Sudah hampir satu jam lebih Elena duduk di Kafe Pelangi, tempat yang ia maksudkan untuk bertemu dengan Arkan ayah dari Janin yang ia kandung,
Tapi sampai sekarang wanita berparas cantik itu bahkan tidak melihat adanya tanda-tanda pria itu akan datang barang sedikitpun, perasaan cemas dan pikiran buruk mulai merasuki otaknya, berulang kali Elena melihat kearah pintu masuk berharap orang yang ditunggunya datang,Juga memejamkan mata sejenak kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya perlahan mencoba untuk menenangkan diri,
Merasa kursi yang ada di hadapanya itu ditarik lantas wanita itu membuka mata dan mendapati seorang pria berjas kantoran yang dia tunggu sedari tadi sudah duduk di depanya sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan
"Hai, maaf ya telat soalnya tadi macet banget," ujar pria itu, Arkan memberi alasan
"Iya gak papa."
"Jadi kenapa kamu ngajak aku ketemuan dadakan gini?"
Elena menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan sebelum menjawab pertanyaan orang di depanya itu
"Arkan aku..."
"Kenapa Len?"
"Mmm a aaku_
Sebenarnya aku_" Elena merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu menyuarakan isi hatinya
"Aku kenapa?" ulang Arkan yang geram karena wanita itu tak kunjung menyelesaikan kalimatnya
"Eh e eng ngga, kamu duluan aja."
Terlihat Arkan mengatur napasnya terlebih dulu"Emm begini Len, sebaiknya hubungan kita sampai disini saja."
Sederet kalimat dari Pria itu berhasil membuat Lena terdiam seperti patung
"Sebenarnya aku juga ingin bertemu denganmu untuk memutuskan hubungan ini, gimana ya Len sebelumnya mama ku sudah menjodohkanku dengan wanita lain dan aku tidak bisa menolaknya."
Elena masih diam, ingin sekali rasanya dia mengatakan kehamilanya tapi entah kenapa mulutnya jadi bisu mendadak.
Klop
Arkan menjentikan jarinya dihadapan wajah Lena yang mana hal itu membuat kesadaranya kembali
"heyy, Len maaf sebelumnya tapi aku emang gak bisa ngelanjutin hubungan ini,aku gak bisa nolak keinginan Mamaku."
Hening. Tidak ada yang berbicara lagi
"Kita gak bisa mengakhiri hubungan ini." setelah lama terdiam akhirnya Elena berbicara
Arkan menghela napas panjang "Hemm, aku tau ini sulit untukmu, bukan cuma kamu aja tapi juga buatku, tapi kita emang udah gak ditakdirin bersama, aku akan menikah dengan wanita pilihan mama ku dan aku yakin kamu pasti bi_
Belum sempat Arkan menyelesaikan kalimatnya tapi wanita itu sudah memotongnya
"Bukan itu," kata Elena dingin
Arkan menaikan sebelah alisnya bingung"Apa?"
"Kalo ini cuma persoal cinta, hati, jodoh, restu orang tua aku rela kamu sama siapa aja asalkan kamu seneng. Tapi Arkan, masalahnya saat ini aku sedang hamil."
Arkan diam terpaku
"Aku hamil Arkan, hamil anakmu, darah dagingmu," Ucapnya sambil menekan kata 'darah daging', mendengar perkataan Elena bahwa ia sedang hamil membuat Arkan mematung, kini lidahnya lah yang di buat kelu oleh pernyataan wanita itu
"Hahaha kamu ini bercanda aja, kalo kamu emang gak mau kita putus kamu tinggal ngomong aja langsung, tapi gak perlu bawa-bawa drama kehamilan segala hahaha kamu ini ada-ada saja." Arkan tertawa lucu, masih tidak percaya dengan ucapan wanita itu
"Aku gak bohong Arkan, kalau kamu gak percaya lihat ini." Elena menunjukkan hasil tes pack nya,
Tahu bahwa wanita itu tidak sedang bercanda membuat lelaki itu menghentikan tawanya seketika, Arkan mengambil tes pack itu dan benar saja ada tanda dua garis merah di benda kecil itu
Keadaan hening tercipta diantara mereka sejenak
"Ini gak mungkin,gugurkan bayi itu. Karena aku gak mungkin nikah sama kamu, dan bisa jadi itu bukan anaku,"ujar Arkan tenang
Mendengar ucapan pria itu membuat Elena terkejut setengah mati, apa apaan ini? Pria itu mengatakan bahwa janin yang ada di kandungnya itu bukan anaknya? Padahal jelas-jelas Elena mengeluarkan darah pada malam itu dan mata Arkan masih cukup sehat untuk melihatnya
Elena pikir setelah mengetahui tentang kehamilanya akan membuat lelaki itu mau bertanggung jawab dan menikahinya tapi ternyata dia salah, sangat salah
Ingin sekali rasanya Elena menampar mulut Arkan sekeras kerasnya, Tapi tidak ia lakukan karna nyatanya rasa cintanya pada pria di hadapanya ini lebih besar dari pada kemarahannya, Cairan bening mulai terkumpul di pelupuk matanya. Dirinya merasa hina, Arkan memandangnya seakan-akan ia adalah w************n yang mau menampung sel mana saja
"Dan ini, kamu datang ya," ucap Arkan memberikan selembar kertas undangan pernikahan yang ternyata di selenggarakan dua minggu lagi. Dua minggu? Itu artinya lelaki itu pasti sudah melaksanakan acara tunangan dengan wanita yang diketahuinya dari undangan itu bernama Adisty sudah dari lama
Tapi kenapa Arkan melakukan ini? Mengapa pria itu menidurinya jika sudah tahu akan dijodohkan dengan wanita lain? Kenapa? Kenapa dia melakukan ini? Kenapa pria itu tega melakukan hal b***t itu padanya. Pikiran Elena buntu, wanita itu sudah tidak mampu lagi menahan air matanya. Elena terisak pelan, Arkan mengalihkan pandanganya ke arah lain asal tidak melihat kearah mantan kekasihnya itu
"Sekali lagi aku gak bisa niakahin kamu Elena, mama ku pasti juga gak akan setuju, dan kamu tahu sendiri kan mama ku itu orangnya kayak gimana?"
