BAGIAN 41 | BERAKHIR TRAGIS

1072 Kata
Ini jelas bukan kematian karena panggilan dari yang maha kuasa. Yuwen dan juga doktor Jakson yang ikut ke ruang jenazah ikut memperhatikan mayat kaku dari lelaki tua tadi. Tubuh kaku ini bukan karena sistem tubuhnya yang sudah tidak berfungsi. “Dia tidak meninggal karena sudah waktunya, tapi,  Anda membunuhnya, benar begitu suster?” Semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut mendengar ucapanku barusan. Aku menatap tajam ke arah suster yang tadi mengantar kami ke ruang ini, wajahnya sempat gugup, namun dia dengan cepat untuk menghilangkan raut wajahnya itu. “Kenapa saya melakukan hal itu, penuduhan tidak berdasar Anda ini bisa membuat Anda masuk penjara, Tuan!” “Kali ini kau tidak masuk akal, Lio. Suster itu jelas tidak mungkin membunuh pak tua ini, lagipula tidak mungkin seorang perawat melakukan tindakan itu!” sela Yuwen, menatapku dengan tatapan penuh keraguan. “Tuan ini benar, seorang perawat tidak pernah melakukan hal keji seperti ini, Anda sudah keterlaluan dengan menuduh saya membunuh pak tua ini, tuan Emilio!” bela si perawat. “CCTV tidak menyala di bagian itu, tidak ada bukti kuat untuk analisismu itu, Lio. Aku juga setuju dengan Yuwen, tidak mungkin suster ini yang membunuh pak tua ini. Lagipula lorong rumah sakit selalu ramai, jikalaupun kamu benar, mungkin ada orang lain yang berteriak saat itu. Tapi ini sama-sekali tidak ada!” “Bukankah Anda sengaja mematikan CCTV-nya? Lagipula, bukankah orang tidak akan peduli apa yang Anda lakukan pada pak tua itu?” “K—kenapa Anda berpikiran seperti itu? Jelas-jelas saya tidak melakukan apapun, itu jelas hanya dugaan Anda saja. Apa wajahku terlihat seperti seorang pembunuh?” Keringat dari dahi yang keluar dari suster itu membuatku tersenyum penuh kemenangan. Tanganku mengambil benda bulat seperti kelereng yang diberikan oleh pak tua padaku, dengan perantaraan suster ini. “Jika mengaku lebih cepat, hukum tidak akan membuat Anda sengsara!” “Saya sudah bilang jika, kematian pak tua ini sama-sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Bukankah pihak rumah sakit lebih baik curiga pada Anda, Tuan? Sebelum kalian datang, pak tua ini tidak pernah berbicara banyak, dia selalu diam di tempat itu dan mengapa ke arah tempat itu!” Yuwen sedikit tidak terima karena tuduhan suster itu, tapi aku lebih dulu menahannya untuk tidak masuk dalam perangkap yang sedang digali oleh suster itu untuk dirinya sendiri. Meskipun terlihat kesal, Yuwen mengikuti perintahku dan kembali berdiam di tempatnya berdiri. “Mungkin secara fisik, tidak akan ada bukti yang mendukung jika Anda adalah pembunuhnya. Tapi pak tua ini mengeluarkan busa dari dalam mulutnya, lihat ini…”Aku menunjuk ke arah mulut pak tua itu, yang masih mengeluarkan busa. Tidak banyak racun yang menghasilkan busa!” Aku mengendus mulut pak tua itu, menekan dádanya 3 kali. Jarak kematiannya tidak berselang lama, jadi bagian tubuhnya masih bisa berfungsi dengan sedikit lebih baik. “Jadi, Anda menuduh saya memberi racun pada pak tua ini? Anda kejam sekali telah menuduh saya yang bukan-bukan. Saya akan…” “Semakin Anda berteriak keras seperti ini, semakin besar rasa kecurigaan Emilio pada Anda, Suster. Jadi, berdirilah tegak, busungkan kepala Anda dan berdiri layaknya seorang suster yang sedang menerima sumpah susternya. Jangan menjadikan saya harus ikut kecewa dan mencurigai Anda!” seru Doktor Jakson. Dia berjalan ke arahku, tangannya ikut meraba tubuh pak tua itu, juga mengendus, “Lio, bukankah ini…” “Merkuri?” “Kau benar, aku juga hendak mengatakan itu!” Aku juga bergerak ke arah kaki, tidak ada sistem saraf yang berfungsi dengan baik lagi. Seluruh badan pak itu benar-benar berubah menjadi biru dalam waktu sekejap. Aku menghela nafas, memberi perintah pada petugas jenazah untuk menyuntikkan beberapa formalin, dia benar-benar diberi merkuri, bukan racun sianida. “Kenapa Anda melakukannya? Apa Anda tidak merasa kasihan pada ayah Anda sendiri? Sekalipun dia tidak pernah memperdulikanmu, dia sudah menjagamu sejak kecil. Panggilannya untuk menjadi tenaga medis di militer bukanlah suatu keputusan yang sulit. Dia sudah mempertimbangkannya lebih dulu, tapi sepertinya Anda masih dendam padanya!” Suster itu terkejut, begitu juga dengan Yuwen, dan Doktor Jakson. Aku menghela nafas, dan menepuk bahunya. “Aku bahkan tidak tahu apakah aku punya orang tua. Sebenci apapun aku pada mereka, aku tidak akan membiarkan mereka terbunuh oleh rasa egoisku sendiri” Matanya berkaca-kaca, tidak lama air mata membenang di wajah suster itu. Dia terlihat seperti orang bodoh di depanku saat ini. Tangannya membuka kembali kalin yang sudah menutupi wajah pak tua itu, dan menangis seperti orang bodoh. Aku, Yuwen dan doktor Jakson memutuskan untuk keluar, polisi yang tadi aku panggil juga sudah hadir. Mereka menunggu di depan pintu, dan lekas masuk setelah aku memberi perintah. Asap rokok mengepul di depanku, lorong juga sepi. “Bagaimana kau tahu jika itu adalah perbuatan suster itu, dan kenapa kau tahu jika mereka adalah keluarga?” Pertanyaan dari Doktor Jakson ternyata, aku pikir Yuwen yang akan bertanya mengenai hal itu, sembari berjalan menuju ke arah luar, aku memainkan rokok di mulutku. “Saat kami duduk di ruang tunggu, dia selalu menatap ke arah kami. Membuatku risih, dan juga Yuwen. Aku pikir dia sedang memandang sesuatu yang indah di sini…” aku menunjuk ke arah ruang kursi tunggu yang sedang kami lewati. “Sayangnya tidak, dia sedang memandang putrinya, si suster yang berjaga di sini dari pantulan foto ini. Dia hanya sengaja melakukannya, karena tidak mampu untuk berkata apa-apa pada gadis itu!” “D—dia memandanginya?” tanya Yuwen, melangkah mendekati foto, melihat ke arah sudut pandang yang benar. Langkah Yuwen berhenti di tempat kursi roda yang tadi di duduki oleh pak tua itu. Aku membantunya untuk mendapatkan posisi yang benar. Setelah mendapatkannya, reaksi Yuwen benar-benar tidak terbaca. “Ini adalah sudut pandang yang tidak terlihat, namun dapat melihat dengan jelas. Foto itu bukanlah foto sembarang, kaca itu memberikan pantulan bayangan yang tepat. Dia benar-benar seorang yang pintar. Hanya saja, dendam putrinya tetap berkobar dan tidak mampu untuk melihat seberapa besar rasa bersalah pak tua itu” Doktor Jakson dan beberapa petugas lainnya yang ikut dengan kami, ikut mempraktekkan posisi itu. Kepala mereka mengangguk-angguk, dan terkejut. “Anda benar-benar sangat jenius mr.Emilio, tidak banyak yang tahu mengenai sudut-sudut ini. Bahkan aku juga, kau berhasil memecahkan semuanya dalam sekali observasi!” puji Doktor Jakson. Pujian itu cukup membuatku sedikit bangga, aku tahu jika orang yang sedang memujiku saat ini sangat jarang melakukan hal yang sedang dia lakukan—memuji orang lain. “Kali ini aku benar-benar butuh bantuan Anda, doktor Jakson. Bantu aku mengenai mayat gadis tadi, aku benar-benar tubuh datanya!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN