1.Berulah Kembali
Di sebuah sekolah Victoria scholl yang dimana murid berprestasi belajar, sekolah elit nomor satu yang selalu diakui pusat kota. Namun di ruang OSIS, seorang gadis cantik yang sedang sibuk mengerjakan dokumennya.
"Vi.....Lucas sedang berkelahi dengan siswa lain lagi" panggil siswa yang sudah mengenal Viona.
Mata Viona membulat ketika ia mendengar teriakan dan benturan keras dari lorong sekolah. Gadis itu meninggalkan tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja, berlari menuju sumber suara.
Di tengah kerumunan, terlihat sosok Lucas, pria tampan yang sudah lama dikenal Viona, sedang terlibat dalam perkelahian dengan salah satu siswa lainnya. Lucas, dengan rambut acak-acakan dan tatapan mata yang menyala-nyala, tampak mengayunkan pukulan demi pukulan ke arah lawannya. Siswa yang menjadi sasaran amukan Lucas hanya bisa berusaha melindungi diri, wajahnya penuh ketakutan.
Viona, dengan nafas yang terengah-engah, menerobos kerumunan dan berteriak,
"Lucas! Berhenti!" Namun suaranya tenggelam oleh sorak sorai siswa lain yang justru terlihat terhibur oleh perkelahian itu.
Dengan langkah yang lebih tegas, Viona mendekati Lucas dan berhasil menarik lengan bajunya.
"Lucas, ini gila! Lo harus berhenti sekarang juga!" serunya dengan mata yang berbinar tegas.
"Vi... " Lucas terkejut melihat Viona yang menatap tajam kepadanya.
Viona menarik bajunya menuju ruangan OSIS. Lucas hanya pasrah membiarkan Viona membawanya ke ruangan OSIS. Kerumunan siswa pun menghela nafas lega melihat Viona yang selalu menjadi penolong disaat Lucas berbuat keributan sekolah.
Di ruang OSIS.....
Ruang OSIS kini dipenuhi suara Viona yang meninggi. Dengan kedua tangan terlipat di d**a dan dahi yang berkerut, ia menatap Lucas dengan tatapan tajam.
"Lo selalu saja membuat masalah di sekolah. Kapan lo akan berubah, Lucas? Selalu saja suka berbuat masalah" keluh Viona tanpa menghentikan kata-katanya.
Lucas, yang duduk di sofa dengan kaki yang terangkat di atas meja kopi, hanya memberikan senyum simpul. Dia sudah terbiasa dengan omelan Viona dan tampaknya tidak terlalu terganggu.
"Tenang saja, Vi, Gue hanya bercanda kok" ucap Lucas sambil mengedipkan mata.
"Tenang? Kamu pikir ini masalah yang bisa diselesaikan dengan tenang?" Viona semakin frustrasi.
"Gue sudah bosan mendengar keluhan dari wali kelas lo. Sekarang lo harus pergi dan bertemu dengan Bu Anita, dan lo harus siap menerima hukuman yang akan diberikan pada lo." Viona mencatat di selembar kertas lalu memberikan kepada Lucas.
Lucas akhirnya berdiri, menerima selembar kertas tersebut.Ia merasa tidak bosan dengan Viona yang selalu memarahinya.
"Baiklah, Gue akan pergi sekarang juga.Jangan perlu marah-marah lagi Vi," katanya sambil mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
Setelah Lucas pergi keluar, Viona merebahkan tubuhnya lelah di sofa. Viona lelah dengan sikap Lucas yang selalu membebani dirinya. Viona memutuskan untuk melanjutkan dokumennya yang harus ia kerjakan, namun ia malas melanjutkan dokumennya, Moodnya berubah ketika Lucas berulah kembali.
"Lucas dasar! lo kapan tobat tobatnya sih! " teriaknya mengeluh.Setelah meluapkan keluhannya, Viona memutuskan untuk melanjutkannya di kelas. Ia bangkit dari sofa lalu menuju kelas.
Kringgg
bel pulang sekolah
Lucas menghampiri kelas Viona, ia menunggu Kehadiran Viona. Viona keluar dari kelasnya melihat kehadiran Lucas.
"Apa lo sibuk hari ini? gue traktir lo eskrim deh sebagai permintaan maaf gue" tawar Lucas.
"Maaf, Lucas, gue ada rapat OSIS hari ini.Lo bisa traktir gue nanti" ucapnya, suaranya berat, merasa bersalah melihat kekecewaan di wajah Lucas.
Lucas menarik nafas panjang dan mengangguk pelan,
"Tidak apa-apa, Gue mengerti.Semoga beruntung dengan rapatnya" Dia memberikan senyuman pahit sebelum berlalu, meninggalkan Viona yang berdiri menghela nafas.
Di ruang rapat OSIS yang penuh dengan kebisingan diskusi, Viona duduk dengan raut muka yang serius. Tiba-tiba, sahabatnya berbisik kepadanya
"Kayaknya lo lelah ya menghadapi urusan Lucas,hanya lo doank yang bisa terdiam kalo ada lo"
Mendengar itu, Viona hanya menghela nafas panjang. Sejak SMP, memang hanya dia yang bisa membuat Lucas menurut, sebuah kenyataan yang membuatnya merasa lelah.
