"Jadi lo positif hamil Len?" tanya orang yang ada di hadapanya itu, Winola atau sapa saja dia Wino mantan tetangga (sebelum wanita itu menikah) sekaligus sahabatnya sejak kecil. Saat ini mereka sedang berada di salah satu cafe outdoor yang ada di Jakarta, karena Lena sedang membutuhkan teman curhat sekarang
"Iya, gue bingung banget Win harus gimana," rengek Elena
Wino mengerutkan alisnya masih terkejut "Arkan udah tau soal ini?"
"Udah,"jawabnya jujur
"Terus gimana reaksinya?"tanya Wino penasaran
"Dia gak mau tanggung jawab." jawab Elena sambil menahan rasa sesak di dadanya
Bisa Lena lihat saat ini Winola, sahabatnya itu tengah menggeram kesal. Ingin sekali rasanya wanita itu melabrak Arkan sekarang juga
"Arkan gak mau tanggung jawab?"Ulang Wino menahan emosinya
"Hmm, jangankan tanggung jawab dia aja gak percaya kalo gue hamil anak dia,"jawab Lena menghela napas lelah
Wino membulatkan matanya terkejut, dia tidak menyangka ternyata Arkan yang selama ini dia pandang baik ternyata tidak lebih seperti pria b******n diluaran sana, kini wanita itu benar-benar ingin menonjok mulut s****n laki-laki itu
"Masa sih Arkan gak mau tanggung jawab?" tanya Wino yang masih terkejut campur rasa tidak percaya
"Dia aja bilang 'Mungkin aja itu bukan anaku' gitu terus dia juga ngasih ini." jelas Elena sambil menyerahkan undangan pernikahan Arkan dan Adisty
Wino mengambil undangan yang ada di tangan Elena dan ya itu memang undangan pernikahan Arkan, Wanita itu bingung dan tak habis pikir dengan sikap Arkan yang di ceritakan Elena karna setaunya Arkan itu sangat mencintai sahabatnya itu, tapi kenapa pria jangkung itu melakukan hal ini
Wanita itu membaca nama calon istri Arkan 'Adisty Safara Herlambang' dan yah, dia merasa tidak asing dengan nama itu
"Adisty Safara Herlambang? gue kayak gak asing deh sama nama itu." Elena menegakan posisi duduknya dan mencondongkan tubuhnya kearah Wino
"Lo kenal sama calon nya?"tanyanya penasaran
"Bentar gue inget-inget dulu." Wino memejamkan matanya dan mencoba mengingat siapa itu Adisty Safara Herlambang
"Ah iya gue udah inget!"
"Hah siapa dia?" tanyanya tidak sabar
"Dia itu diseiner muda yang mendapatkan beasiswa ke paris, kalo gak salah dia dulu super model plus mantan putri kecantikan juga anak dari Aditama Herlambang konglomerat kaya raya di negri ini."
Elena hanya diam mendengar penjelasan Wino, bahunya melemas. Ternyata calon istri Arkan sangat berprestasi. Pantas saja pria itu tidak bisa menolak permintaan orang tuanya, namanya juga kucing kalo disuguhi ikan mana bisa nolak apalagi ikanya berkualitas kayak sosok Adisty. Eh? Kenapa Elena jadi insecure gini
"Terus sekarang lo mau gimana? Tetep ngotot minta pertanggung jawaban dari Arkan? Sedang Calonya aja dari kelas langit ketujuh? Kalo saingan lo setingkat Adis udah pasti kalah jauh lah, masih kalah jauh tet tet tet, eh? Kok gue jadi nyanyi gini sih, balik ke topik awal. Lo udah dapet solusinya?"tanya Wino lagi setelah menghabiskan waktu untuk sederet kalimat unfaedah itu
"G,"jawabnya dingin yang masih malas dengan ucapan Wino yang mengagungkan sosok Adis. Sebenarnya disini yang sahabatnya siapa? Elena atau Adis?
Wino hanya menyengir lebar melihat perubahan sikap Lena, dia tau sahabatnya itu pasti jengkel dengan ucapanya, tapi mau bagaimana lagi. Elena itu tipe orang yang harus disadarkan dulu baru mau membuka mata
"Kalo saran gue sih lo jujur aja ke orang tua lo."
Elena menghela napas kasar "Gue maunya juga gitu Win,tapi lo tau sendiri kan orang tua gue itu kayak gimana."
Benar juga, orang tua Elena itu termasuk ke dalam orang yang mementingkan pamor dan harga diri tinggi serta sangat protektif terhadap putri satu-satunya itu
"Terus sampai kapan lo mau sembunyiin masalah ini dari mereka? cepat atau lambat orang tua lo pasti bakalan tau."
Wino benar, mau sampai kapan dia terus menyembunyikan kehamilanya dari orangtua nya karna cepat atau lambat mereka pasti akan tau
"Lo pasti bisa Len." kata Wino menggenggam erat tangan Lena mencoba menyalurkan kekuatan pada wanita berbadan dua itu
Elena menghembuskan nafas pelan, dia tersenyum hangat pada Wino, setidaknya untuk saat ini bebanya sedikit berkurang
"Makasih Win, lo emang sahabat gue." Wino tersenyum hangat mendengar ucapan Lena kemudian merangkul pundak sahabatnya itu
"Sama-sama,lo kayak sama siapa aja, inget kita ini udah sahabatan dari zigot kalo lo lupa,"
Sekali lagi Elena tersenyum mendengar ucapan Wino
"Lo gak sendiri Len, masih ada gue yang akan selalu ngedukung lo dalam situasi apapun."
"Makasih banyak Wino,"ucap Elena merasa terharu
Hening sesaat tapi tidak lama hp Elena berdering
"Bentar, ada yang nelpon." Wino mengangguk
Elena terdiam setelah melihat nama siapa yang ada di layar hp nya
"Siapa yang nelpon?"tanya Wino
"Mama,"
"Angkat aja,"
Elena hanya mengangguk sebagai jawaban ya
"Halo ma." Elena mencoba berbicara senormal mungkin
"Pulang sekarang." perintah mamanya to the point.
Suara Amira yang terdengar dingin membuat Elena deg degan sendiri terlebih lagi mama nya tidak membalas sapaanya
"Emangnya ada apa ma?" tanya Elena basa-basi
"Kamu pulang aja sekarang!"
"tapi ma ak-"
tuuuut,,,,tuuuut,,,,tuuut
Sambungan telepon di matikan sepihak
"Ada apa Len?" Tanya Wino yang sedari tadi hanya diam
"Nyokap nyuruh gue pulang,"
"Yaudah lo pulang aja siapa tau ada hal yang penting!"
"Tapi kok perasaan gue gak enak gini ya." Elena memegang dadanya. Terasa sekali detak jantungnya berpacu lebih cepat
"Lo nyimpen tes pack lo di tempat yang aman kan?"Elena mengangguk
"Iya, gue simpen di apartemen,"
"Yaudah kalo gitu ga usah khawatir,"
Elena menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskanya mencoba menenangkan diri
"Yaudah gue duluan ya!"
Wino hanya mengangguk sebagai jawaban ya
perasaan Elena benar-benar tidak enak, apakah mama nya menemukan hasil kehamilanya?karna setau nya orang tuanya tidak akan menyuruhnya pulang secara tiba-tiba jika tidak ada hal yang penting
"Semoga aja gak kayak yang gue pikirin," batinya penuh harap, bisa bahaya kalo orang tuanya tau masalah ini sekarang, wanita itu belum punya cukup mental untuk menghadap wajah keduanya.