Elena menggelengkan kepalanya cepat "Nggak. Kamu harus nikahin aku Arkan, kamu bisa bicarain hal ini baik-baik sama mama kamu, aku bakal bantu kamu bicara sama mama kamu," ujarnya berusaha bicara normal
"Terus aku batalin pernikahanku sama Adisty? itu gak mungkin, karna kalau sampai pernikahanku dengan Adisty gagal otomatis kerjasama antara keluarga kami juga gagal, dan itu membuat perusahaan milik keluargaku menanggung kerugian yang sangat besar!" Jelas Arkan yang membuat Elena terdiam kaget. Tidak lama setelahnya wanita itu tersenyum sinis,
"Begitu ya? Kamu lebih milih harta dari pada anakmu sendiri? Aku gak nyangka ternyata kamu orang kayak gitu Arkan," Ucapnya memandang rendah pria itu
Arkan hanya diam, tidak berniat menjawab perkataan Elena
"Aku gak peduli kamu mau mikir aku orang kayak gimana yang penting gugurkan janin s****n itu sebelum semuanya terlambat."
Sakit, dadanya terasa sesak dan akhirnya pertahanan nya pun pecah air mata yang tadinya hanya keluar tetesan kini terus mengalir deras seperti sungai yang tak berujung, wanita itu menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan suara isakanya yang semakin keras
Tanpa berpamitan pada Elena, Arkan beranjak dari tempat duduknya membiarkan wanita malang itu menangis sendirian di sana, Tidak lupa sebelum pergi pria itu membisikan sesuatu pada Elena
"Kamu harus datang di resepsi pernikahan saya dan jangan coba-coba menghancurkanya, ingat itu." bisik Arkan tepat di telinga Elena, tidak lupa disertai penekanan di setiap kata-katanya
Menangis. Itulah yang hanya bisa dilakukanya, Elena merasa hancur, saat ini dadanya terasa semakin sesak dan air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Wanita itu tidak mampu lagi menahan suara isakanya juga tak peduli dengan pandangan pengunjung kafe yang mungkin melihatnya seperti orang gila.
Apa yang harus dia lakukan sekarang,orang tuanya pasti juga akan menyuruhnya menggugurkan janinnya, Wanita itu beranjak dari kursinya dan membayar minumanya tadi karena Arkan tidak memesan apa-apa setelahnya wanita itu memilih untuk pulang ke apartemenya guna menenangkan diri dan mencari cara bagaimana mengatakan semua hal ini kepada orang tuanya, karna cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui tentang kehamilanya.
"Maafin Lena, pah mah. Lena gagal jadi anak," gumamnya merasa miris pada nasibnya sendiri
Jika tau akhirnya akan seperti ini, mungkin dia tidak akan bertindak bodoh dengan menuruti ucapan pria biadab itu, jika tau endingnya akan membuatnya stress seperti sekarang mungkin Elena akan memilih menampar mulut pria itu agar tidak terperangkap dengan janji palsunya.
Tapi itu hanya andai-andai semata, kenyataanya dia melakukan hal bodoh dan hina itu, wanita malang itu sudah terlanjur masuk dalam perangkap iblis berwajah malaikat itu. Nasi sudah menjadi bubur, dosa yang ia buat kini sudah melekat dalam dirinya dan hanya dengan merawat hasil dosa itu dengan baiklah yang mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa penyesalanya
"Kamu tenang aja, kita pasti bisa lewati masalah ini," ujarnya membatin sambil mengelus perutnya yang masih rata