Kepulan asap mengepul dari mulutku, mengotori udara di sekitarku. Aku mengabaikan kehadiran Yuwen, bahkan tatapannya tidak lagi mempengaruhiku. Tanganku lanjut untuk membolak-balikkan kertas di depanku. Beberapa tumpukan tersusun di depanku.
Yuwen benar-benar menyebalkan sejak dia memergokiku saat mengantar Teresa kembali. Tidak sepenuhnya Teresa salah, sekalipun dia berbohong padaku. Aku yakin, dia pasti punya alasan kenapa melakukan hal itu.
“Berhenti menjadi orang paling menyedihkan di muka bumi ini, Lio!” Yuwen beranjak dari depanku, “Aku sudah muak melihat wajahmu itu, lagipula kita masih punya banyak tugas, jika kau lupa. Termasuk mengenai kasus pembunuhan itu, seorang dari Inggris datang. Kau pasti mengenalinya, dia akan menjadi rekan kita yang baru!”
“Kau sedikit menyebalkan dan membuatku badmood, Yuwen. Aku sedang memikirkan kenapa Teresa berbohong, tolong jangan membuatku bertambah kesal!”
“Aku sudah mengatakan hal ini beberapa hari sejak dia tinggi dengan kita. Tapi kau tetap saja tidak mendengarku, lalu, kau pikir dari mana luka yang dia dapatkan itu?”
“Tidak tahu, tapi yang jelas itu adalah luka tusukan!”
“Kau tahu mengenai hal itu, lalu kenapa kau tidak meminta dia untuk jujur saja? Jangan katakan karena dia kekasihmu, kau akan membiarkannya berbohong!”
Menghela nafas, aku bangkit berdiri sembari menatap ke luar. Badai sudah reda beberapa menit lalu, petugas kebersihan terlihat sibuk di lapangan, membersihkan daun-daun yang berjatuhan karena terpaan angin dan badai beberapa menit lalu.
“Bukannya aku ingin membiarkan dia, tapi aku…”
“Menunggu dia untuk jujur sendiri?” Yuwen memotong pembicaraanku, sedikit menyebalkan tapi dia benar. Aku memutar bola mata kesal dan kembali duduk.
“Tidak sepenuhnya salah, lebih tepatnya aku akan mencari tahu kenapa dia bisa tertusuk dan juga mengenai darah itu. Aku sudah mencari sampel mengenai darah itu, tapi itu terlihat bukan sampel darah manusia. Hal itu membuatku sedikit sibuk di laboratorium bawah tanah beberapa hari lalu, kau ingat kan?”
Yuwen terkejut, membuatku ingin tertawa, “Jangan bilang kau juga sudah tahu jika Teresa sedikit mencurigakan.” Tanyanya dengan mata menuntut penjelasan.
Aku mengangguk, “aku tahu hal itu, bahkan aku juga melihat kau sengaja pindah ke lantai 2. Memakai CCTV di tempat-tempat yang kau curigai, bahkan di luar rumah. Aku tidak menyalahkanmu, tapi aku kesal ketika kau memperlakukanku seperti orang yang tidak tahu apa-apa!”
“Dasar sialan, seharusnya kau mengatakan jika sudah mengetahui hal itu. Aku tidak perlu menggurui kamu jika begini. Aku jadi merasa seperti orang yang sok tahu, padahal nyatanya mataku buta tidak sadar jika kekasih Teresa adalah sahabatku sendiri!”
“Kau lucu sekali, seperti baru mengenalku sehari saja!”
“Kau terlalu bertindak misterius dan tidak terlihat, Lio. Aku bahkan tidak sadar jika kau sudah bergerak lebih jauh dariku!”
“Kabar baik, aku juga sudah mendapatkan siapa pembunuh gadis itu. Tidak ada hubungannya sama-sekali dengan kasus Kyle dan Yuwen.”
“S—sejak kapan?”
“Sejak kau tertidur dan memutuskan untuk mencurigai Teresa, Yuwen. Kau terlalu banyak membuang-buang waktu untuk mempelajarinya hingga kau lupa jika masih punya banyak tugas!”
Melihat wajah kaku Yuwen membuatku puas, tidak ada yang pernah bisa mengimbangi kepintaranku, sejauh ini. Termasuk Yuwen sekalipun. Dengan segera, aku mengambil kunci mobil, jaket dan beberapa kelengkapan seperti biasanya.
Hendak keluar dari ruangan, tapi melihat tidak ada langkah yang mengikuti dari belakang, membuatku berbalik dan menatap Yuwen yang masih berdiri bak anak kecil yang kehilangan induknya ketika di bawa ke dalam keramaian.
“Tidak ingin ikut denganku? Hari ini doktor Jakson akan mengungkap kebenarannya, aku sungguh antusias dengan ini!”
Yuwen melangkah keluar dari ruanganku, kami lekas masuk ke dalam mobil. Tidak lupa dengan pil yang sudah berada di balik saku jaketku, berjaga-jaga jika badanku kembali terasa lemah.
**
Tang Shiu Kin Hospital—terlihat ramai, beberapa orang terlihat sedang sibuk melakukan pekerjaannya. Beberapa juga berlalu lalang di Lorong rumah sakit. Arlojiku sudah menunjukkan 15 menit berlalu semenjak aku dan Yuwen duduk di ruang tunggu.
Mataku bahkan sudah sedikit lelah melihat lelaki buntung yang duduk di kursi roda. Mata tuanya dengan alis beruban itu sejak tadi tidak berpindah dariku dan juga Yuwen.
Sejujurnya, aku tidak merasakan terintimidasi dengan tatapannya, hanya saja itu terlihat risih. Hal itu membuatku bangkit dari dudukku, dan berpindah di kursi tunggu tepat di sebelah pria tua tadi. Sejak aku duduk, tidak ada percakapan sama-sekali dan dia tetap menatap lurus ke tempatku dan Yuwen tadi.
“Kenapa Anda memperhatikan ke arah yang sama, pak tua?”
Dia tidak tuli atau bisu, pradugaku sementara tadi lekas berlalu dari pikiranku begitu pak tua itu berbalik untuk menatapku. Tatapannya tidak sekaku tadi, terlihat lebih normal dari sebelumnya.
“Maaf Sir, pasien ini memang selalu berada di sini setiap harinya dan memperhatikan ke arah tuan tadi duduk. Aku tidak sadar jika hal itu membuat tuan sekalian menjadi tidak nyaman!”
Jawaban dari suster yang berada di belakang meja membuatku menoleh pada mereka sebentar. Lalu menggeleng, “Tidak masalah!”
Suster itu tersenyum dan Kembali melanjutkan pekerjaannya yang dipisah dengan tembok. Beberapa orang masih berlalu lalang dengan semua urusan mereka. Lelaki buntung yang duduk diatas kursi roda ini terlihat seperti menyimpan beberapa hal.
“Apa anda mantan marinir? Ah…lebih tepatnya pensiunan departemen medis Angkatan darat? Sepertinya Anda bertugas saat perang dengan perbatasan di Gaza, jika aku tidak salah. Apa anda orang Palestina?”
“Sejujurnya, tidak pernah ada orang yang tahu mengenai fakta itu, dan pelankan suaramu, anak muda!”
Yuwen yang tadi terlihat tidak terlalu peduli dengan percakapan kami, sekarang sesekali mulai mengalihkan perhatiannya dari layer laptopnya ke arah kami. Tidak lama kemudian, dia juga pindah.
“Jadi, bisa saya tahu kenapa Anda berakhir seperti ini?”
Lelaki tua itu menghela nafas, lalu menunjukkan tangan buntungnya, juga beberapa luka tembakan di kakinya, “Aku bukan orang yang beruntung, saat perang itu, aku sedang mengobati beberapa tentara yang terluka parah. Sayangnya, musuh terus melayangkan api amarah mereka. Aku menjadi korban, mereka memenggal tanganku ini setelah menembaki kakiku ketika hendak kabur!”
“Aku turut berduka!”
“Setelah itu, rasanya aku benar-benar kehilangan semangat hidupku. Departemen medis menolakku, otak kecilku terasa tidak terima. Dan berusaha untuk melakukan sesuatu, tapi kursi roda ini sangat betah jika aku menjadi tuannya!”
“Apa tidak ada keluarga yang mengunjungi Anda?” tanya Yuwen, “Anda terus menatap ke arah kami, apa terjadi sesuatu?”
“Dibandingkan dengan menjawab pertanyaan temanmu itu, bisa aku tahu darimana kau tahu hal tadi, anak muda?” lelaki tua itu menatap Kembali ke arahku.
Aku tersenyum tipis, “Luka ini tidak pernah aku temui sebelumnya Ketika bertugas di sini, tapi salah satu rekanku—yang pernah menelusuri kasus pembunuhan kapten perang di gaza, dia bilang jika luka di sana berbeda daripada umumnya. Dari gambarnya, hampir sama dengan luka yang Anda dapat. Juga, luka tembakan itu adalah khas mereka, 3 titik di tempat paling mematikan! Anda juga memiliki wajah yang tidak khas di Hongkong, perawakan Anda dan ciri-ciri Anda membuatku menebak jika adan berasal dari Palestina!”
Tangannya yang tidak bunting sebelah menyentuh bahuku, senyuman di wajahnya membuatnya terlihat lebih berwibawa. “Aku tidak pernah menemui sosok detektif Emilio yang di ombar ambir sana-sini, tapi kali ini, aku tidak akan meragukan perkataan itu lagi. Karena Anda memang menebak dengan akurat!”
“Jadi, aku benar soal tadi?”
Pak tua itu mengangguk, dan Kembali menatap lurus ke depan, “Sayang sekali, sepertinya aku hanya akan menjadi kenangan saja. Di sebelah rekanmu tadi, istriku yang sudah tua sudah menunggu di sana. Sudah sejak lama, tapi aku menahannya, aku ingin memberimu sesuatu!”
“Anda mengenalku?”
Pak tua itu mengangguk, “Aku pernah melihatmu, dan temanku banyak menceritakan betapa hebatnya dirimu. Aku...”
“Sir? Doktor Jakson sudah selesai operasi, dia menunggu Anda di ruangannya!” salah satu suster menggubris kami, aku mengangguk dan lekas berdiri.
“Pergilah, aku masih berada di sini, tapi jika kau nanti tidak menemuiku lagi di sini atau dimanapun. Pergilah ke tempat dimana kau kehilangan pendirian, dimana kau merasa apa yang kau alami ini adalah sebuah mimpi. Carilah sosok yang pernah melintasi rintangan harimau untuk mencari sesuatu yang tersembunyi di tempat itu, kau pasti akan menemukan jawaban dari pertanyaan di benakmu, mengenai siapa dirimu dan juga mengenai pendengaranmu itu!”
“Emilio?”
Terlepas dari keterkejutanku, aku beralih menatap Doktor Jakson yang sudah menungguku di lorong. Dia memberi kode untuk mengikutinya, aku Kembali menatap ke arah pak tua tadi.
“Aku akan mengunjungi Anda lain waktu, terima kasih sudah memberiku waktu!”
Yuwen sudah lebih dulu mendekati Doktor Jokson, aku hendak menyusul namun ditahan oleh sebelah tangan lelaki tua yang tidak bunting itu.
“Kau harus segera mencari tahu apa yang kau perbuat di masa lalu nak, jangan bersembunyi di balik selimutmu. Berhati-hatilah, karena mereka sudah mulai mencium keberadaanmu, was-was terhadap orang di sekitarmu!”
**
Perkataan lelaki tua tadi sukses membuat konsentrasiku hanya tertuju padanya. Kenapa dia berkata demikian? Apa mungkin dia tahu sesuatu, atau dia adalah bagian dari si pembunuh itu? Tidak, ini jelas tidak mungkin.
“Kau terlihat tidak sehat dari terakhir kali kita bertemu, Lio!”
“Ah…” lamunanku tadi buyar karena Doktor Jakson yang tiba-tiba duduk di depanku dengan segelas teh hijau, “Terima kasih atas minumannya, dok!”
“Anyway, aku sudah mencari tahu mengenai kasus pembunuhan gadis itu. Semua yang kau tulis di surat itu memang benar. Dia dibunuh oleh pemuda suruhan dari musuh ayah di gadis. Ini mengenai masalah uang dan juga jabatan!”
“Apa kau sudah melakukan pemeriksaan pada benda itu?”
Jakson mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, dan memberikannya padaku, “Itu adalah hasil pemeriksaan. Senjata itu dikeluarkan pihak pemerintah federal Rusia atas nama Zain. Dia salah satu anggota kepolisian yang bertugas untuk rival ayah di gadis. Sudah jelas jika kasus itu adalah unsur kesengajaan.”
“Tapi dia kenapa bodoh? Aku tidak pernah tahu jika ada anggota aparat kepolisian yang bertugas pada perusahaan-perusahaan besar!”
“Dia bukan polisi biasa, dia seorang intel!” jawabku, sambil membaca-bada dokumen itu.
“Lio benar, dia memang seorang polisi khusus, namun bodoh. Tapi ada yang aneh, jika kau masih punya waktu. Ikutlah denganku ke ruang jenazah, selagi jakson masih belum dikemas!”
Setelah mendapatkan izin dari petugas, kami bertiga diperbolehkan untuk masuk ke ruang penyimpanan mayat. Jakson membawa kami ke tempat paling ujung, membuka kain putih yang menutupi salah satu dari sekian banyak mayat yang ada di sana.
Itu adalah tubuh gadis itu, aku melihat tubuhnya yang sudah di bersihkan dan di jahit untuk di satukan. Aku menatap Jakson tidak paham, tidak ada yang berbeda dari jenazah ini.
“Lihat ini, luka di lehernya dan ukiran di punggung dan juga dàda gadis ini!”
Jakson mengambil sebuah cairan, meneteskannya pada tubuh jenazah itu. Beberapa menit kemudian, lambang yang dimaksud oleh Jakson muncul dari cairan itu. Sepertinya dia baru menggunakan cairan yang aku tawarkan padanya beberapa tahun lalu.
“See? Ini seperti lambang dari sebuah organisasi, aku tidak tahu tepatnya, tapi aku pernah melihat kasus ini sebelumnya!”
Lambang dengan segitiga terbalik, aku menatap Yuwen yang ikut memperhatikan lambang ini, “Ini juga adalah lambang yang ada pada kasus Kyle dan Toby Gibson, benar begitu?”
Aku mengangguk membenarkan pertanyaan Jakson, aku juga memang menyerahkan jasad tubuh mereka pada Jakson untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Jadi, ini memang berkaitan dengan kasus mereka berdua, tapi kau berkata jika kasus ini tidak ada kaitannya dengan mereka lagi, Lio!”
Pertanyaan Yuwen membuatku Kembali menatapnya, ini benar-benar di luar dugaanku. “Awalnya, aku memang ingin membenarkan perkataanku saat kita di kantor. Tapi melihat ini, mungkin aku akan menarik Kembali kata-kataku!”
“Tapi lihatlah ini, aku merasa jika sepertinya lambang ini masih lambang yang baru dibuat, see? Tatonya bahkan sangat terlihat baru, aku juga sudah melakukan uji lab dengan mengambil daging gadis ini bagian punggung. Tato ini memang masih sangat baru!”
“jadi, kau menduga jika tato ini dibuat setelah gadis ini dibunuh dengan cara sadis?” tanyaku, mengambil kesimpulan dari Jakson.
“Tepat sekali, tapi kenapa? Apa mungkin terjadi sesuatu yang kalian lewatkan di bar itu? Aku yakin jika kalian memang melewatkan sesuatu di tempat itu, mungkin seseorang sedang mengawasi kalian!”
Keluar dari ruang jenazah, aku melangkah dengan lebar dan menuju ke arah ruang tunggu. Memperhatikan seisi ruangan, tapi sama-sekali tidak mendapatkan sosok lelaki tua itu.
“Suster, apa Anda melihat sosok lelaki tua tadi yang duduk di sini?”
Suster itu menatap ke arah kursi roda yang sudah kosong, aku ikut menatap ke arah kursi roda. Lelaki tua itu bilang tidak pernah meninggalkan kursi rodanya. Aku menatap suster itu, dia mengangguk.
“Beberapa menit lalu, kami pikir dia tertidur seperti biasanya. Tapi tidak, dia tidak merespon dan nafasnya sudah berhenti. Dia sudah dibersihkan, kamarnya juga sudah dirapikan!”
“Di—dimana ruangannya?”
“Ada di sebelah ruang jenazah!”
“Baik, terima kasih, suster!”
“Tunggu…dia memberimu ini!”