Sembari menunggu, aku memperhatikan sekitar perumahan ini. Teras kecilnya bahkan tidak akan berguna untukku jika hujan turun. Tapi beruntung, sosok petugas tadi mempersilahkan aku untuk masuk. Yuwen terlihat tidak berniat untuk turun dari dalam mobil. Biarlah, aku lekas masuk mengikuti pemuda tadi.
“Aku sudah memberikan laporanku siang tadi, kenapa Anda lagi-lagi datang kemari?”
Seruan tidak menyenangkan itu terdengar darinya. Nampaknya dia jengkel karena aku mengganggu waktu tidurnya. Tapi aku benar-benar butuh bertanya padanya, karena dia yang bertugas malam itu dan dia juga yang menemukan mayat itu. Jadi, aku tidak akan kehilangan waktu dari sumber informasiku. Perhatianku tertuju pada koper yang berjejer di sekitar meja.
“Aku akan pergi malam nanti, itu perjalanan dinas!”
Dia memberikan informasi tanpa aku tanya, pintu kembali terbuka dan aku menatap Yuwen yang masuk. Duduk tidak jauh dariku, Jhon sempat menatapnya. Namun perhatiannya tertuju pada koin emas yang aku mainkan di tanganku. Tampaknya memang tidak ada yang menolak jika sudah berhadapan dengan uang. Yuwen dari duduknya tetap memperhatikanku.
“Aku sudah membaca laporanmu itu, tapi aku berpikir lebih baik aku mendengar secara langsung darimu sendiri. Katakan seperti apa kejadian saat itu tanpa mengurangi atau menambahinya, aku tahu jika kau sedang berbohong nanti!”
“Tidak akan, aku akan menceritakan semuanya!” seru Jhon, dengan tatapan tertuju pada koin emas yang sedang aku mainkan. “Aku bertugas mulai pukul 9 malam sampai terakhir adalah pukul 6 pagi. Di pertengahan malam, hampir memasuki pergantian hari jika aku tidak salah. Ada perkelahian di sekitar bar, jaraknya tidak jauh dari gereja katolik itu. Pada pertengahan pukul 11 malam, aku bertemu dengan Michael, dia bertugas di kawasan Grooved yang tenang dan sepi. Kami sempat bercakap-cakap di sudut yang mengarah ke arah gereja. Bahkan, jika tidak salah, saat aku selesai berkeliling satu ronde. Kami sempat duduk di rumput gereja dan memakan snack itu. Lalu kami berpisah saat itu, dia harus kembali berkeliling untuk ronda. Aku berjalan sembari memikirkan betapa enaknya segelas wine hangat di tengah malam yang dingin itu, sewaktu aku melihat ada cahaya dari gereja itu. Aku tahu tidak mungkin ada biarawati ataupun paus yang memasuki gereja pada waktu subuh begitu. Aku cukup terkejut dan ketika itu juga aku sadar jika ada yang tidak beres di dalam sana, ketika aku tiba di depan pintu…”
“Ada bercak darah di sana, lalu kembali menyusuri taman dan tembok” selaku, “Kenapa kau memilih untuk berbalik lebih dulu?”
John terlonjak, tatapannya terpana dan tertuju padaku, “Itu benar, Sir!” serunya, “darimana Anda tahu aku menemukan bercak darah di pintu masuk dan berbalik menuju tembok lebih dulu? Aku berbalik karena melihat arah bercak darah itu memang berasal dari sana, aku pikir lebih baik jika aku mengajak teman. Niatnya aku ingin mengajak Michel, tapi dia sudah terlanjur menghilang di jalanan dan tembok kota yang sepi. Aku tidak melihatnya lagi berada di sana, orang lain pun tidak ada di sana!”
“Tidak ada seorangpun di jalan dekat dengan gereja itu?”
“Tidak, sir. Bahkan seekor anjing yang biasanya melintas jalan dengan petugas lainnya juga tidak ada di sana. Terpaksa aku nekad untuk memasuki gereja yang memang tidak pernah terkunci itu. Paus bilang, ada kalanya orang masuk tengah malam ke dalam gereja dan berdoa sembari menangis. Dia tidak melarang mereka, karena itu adalah pilihan mereka. Di dalam gereja sangat tenang, penerangan dari lilin di dekat altar membantuku untuk melihat keadaan gereja yang benar-benar kosong. Berkat lilin itu…”
“Aku tahu, kau berjalan mondar-mandir di lantai satu untuk memeriksa, tapi tidak sampai ke depan. Hanya sekitar tangga dan juga sekitar ruangan yang ada di sana…”
John melompat bangkit, ekspresi wajahnya ketakutan sementara matanya memandang aku, juga Yuwen dengan curiga. “Anda bersembunyi di dalam gereja juga? Tapi dimana, sehingga aku tidak melihat keberadaan tuan-tuan sekalian ini?”
Aku terkekeh, dan melemparkan kartu namanya ke atas meja, anak buah Antony yang memberinya padaku sebelum pergi. “Jangan menatapku dengan tatapan tuduhan pembunuhan itu!” seruku, “Aku salah satu detektif pemburu, hampir setelah aku lulus sekolah. Aku mengabdikan diriku di dalam pekerjaan ini. Lalu, apa yang kau lakukan setelah itu?”
Meski masih dengan wajah sedikit curiga, John kembali duduk di sofanya, “Aku naik ke lantai dua gereja, dan terkejut begitu menemukan si-ulet tubuh tergeletak di sana. Aku sangat ketakutan dan tanpa menyentuh atau memeriksanya aku lekas berbalik keluar dan meniup peluitku, untuk memberikan kode pada rekanku . Michael dan satu petugas lainnya segera datang menghampiriku!”
“Apa jalanan dekat tembok masih kosong waktu itu?”
Terlihat berpikir, John menyentuh keningnya dengan jari telunjuknya. “Well, bisa dikatakan begitu…”
“Jelaskan lebih rinci!”
Ekspresi Jhon seketika berubah, ada seringai di wajahnya. Sepertinya dia mengingat sesuatu yang dia lewatkan malam itu, “Ada orang yang mabuk di sekitar tembok jika aku tidak salah. Bersandar di tembok yang aku curigai sebelumnya, aku sempat bertanya pada…”
“Bagaimana bentuk tubuhnya?”
“Dia gendut dengan tato di lengannya yang terekspos, Michael bilang dia melihat lelaki itu keluar dari bar dengan keadaan mabuk berat sembari menyanyikan salah satu lagu yang tidak terlalu jelas nadanya. Aku tidak bisa mengatakan apa t…”
“Kau bisa memberikan gambaran tentang orang itu?”
John tampak jengkel karena aku terus menyela ucapannya tadi. “Intinya dia mabuk parah, jauh lebih parah daripada orang yang biasa aku lihat menjadi lángganan orang mabuk. Ada jambang-jambang di sekitar dagunya, tingginya sekitar 180-an.”
“Bagaimana pakaiannya?”
“Dia mengenakan mantel yang hampir mirip dengan temanmu itu? Tidak terlalu mirip, tapi hampir menyerupai ke sana!”
“Apa dia membawa kendaraan malam itu?”
“Well, itu masih aku pertanyakan. Di sekitar bar aku memang melihat mobil mewah limited edition tahun ini. Itu mungkin menjadi miliknya atau milik orang lain yang juga ada di dalam bar.”
“Cukup, ini koinmu!” seruku dan segera bangkit, sebelum pergi aku kembali menatapnya yang masih melongo di tempatnya, “Sayangnya, kamu tidak akan pernah naik pangkat, Jhon. Seharusnya jika kamu menggunakan kepalamu itu sedikit lagi, kau bisa naik pangkat menjadi sersan hanya dalam satu keadaan yang tidak sengaja. Orang yang temui malam itulah pelakunya, dan dialah yang sedang kami cari saat ini. Tapi, tidak ada guna untuk meributkannya sekarang, ayo Yuwen. Apa kau masih marah padaku setelah apa yang kita dapatkan malam ini?”
Yuwen tidak berbicara, dia juga diam seribu bahasa. Kami bersama-sama keluar dari rumah orang itu, tapi sebelum pergi dan menghilang dari penglihatan Jhon, aku berbalik. “Dasar orang t***l!”
Mobil yang Yuwen kendarai lebih dulu melesat menuju rumahku, aku anggap Antony akan menyelesaikan masalah ini. Aku juga akan mengiriminya informasi tambahan mengenai informasi yang aku dapat. Tanpa diberitahu Yuwenpun, aku sadar dan tahu batasan diriku sendiri.
“Maaf jika perkataanku tadi, termasuk tindakanku membuatmu kecewa, Emilio. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu hingga tidak sadar jika aku hanyalah bawahanmu.”
“Tidak masalah, terima kasih atas perhatianmu!”
“Tapi aku masih membingungkan suatu hal dari percakapan kalian tadi, kenapa pelaku itu kembali? Seharusnya dia lari secepat yang dia inginkan dan menghilang.”
“Cincin itu, ada sesuatu hal yang tidak aku katakan padamu lebih dulu. Melihat bagaimana cara korban terbunuh, kemungkinan mereka memang memiliki rencana lain di gereja sebelumnya. Keduanya datang dengan damai, hanya saja mereka terlalu menganggap diri mereka hebat sehingga memilih untuk melewati tembok. Salah satu dari mereka terluka, jelas yang terluka adalah si pembunuh karena tidak ada bekas luka di tubuh korban. Mereka memasuki gereja, melihat ada bekas di salah satu kursi gereja paling belakang, aku yakin mereka masih sempat berdoa di sana. Lalu salah satu dari mereka naik ke lantai 2, dan mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Aku melihat ada langkah yang mondar mandir di sekitar mayat. Itu berarti percakapan mereka memanas dan salah satu dari mereka kehilangan kesabaran dan membunuh. Bisa saja, mayat itu adalah orang yang pertama kali melakukan kekerasan. Tangannya sedikit ada bercak darah yang ada lecek, aku yakin itu adalah ulahnya sendiri.”
“Aku tidak kepikiran sampai ke sana! Tapi apakah ada sesuatu yang istimewa dari cincin itu?”
“Mungkin masalah mereka adalah hal asmara, nama Jessy yang pembunuh itu ukir di tembok adalah petunjuk dan juga cincin itu. Sekarang kita harus kembali ke rumah, aku ingin mengistirahatkan tubuhku dan menjauhkan semua kasus itu dariku. Ah, aku juga ingin menonton Avatar malam ini, sejak film itu liris 2009 lalu, aku tidak sempat punya waktu untuk menontonnya.”
***
Yuwen POV
Sejak Emilio mengatakan tidak ingin diganggu, aku benar-benar tidak mengganggu dirinya. Tapi sesekali aku masuk untuk menawarkan makanan, dan yang aku temui malah tubuh yang terlelap. Awal aku menemukan Emilio tertidur sepulas itu, membuatku panik dan hendak memanggil dokter. Tapi sebuah surat dia tulis di atas meja, dia bilang tidak akan bangun selama 2 hari. Dan itu benar, ini sudah satu hari semenjak dia mengatakan hal itu, dia sama-sekali tidak terbangun. Aku bahkan khawatir, jika dia tidak bangun.
“Apa dia masih tidak bangun?”
Aku menggeleng dan menatap Antony yang datang jauh-jauh dari Victoria Street kemari. Dia sudah berhasil memecahkan kasus pembunuhan itu. Dia bilang, semua yang Emillio tulis melalui telegramnya benar-benar sangat membantunya. Dia bahkan membawa banyak makanan kemari.
“Aku rasa dia tidak akan terbangun!”
“Baiklah, mungkin dia memang sedang ingin berlibur. Aku akan kembali saja, terima kasih kepada kalian karena sudah mau membantu kami. Aku memberikan beberapa jumlah uang ke rekening Emilio, aku harap dia menyukai nominal yang aku berikan!”
“Dia tidak pernah mata duitan, Anthony. Kau tahu jelas hal itu sejak dulu, bahkan sekalipun kau tidak memberikan itu, Lio tidak pernah meminta apa-apa. Dia membantumu karena memang merasa itu kasus yang cukup unik, jika itu kasus yang mudah, dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sana!”
“Hahaha!” Anthony tertawa, “Kau sangat benar sekali, aku melupakan fakta satu itu. Tapi aku akui, Emilio memang sangat berbakat dalam hal ini. Aku berharap dia terus berkarya dalam kebebasan yang dia punya, bukan menjadi anak buah dari Frank. Aku tidak menyukai pemimpin kalian itu, Mike terlalu mendominan di pekerjaannya. Padahal dia jelas tahu Mike bukanlah orang yang bisa diandalkan. Dia hanya setumpuk daging dengan segala kekikiran yang ada di dalam otaknya!”
“Kau benar, Emilio juga sudah memutuskan hal ini sebelumnya. Dia bilang ingin keluar dari sana jika sudah mengumpulkan cukup banyak uang!”
Sebuah kartu nama ter-ulur di meja, aku mengambilnya dan menatapnya sekilas, lalu kembali menatap Antony. “Kalian bisa datang ke kantorku jika sudah mengundurkan diri dari sana, aku akan menawarkan jabatan yang cukup tinggi pada kalian.”
“Terima kasih atas tawaran Anda, sir. Tapi aku sendiri tidak yakin apakah Lio masih ingin bekerja sebagai detektif atau dia ingin berlibur untuk selamanya!”
“Tidak masalah dan aku tahu hal itu sebelumnya, kau juga jelas tahu bahwa ada sesuatu yang membuat Emilio tidak keluar dari tempat kalian bekerja kalian sekarang ini. Aku berharap dia bisa segera lebih baik dan kembali bekerja, aku yakin email dan juga telegramnya sudah sangat penuh. Apa kau kewalahan untuk menghadapi pelanggannya?”
“Sedikit, Sir!” kekehku, Anthony memang benar dan kelihatan sudah mengenal Emilio lebih lama dariku, “Apa sebelumnya kalian sudah saling kenal satu sama lain, kecuali kasus yang mempertemukan kita itu?”
“Kau benar, sebelum dia memutuskan untuk merekrut mu aku sudah lebih dulu mengenalnya. Hanya saja dia adalah pribadi yang tertutup dan tidak pernah membiarkan seseorang masuk ke dalam kehidupannya. Kau cukup beruntung bisa menjadi anak buahnya sendiri, aku yakin kau pasti selalu kagum bagaimana cara dia untuk menyelesaikan setiap misi. Aku juga begitu, cara dia berpikir juga bertindak benar-benar sudah matang dan sudah dia pikirkan sebelumnya.”
“Kau benar, dia bahkan sering kali mengabaikan dirinya sendiri!”
“Tapi dia sudah memikirkan hal itu sebelumnya, termasuk hal yang kau ceritakan mengenai interogasi yang dia buat sendiri pada Jhon. Jika kalian tidak menanyainya malam itu juga, maka kasus ini tidak akan usai. Karena Jhon pergi setelah kalian bertanya padanya, Emilio sepertinya tahu jika Jhon akan di pindah tugaskan malam itu juga. Berterima kasihlah kepadanya karena dia itu keras kepala dan tidak mudah untuk di gertak.”
“Anda benar sekali, aku jadi merasa semakin bersalah malam itu. Tapi kami sudah menyelesaikannya, aku hanya mengkhawatirkan kesehatannya saja.”
“Itu adalah kelebihanmu, baiklah, aku akan kembali bekerja nak. Sampaikan salamku padanya, aku tahu dia membutuhkan uang itu juga. Dan pastikan, obat yang selalu dia konsumsi selalu ada di sini, jika kondisinya semakin parah. Pergilah menemui salah satu dokter desa yang aku sarankan itu padamu. Jangan beritahu Emilio jika aku yang bilang, dan jangan singgung masalah pekerjaan tadi.”
Aku mengangguk dan mengantar Antony keluar, dia segera memasuki mobilnya dan menghilang di balik pintu gerbang. Ini semakin bertambah rumit, dan aku hanya berharap jika kesehatan Emilio lebih baik.