BAGIAN 42 | SALAH PAHAM, DAN DAGING DI ATAS KURSI RODA

2077 Kata
“Lio…maaf, saya mengganggu!” “Tidak, masuklah!” Aku menatap Theresa yang lebih dulu menyingkir dari depan mejaku dengan raut wajah kesalnya. Aku bahkan sadar jika dia memberi Yuwen tatapan tajam. Begitu Teresa keluar, Yuwen lekas menutup pintu rapat. Sepertinya kali ini dia ingin membicarakan sesuatu hal yang cukup serius. “Apa CCTV-mu aman?” Begitu dia duduk, anggukkan Yuwen membuatku lekas kembali duduk dengan rileks. Dia sedang mengamati mengenai ativitas Teresa. Tidak banyak yang dia lakukan di luar, hanya duduk di sofa dan menonton televisi. “Sudah aman, ini, doktor Jakson mengatakan sesuatu mengenai pembunuh si gadis di club itu!” “Dia mendapatkan sesuatu?” tanyaku, sedikit antusias, Yuwen lekas mengeluarkan beberapa berkas di depan mejaku. Ku lihat mantelnya yang sedikit basah, di luar memang sedang hujan deras. Dan itu sudah semenjak matahari terbit ke peraduannya hingga kembali ke sarangnya. “Apa kau keluar di hujan-hujan begini?” “Itu tidak penting, Lio. Yang terpenting, di tubuh korban terdapat sidik jari yang terselip, Jakson bilang dia tidak sengaja melihat sesuatu yang janggal di tubuh gadis itu. Sehingga dia melakukan penelitian ulang, kau pasti akan terkejut melihat siapa pembunuhnya. Dan sekali lagi, kasus ini tidak ada hubungannya dengan kasus kematian Tong Wei dan juga Kyle!” Kasus kematian pada malam hari, ditemukan sidik jari ini adalah milik salah satu rekan kerjamu, Lio. Aku meminta beberapa orangku untuk menyelidikinya. Aku juga memberi mereka uang tutup mulut, jaga-jaga jika ada orang lain yang juga mencari tahu masalah ini. Beberapa hari sebelum kalian memeriksa mayat ini ke rumah sakit, ada seorang gadis tinggi, sepertinya keturunan Eropa berkunjung dan bertanya. Aku harap dia tidak mendahuluimu, karena informasi yang dia dapatkan tidak sama denganmu. Aku khawatir jika kasus ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan yang lain, tidak seperti kasus yang kau katakan padaku. Ini berbeda, semoga kau cepat mendapatkan pencerahan dari kasus ini. Salam, Doktor Jakson “Dia bilang salah satu rekanmu, apa kau tahu maksudnya?” Cerobong rokok yang tadi berada di mulutku, kembali ke tempat semula. Kali ini aku menatap Yuwen, sesekali dia masih memperhatikan pergerakan Teresa di luar ruangan, “Apa kau keberatan jika ikut denganku ke suatu tempat? Sepertinya aku harus mengotori tanganku ini lagi, aku terlalu muak dengan si bájingan itu!” “Apa kau tahu siapa pembunuh gadis ini?” “Bukankah sudah jelas siapa pembunuhnya, Yuwen. Dia adalah putri dari salah satu petinggi di tempat kita bekerja. Pasti banyak yang ingin menjatuhkan sosok itu, untuk mendapatkan tahtanya. Menurutmu, siapa lagi yang paling berhasrat untuk mendapatkan jabatan itu…” “Kecuali si daging di atas roda, Mike? Maksudmu adalah Mike? Hanya dia satu-satunya orang yang menduduki pemerintah yang terus berambisi, sekalipun si cacat itu tidak berguna!” “Kau benar, sekarang apa kau bersedia ikut…” “Kalian akan pergi lagi?” Belum sempat aku menyelesaikan kelanjutan ucapanku, Teresa sudah menyambutku di depan pintu dengan tatapannya yang berkaca-kaca. Hal ini membuatku menghela nafas, sekalipun kami masih curiga mengenainya, tapi aku menyukai Teresa dan dia kekasihku. Aku tidak marah, hanya ada sedikit rasa kecewa ketika tahu jika dia sedang merahasiakan sesuatu dariku. “Kami ingin bertemu dengan Mike, aku pikir kau sudah tahu mengenai pekerjaan kami Teresa.” “Aku tidak butuh jawaban darimu, Yuwen. Aku tahu kau curiga denganku, bahkan memasang CCTV di beberapa sudut rumah ini hanya untuk mengamatiku. Malam itu hujan turun deras, dan kau melihatku memasuki rumah dengan bercak darah. Tapi, apa kau tahu…tidak, apa kau mencari tahu itu darah apa?” Sedikit terkejut, aku dan Yuwen saling menatap. Apa Teresa tahu jika Yuwen memata-matainya, darimana dia tahu Yuwen memasang CCTV? “K…kau tau jika aku mengawasimu?” “AKU TAHU!” bentak Teresa dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca, dia menatapku dengan tatapan kecewa, “dan aku tahu jika Lio terpengaruh olehmu, sikapnya dalam beberapa jam terakhir ini tidak seperti kemarin-kemarin, lebih tepatnya sebelum kau memberitahu apa yang tidak kau selidiki lebih dulu.” “B—bukan maksudku berbuat demikian, Teresa. Kau tenang dulu, aku juga tidak ingin kita berselisih paham karena masalah ini. Tapi aku…” Aku menaikkan tanganku di depan Yuwen, membuatnya terdiam dan menutup mulutnya. Sesuai dengan permintaanku. Kali ini, aku tidak memihak pada siapapun, baik pada Yuwen ataupun Teresa. Aku hanya ingin tahu kebenaran apa yang ingin Teresa beritahu padaku, agar bisa menghilangkan rasa curigaku. “Berikan aku alasan kuat, kenapa tidak membunuh Yuwen malam ini, Teresa!” Teresa, tidak hanya dia, tapi juga Yuwen terkejut dengan ucapanku barusan. “Katakan kenapa malam itu kau kembali dengan noda darah di tanganmu, dan mengotori lantaiku. Aku cukup lama mengenal Yuwen, sekalipun dia tidak pernah mengatakan hal yang tidak benar, kecuali dia melihatnya sendiri. Kau adalah kekasihku, aku percaya padamu, dan itu sudah menjadi prinsipku. Tapi aku sedikit kecewa, ketika mengetahui malam itu dari Yuwen, bukan darimu!” Hening beberapa menit, hingga aku bisa mendengar jika hujan sudah mulai reda. Detik jam di ruang tengah mengisi ruang yang sedang di penuhi dengan aura panas ini. “Malam itu…” FlashBack Teresa POV Sudah pukul 12 malam, tapi Lio dan juga Yuwen masih tidak kembali dari pekerjaan mereka. Rumah besar dan tidak berpenghuni ini cukup membuatku sedikit takut untuk sendirian. Selepas memasak, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Rumah Lio benar-benar menyeramkan, terlebih beberapa gambar orang yang berada di dalam kamar yang aku tempati. Lio bilang jika mereka ini adalah beberapa orang yang berhasil dia pecahkan kasusnya. Sedikit ngeri, dan aku juga ingin agar Lio melepaskannya dari kamarku. Dia berjanji akan merenovasi ulang kamar ini, tapi aku tidak sampai hati melihatnya kembali bekerja setelah sering kali aku mendapatinya tertidur di ruang kerjanya. Pertama kali datang ke Hongkong, Lio menjemputku dengan pingsan dan keadaan yang benar-benar tidak baik. Hal itu membuatku sangat mencemaskan keadaannya. Terkadang dia sangat manis, kulit putihnya yang selalu mulus, hidungnya yang mancung, perawakannya yang tinggi, dan satu kata, selain manis, dia benar-benar tampan, juga tidak mudah untuk ditebak. Aku tahu dia sangat genius, tapi pekerjaan membuat tubuhnya benar-benar tidak sehat. Bruk—bunyi benda jatuh di ruang depan membuatku terkejut dan juga mawas. Lio selalu mengingatkanku untuk tidak membukakan pintu, untuk siapa pun dan tanpa pengecualian. Tidak berselang lama setelah bunyi benda jatuh itu, aku juga mendengar bunyi erangan. Tapi yang jelas, bunyi itu sepertinya adalah bunyi erangan hewan. Aku penasaran, meskipun takut. Dengan lilin di tanganku, aku memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Tidak ada apa-apa di ruang tamu, tapi buluku tiba-tiba merinding. Bunyi erangan itu kembali terdengar, hingga aku melangkah mendekati jendela, aku lupa untuk menutup gordennya. Meskipun sedikit takut, kuberanikan untuk melihat ke luar. Melihat ada sesuatu di sekitar pagar, aku lekas mengambil mantel dan keluar. Tapi saat masih mencari makhluk itu, aku melihat cahaya dari gerbang. Itu adalah mobil Lio dan juga Yuwen. Tadinya aku ingin menghampiri mereka, tapi aku takut jika Yuwen pasti akan mencurigaiku. Aku tahu, sejak awal, dia memang tidak pernah percaya padaku. Bahkan aku melihatnya memasang beberapa CCTV di area yang diperbolehkan Lio untuk aku kunjungi. Entah kenapa, tapi aku juga sedikit tidak percaya dengannya. Pernah di suatu malam yang sudah sangat larut, aku melihatnya memasuki ruang kerja Lio. Karena penasaran, aku mengikutinya dari belakang. Lio tidak berada di ruang kerjanya saat itu, dia tepar di kamarku, setelah kami bercintà cukup panjang malam itu, wajahku memanas mengingat malam-malam kami menghabiskan waktu dengan cukup panjang, kulit saling bersentuhan dan kepuasaan yang selalu dia berikan padaku. Aku mengerutkan kening saat Yuwen memasukkan beberapa cairan ke dalam beberapa larutan, yang aku tahu adalah obat Lio. Sejak saat itu, aku menaruh curiga padanya, terlebih melihat keadaan Lio yang tidak pernah terlihat baik-baik saja. Alhasil, aku memilih untuk melanjutkan pencarianku, suara erangan itu semakin dekat, sehingga berjalan beberapa langkah lagi mendekati gerbang tinggi, aku menemukan seekor kucing yang mengerang. Tatapanku tertuju pada kakinya yang sengaja di jilati olehnya. Kucing itu terluka, darah mengalir cukup banyak dari kakinya, hal itu membuatku mengobatinya lebih dulu. Ternyata tidak hanya satu, tapi ada sekitar 3 kucing yang terluka sekaligus. Aku cukup curiga, tapi aku lebih dulu mementingkan keselamatan mereka. Sekitar 1 jam di luar, aku juga sudah melihat Lio yang mematikan lampu kerjanya. Barulah aku memasuki rumah Lio dengan tangan yang berdarah, dan jubah yang aku kenakan juga terkena bercak darah dan otomatis itu akan basah, karena di luar rintik-rintik hujan masih ada. Aku memastikan jika tidak ada yang melihatku malam itu, tapi saat hendak mengunjungi kamar Lio setelah aku mengganti pakaianku. Aku baru sadar jika Yuwen melihatku dari lantai 2. Tapi aku sengaja diam, dan kembali ke kamarku. Mengurungkan niat untuk menemui Lio, karena Yuwen juga memasuki kamar Lio saat itu. Flashback END “Itulah yang terjadi, jika tidak percaya, kau bisa mencari tahu apa yang terjadi malam itu!” seru Teresa menatap ke arah Yuwen yang terlihat tidak yakin dengan apa yang dia katakan. “Cukup, tidak perlu memperpanjang masalah ini, Teresa!” aku mengambil tangannya, lalu menatap jika masih ada beberapa bekas cakaran di sana, aku kembali menatap Yuwen. “Besoknya setelah kau mengatakan Teresa kembali ke rumah dengan tangan berdarah, tetangga kita, orang eropa itu mengatakan jika kucingnya hampir saja tidak terselamatkan jika tidak diobati. Ketika aku bertanya siapa yang mengobati, dia hanya bilang wanita yang berdiam diri di rumahku. Itu artinya apa yang dikatakan oleh Teresa memang benar. Sekarang, semuanya sudah jelas. Tidak ada lagi kecurigaan antara kita, aku juga meminta, jika kau sedang melakukan sesuatu, tolong segera katakan padaku, sayang!” Teresa mengangguk, “Baiklah, aku dan Yuwen akan pergi malam ini. Apa kau merasa takut sendirian di sini?” Gelengan Teresa membuatku sedikit legah, aku memang tidak bisa membagi waktuku dengan baik. Pekerjaan ini terlalu menyita banyak waktu dan juga perhatianku. Aku menarik tubuh Teresa ke dalam pelukanku. “Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman!” bisikku *** Yuwen diam semenjak kami pergi, Teresa setuju jika dia akan tinggal di rumah. Padahal, kali ini kami akan bermain yang cukup seru dan menantang. Karena pada akhirnya, aku punya kesempatan untuk membunuh si daging di atas roda itu. “Kau terlihat masih mencurigai Teresa, Yuwen. Aku tidak pernah mendapatimu seperti ini!” Helaan nafas Yuwen yang sedang menyetir membuatku menatapnya. “Aku tidak ingin begini, tapi setiap kali dekat dengannya. Aku hanya merasa jika dia berbeda, Lio. Ada perasaan lain yang aku rasakan setiap kali melintas darinya, itu bukan hal yang normal!” “Kau menyukainya?” Yuwen tiba-tiba menghentikan mobil mendadak, membuatku hampir kehilangan setetes cairan di tanganku. Dengan kesal, terlebih ditambah dengan klakson mobil di belakang, aku lebih dulu memberi perintah pada Yuwen untuk maju. “Kenapa kau menghentikan mobil mendadak? Apa kau ingin mendapati umpatan manis dari orang-orang di belakang kita?” “Kau gila, Lio. Pertanyaanmu barusan benar-benar membuatku ingin memukul kepalamu untuk pertama kalinya. Aku jelas tidak mungkin menyukai kekasihmu yang aneh itu, aku hanya curiga jika dia memiliki niat lain padamu. Hanya itu saja, tidak lebih!” “Aku tahu, tidak perlu semarah itu!” Yuwen menatap ke arahku, dan hanya kubalas dengan kekehan. Dia berdecak kesal, membuatku kembali terkekeh. “Kali ini bercandamu benar-benar kelewatan, aku hanya ingin mengatakan, jangan terlalu percaya padanya. Aku tidak yakin jika apa yang dia katakan itu benar adanya atau tidak!” “Sudahlah, diamlah dan jalankah mobil ini dengan selamat sampai ke tujuan!” “Dasar menyebalkan!” kesal Yuwen Kekehanku lagi-lagi membuat Yuwen terlihat kesal, aku berhenti terkekeh karena otakku cukup rileks. Dulu, aku selalu berpikir kenapa orang harus tertawa, kenapa orang mengatakan jika tertawa bisa menyelesaikan masalah otak. Dan kali ini aku paham, setelah aku mengalaminya sendiri. Yuwen masih terlihat kesal, bahkan setibanya kami di kediaman khusus Mike. Sebelum keluar, aku menahan Yuwen di dalam mobil. Memberinya roti, kami diam sembari memakannya. Yuwen yang sudah tahu apa maksudku, tidak lagi terlihat kekanakan seperti tadi. Diam dan menikmati roti yang aku berikan tadi sembari memperhatikan ke depan. Pintu ruangan Mike terbuka, tumpukan daging itu keluar dari ruangannya dengan anak buah yang ada di sisinya. “Kau lihat? Dia memiliki banyak musuh, kematian bergentayangan di sekitarnya, uang yang dia hasilkan tidak sebanding dengan ketakutan yang dia rasakan setiap detiknya!” “Lio, apa kau yakin jika yang membunuh gadis itu adalah dia?” “Bukan dia, tapi uangnya cukup untuk membuat orang lain menjadi seorang pembunuh. Aku sudah mencari tahu siapa pembunuhnya, dia adalah lelaki yang tidak punya pekerjaan. Sekarang dia mendekam di dalam penjara bawah tanahku, jika kau senggang, kau akan tahu siapa pembunuh itu.” Aku memasukkan bungkus plastik roti itu ke dalam saku jaket, “Apa kau siap untuk mematahkan tangannya malam ini?” TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN