BAGIAN 33 | 1 TAHUN LALU?

1401 Kata
“Jadi ini bangunan yang aku maksud!” setibanya kami di Victoria Street no 13, aku lekas memandu jalan menuju ke arah bangunan yang aku maksud. Teresa di sebelahku ikut menengadah untuk memperhatikan tempat ini. Bangunannya benar-benar sudah berbeda, bahkan Yuwen tidak percaya jika ini adalah sebuah Gereja. Beruntung, saat melintasi jalanan, kami berpapasan dengan seorang lelaki tua dengan uban yang memenuhinya. Dia mengatakan jika bangunan yang berada di depan kami ini memanglah Gereja, dulunya. Namun setelah beberapa tahun terbengkalai karena ada sebuah kasus yang tidak terselesaikan. “Lio, kamu yakin ini adalah tempatnya? Rasa-rasanya ada sesuatu yang menjanggal, keknya…ini bukan tempat yang kamu cari deh!” Penolakan secara tersirat, aku menatap Yuwen yang terlihat tidak setuju ketika tanganku ingin mendorong pintu itu. Tapi aku sudah terlanjur membukanya, debu merayap dari dalam dan hampir saja mengenai wajahku. Beruntung aku lebih dulu bergerak ke arah Teresa berdiri, membiarkan abu itu itu mencium udara. “Pintunya terbuka, sangat disayangkan jika kita tidak bertulang sebentar di dalam. Tidak udah tegang, Yuwen. Lio bersama dengan kita, lagipula kita tidak akan lama!” seru Teresa, “Benarkan, Lio?” tanyanya padaku. “Aku pasti akan menjagamu, apapun yang terjadi. Tidak usah khawatir!” aku mengusap tangan Teresa yang ada di sebelah genggamanku. Yuwen terlihat memutar bola mata malas, lalu tanpa bertanya lagi dia lekas masuk lebih dulu. Ruangannya terasa lembab, aku melihat ke arah ruangan yang memang benar-benar sudah tidak terpakai lagi. Tapi, ini benar-benar seperti apa yang aku mimpikan. Aku melihat ada ukiran di arah dinding, hanya bekas saja, terlihat seperti bekas ukiran nama yang sudah sangat lama. Yuwen menerangi tembok itu, dan menyentuhnya “Ini sepertinya ukiran nama yang sudah cukup lama. Apa kau juga memimpikan hal ini?” “Apa kau percaya dengan apa yang aku katakan, Yuwen?” Perhatian Yuwen tertuju padaku, dia menaikkan sebelah alisnya, gerak-geriknya cukup membuatku paham jika dia terlihat jengkel dengan pertanyaanku barusan. Tapi aku juga untuk memastikan hal itu, karena jika dibayangkan lagi, rasanya ini memang terasa sedikit tidak masuk akal. Orang pasti akan berpikiran jika apa yang aku katakan hanyalah bualan semata dan mungkin mereka akan mengataiku, gila? “Dengar, aku tidak tahu hal apa yang kamu mimpikan, Lio. Tapi aku percaya padamu, tidak aku…tapi kami percaya padamu. Lakukan apa pun yang menurutmu benar, aku dan Teresa akan membantuku dan mendukungmu. Kau terlihat tidak seperti dirimu sendiri sejak kau tersadar dari mimpimu.” Yuwen menyentuh bahuku, dan menepuknya 3 kali, “Jika aku tidak percaya padamu, maka aku tidak akan berada di sini. Aku yakin ada sesuatu yang membawamu kemari.” “Yuwen benar, Lio. Jadi, jangan meragukan dirimu lagi, okey?” Pernyataan itu membuat semangatku bertambah, aku mengangguk dan menatap Yuwen, juga Teresa. Kembali pada penelusuran bangunan ini, aku menaiki lantai 2 dan menatap ke arah dimana aku menemukan mayat itu. “Apa yang kamu ingat di sini, Lio? Apa ada sesuatu yang penting?” Aku menatap Teresa, “Aku mengingat jika di sana…”Aku menunjuk ke arah tempat mayat yang aku temukan, “Di sana adalah mayat yang aku temui dengan Yuwen. Seorang petugas, aku lupa namanya, menemukan mayat itu di sini. Kasusnya panjang, tapi tidak ada yang penting di sini. Aku pikir kita bisa segera pergi dari sini!” “Tunggu!” Teresa menahan tanganku, “Apa kau memang yakin ingin pergi sekarang? Apa tidak ada yang penting di dalam gedung ini?” Pertanyaan yang berulang, aku menatap ke bawah. Yuwen berhenti di anak tangga dan menggeleng, sepertinya dia juga tidak menemukan apa-apa di sini. Aku menatap Teresa dan kembali mendekatinya, “Aku rasa tidak ada, kenapa? Apa merasa ada sesuatu yang tersembunyi di dalam gedung ini?” “Tidak, lupakan saja, kita harus lekas pergi!” Teresa berjalan keluar lebih dulu, Yuwen menatapku dan aku hanya menanggapinya dengan mengangkat bahuku. Lalu lekas mengejar langkah Teresa yang sudah berada di luar ruangan. Sebelum menjauh dari gedung itu, aku menyempatkan untuk melihat ke arah bangunan di sebelahnya. Jika tidak salah, bangunan terbengkalai itu menyisakan sesuatu yang misterius untuk-ku saat itu. “Apa yang kau lihat, ayo cepat Lio. Sepertinya badai lagi hari ini!” Mendengar Yuwen, aku lekas mengejar langkah mereka. Tiba di mobil, tetesan air langsung menyambut kami. Tidak banyak yang berbicara, Yuwen lekas memajukan mobilnya keluar dari kompleks perumahan, tempat