bunda udah selesai masak." Keisha hendak melangkahkan kakinya, tetapi langsung di tahan Doni. Laki-laki itu bahkan menyuruhnya duduk dengan paksa. "Apalagi, Don? Astaga suka banget bikin gue emosi." Keisha mendengkus kasar. Doni malah tiba-tiba memeluk bahunya dengan erat, meletakkan kepalanya di atas bahu milik Keisha. "Gue masih lemes, Kei. Jadi, belum kuat berdiri sendiri, bantuin dong." Suara Doni terdengar merengek. Hal itu membuat Keisha mendengkus kasar lagi. Mata gadis itu memicing untuk mengimintidasi Doni yang masih memeluknya. "Nggak bohong kan, lo?" tanya Keisha, menyelidik lebih tepatnya. Doni nampak menggeleng pelan. "Beneran nggak bohong. Gue masuh pusing," keluh Doni Akhirnya Keisha pasrah, ingin menolong Doni agar bisa berdiri atas bantuannya. "Ya udah, ayo!" ajaknya, Keisha mengembuskan napas pelan. "Makasih Kei!" Bola mata Keisha membeliak ketika merasa kecupan lama di pipinya, dia bergeming di tempat. Melirik Doni yang seakan enggan melepaskan ciuman itu dari pipinya. "Doni—" "Astaga! Bunda nggak lihat!" Sontak Keisha mendorong Doni jauh-jauh. Sangat terkejut ketika mendapati Bunda Kiran yang baru datang dengan rantang ditangan wanita itu. "B-bunda?" beo Doni. Keisha juga tahu kalau laki-laki itu sama terkejutnya. "Nggak apa-apa, Bunda paham kok. Kalian lanjut aja, Bunda mau ke dapur aja." Bunda Kiran berjalan tergesa-gesa. "Eh, kalo bisa lanjutnya di dalam kamar aja, ya. Biar nggak kepergok sama ornag lain nanti?!" lanjut Bunda diiringi suara tawanya. Kedua tangan Keisha sontak terkepal kuat. Dia menoleh pada laki-laki tadi yang sudah berani mencium pipinya tanpa seizin dirinya, juga mereka malah kepergok sama Bunda Kiran. "Doni b**o?!" teriak Keisha dengan wajah merah padam. Gadis itu tidak memikirkan dua kali untuk melempar bantak sofa ke laki-laki itu. Doni nampak berlari untuk menghindari serangan darinya. "Jangan lari, ya, lo?! Siapa yang izinin lo cium pipi gue tadi, hah?!" Keisha kembali berteriak. Dia juga tidak memikirkan kslau Doni masih sakit sekarang, tetapi dia masih mengejar laki-laki itu. "Ampun, Kei! Gue khilaf tadi," balas Doni yang masih berlari. "Nggak ada ampun buat lo?!" teriak Keisha. Alhasil mereka lari kejar-kejaran di ruang tengah, dengan Doni yang terus menghindari serangan mendadak dari Keisha. "Kei, stop, Kei! Gue capek." Itu suara Doni terdengar memohon. "Nggak peduli gue?!" Keisha terus mengejarnya. Tersenyum miring ketika Doni berhenti berlari karena mungkin sudah kelelahan. Apalagi stamina tubuh laki-laki itu sedikit berkurang karena masih sakit. "Dapat lo?" Keisha menyeringai lebar, saat hendak menangkap tubuh Doni dengan cara berlari. Keisha malah terjatuh di atas tubuh laki-laki itu larena keseimbangan mereka berdua tidak terjaga. "Akh!" Suara ringisan Doni terdengar. Keisha cukup terkejut karena posisi mereka sangat intim sekali. Yang sialnya, bukan langsung berdiri, Keisha malah memperhatikan setiap inci wajah Doni. Tidak sadar kalau ada yang melihat posisi mereka yang seperti itu. "Kak Keisha sama Bang Doni ngapain?" Mereka langsung menoleh ke asal suara. Wajah Keisha terasa panas, kemudian buru-buru berdiri dari posisi itu. Doni juga ikut berdiri. "K-kita nggak ngapa-ngapain!" jawab mereka serentak. Keisha langsung menatap Doni dengan tajam. "Oh, oke deh. Ahmad mau ke kamar dulu." Bocah SMP itu berlalu dari sana, Keisha kembali mengembuskan napas lega. Kemudian kembali menatap Doni yang terlihat meirngis kesakitan sambil memegang pinggang sendiri. "Rasain, noh! Akibat jahil sama gue." Keisha tertawa jahat, tidak memperdulikan Doni dia meninggalkan laki-laki itu sendirian. Karena merasa kalau Doni sudah cukup mendingan, soalnya laki-laki itu sudah bisa menjahilinya. Keisha menghentikan langkahnya, cukup tertegun dengan tingkah mereka tadi. Tingkah mereka tadi sama seperti beberapa tahun lalu, tidak pernah akur dan selalu berantem di mana pun bertemu. Hanya waktu kecil saja mereka sangat dekat, semakin besar mereka malah sering adu mulut atau berkelahi seperti tadi. Sebelum keadaan merubah semuanya. Dan Keisha akui kalau perlakuan mereka tadi sangat dia rindukan. Berkelahi karena masalah sepele dan akhirnya akan baikan sendiri karena mereka tidak bisa marah lama-lama. Kandidat sepupu terjahil tetap jatuh kepada Doni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN