Setelah cukup lama berkeliling Elena berhenti di taman kota yang tidak terlalu ramai, mungkin karena hari ini sedang mendung dan orang-orang malas untuk keluar, ntahlah dia sendiri juga tidak tau tapi keadaan taman yang sepi malah membuatnya tenang. Tidak banyak orang yang ada ditaman mungkin bisa di hitung jumlahnya karna saking sepinya
Hanya ada beberapa orang, remaja, dan penjual makanan disana namun diantara orang-orang tersebut ada satu objek yang berhasil menarik perhatianya, yaitu seorang wanita yang duduk ditepi jalan taman dan sepertinya seorang pengemis atau gelandangan, kenapa Elena bisa berpikir seperti itu karna bisa dia lihat bahwa pakaian wanita itu compang camping dan juga wajah lusuhnya yang mendukung, namun wanita itu tampak bahagia saat membuka bungkusan nasi yang sepertinya dia dapatkan dari sisa makanan orang yang tidak habis, Elena terkejut karena wanita itu tidak memakan nasinya melainkan menyuapkanya pada anak yang berada dalam gendonganya yang sepertinya baru berumur dua tahunan, Elena bahkan tidak sadar jika sedari tadi wanita itu menggendong bayi karna saking fokusnya pada wanita itu
Elena salut melihat bagaimana wanita itu menahan rasa laparnya demi agar anaknya bisa kenyang dan tidak peduli akan pandangan pengunjung taman yang memperhatikannya, itu mengingatkannya pada kedua orang tuanya apakah mereka juga pernah merasakan kelaparan seperti pengemis itu agar dirinya bisa tercukupi dan tidak merasa kekurangan?
Lagi-lagi pandanganya memburas, cairan bening mulai memenuhi pupuk matanya namun secepat mungkin wanita itu mengalihkan pandangannya dari pengemis tadi karna mendengar suara teriakan yang cukup keras, ternyata suara itu berasal dari sepasang suami istri yang sedang bertengkar, Elena memperhatikan pasangan suami istri itu diam-diam walaupun itu hal yang tidak sopan
"Aku juga udah berusaha mas, kita hanya harus lebih sabar," ucap sang istri berusaha menenangkan
"Sabar? sabar kamu bilang, kita ini menikah udah hampir lima tahun tapi apa? kamu gak hamil juga?" bentak si suami
Sang istri tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan hanya diam sambil menahan agar air matanya tidak keluar
"Udahlah gak ada gunanya juga kita pertahanin pernikahan ini lebih baik kita pisah aja!"
Terlihat wajah sang istri terkejut luar biasa. Air mata yang sedari tadi di tahanya akhirnya luruh juga
"Nggak aku gak mau pisah mas, hiks aku gak mau kita pisah hiks hiks aku mohon mas kasih aku kesempatan."
"Berapa lama lagi aku harus nunggu,ha? berapa lama lagi?" Teriak pria itu
Sang istri hanya bisa diam sambil menangis
"Asal kamu tau, aku udah tau semua rahasia kamu bahkan sejak awal sebelum kita menikah kamu memang gak bisa hamil kan karna kandungan kandungan kamu bermasalah karna dulu kamu pernah hamil dan kamu gugurkan bayi itu, iya kan!"
Cukup Elena tidak mau melihat lagi, dia segera beranjak dari tempat itu dan memutuskan untuk pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen Elena langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk
Dua kejadian di taman yang dia lihat tadi sudah cukup memberikan contoh, tapi hal itu justru membuatnya semakin bimbang, kenapa dia harus terjebak dalam dilema sulit ini? Jika dia memilih orang tuanya dan menggugurkan bayi nya bisa saja nasibnya akan berakhir seperti pesangan suami istri tadi bisa saja rahimnya dimasa depan akan bermasalah karna melakukan aborsi tapi jika ia memilih bayinya dia juga harus siap menerima konsekuensinya yaitu keluar dari keluarga Atmadjaya dan juga harus kehilangan semua fasilitas yang di berikan orang tuanya dan termasuk pekerjaan nya
Jika sampai kehilangan pekerjaan harus dengan cara apa ia menghidupi anak dalam kandungnya itu? sedangkan mencari pekerjaan di Jakarta itu bukanlah hal yang mudah apalagi saat ini dia sedang hamil
"Arggh, aku harus gimana?" teriaknya frustasi
"Aku bisa aja gugurin bayi ini tapi gimana kalo kandunganku nanti bermasalah karna ngelakuin aborsi?" gumamnya bermonolog
"Huhh tenang Len tenang lo pasti bisa sekarang lebih baik lo tidur semoga saja besok pagi lo dapat pencerahan dari mimpi lo," ucapnya menenangkan diri sendiri
Elena segera menutup mata setelah. Tidak lama setelahnya wanita itupun tertidur saking lelahnya, tidak hanya fisik tapi juga lelah fikiran
Malam hari di kediaman Alexander
Sudah setengah jam lebih Elena berdiri diam menatap pintu rumah keluarga Alexander yang tertutup rapat, wanita itu masih ingin meminta pertanggung jawaban Arkan dan meyakinkan jika janin yang ada dikandungnya itu memang benar-benar keturunan seorang Arkana Alexander
Ting tong
Elena berusaha mengatur napasnya dan menyiapkan segudang mental jika nantinya keluarga Arkan akan mencacinya
Ting tong
Wanita itu memencet kembali bel saat pintu putih besar itu tak kunjung terbuka, lama ia menunggu dan pintu itu belum juga terbuka hingga akhirnya Elena memutuskan untuk memencet bel itu sekali lagi
Ting tong
Wanita bergaun putih selutut itu masih belum menyerah dan menunggu untuk beberapa saat, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Elena menghela napas lelah, mungkin dia memang harus membesarkan anak dalam kandunganya itu sendiri, tepat saat tiga langkah kakinya menjauh dari tempat itu, pintu yang sedari tadi tertutup mulai terbuka. Elena berbalik senang saat melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri tegap didepan pintu
"Ibu Hanum," ujarnya menyapa, wanita itu tersenyum lebar melihat kedatangan Elena
"Nak Lena, udah lama? Maaf ya tadi ibu dibelakang jadi gak denger suara bel. Mau ketemu Mas Arkan ya? Masuk gih kedalam," ucap wanita itu yang tidak lain adalah art tertua di rumah keluarga Alexander
"Iya bu, Lena langsung masuk aja ya, mau ngomong penting sama Arkan," jelas Lena to the point, bu Hanum mengangguk mengerti.
"Yaudah sok atur neng, masuk Mas Arkanya teh ada di kamar soalnya ibu juga gak liat dia diluar," ujar wanita paruh baya itu antusias
Elena mengangguk senang kemudian tanpa basa-basi langsung masuk menuju kamar Arkan, bertaun-taun menjalin hubungan dengan putra tunggal keluarga Alexander membuatnya Hapal dengan setiap sudut rumah itu apalagi kamar Arkan.
Ceklek
Elena terdiam kaku di depan pintu kamar Arkan, dadanya naik turun karena terasa sesak. Air mata mulai menggenangi pelupuknya, namun bibirnya menyunggingkan seringaian tajam saat melihat pemandangan sepasang pria dan wanita yang sedang asik b******u didalam. Seharusnya dia tidak kesini, seharusnya dia menuruti saja kata hatinya, pemandangan j*****m itu telah sukses menusuk ulu hatinya
Sedangkan Arkan membelalakan matanya terkejut, pria itu segera merapikan pakaianya kembali begitu juga si wanita yang merasa malu karena tertangkap basah.
"Elena, ini semua gak kayak yang kamu lihat." Arkan berjalan mendekat kearah wanita itu
"Aku bisa Jelasin Len, kamu jangan salah paham dulu." Elena hanya diam membiarkan Arkan meracau
"Aku bisa jelasin!"
"Yaudah jelasin," jawabnya singkat
"Aku,,,,ini semua_
"ini semua apa? Bisnis?" Arkan terdiam, wajahnya tampak kesal mendengar kata terakhir Elena
"Gue datang kesini buat ngeyakinin elo kalo gue beneran hamil keturunan Alexander. Tapi sekarang gue ngerti kenapa takdir ngotot banget buat gue besarin bayi ini sendiri, anak gue gak Pantes dibesarin di tempat j*****m kayak gini. Makasih buat hubungan sementara ini, lo jodoh orang yang paling indah yang pernah nyasar di hidup gue," ucapnya yang sudah tidak lagi memakai kata aku-kamu
Arkan mendecih"Yaudah, Silahkan pergi dari rumah ini dan jangan pernah dekati keluarga Alexander lagi."
"Lagian kita juga udah punya calon mantu yang tepat buat kasih keturunan di rumah ini, jadi sekarang kamu bisa pergi dari sini karena Arkan juga udah gak butuh jalang kayak kamu," sahut suara dari belakangnya, Elena berbalik badan untuk melihat dua orang manusia yang menatapnya dengan pandangan rendah
Wanita itu memejamkan matanya berusaha menahan emosi yang sedari tadi ia tahan begitupun Arkan yang juga merasakan sakit di hatinya saat mendengar ucapan Mamanya
"Ayo cepetan kamu keluar, sebelum saya sendiri yang menyeret kamu keluar dari rumah ini!"
"Gak perlu repot-repot tante, Lena juga gak pengen lama-lama ditempat bebas zina ini. Lagian Lena juga males buat cuci tangan lagi," ujarnya mengeluarkan smirknya kemudian melangkah pergi dari rumah itu
Bahkan saat sudah di dalam mobilpun ia tidak fokus menyetir karena terlalu sibuk memikirkan alur apa yang sebenarnya sedang tuhan buat untuknya, kenapa rasanya jalan hidupnya begitu sulit? Perlahan namun pasti air mata mulai keluar membasahi pipinya, isakan kecil yang terdengar semakin keras memenuhi ruang mobil. Perselingkuhan Arkan yang ia lihat dengan mata telanjangnya sendiri semakin memperdalam luka hatinya. Sampai kapan drama hidupnya ini akan selesai? Apa aborsi adalah pilihan yang tepat?
Elena menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan mengambil ponselnya dari dalam tas, setelah mengetik dipencarian wanita itu mendial nomor pada pilihan paling atas kontaknya
"Halo Darsha, gue mau tanya. Apa aja konsekuensi aborsi?"
*****
"Huaa gue harus gimana Win? gue bener-bener bingung, Otak gue udah buntu, bantu gue mikir Win!"
Winola menghela nafas panjang,
pagi-pagi Elena sudah menghubunginya dan memintanya untuk datang ke cafe yang biasa mereka datangi setelah pulang sekolah dulu
"Lo pagi-pagi udah telpon gue nyuruh gue dateng cuma mau minta pendapat? Kenapa gak nanti sore aja sih? Lo pikir gue gak ada kerjaan apa pagi-pagi gini, ha? Gue juga harus masak ngurusin anak, suami, siap-siap kerja, lo mah enak kerja di kantor bokap sendiri jadi kalo telat atau gak masuk juga gak bakal di pecat, nah gue? Walaupun gue kerja di kantor suami sendiri tapi lo sendiri juga tau kan suami gue itu disiplinya kayak gimana?bisa-bisa gue dipecat kalo telat apalagi gue juga lagi isi dan hal itu mempermudah dia buat mecat gue!"
Wino mengeluarkan uneg-uneg nya yang sedari tadi dia pendam, memang betul Wino itu memiliki suami yang tegas dan disiplin dia juga tau kalau sebenarnya Sean suami Wino itu pencemburu tingkat ober mengingat Wino itu memiliki wajah yang bisa di bilang di atas rata-rata (Walaupun masih cantikan dia sih) disertai body yang ekhem montok. Dan apa tadi dia sedang hamil? Elena jadi merasa bersalah sekarang
"Lo hamil Win?" tanya Elena terkejut
"Gak gue kembung, ya hamil lah," sewot wanita cantik itu
"Selamat ya win gue ikut seneng,
udah berapa bulan, lo kenapa gak bilang sama gue,"ucapnya antusias
"Makasih, udah dua bulan setengah dan gue sebenarnya mau bilang ke lo kalo gue hamil waktu lo ngajak ketemuan terakhir kali tapi keduluan sama lo,"jelas Wino
"Kalo gue baru dua ming_ eh gue ngajak lo ketemu kan mau minta pencerahan kenapa jadi bahas kehamilan lo sih, jadi menurut lo gue harus gimana Win?"
"Huhh, kalo menurut gue sih ikutin kata hati lo!"
Jawab Wino Padat jelas singkat
"Dan kalo boleh gue kasih saran, lo hidup gak selamanya sama orang tua, udah ya gue pergi dulu hari ini hari pertama sekala sekolah dia bisa telat gue pulang dulu ya!"
Elena tidak menjawab, ucapan Wino tadi sudah jelas dia harus memilih siapa,dan sekarang Elena tau dia harus bagaimana
"Wino bener-bener bisa diandelin, makasih Win, untung gue belum jadi aborsi!"
"APA?"