kami parkir tadi. Ini benar-benar aneh, dan kali ini otakku seperti tidak mendapatkan sesuatu yang menjelaskan semuanya. Jika ini hanya mimpi, kenapa aku masih bisa melihat tanda itu? “Terjadi pembunuhan di Gereja, 1 tahun lalu seorang detektif muda terkenal di HongKong menyelidiki kasus itu. Pelakunya sudah tertangkap, namun sang detektif menghilang begitu saja dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Banyak pihak kepolisian mengatakan jika sang detektif memang sengaja menghilang setelah kasus pembunuhan itu.” Mendengar Teresa, aku lekas mendekatinya dan membaca artikel yang baru saja dia berikan. Tertulis di sana apa yang baru saja dia bacakan. Aku mengerutkan kening, jika itu terjadi setahun yang lalu dan detektifnya menghilang, kenapa semua itu terekam ulang di mimpiku? “Ak…”tes—sebuah cairan kental keluar dari hidungku, dan mengotori artikel itu. Teresa panik dan lekas mengambil sapu tangan dari tas kecilnya. “Kau baik-baik saja, Lio? Aku khawatir sekali…” “Aku tidak apa, terima kasih!” ujarku, menatapnya dengan senyuman di wajahku. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Sepanjang sisa perjalanan, Teresa bersandar di bahuku dan mengelusi tanganku. Aku merasa nyawan, sekaligus merasa bersalah. Teresa pasti memikirkanku karena masalah ini, aku juga sedikit merasa lelah dan pusing. *** “Lio, apa ini tidak terasa aneh? Aku tidak menemukan artikel manapun mengenai pembunuhan di dalam Gereja itu, hanya ada artikel yang dikirim oleh Teresa saja, lainnya tidak ada!” Begitu aku kembali dari kantor, Yuwen sudah menyambutku dengan pertanyaan itu. “Dimana Teresa?” “Dia sedang memasak untuk makan malam, duduklah dulu dan lihat ini. Aku sudah mencari tahu semua surat kabar dan juga dari ponsel ini, pihak kepolisian juga sudah memberikan laporan jika memang tidak ada sama-sekali pembunuhan di sana. Apa menurutmu ini semakin terdengar aneh, Lio?” Sebenarnya aku juga merasa begitu, dan hampir menyerah untuk mencari tahu hal ini. Teresa terlihat sibuk di dapur, aku kembali menatap laporan yang dibuat oleh Yuwen. Memang tidak ada sama-sekali mengenai pembunuhan 1 tahun lalu, yang ada hanya kasus 5 bulan lalu, tapi itu disembunyikan dari media, polisi menutupi kasus itu. Tapi mereka juga sudah memberikan kepadaku mengenai salinan itu. “Apa ada kasus baru-baru ini?” aku memilih untuk mengalihkan perhatian. Karena sejujurnya, ketika aku bertanya pada seorang lelaki tua di seberang kantor. Dia mengatakan jika sebaiknya kasus itu jangan lagi diungkit. Beritanya simpang siur, dan dia juga mengingatkan kepadaku jika tidak perlu melakukan hal yang lebih. “Ada, sebuah gadis ditemukan tewas di bar. Pembunuhannya menurutku biasa saja, mungkin dia terlibat kasus narkoba atau semacamnya. Mereka—orang tua korban juga mengirimu email dan memintamu untuk melihat kasus itu. Tapi aku sudah menolaknya, sampai keadaanmu benar-benar pulih, semua kasus yang meminta penyelidikan olehmu sudah aku tolak.” Teresa meletakkan beberapa jenis makanan di atas meja makan, tanpa di perintah, aku dan Yuwen lekas bergabung. “Yuwen benar, aku memang tidak terlalu tahu mengenai pekerjaanmu, honey. Tapi bisakah kamu melepaskan pekerjaan itu dalam waktu yang tidak ditentukan sampai setidaknya keadaanmu cukup lebih baik!” Aku tersenyum dan menatap Teresa, “Mungkin 2 hari kedepan aku akan libur dulu, tapi aku tidak bisa terus begini. Mereka membutuhkan bantuanku dan aku juga membutuhkan uang mereka untuk terus hidup.” “Lio, aku sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta. Mereka menawariku upah 800$ per bulannya, apa kau setuju dengan hal itu?” Menghentikan acara makanku, aku menatap Teresa, “Apapun yang kamu mau, tapi bisa aku tahu apa jabatanmu dan juga pekerjaanmu di sana?” “LAB Research, penelitinya mengijinkanku untuk masuk ke dalam LAB mereka. Perusahaan itu adalah salah satu perusahaan di bidang biokimia untuk pemasok obat-obatan di seluruh Hongkong. Sebelum lulus, mereka juga memberikan beberapa beasiswa, juga surat rekomendasi. Aku melamar di sana sekitar 1 bulan lalu, dan baru menerima jawabannya 2 hari lalu!” “2 hari lalu dan kau tidak memberitahukan kabar baik ini pada kami, Teresa?” Yuwen bertanya dengan nada tinggi. “Aku hanya mencari situasi yang tepat, Yuwen. Maaf jika membuat kalian berdua merasa tidak nyaman!”  Aku menggeleng, sama-sekali tidak merasa demikian. Ketika hendak menggenggam tangan Teresa, aku menatap sebuah luka, membuatku lekas mengangkat tangan Teresa, "Apa yang terjadi?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN