(17)

1872 Kata
Canggung. Keadaannya sedikit canggung ketika tanpa sengaja mencium pipi Keisha, sekaligus Keisha sempat menindih tubuhnya dan dipergoki oleh Ahmad. "Kamu udah mendingan, Don?" tanya Bunda Kiran yang duduk sebelah Doni. Makan siang, mereka semua berkumpul di ruang makan, tanpa adanya Ayah mertua karena pria itu masih ada di kantor. Doni mengangguk pelan. "Udah lumayan, Bund. Karena udah tidur sebentar," balasnya. Bunda terdengar menghela napas lega. "Syukurlah, Bunda senang dengarnya. Nanti kalo pas sakit gini, jangan paksain buat kuliah dulu. Nggak apa-apa libur satu hari ini," jelas Bunda Kiran. Doni hanya tersenyum saja, seandainya Bunda tahu kalau Doni memaksakan kuliah karena Ayah yang menyuruh kalau tidak, Doni mungkin bertahan di rumah dan tidak kuliah tadinya. "Dia keras kepala, Bund. Tadi Keisha udah larang juga kok," ujar Keisha yabg menyahuti. Doni menghela napas pelan, gadis itu sudah membuka suara tandanya masalah tadi tidak perpanjang juga. "Ya, gimana. Doni nggak mau ketinggalan pelajaran, Bund." Doni membela diri. "Iya, iya, udah habiskan makan siangmu. Terus minum obat!" suruh Bunda Kiran. Doni mengangguk, menuruti apa yang dikatakan oleh Bunda. Setelah menghabiskan makan siangnya, Doni mengambil obatnya yang sudah disediakan oleh Keisha di atas meja. Entah kenapa, perhatian gadis itu sudah bertambah dua kali lipat saja kelihatannya. Buktinya, Keisha mengambilkan obatnya tanpa dia pinta sama sekali. "Langsung istirahat lagi, ya, Don!" Peringat Bunda Kiran lagi. "Iya, Bunda ... ini mau ke kamar kok," sahut Doni. Laki-laki itu mendorong kursi ke belakang, mencium pipi Bunda sekilas. "Nanti kalo mau pulang, bilang sama Doni dulu, ya! Jangan pulang aja!" "Iya, iya, lagian Bunda masih lama di sini kok," balas wanita itu. Tersenyum manis ke arah Doni. Doni berjalan sedikit pelan karena penasaran dengan pembicaraan tiga perempuan di ruang makan itu. Karena saat itu, suara Bunda Shayra terdengar. "Udah, Kei. Nggak usah bantu dulu, Kakak nyusul Doni aja sana! Dia masih sakit loh," suruh Bunda. Bukan melanjutkan jalannya, Doni malah berhenti di balik tembok yang membatasi ruang makan dengan ruang tengah. Laki-laki itu membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar apa yang dijawab oleh Keisha. "Keisha mau bantu Bunda aja dulu, lagian bentar kok." Oh, gadis itu ternyata masih bersikeras untuk menolong para Bunda mereka di sana. Padahal dia tahu kalau Keisha masih malas berdekatan dengannya setelah kejadian tadi. Tingkat kejahilannya semakin bertambah rasanya. Ketika bersama Keisha, dia hanya ingin melihat wajah narah gadis itu sebagai penghibur. Lagipula, dengan cara begitu mereka terlihat semakin dekat. "Kak, ke kamar sana!" Suara Bunda terdengar lagi, seakan memaksa Keisha untuk menghampirinya ke kamar. "Katanya udah janji mau rawat Doni sampai sembuh. Biar Bunda sama Bunda Kiran aja yang beresin ini semua. Kakak ke atas aja, nggak apa-apa," ujar Bunda Shayra lagi. "Iya, sayang. Kamu susul Doni ke atas aja sana. Nggak apa-apa kok." Itu suara Bundanya yang menyahuti. "Iya, deh. Keisha ke atas." Oh, ternyata gadis itu mengalah. Bibir Doni berkerut karena berusaha menahan senyumnya. Saat mendengar langkah kaki yang mendekat. Doni langsung berlari cepat untuk menaiki tangga menuju kamar mereka. Naasnya, ketika hendak membuka pintu kamar. Doni malah kejedot pintu, laki-laki itu meringis sebentar. Buru-buru membuka pintu saat merasa Keisha sudah semakin dekat. "Sial!" rutuknya pelan, memegang dahinya. Terasa sakit, tapi tidak menimbulkan benjolan sama sekali. Doni cepat merubah ekspresi wajahnya ketika melihat handle pintu yang sudah terputar. Pura-pura berbaring dengan mata terpejam, menjalankan misinya. "Nggak usah pura-pura tidur!" "Akh!" Doni berteriak pelan saat merasakan cubitan halus di lengannya. "Kok dicubit sih?" tanyanya heran. Keisha terlihat bersedekap, gadis itu masih berdiri di depannya. "Gue tau lo nguping tadi!" ujar Keisha sedikit ketus. Doni langsung berdeham pelan. "Jangan nuduh sembarangan tanpa ada bukti, dosa!" balasnya. "Serah, deh!" Mungkin Keisha tidak mau mereka berdebat lagi. "Udah sana, tidur aja. Gue disuruh sama Bunda buat jagain lo di sini," ujar Keisha. Gadis itu memilih duduk di kursi dekat meja belajar. "Nggak ngantuk, Kei. Gue baru bangun tidur, masa di suruh tidur lagi," gerutunya. Menatap Keisha yang kini mengedikkan bahu. "Tidur aja, sih! Biar lo cepat sehat. Apa susahnya?" tanya gadis itu. "Gue nggak mau tidur!" Doni sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang. Laki-laki itu bersedekap. "Kecuali lo mau temani gue tidur di sini," lanjut Doni, menyeringai lebar. "Ye Jumaidi! Itu mah, mau ya, elo!" balas Keisha dengan ketus. Doni tertawa pelan. "Tau aja lo. Ya, tapi kan nggak ada salahnya, kita udah jadi pasangan sekarang." "Jangan jadi tukang paksa, ya!" delik gadis itu. "Ponsel lo bunyi," lanjut Keisha lagi. Memegang ponsel Doni yang memang terletak di atas meja belajar. "Siapa yang nelepon?" tanya Doni. "Selly." Satu nama membuat Doni langsung turun dari tempat tidur. Dan buru-buru mengambil ponselnya dari tangan gadis itu. Kemudian berbalik untuk menerima panggilan itu. "Halo, Sel. Iya, iya, udah mendingan kok. Oh, motor gue nggak apa-apa kok kalo di kampus, lagian penjagaan kampus elit kan ketat banget. Gue nggak terlalu khawatir. Oke, bye, Selly." Pembicaraan yang singkat karena Doni sengaja tidak mau berlama-lama bertelepon dengan Selly. Lagian Keisha ada di sini. Doni memutar tumitnya lagi. Berbalik menatap Keisha yang kini masih bersedekap. "Itu Selly adik kelas kita pas SMA dulu?" tanya Keisha. Doni mengangguk pelan. "Iya, kebetulan kita satu kampus cuman beda fakultas aja," balas Doni, jujur. "Oh, kirain pacar baru lo," ucap Keisha yabg terlihat santai. Dahi Doni langsung mengkerut. "Pacar apa coba? Buat apa gue pacaran, sementara gue udah punya lo sebagai istri gue di sini," balas Doni, tidak habis pikir dengan perkataan Keisha. "Ya, nggak tau kan, Don." Keisha terlihat mengedikkan bahu. "Gue di sini masih berharap seseorang yang bakal datang lagi. Gue nggak bakal marah kalo semisalnya lo pacaran sana gadis lain. Ya, karena gue merasa nggak ada hak buat ngelarang," tutur Keisha. "Lo berhak, Kei!" balas Doni dengan cepat. "Lo itu istri gue, sangat berhak untuk marah atau kecewa kalo gue main belakang sama gadis lain." Doni tidak suka dengan apa yang Keisha ungkapkan tadi. "Doni, gue udah bilang kan? Jangan terlalu berharap sama gue," ujar Keisha. "Iya gue tahu!" balas Doni, lagi. "Tapi hati gue nggak bisa untuk berhenti berharap sama lo, Kei. Dari kecil lho, Kei." Doni menunduk, satu tangannya meremas ponsel miliknya untuk meredamkan emosi. "Dari kecil gue udah mengagumi lo, dan setelah masuk SMP gue baru sadar kalo gue cinta sama lo. Gue tau kalo itu mungkin saja cinta monyet. Tapi perasaan gue tetap sama setelah kita udah besar kayak sekarang." Doni mengeluarkan semua yang dia rasakan selama ini. "Gue juga ngalah sama sahabat sendiri, karena gue juga tau kalo lo udah cinta mati banget sama Varo. Kata orang, tingkat rasa cinta itu ialah sebuah pengorbanan." "Maka itu, gue mengorbankan perasaan gue sendiri untuk kebahagiaan kalian berdua." Doni tertawa miris. "Kurang baik apa gue, Kei? Gue selalu mentingin kebahagiaan kalian berdua, sementara gue? Nggak pernah mikirin kebahagiaan gue sendiri," lanjutnya lagi. "Makanya setelah bisa jadi suami lo, gue selalu berusaha buat ambil hati lo. Berharap agar lo bisa nerima gue sedikit demi sedikit. Nggak apa-apa lo anggap gue ini sebagai sepupu lo, asal lo bisa berinteraksi dengan baik sama gue. Itu aja, gue udah merasa cukup." Doni menarik sudut bibirnya lagi, memberikan senyuman terbaiknya untuk gadis di depannya ini. "Doni ...." "Ya?" Keisha menatapnya dengan intens, itu yang sedikit membuat Doni bingung. "Kenapa lo baik, sih?" Suara Keisha terdengar bergetar. "Gue semakin nggak enak sama lo, kalo lo, ya terus kayak gini," lanjut gadis itu. "Gue merasa jahat juga sama lo." "Mungkin udah takdir gue kayak gini, Kei," balas Doni, mencoba untuk merasa tenang. Meski hatinya terasa sakit mengingat bagaimana dirinya selama ini. Selalu mengalah untuk kebahagiaan orang yang dia sayang. "Maafin gue." Keisha sudah menangis, itu yang Doni lihat. Gadis itu juga menunduk dalam. "Kalo semisalnya kita nggak berjodoh dan pernikahan ini terhenyak ditengah jalan. Gue harap lo tetap bis bahagia dengan perempuan lain. Kangan terus berharap dengan gue yang ada di sini, Don." Doni langsung melangkah untuk mendekati istrinya itu. Iya, memang benarkan kalau Keisha adala istrinya? "Jangan nangis," pinta Doni. Laki-laki berjongkok di depan Keisha. "Lo tau kan, kalo gue nggak suka lihat lo nangis?" Doni menangkup wajah gadis itu. Menghapus air matanya dengan ibu jarinya. "T-tapi, gue merasa jahat banget sama." Gadis itu bahkan sudah senggukan. Air matanya berlomba-lomba untuk jatuh membasahi pipi Keisha. Doni pun dengan sigap mengusapnya, begitu terus sampai Keisha sudah bosan untuk menangis lagi. "Kalo lo nggak mau merasa bersalah sama gue. Cukup terima kehadiran gue aja dan jangan pernah ungkit atau sebut nama Varo bila kita berdua begini. Lo tau kan, gue udah benci banget sama si berengsek itu, setelah dia nggak mau nikahi lo. Dan malah lari begitu aja," jelas Doni. Keisha masih senggukan. Menatap wajah Doni dari atas. Kemudian gadis itu mengangguk pelan, membuat Doni bisa merasakan secercah kebahagiaan di hatinya. "G-gue bakal coba pelan-pelan," balas Keisha. Doni tersenyum lebar. Mengusap pipi Keisha dengan lembut. Laki-laki itu memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Keisha dari bawah karena posisinya masih berjongkok dari tadi. Akan tetapi, kalau ada yang melihat posisi mereka itu dari belakang. Orang itu akan pasti beranggapan kalau mereka sedang berciuman. "Gue senang kalo gitu," ujar Doni. Keduanya saling tatap cukup lama. "Keisha, Doni. Ini Bunda Kiran mau pamit katanya mau pula—" Doni langsung memutar kepalanya, menatap Bunda Shayra dengan wajah kaget. Dia juga heran karena ekspresi Bunda yang terlihat malu atau salah tingkah sendiri. "Oh, maaf-maaf! Bunda salah, nggak ngetuk pintunya lebih dulu. Kebiasaan." Setelahnya wanita paruh baya itu kembali menutup pintu kanar Keisha. "Bunda kenapa?" tanya mereka serentak. Doni mengedikkan bahunya. "Mungkin salah paham karena posisi kita kayak tadi," ucapnya pelan. Hari ini mereka tiga kali kepergok orang-orang terdekat. Padahal mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh, tetapi reaksi orang rumah cukup berlebihan. *** Tidak sengaja Doni terbangun di jam segini. Dahinya mengerut melihat Keisha tidak ada di sebelahnya, kasur kosong. Buru-buru Doni melihat sekeliling, sedikit bernapas lega karena melihat gadis itu berdiri di depan jendela dengan ponsel ditelinga. "Dia teleponan dengan siapa?" gumam Doni. Namun, setelahnya tertegun ketika mendengar suara Keisha yang berbicara. Gadis itu juga terdengar menangis pelan. "Kamu ke mana aja, Al? Kenapa kamu nggak datang ke pernikahan kita, hah?" Apa? Apa itu Alvaro? Berani sekali laki-laki itu menghubungi istrinya lagi. Tangan Doni sontak terkepal. Padahal dia dan Keisha baru saja baikan serta gadis itu mau menerima kehadirannya ini. Kenapa Alvaro malah seenaknya muncul lagi? Kenapa laki-laki itu menelepon Keisha lagi? Sebenarnya apa yang direncanakan oleh laki-laki itu? Doni tidak bisa menebak sama sekali. "Alasan saja! Aku benci kamu." Suara Keisha menyentak Doni. Dia buru-buru menutup matanya lagi saat Keisha sudah mematikan sambungan telepon tadi. Akhirnya, Doni memilih pura-pura tidak tahu kalau Alvaro kembali menghubungi Keisha setelah dua minggu pernikahan mereka. Doni tidak tahu, bagaimana akhirnya kisah cintanya ini nanti. Apakah berakhir bahagia atau malah sebaliknya? Apa dia bisa memperoleh kebahagiaan kalau semisalnya dia dan Keisha benar-benar tidak berjodoh? Rasanya Doni tidak sanggup membayangkan hal itu. Baginya, Keisha adalah cinta pertamanya sekaligus cinta terakhir. Tidak ada yang bisa menaklukkan hatinya ini selain gadis itu. Akan tetapi, Keisha sama sekali belum mencintainya saat ini. Doni bingung, apa yang harus dia lakukan agar Keisha benar-benar bisa jatuh ke dalam pelukannya. Sebelum Alvaro kembali. Doni bertekad dalam hati, kalau dia akan terus berusaha mengejar cinta Keisha apa pun caranya. Agar ketika Alvaro kembali ke kehidupan mereka lagi, Keisha akan jelas-jelas memilih dirinya daripada Alvaro. Doni tersenyum miring. Alvaro kita lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya di sini. Lo atau gue?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN