Orang tua Elena

828 Kata
Sepanjang perjalanan pulang Elena hanya memikirkan satu hal yaitu kenapa orang tuanya menyuruhnya pulang, padahal ini masih jam kantor Mobil Elena memasuki kawasan perumahan elite dan berhenti didepan salah satu rumah mewah yang ada disana, wanita yang memiliki paras bak model itu memencet klakson mobilnya dan tidak lama setelahnya pagar besi besar yang mengelilingi rumah mewah itu terbuka, Elena keluar dari mobil dan memberikan kunci mobilnya pada salah satu supir pribadi papanya. Saat memasuki rumah dia sudah disambut dengan pemandangan kedua orang tuanya yang duduk di ruang tamu, sepertinya mereka benar-benar menunggu "Duduk Len!" Elena mengangguk dan tanpa banyak bicara langsung duduk menuruti perintah Papanya "Ada apa Papa nyuruh aku pulang?" tanyanya memberanikan diri "Jelasin sama papa apa ini?" tanya Hugo to the point sambil melemparkan tes pack bertanda dua garis itu pada Lena Elena memejamkan matanya lelah, kenapa nasibnya bisa sesial ini dan bagaimana mungkin orang tuanya bisa tau,apa dia di mata-matai? "Mama nemuin ini di apartemen kamu," Ujar pria paruh baya itu yang sepertinya mengerti dengan keterkejutan sang anak Ahh ya dia baru ingat bahwa mamanya sering berkunjung ke apartemennya dan tentu saja mengetahui kata sandi nya, kenapa ia jadi ceroboh gini sih? "Ii itu itu a aku_" "Itu punya kamu?" sela Amira menatap lekat mata putrinya "......."Elena diam tidak menjawab "jawab Elena!" "......"Elena tetap diam tak bergeming, dia bingung akan mengatakan apa jika mengiyakan pertanyaan kedua orang tuanya, mau mengelakpun sudah ada bukti "Apa kamu sudah bisu ha?" Prangg Bentak Hugo tidak sabar sambil membanting vas bunga yang ada di meja, tidak hanya Elena tapi Amira juga terkejut, wanita paruh baya itu tidak menyangka suaminya akan semarah ini "Iya, itu punya Lena,"jawab Lena tegas membuat keduanya terdiam Hening "Siapa! Siapa ayah nya?" akhirnya setelah beberapa saat diam dalam hening Papanya mulai bertanya "Arkan. Arkana Alexander." "Dia sudah tau?" tanya Hugo berusaha tenang "Udah pa, tapi_" "Tapi apa?Dia gak mau tanggung jawab?" potong pria paruh baya itu  "Iya," jawabnya lirih, Hugo menghela napas mencoba untuk tetap sabar "Kalau begitu gugurkan bayi itu." Elena tidak terkejut mendengar ucapan papanya, karna dia sudah menduga bahwa jika mereka tau maka respon itulah yang akan keluar "Papa kasih kamu 2 pilihan gugurkan bayi itu sebelum terlambat atau_" Hugo sengaja menggantungkan kalimatnya "...Kamu keluar dari keluarga ini!" Elena tidak bisa menjawab atau pun mengeluarkan sepatah kata pun ia terlalu terkejut dan bukan hanya Lena saja tapi juga Amira yang tidak menyangka suaminya akan memberikan pilihan seperti itu Pilihan kedua memang terdengar menyeramkan untuk Elena tapi dia juga tidak bisa gegabah dengan mengambil opsi pertama "Papa kasih kamu waktu 3 hari, pikirkan ini baik-baik dan semoga kamu mengambil keputusan yang tepat," Lanjut pria yang berstatus sebagai kepala di keluarga Atmadjaya itu Setelah itu mereka berdiri dan tanpa permisi langsung pergi meninggalkan Elena sendiri di ruang tamu rumah mewah itu, untuk pilihan pertama dia tidak terkejut sama sekali tapi untuk pilihan kedua, dia sama sekali tidak menyangka papa nya tega mengucapkanya, apakah sebegitu pentingnya kehormatan dan pandangan masyarakat untuk mereka sampai-sampai dengan teganya mereka ingin membunuh cucu sendiri serta mencoret nama anak kandung nya demi menyelamatkan harga diri, seharusnya mereka mendukung keadaanya sekarang bukannya malah mengusirnya, Elena benar-benar kecewa, ingin sekali rasanya dia membenci orang tuanya itu, tapi dia juga sadar bahwa membenci mereka berdua tidak akan menyelesaikan masalahnya Rasanya kepalanya pusing sekali mengingat ucapan papa nya yang terus saja terulang di pikiranya, Elena berdiri melangkahkan kaki nya keluar mansion mewah itu dan menyuruh salah satu supir mengambilkan mobilnya Wanita berkulit putih itu keluar dari istana mewah Atmadjaya dengan perasaan penuh ke kecewaan terhadap keduanya dan tanpa sadar air mata yang ia pendam selama berada di rumah mewah tadi luruh seketika. Elena tidak berniat menghapus cairan bening itu dan membiarkanya keluar begitu saja mengaliri pipinys, mungkin dengan begitu hatinya bisa merasa sedikit tenang ***** Mobil Elena berhenti di depan sebuah rumah makan yang bisa dibilang cukup mewah, wanita berbadan dua itu masuk ke dalam dan memilih tempat paling pojok di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan yang ada di luar Seorang pelayan berjalan mendekat dan memberikan sebuah buku menu, Elena mengambilnya dan memesan banyak sekali makanan dan juga minuman, karna berpikir juga akan menguras tenaga dan mentalnya, Wanita itu makan dengan tenang dan nikmat sambil sesekali melihat pemandangan bagaimana padatnya jalanan kota metropolitan dari dalam restoran, jika hanya dilihat sekali Elena nampak seperti orang biasa tanpa beban pikiran tapi jika di perhatikan dengan seksama orang pasti akan melihat raut wajah penuh ke kecewaan dan juga hembusan nafas nya yang berat menandakan beban fikiran wanita itu sedang berat pula. Elena menghabiskan semua makanan yang di pesannya tadi dan memanggil pelayan untuk meminta bill dari pesananya, setelah membayar wanita itu pergi dari sana namun dia tidak langsung pulang ke rumah ataupun apartemenya tapi dia memutuskan untuk berkeliling sebentar, entahlah ia mau pergi kemana yang pasti saat ini dia sedang ingin sendiri. Jika seandainya kalian yang berada di posisi Elena saat ini, pilihan apa yang kira-kira akan kalian ambil? Menggugurkan anaknya atau keluar dari keluarga besar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN