BAGIAN 32 | TIDAK ADA KASUS ITU, LIO! 21+

1026 Kata
MENGANDUNG UNSUR, 21+  Setelah aku terbangun, senyuman Teresa membuatku sadar jika gadis ini memang nyata. Aku diam, menatap berbagai jenis makanan yang terjadi di atas meja. Yuwen sejak tadi juga diam, sembari memperhatikanku dan juga Teresa. “Makanlah yang banyak, Lio. Aku mendengar dari Yuwen, jika kau semakin sering mimisan akhir-akhir ini, apa aku benar?” Yuwen yang duduk di seberangku hanya menatapku dengan kekehan menyebalkannya. Aku memutar bola mata kesal, lagipula aku tidak bisa lagi berbohong padanya. Dia juga mendapatiku pingsan di peron kereta api. Tapi sejak aku sadar, aku tidak mendapati Leano berada di sini. “Dimana Leano?” “Dia?...Lenao sudah kembali ke rumahnya setelah kau siuman, ada beberapa urusan yang harus lakukan. Restorannya juga butuh orang, aku harap kau tidak lupa dengan restorannya!” jawab Yuwen, “Lagipula dia akan datang jika kau menghubunginya. Jadi, apa aku perlu menghubunginya sekarang?” “Tidak perlu, asal dia baik-baik saja sudah cukup bagiku!” Setelah percakapan itu, semuanya langsung hening dan makan dalam diam. Aku tidak pernah makan masakan rumahan seperti ini, jadi masakan Teresa kali ini terasa sangat berbeda di lidahku. Rasanya aku ingin kembali ke rumah lagi dan memakan masakan ini. Tanganku terulur dan mengacak rambut Teresa, “Masakanmu sangat enak, aku ingin pulang ke rumah dan memakan masakanmu ini lagi!” Teresa tersenyum manis, selalu saja bisa membuatku melupakan permasalahanku kali ini. Aku kembali makan dengan banyak. Usai makan, Yuwen pergi. Dia ingin memberikan laporan pada Frank. Sekarang aku duduk dan terdiam, hanya memperhatikan Teresa yang sejak tadi mondar-mandir di dapur. Jika di perhatikan, baru kali ini dapur itu terpakai, kecuali Yuwen yang sesekali menyeduh kopi ataupun teh. Teresa kembali dan duduk di sebelahku, rasanya ini masih mimpi dan sama-sekali tidak benar. Aku menatap mata Teresa yang selalu mampu untuk memberikan ketenangan. “Apa yang kau  pikirkan, Lio? Apa kau masih memikirkan mimpimu itu? Sejujurnya, aku sangat khawatir padamu. Beruntung Yuwen selalu memperhatikanmu. Jika tidak…” “Kenapa kau tidak memberitahukan padaku jika kau kemari? Aku bisa mempersiapkan semuanya untukmu, sayang!” “Aku takut merepotkanmu…tapi, bisa aku tahu apa akhir-akhir ini ada orang aneh yang dekat denganmu atau mengintaimu?” Pertanyaan itu membuatku menatapnya, tapi apa yang Teresa katakan itu benar adanya. Jika Yuwen tidak membantuku selama ini, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku terkejut ketika merasakan benda kenyal di bibirku. Menatap Teresa menghentikan ciumannya, aku lekas menarik bibirnya dan mencium lembut bibirnya. Desahan darinya semakin membuatku ingin merasa lebih. “Ahh…Lio!” Desahan dan tarikan di rambutku semakin meransang hormonku, aku membalik posisi dan menindih tubuh Teresa. Aku mengunci tatapannya, dia selalu saja seperti ini, selalu saja membuatku ingin merasakan lebih padanya. “Kita lakukan di kamar, nanti Yuwen kembali dan dia akan menghujatku karena mengotori ruang tamu!” *** Decakan lidah di kamar terdengar dari sepasang kekasih yang sedang berebut udara itu. Lio menindih tubuh Teresa, merasakan setiap inci tubuh kekasihnya itu dan mengelus setiap inci tubuh Teresa yang sanggup dia sentuh. Desahan dari mulut keduanya semakin menginginkan hal yang lebih. Teresa mengangkat pinggulnya saat mendapatkan serangan penuh cinta dari mulut Lio. “Buka bajuku!” seru Lio, membuat Teresa menatapnya dengan wajah memerah. Tangannya mulai menyentuh dàda Lio setelah membuka bajunya. Lio kembali menindih tubuh gadis itu dengan perlahan, membuka kancing demi kancing baju Teresa hingga menyisakan pakaian dalam gadis itu. Teresa terlihat malu, membuat Lio tersenyum geli. Mereka sudah melakukannya beberapa kali, namun Teresa selalu saja malu jika dia membuka bajunya dan melihat tubuh indah itu. Tangan Lio mengelus perut rata milik Teresa, lalu kembali mencumbu bibir gadis itu “Kenapa setiap kali kita melakukannya kau selalu saja membuatku merasa gemas, sayang?” Teresa memalingkan wajahnya, “Jangan bertanya, lakukan saja!” Lio kembali menyerang Teresa dengan bibirnya, pergulatan pagi hari mereka tidak akan ada yang tahu. Lio ambruk di sebelah tubuh Teresa setelah menyelesaikan urusannya, perasaannya selalu saja seperti terlahir kembali usai berhubungan dengan Teresa. Tangan kekar Lio menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, lalu memeluk Teresa yang masih menatapnya dengan wajah memerah. “Terima kasih sayang, tidurlah, aku tahu kamu lelah!” *** “Lio, tidak ada kasus seperti yang kamu katakan padaku. Tidak ada kasus pembunuhan di gereja, dan tidak ada hal yang bersangkut paut dengan pembunuhan dalam waktu dekat ini. Apa kau yakin memang melaluinya?” >“Kenapa kalian berdua terasa mencurigakan? Apa jangan-jangan…” Yuwen menatapku dengan senyuman jenakanya. Teresa yang baru duduk di sebelahku juga menutupi wajah malunya, hal itu membuat Yuwen terkekeh dan menggodaku. “Cepatlah menikah, aku ingin keponakan dari kalian berdua. Atau, jangan gantukan Teresa, Lio. Gadis itu butuh kepastian, dan aku yakin Teresa juga menginginkan hal yang sama!” “Berhenti mengatakan hal itu, Yuwen. Atau tidak, aku akan membunuhmu!” Tawa lepas dari Yuwen semakin membuatku merasa kesal, aku menatap Teresa dan membuka telapak tangannya yang digunakan untuk menyembunyikan wajahnya. “Tidak usah dengar dia, Yuwen memang selalu saja menyebalkan, dan dia suka untuk melakukan hal itu padaku!” Wajah Teresa akhirnya turun, dia hanya berani untuk menatapku dan sama-sekali tidak berani untuk menatap Yuwen. Aku menghela nafas, lalu mencium keningnya, di depan Yuwen. Aku tidak peduli apapun perkataan Yuwen. “Hey, kenapa kalian ini sangat tidak tahu tempat? Apa kau tidak merasa kasihan padaku ini? Hey” teriak Yuwen kesal. Aku hanya bisa terkekeh, Teresa juga ikutan terkekeh. Aku kembali mencium bibirnya singkat dan mengacak rambutnya, “Jangan perhatikan dia lagi, okey?” Teresa mengangguk, dan Yuwen juga sudah berhenti untuk membuat kekacauan. Aku kembali pada pekerjaanku. Menatap semua laporan, ternyata sama-sekali tidak ada kasus pembunuhan di Gereja, bahkan nama Antony juga tidak ada dalam situs pencarian kami. Aku menghela nafas, lalu lekas berdiri, jika kasus itu sama-sekali tidak ada. Maka aku perlu menyelidiki sesuatu untuk saat ini. “Kemana kau akan pergi, Lio?” tanya Yuwen, “Jangan bilang kau ingin pergi lagi, keadaanmu masih tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan hari ini!” “Aku ingin memeriksa sesuatu, jika kasus pembunuhan di gereja itu sama-sekali tidak ada. Mungkin aku akan percaya setelah memeriksanya lebih dulu. Teresa menahan tanganku, membuatku menatapnya. “Aku ikut!” ujarnya “Ta…” “Kami ikut, tunggu dulu, aku akan mengambil mantelku dulu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN