BAGIAN 25 | SURAT DENGAN LAMBANG SEGITIGA

2124 Kata
“Astaga!” Seruan terkejut itu hampir saja membuatku menjatuhkan kartu nama yang sedang aku baca. Beruntung aku sedang tidak memegang cangkir atau yang sejenis dengannya, jika tidak, pasti benda itu akan jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. “Apa kau sudah selesai terkejut, Yuwen?” seruku, raut wajah Yuwen masih menatapku dengan tatapan tidak yakin. Seolah aku yang sedang duduk di sofa saat ini bukanlah hal yang nyata. “Sejak kapan kau terbangun?” “Sekitar 5 menit yang lalu, aku bermimpi jika Antony datang dan menyerahkan sesuatu yang menggiurkan untukmu.” “Itu artinya kau sudah terbangun cukup lama, bagaimana perasaanmu?” “Lebih baik, ini adalah tidur terpanjang yang pernah aku alami. Rasanya aku bisa mengelilingi benua antartika dalam satu hari. Badanku terasa segar sekali hari ini, bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa kau tidur cukup 2 hari ini?” Tatapan Yuwen terlihat lelah, aku bisa menebak jika rekanku ini tidak tidur dengan baik selama aku melakukan hibernasi—itu mungkin sedikit kasar. Tapi begitulah adanya, aku benar-benar tidak terbangun selama kurang lebih dua hari ini. Meskipun tidak bangun, tapi aku tahu berapa kali rekanku ini membuka pintuku, mondar-mandir di kamarku dan memanggil namaku dengan pelan. Mungkin dia terkejut, karena aku juga tidak menyangka akan berhasil tidur selama ini. Tapi yakinlah, sekarang tubuhku jauh lebih baik dan aku siap untuk menerima pesan-pesan dari klienku. Aku juga perlu pundi-pundi uang untuk melanjutkan hidup. “Keu lelah, dan tidurlah. Tapi sebelum kau tidur, apa kau menemukan klien yang cukup menarik untuk kita hari ini?” “Kau ingin kembali bekerja?” tanyanya, “Kau masih baru bangun dan sudah menanyakan masalah pekerjaan itu.” “Aku sudah berleha-leha selama 2 hari ini, nominal uang yang diberikan Antony juga tidak cukup bagiku untuk mengambil waktu libur lagi. Aku akan ke kantor dan menemui Frank, ada yang ingin aku tanyakan padanya.” Aku lekas berdiri, memakan buah yang ada di meja. Mantelku tidak ada di kayu yang biasa aku letakkan, hal itu kembali membuatku berjalan ke arah lemari pakaian. “Semua mantelmu sudah bersih, ada di lemari dalam.” “Kau sudah mencucinya?” Anggukan dari Yuwen membuatku tersenyum, aku pikir lelaki ini tidak akan pernah mencuci pakaianku. Sejak kami menjadi patner, dia tidak pernah mencuci jadi mendengar ini, rasanya aku sedang mendapatkan sebuah kejutan. Aku lekas mengambil mantel coklat dan juga topi hitam yang ada di sebelahnya. Aromanya benar-benar harum, sepertinya Yuwen memakai pengharum yang biasa aku gunakan. Sebelum bepergian dan berpetualang hari ini, aku kembali duduk di depan meja makan dan memakan makanan yang ada di meja. Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan ini sarapan, makan siang atau makan malam. Faktanya, sebelum memutuskan untuk tidur selama dua hari. Aku sudah menyuntikkan berbagai macam energi pada tubuhku. Aku tidak akan merasa lapar dan akan terus tertidur selama waktu 2 hari. Semakin maju teknologi, semuanya juga akan mengikuti trend. Aku sendiri setuju dengan vitamin atau pengganti makan itu. Bagi para detektif, atau tentara, bahkan dokter yang harus siap siaga dalam waktu 24 jam, baik mengkonsumsinya dan aku sangat merekomendasikannya. Meskipun rasanya tidak akan pernah sama jika memakan makanan yang nyata. Aku melirik arlojiku, ini sudah pertengahan hari. Jadi bisa dikatakan jika yang aku makan ini adalah makan siang.  “Ada kasus yang memintamu untuk menyelidikinya secara langsung. Dia hanya mengatakan jika ‘manusia hidup berdampingan, mereka telah melakukan pembunuhan pada salah satu orang yang baik. Datanglah untuk melihat ini, Mr.Emilio yang baik hati. Aku tahu jika kamu memang tidak akan bicara percaya, tapi inilah apa yang aku saksikan! Kami berada di pusat kota, dan tidak jauh dari tempatmu!” Pernyataan yang lebih unik, aku berhenti membaca koran yang menyatakan jika pembunuhan di gereja itu adalah sebuah kasus yang memang sengaja dilakukan. Pembunuhnya adalah seorang atheis yang melawan pastor beberapa tahun terakhir. “Siapa pengirimnya?” tanyaku, sembari menatap surat itu dan meletakkan koran yang tadi aku baca. “Tidak ada, hanya ada lambang segitiga di suratnya. Jika tidak salah, bukankah ini adalah salah satu lambang dari pengikut sekte dari gunung itu, Lio? Aku pernah mendengar kabar angin dari para pengikut sekte ini.” “Aku tahu siapa itu, katakan padanya aku akan datang pukul 3 sore ini. Aku masih ada beberapa keperluan yang harus aku selesaikan!” “Tapi ini terlihat tidak biasa, Lio. Apa kau yakin ingin datang kesana?” Aku mengangguk dengan yakin, lalu lekas mengambil kunci mobil dari atas meja. Yuwen yang duduk di sofa terlihat tidak yakin dengan keputusanku ini. Tapi aku juga tahu mengenai lambang itu, sebelum ini, ketika berada di Afganistan. Aku juga sempat melakukan beberapa kali interaksi dengan mereka. Aliran mereka tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya, hanya saja mereka itu percaya jika benda-benda memiliki kekuatan yang bisa memberikan apa yang mereka berikan. Sedikit terdengar konyol, dan bodoh. “Kau juga akan ikut denganku tertunya, tapi nanti saja. Untuk sekarang masih ada beberapa urusan yang harus aku lakukan!” Tidak menunggu waktu lama, aku sudah berada di kantor dan Frank dan lelaki paruh baya itu sedang menatapku dengan pipa yang terselip di antara bibirnya. Menghisap pipa itu selama beberapa menit, lalu menghembuskan asap itu. “Kau sudah kembali kemari sejak 4 hari lalu, bahkan sudah membantu Antony untuk memecahkan masalah pembunuhan di gereja. Tapi kau tidak memberiku laporan mengenai kedatanganmu di sini? Tiba-tiba muncul di sini dan meminta surat izin dariku? Apa kau tahu cara menghargai atasanmu, Emilio?” Senyuman miring di wajahku sedikit membuat Frank tersentak. Aku mengambil permen karet di mejanya, lalu mengunyahnya sebagaimana biasanya. Kakiku yang tadi berada di atas mejanya turun, sekarang aku menatap Frank yang masih terlihat gugup. “Apa aku perlu izin konyol itu, Frank? Kau bisa memecatku dengan segera jika kau memang mau. Aku tidak punya cukup dana untuk melakukan penyelidikan ini, jadi tolong berikan aku sejumlah nominal uang yang tertulis di sini. Jika tidak, maka sepertinya tawaran Antony cukup membuat hatiku tergerak untuk menjadi salah satu dari mereka!” Wajah Frank memerah, menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Aku tersenyum miring, “Kau meraup cukup banyak keuntungan dari hasil kerja kerasku, Frank. Berbagi sedikit tidak akan mengurangi harta kekayaanmu. Kau punya waktu sampai pergantian hari untuk memutuskan, jika tidak, maka aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku besok pagi. Aku pergi dulu, ada kasus unik yang harus aku tangani lagi untuk hari ini!” “SIALAN KAU, EMILIO!” Lagi-lagi teriakan itu mengakhiri pertemuanku dengannya. Mobil yang aku kendarai melaju di tengah angin yang menerjang kota. Ini tiba-tiba sekali, batinku. Tapi, sekalipun angin kencang, hal itu tidak mengacukan niatku untuk menuju ke tempat tujuanku. Beberapa kali memutari jalanan kota, mobil yang aku bawa berhenti di depan restoran. Yuwen sudah berdiri di seberang restoran dengan tangan yang bersembunyi di balik jaket tebalnya. Meninggalkan mobil di depan restoran, aku lekas turun dan menuju ke arah Yuwen. “Kau telat 5 menit dari waktu yang ditentukan, Mr.Emilio. Apa Frank mempersulitmu?” Aku terkekeh, “Kau tahu bagaimana dia, berapa nominal yang dia kirimkan?” Yuwen mengambil ponselnya, lalu lekas menatapku dengan tatapan terkejut. “Dia mengirimkan nominal yang cukup banyak, apa yang kau katakan padanya sehingga dia memberimu upah sebesar ini?” Tidak hanya Yuwen yang terkejut, tapi aku juga. Nominal yang Frank kirimkan cukup banyak dan melebihi ekspetasiku. Ternyata dia memang meraup cukup banyak keuntungan dengan menggunakan namaku. Bukannya bermaksud sombong, tapi jika Frank memang tidak memberikan apa yang aku inginkan. Mungkin aku akan memilih resign, sekalipun aku tahu itu cukup sulit, mengingat Frank punya jabatan yang termasuk salah satu primadona di sana. Tapi ada banyak petinggi lain yang pasti dengan tangan terbuka menerimaku jika aku mengajukan lamaran pekerjaan pada mereka. Keahlian, tidak akan ada hal yang sulit jika kita memiliki nilai jual. Semua orang akan berebutan jika kita memiliki hal itu. “Aku hanya memberinya sedikit ancaman dengan tawaran Antony tadi itu, dia sepertinya tidak akan pernah akur dengannya sehingga dia sampai hati memberikan nominal sebanyak itu. Aku tidak sombong, tapi itulah kenyataannya!” “Kau memang hebat, banyak petinggi lain yang ingin mempekerjakanmu dengan upah besar. Aku bahkan tahu jika Frank terpengaruh dengan ucapanmu itu!” puji Yuwen, aku tersenyum, pujian itu sudah menjadi hal biasa padaku. Kami lekas berjalan memasuki jalanan yang mulai sepi, sesekali aku mengunyah permen karetku. Menatap jalanan yang kami lewati, aku berharap kami tidak salah tujuan. Angin kencang berhembus dari arah barat, sepertinya malam ini akan kembali datang badai. Langit gelap dan petir terdengar menyambar-nyambar saat kami hampir saja tiba di tempat tujuan. Langkah Yuwen lebih dulu berhenti saat aku masih memperhatikan salah satu lorong di sebrang jalan. “Kita sudah tiba, ini adalah tempat yang tertulis di dalam surat. Gedung bernomor 46, di sebelahnya ada sebuah rumah kosong. Kita berada di tempat yang benar, ini adalah gedung bernomor 46 dan…di samping itu adalah rumah kosongnya!” tunjuk Yuwen. Sekilas aku menyempatkan diri untuk melihat rumah kosong itu, terlihat terawat dan bahkan tidak layak jika dikatakan sebagai lahan kosong. Saat hendak masuk ke dalam gedung, tidak sengaja aku melihat ada pergerakan dari arah tembok dari rumah kosong itu. “Lio, tidak ingin masuk?” Bagus, sekarang aku memilih untuk masuk ke dalam gedung. Jika tidak salah hitung ada sekitar 4 lantai di gedung ini, lantai pertamanya kosong namun terlihat lebih rapi dengan gaya klasik eropa tahun 90-an yang lebih dominan. Hiasan di sini juga sepertinya didatangkan langsung dari eropa, aku kenal dengan art yang terpajang di tembok beralas batu bata itu. “Tuan Emilio?” Hampir saja aku melayangkan tendanganku saat mendengar suara itu berasal dari arah belakangku. Aku sudah sangat yakin jika tidak ada orang saat kami masuk. Darimana sosok…lelaki bertubuh kecil ini datang? “Aku tidak tahu jika suratku masuk dalam ACC-mu, padahal aku tahu jika banyak klien yang lebih dulu mengirimu pesan!” “Mr.Fred, benar dengan Anda?” “Kau tahu namaku?” tanya sosok dengan tubuh kecil itu pada Yuwen “Temanku yang mengatakan jika namamu adalah Fred, tanyakan saja padanya!” seru Yuwen sembari menunjukku yang masih memperhatikan ke arah luar dari jendela. Rintik hujan mengenai kaca, dan sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang. Aku dan Yuwen duduk, Fred menyajikan dua gelas berisi minuman di sana. “Jadi, bisakah Anda menceritakan bagaimana kejadiannya, siapa penemu korban pertama kali dan juga bukti yang ada. Itu semua bisa membantuku untuk mengetahui masalahmu, Mr.Fred!” Raut wajah gelisah tertangkap dari gerakan Fred, dia menggerakkan jemari kirinya lebih dulu, bukan jemari kananya. Itu adalah pertanda jika dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Petir menyambar dari arah jendela, lampu tiba-tiba padam sebelum Fred sempat untuk buka suara. Semuanya tiba-tiba gelap,dan aku menangkap ada pergerakan dari arah lain. Cling—bunyi gesekan korek api itu terdengar, ruangan yang tadi gelap terlihat dengan bantuan lilin yang baru saja dinyalakan oleh Fred. Aku menatap ke arah luar, pergerakan tadi itu berasal dari sana, juga, aku merasakan ada aroma lain yang bukan berasal dari salah satu di antara kami. Bulu kudukku bahkan sampai berdiri ketika mendengar kembali bunyi itu. “Hiraukan saja bunyi itu, Tuan Emilio. Aku tahu kau pasti mendengar bunyi lain ketika lampu padam, dan inilah yang membuatku tidak yakin. Haruskah aku menceritakan kejadiannya padamu, atau menyuruh kalian segera kembali!” Perasaanku jengkel saat menatap wajah khawatir Fred, lelaki ini benar-benar selalu seperti ini. Tapi ada yang aku lupakan, saat di Afganistan, yang aku ingat lelaki ini memiliki tubuh yang sama seperti Yuwen. Apa mungkin aku salah ingat, atau jangan-jangan ada sesuatu yang serius telah terjadi padanya? “Ceritakan saja apa yang menjadi keluh kesahmu, Sir Fred. Emilio sudah membela-bela untuk datang karena kasusmu. Jadi jangan banyak membuang waktu kami, lagipula jika kau menyuruh kami untuk kembali. Itu sama saja dengan menyuruh kami menuju ajal kami, aku tahu sesuatu sedang mengintai kami di luar sana, Sir Fred!” seru Yuwen, kali ini nada suara tidak suka dan mengancam. Sama dengan perkiraanku, sepertinya kali ini kami masuk dalam permasalahan yang tidak hanya melibatkan satu alam. Senyuman di wajah Fred menguatkan opiniku barusan. “Aku tahu kalian memang tidak akan mudah untuk di beri jebakan, tapi kalian harus mendengarkan hal ini. Pintu itu terbuka saat aku tertidur, suara teriakan di bawah kamar tidurku membuat tubuhku kaku sepanjang hari hingga aku tidak berani untuk keluar. Aku ketakutan hingga tidak memiliki nyali untuk mencari tahu kenapa pintu itu bisa terbuka, lalu tiba-tiba terlintas namamu di waktu ketakutanku itu. Kalian benar-benar harus membantuku, jika tidak, dia bisa membunuhku seperti dia membunuh saudaraku yang baik. Aku mohon, tolong bantu aku!” Aku menghela nafas, ini seperti sedang mendengarkan cerita horor jaman aku kecil. Sayangnya, begitu Fred mengatakan hal itu, aku mendengar ada suara lain dari arah pintu. Yuwen yang tadinya tenang, kini juga merasa terintimidasi. Dia bahkan mendekatkan jarak duduknya denganku. Satu hal yang pasti, kami tidak sedang menghadapi kasus yang biasa. Ini lebih daripada yang aku bayangkan sebelumnya dan sepertinya ini akan sedikit menarik. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN