'Lo hidup gak selamanya sama orang tua'
Ucapan Wino itu terus terngiang ngiang di kepalanya bahkan sampai mobilnya berhenti di kediaman Atmadjaya
ucapan dari sahabatnya itu terus di ucapkannya dalam hati,agar menguatkan keputusannya
Ya hari ini sudah tiga hari dan Elena ingat betul bahwa hari ini waktunya dia menjawab pilihan papa nya itu, Elena memasuki kediaman bak istana itu dengam santainya, dia tahu pada jam-jam seperti ini papa nya pasti masih di kantor,
Elena menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya, sesampainya di depan pintu kamarnya dia menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskanya,dia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati seakan takut jika pintu itu akan rusak, kemudian Elena masuk dengan perlahan ke dalam kamarnya sambil memandang seluruh isi kamarnya itu, dia melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya dan membukanya menampakkan pemandangan taman samping rumahnya yang cukup luas dan hijau, sekali lagi dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan perlahan, udara nya benar benar sejuk batinya.
Setelah merasa puas memandangi taman rumahnya dia berbalik menuju ranjang nya yang berukuran besar nan mewah itu, dia duduk diatas ranjangnya sambil sesekali berbaring dan menutup matanya menikmati kelembutan kasur itu yang mungkin akan dia rasakan untuk yang terakhir kalinya
Setelah puas berbaring dia menuju lemarinya, mengambil kopernya dan memasukan baju- baju nya kedalam koper,
Elena keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu sambil melirik jam tangan nya
Sudah waktunya
Elena menarik napas dalam-dalam, dia benar-benar sudah menetapkan keputusannya, lagipula aborsi hanya akan membantunya sementara. Wanita itu duduk di ruang tamu dengan sabar sambil menunggu papa nya memasuki mansion mewah ini
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki memasuki ruang tamu,dan kini dihadapanya berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan wibawanya,
"Jadi apa keputusan kamu?"tanya Hugo to the point
Elena tersenyum mendengar ucapan Hugo, tanpa menjawab dia langsung berdiri dan menyeret koper nya ke hadapan sang papa.
"Tanpa aku jawab papa pasti udah tau kan aku pilih siapa?"katanya tersenyum
Hugo terdiam memandang ke arah putri tunggal nya itu,tapi tidak lama setelahnya dia kembali bersuara
"Itu artinya kamu siap di keluarkan dari keluarga Atmadjaya?"
"Ya!" jawabnya sambil tersenyum
"Kamu juga akan kehilangan semua fasilitas,pekerjaan,dan apa yang selama ini saya kasih!"
Elena menghembuskan nafas, perkataan papanya itu tidak akan bisa menggoyahkan keputusannya
"Iya, ambil semua yang papa kasih ke aku jika itu memang konsekuensinya!"
Hugo mengeram menahan amarahnya,usahanya agar Elena menggugurkan kandunganya sia-sia.
"Kalau begitu silahkan keluar dari rumah ini!" ucap Hugo dingin
Elena hanya tersenyum
Tak
Wanita itu meletakkan kunci mobilnya di atas meja,
"Seperti yang papa bilang, semua!"
Elena melangkah keluar meninggalkan mansion mewah keluarga Atmadjaya
Dia masuk ke dalam taksi online yang sebelumnya telah dipesanya, hening selama perjalanan sampai taksi yang ditumpanginya berhenti di salah satu restoran yang terbilang cukup mewah, Elena masuk kedalam restoran itu, dan menunggu di salah satu meja yang ada di pojok dekat jendela restoran itu,
Hampir dua puluh menit dia menunggu akhirnya orang yang ditunggunya datang juga membuat senyumnya terbit seketika
"Udah lama?" tanya orang itu sambil duduk di hadapannya
"Lumayan," jawabnya singkat
"Maaf, tadi pasiennya banyak banget tapi untungnya gak macet,"jelas Amira mamanya
(Sedikit info mama nya Elena itu dokter dan bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di jakarta dan mereka juga sudah berjanji untuk bertemu di restoran makanya tadi pas dirumah lamanya yang ada cuma papanya, mamanya gak keluar)
"Gak papa ma,Lena ngerti kok!"
"Sekarang kamu mau tinggal di mana sayang?"tanya mamanya to the point
"Mama gak usah khawatir aku udah beli apartemen baru kok pake uang tabungan aku!"
Lena bisa melihat bahwa mata mamanya itu memerah menahan tangisnya
"Maafin mama sayang, mama gak bisa bantu apa-apa," kata Amira sambil terisak
"Mama gak perlu bantu Lena, cukup mama hargai keputusan Lena itu udah sangat membantu,"
"Tetap saja mama merasa bersalah,andai saja mama gak kasih tes pack itu ke papa kamu mungkin kamu gak akan di keluarkan dari keluarga!"
Elena tersenyum hangat mendengar ucapan mamanya
"Itu bukan salah mama, itu salah Lena, kalo aja Lena gak bodoh dengan mempercayai omongan laki-laki b******k itu mungkin kejadiannya gak akan kayak gini."
"Nggak nak ini bukan salah kamu sepenuhnya, ini juga salah kami sebagai orang tua yang tidak pernah memperhatikanmu,"
"Nggak,kalian sudah menjadi orang tua yang baik buat lena,makasih udah mau rawat dan jaga lena selama ini, Lena mau pamit ini udah sore."
Elena berdiri dari duduknya kemudian menghampiri mamanya dan memeluknya dengan erat
Dia menangis dalam pelukan mamanya begitupun mamanya,setelah merasa puas dia melepaskan pelukannya dan bersiap pergi sebelum ada tangan yang menahannya
"Boleh mama minta alamat tempat tinggalmu yang baru,mama mohon."
Elena tersenyum hangat kepada mama nya,
"Nanti aku kirim alamatnya lewat pesan, aku permisi ma, jaga diri mama baik-baik dan juga_
Elena menggantungkan kalimatnya
_Mama jangan benci atau salahin papa ya, karna ini juga udah jadi keputusan lena, jadi Lena minta tolong mama hargai keputusan Lena, Lena pamit ma."lanjutnya
Kali ini Elena benar-benar pergi,
Amira tidak menjawab dan membiarkan putri semata wayangnya itu berlalu, setelah merasa Elena sudah tidak ada lagi di restoran akhirnya tangisan yang sedari tadi berusaha ia tahanpun akhirnya pecah, sampai ia merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya, dia berhenti menangis dan mendongak untuk melihat siapa orang yang menyentuhnya
"Kamu?"
Orang itu tidak menjawab,hanya tersenyum dengan wajah yang merasa bersalah dan juga terlihat pasrah
"Kenapa kamu biarin dia ada diposisi kayak gini!"