Gadis itu pun tersenyum sendiri yang membuat Viona bingung.
"Lo kenapa senyum senyum gitu? kesambet apa nih orang? "
"Heh lo tahu ga sih, lo cocok tau dengan Lucas yang hanya menurut kepada lo seperti pasangan serasi" ucap gadis itu.
Viona melotot matanya terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya ini mengatakan ia serasi dengan Lucas.
"Gue ga sedeket itu ya dengannya! " protesnya.
"Yakin? buktinya Lucas selalu dekat dengan lo, bahkan masalahnya lo yang ngurusin. Memangnya lo ga suka ya? " goda sahabatnya.
"Cukup, gue ga mau denger lagi tentangnya" ucap Viona malas.
Para anggota lainnya melihat ke arah Viona dan sahabatnya itu yang membuat Viona merasa terganggu.
"Maaf mengganggu kalian, kita lanjutkan rapatnya" ucap Viona serius.
Keesokan harinya, suasana kelas Viona masih sama seperti biasa, penuh dengan canda dan tawa. Namun, suasana itu berubah ketika Lucas, sahabatnya yang sudah terbiasa menghampiri kelasnya setiap hari, tiba-tiba muncul di depan pintu. Viona hanya menghela nafas panjang, mengetahui betul apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lucas dengan semangatnya yang tak pernah pudar, mengajak Viona ke kantin
"Vi ke kantin yuk, gue traktir lo yang kemarin deh"
Meskipun ia malas, Viona hanya bisa mengangguk lemah menerima ajakan tersebut
Mereka berjalan bersama menuju kantin, dan seperti biasa, Lucas tak henti-hentinya mengobrol. Cerita dan lelucon yang keluar dari mulut Lucas bagai aliran sungai yang tak pernah kering, membuat telinga Viona serasa mau pecah.
"Lo bisa ga sih ga ngomong terus kek kereta api ga ada habis habisnya! " kesal Viona.
Lucas menoleh dan menangkap ekspresi kesal di wajah Viona. Sebuah senyum jahil terbit di sudut bibirnya.Lucas mencubit lengannya pelannya dan berlari mengejeknya.
"Ampun nenek lampir.... " ejeknya.
Viona yang menahan sabarnya, kini tidak bisa lagi ia tahan. Viona dengan kesal mengejar Lucas yang menjauh.
"Lucas!! kesini lo!! " teriaknya kesal.
Lucas tersenyum melihat Viona yang mengejarnya, ia terus berlari sambil melihat Viona yang menatapnya tajam yang ingin memberinya pelajaran.
Para siswa berada di kantin melihat Viona dan Lucas yang seperti anak kecil bermain kejar-kejaran, Mereka terkekeh melihat tingkah mereka berdua. Namun seorang gadis menatap tidak suka melihat ke arah Viona dan Lucas.
"Dasar gadis aneh, ga bakalan gue biarin lo ngedeketin dia! " kesalnya.
Setelah sesi kejar-kejaran yang melelahkan, Viona dan Lucas memutuskan untuk beristirahat sejenak di kantin. Lucas, yang selalu perhatian, berinisiatif membelikan minuman kesegaran untuk Viona.
"Thanks.... " ucap Viona meminum minuman tersebut.
Lucas mengangguk, lalu ia duduk bersebelahan dengan Viona.
"Padahal lo ikut OSIS, tapi lo jago lari juga ya" ucap Lucas takjub.
"Hemm.... gue jago lari ini penting karena ini untuk menangkap orang bolos kek lo ini" ucap Viona membanggakan diri mencubit lengan Lucas.
"aww....sakit tahu" Lucas mengerucutkan bibirnya.
Viona tertawa melihat wajah Lucas yang cemburu kepadanya. Lucas pun membalas tawa Viona tersebut. Namun tawa mereka terhenti ketika seorang gadis menghampiri mereka dengan langkah angkuh.
"Wah, Viona, sepertinya kamu lebih jago lari daripada menjaga penampilan ya?" sindir gadis itu dengan nada tinggi, mencoba menarik perhatian seisi kantin.
Tanpa terintimidasi, Viona menatapnya dari atas ke bawah, lalu tersenyum sinis.
"Memangnya kenapa mending olahraga daripada jual diri kek lo harus make up tebal menutupi muka jeleknya" balas Viona dengan suara yang cukup keras sehingga semua orang di kantin bisa mendengarnya.
Tawa renyah terdengar dari berbagai sudut kantin, termasuk dari Lucas yang bangga melihat sahabatnya tidak mudah ditundukkan. Gadis yang menyindir tadi kini wajahnya memerah, matanya melirik ke sana kemari mencari dukungan yang tidak kunjung datang.
"Awas lo! gue akan bales perbuatan lo itu inget itu! " marahnya.
"Ya gue tunggu " jawab Viona santai.
Dengan langkah gontai, ia pun berbalik pergi meninggalkan kantin, sementara sorakan kecil mengiringi kepergiannya.
Viona dan Lucas kembali tertawa, kemenangan kecil itu membuat sore mereka semakin berkesan.