2. Bertemu Iblis Baik Hati

2262 Kata
“Nenek tidak mau tahu! Pokoknya kau harus mau menerima perjodohan ini!” “Astaga, Nenek! Sebenarnya jiwamu ini terjebak di zaman apa, sih! Di saat orang-orang di luaran sana tengah membicarakan konsep metaverse, di sini kau masih saja sibuk menjelajah dunia perjodohan yang kolot itu?! Cih! Menggelikan!” “Terserah kau mau menyebut diriku kolot atau apa pun itu. Yang jelas kau sama sekali tidak punya hak untuk menolaknya. Terima atau kupecat kau jadi cucu kesayanganku! Oh, tidak itu saja. Posisi CEO-mu juga akan aku lengserkan secara tidak hormat!” “A-apa! Ya, Tuhan! Aku tidak menyangka jika kau sekejam itu. Aku ini cucumu, Nek! Kenapa kau tega—” “Kalau kau memang merasa menjadi cucuku, terima tawaran ini. Akhir bulan, datanglah ke rumah, temui wanita itu dan jangan melawan!” “Jadi kau memaksaku?” “Ya! Dan kau tahu betul jika paksaanku sama sekali tidak boleh kau abaikan.” Tidak seperti biasanya, hari itu, di penghujung tahun salju nampak mulai turun menyelimuti hampir seluruh wilayah kota Vancouver. Meski masih dalam itensitas ringan, namun butiran-butiran bak kristal itu mampu membuat mantel hitam yang dipakai sang pria sedikit basah. Belum lagi rambut hitamnya yang ditata begitu klimis juga tidak luput dari taburan salju yang berguguran. Di sanalah Kenric terdiam. Berdiri mematung di atas rooftop salah satu kelab malam yang sengaja ia datangi untuk melepas penat. Mencoba mencari wahyu pencerahan dengan memandang bentangan gemerlap lampu dekat pelabuhan sana. Sialnya hal itu justru kembali mengingatkan Kenric akan percakapan dengan sang nenek waktu itu. Mungkin sudah hampir dua minggu berlalu sejak sang nenek memaksanya untuk menerima rencana perjodohan, dan hari ini adalah waktu yang sudah ditentukan untuk Kenric datang dan bertemu sosok wanita pilihan sang nenek. Akan tetapi, hingga waktu mulai menapaki angka sepuluh lewat lima belas menit, Kenric masih tidak beranjak sedikit pun. Meski beberapa kali terganggu dengan dering ponsel dari sang kakak yang terus mencoba menghubunginya. ‘Kau di mana?’ ‘Kau yakin tidak akan datang? Yakin kali ini mau melawan kata nenek?’ ‘Tidak masalah jika kau menolaknya. Sebisa mungkin aku akan meyakinkan nenek untuk tidak memaksa apalagi mengatur hidupmu lagi.’ Rentetan pesan yang dikirimkan Ryuga—kakak kandung Kenric—nampak tidak begitu ia hiraukan. Kenric hanya membacanya sekilas tanpa berniat untuk membalas. Jujur, untuk saat ini pikirannya masih kalut. Kenric jelas tidak mau menerima perjodohan itu, tapi di sisi lain ia tidak bisa begitu saja menolak perintah sang nenek. Ya, bisa dibilang sejak kecil otak Kenric memang sudah didesain untuk menjadi penurut. Tidak boleh membangkang apalagi menentang keputusan orang tua. Belum lagi ancaman akan kehilangan posisi di perusahaan juga menjadi kegundahan tersendiri baginya. Batin Kenric mulai berperang. Ingin menghindar tapi terasa sulit. “Siapa pun itu, entah kau dewa, malaikat atau iblis sekali pun. Bisakah kau memberitahuku jalan untuk keluar dari semua ini?” Brakk! Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba suara pintu yang didorong dengan kuat membuat lamunan Kenric terurai. Sontak saja ia langsung membalikkan badan dan terkejut kala melihat seorang wanita dengan penampilan kacau tersungkur di hadapannya. Seorang jalang? Kenric terdiam untuk sejenak, berpikir mungkin memang wanita bergaun hitam itu adalah seorang jalang yang baru saja disiksa atau sedang berpura-pura untuk mendapat perhatiannya. Ya, mungkin saja, kan? Kenric memilih untuk acuh, bahkan tidak memberi respon apa pun saat sang wanita terlihat menatapnya dengan begitu putus asa. Jujur, Kenric sangat muak melihat wajah-wajah seperti ini. Wajah yang kadang patut dikasihani namun mengandung duri yang tersembunyi. Tidak mau berlama-lama, Kenric yang sedari awal sudah tidak menunjukkan kepeduliannya memutuskan untuk beranjak pergi. Namun tiba-tiba saja wanita itu langsung memeluk kakinya begitu erat lantas menelurkan kalimat yang membuat Kenric terdiam seketika. “T-tuan, kumohon menikahlah denganku.” Nadanya terdengar lirih, membuat Kenric seperti tersihir untuk beberapa saat sebelum kemudian menepis rangkulan tangan sang wanita. “Hah! Sinting! Kau pikir siapa dirimu berani-beraninya—” “Kalau begitu tidurlah denganku! Atau lakukan apa pun asal kau bisa menyelamatkanku.” Lagi dan lagi, perkataan itu sukses membuat Kenric tergugu. Bahkan sampai mengatai dirinya mabuk karena bisa-bisanya terdistraksi dengan hal seperti ini. “Ck! Caramu terlalu murahan, Nona! Kau tidak akan bisa—” “T-tolong aku, Tuan! Kumohon. Sebagai gantinya, aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan.” Tawaran itu terdengar menggiurkan di telinga Kenric. “Apa pun?” “Y-ya, apa pun!” Jawaban spontan yang keluar dari mulut Jiera entah bagaimana langsung membuat otak cerdas Kenric beroperasi. Tiba-tiba saja sebuah rencana terbersit dalam pikirannya. Ia memandang sekilas penampilan Jiera dan menilai jika wanita itu tidak buruk-buruk amat. Apa ini jawaban atas doaku tadi? Bersamaan dengan itu, suara-suara pengawal tuan Brown mulai terdengar mendekat. Membuat Jiera semakin merasa ketakutan. Ia kembali memeluk kaki Kenric. “C-cepat, Tuan. Kumohon selamatkan aku.” Kenric terdiam sesaat, seolah sedang membaca situasi yang terjadi. Namun sedetik kemudian, senyum miring tercetak sempurna dari wajahnya. Hingga dalam sekejap, Jiera yang tadinya masih bersimpuh kini sudah berpindah ke dalam gendongan Kenric. Jiera bahkan tidak sempat untuk menunjukkan keterkejutannya, sebab wajah tampan berdarah campuran Asia-Amerika itu seakan begitu menyihirnya. “Baiklah, Nona! Anggap hari ini kau sedang bertemu sosok iblis baik hati! Tapi kuharap setelah ini jangan menyesal karena hidupmu mungkin saja akan berada sepenuhnya dalam kendaliku.” *** “Dasar anak kurang ajar! Ke mana dia sampai sekarang belum datang?” Di atas meja makan mewah itu Helena bertumpu siku, menggerutu seraya menyumpahi Kenric yang belum juga menampakkan batang hidungnya. “Bagaimana? Apa dia mau menjawab panggilanmu?” Helena memalingkan wajahnya yang masih terlihat awet muda itu, memandang penuh harap pada sang cucu tertua yang duduk di kursi sebelah kanannya. Namun pupus ketika pria berkaca mata dengan ciri khas tahi lalat kecil di ekor kiri matanya itu menggeleng tipis. “Tidak, Nek. Dia bahkan mengabaikan seluruh pesanku,” jawab Ryuga penuh ketenangan. Sama sekali tidak terlihat panik apalagi gelisah seperti yang ditunjukkan sang nenek. “Aku yakin mau selama apa pun kita menunggu, Kenric sudah pasti tidak akan datang. Bukankah dia sudah terang-terangan menolak perjodohan ini?” bisik Miran, sang adik angkat yang duduk di sebelah Ryuga. “Apalagi kalau tahu calonnya macam wanita jalang itu,” lanjutnya sedikit mengeraskan intonasi suara seraya menatap sinis ke arah seberang meja. “Mana mungkin Kenric sudi. Iya, kan?” “Tolong jaga bicaramu, Miran! Jangan biasakan mulutmu membicarakan hal di luar kapasitasmu!” tegur Helena. “T-tapi itu benar kan, Nek? Kenric tidak mungkin setuju dijodohkan dengan wanita bar-bar seperti dia. Yang ada … Kenric pasti akan—” “Cukup! Dari mana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Dia saja belum—” “Yang dikatakan Miran itu benar, Nek!” sela Ryuga. Kini bukan lagi raut wajah ketenangan yang pribadi berambut mullet itu tunjukkan. Melainkan keseriusan yang mampu membuat Helena mengeratkan rahangnya. “Sejak awal kau sudah salah berpikir jika Kenric akan selalu menuruti kemauanmu. Sekarang dia sudah dewasa, aku rasa kau tidak lagi berhak mengatur apalagi memegang kendali kehidupannya. Dia bebas memilih untuk melakukan apa saja dan ya … jujur saja, aku merasa sangat kasihan dengan Kenric sebab sepanjang hidupnya selalu saja kau jadikan boneka untuk—” “Cih!” Helena mendecih menghentikan kalimat panjang lebar sang cucu. Dia mendongak, lantas balik menatap Ryuga dengan aura dominasinya. “Kau berbicara seolah-olah semua ini adalah salahku,” jedanya sembari menarik nafas. “Tapi apa kau lupa jika dirimu juga ikut andil dalam penderitaan yang dialami adikmu? Kalau saja sebagai kakak kau bisa sedikit berguna, adikmu mungkin saja tidak akan melalui takdir seperti ini.” “Karena sikap keras kepala dan pembangkangmu itu, secara tidak langsung kaulah yang memaksa Kenric untuk menanggung beban keluarga yang seharusnya dibebankan kepada dirimu sebagai cucu tertua. Tapi sekarang, dengan sok pahlawannya kau bertingkah seolah-olah peduli dengan nasib adikmu. Ck! Ke mana saja kau selama ini, Ryu?” Ryuga yang mendapat serangan bombardir itu langsung terdiam. Tidak menjawab apalagi membantah perkataan sang nenek. Sebab semua tuduhan itu memang benar adanya. Dia adalah sosok kakak pengecut, sosok yang sejatinya sangat tidak pantas menyandang gelar kakak. “Anggaplah kau beruntung karena selama ini Kenric sama sekali tidak pernah mengeluh. Bahkan dia seakan menikmati semua beban yang ditanggungnya. Jadi, jika kau masih belum bisa melakukan apa yang telah Kenric berikan pada keluarga ini, lebih baik tutup saja mulutmu.” Lagi-lagi Ryuga tidak membalas ucapan neneknya. Ia justru semakin tertunduk dan merasa semakin tidak berguna. Miran yang melihatnya pun ikut-ikutan merasa terintimidasi dan hanya mampu menenangkan Ryuga dengan menggenggam tangan sang kakak di bawah meja. Sedangkan di sisi seberang sana, sosok wanita yang sedari tadi menjadi sumbu awal ketegangan nampak tidak terusik sama sekali dengan perdebatan internal keluarga itu. Ia masih duduk tenang dengan posisi sempurna seraya fokus memotong daging steik medium-rare favoritnya. Berbalut gaun merah tali spaghetti yang membungkus indah tubuhnya, wanita itu nampak memejamkan mata sejenak, menikmati bagaimana indera pengecapnya bekerja dalam menilai makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Sampai sebuah panggilan berhasil menginterupsi ketika Helena kembali bersuara. “Lily ….” Panggilan lembut itu membuat mata Lily terbuka, ia lantas menoleh ke arah Helena lalu tersenyum tipis. “Ya, Nenek. Ada apa?” jawabnya tidak kalah lembut. "Maaf," lirih Helena. "Maaf telah menunjukkan perdebatan konyol ini di depanmu, dan maaf juga karena sampai jam segini Kenric belum juga—” "Tidak apa-apa, Nek. Jangan terlalu dipikirkan," balas Lily seraya menampilkan senyum mata bulan sabitnya. "Perdebatan dalam setiap anggota keluarga itu biasa dan untuk masalah Kenric ... aku sama sekali tidak marah jika dia memilih untuk tidak datang hari ini." "S-sungguh? Kau benar-benar tidak marah dengan kelakuan cucu kurang ajarku itu?" tanya Helena meyakinkan. Wajahnya yang tadi meredup kini mulai menunjukkan pancaran sinar saat Lily mengangguk untuk kedua kalinya. "Ya, Nenek. Lagipula, ada atau tidak Kenric malam ini, bukankah rencana perjodohan ini akan tetap berlangsung? Kuharap kau tidak lupa dengan janji yang telah kita sepakati." Sudut bibir Lily terangkat, menunjukkan ia begitu puas melihat perubahan raut wajah dari dua sosok yang membicarakannya tadi. Bahkan untuk beberapa saat, sorot manik legamnya sempat bersibobrok dengan si mata empat, Ryuga. Mendapati sebuah tatapan penuh ancaman seolah pria itu sedang bersabda—jangan macam-macam kau wanita iblis! Sekali kau berani mengusik Kenric, aku tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Namun Lily yang merasakan aura ancaman itu hanya merespon dengan senyuman tipis seakan balik membalas—memangnya kalau aku macam-macam kau mau apa? Mau menciumku? Cih! Tapi maaf-maaf saja ya, aku sama sekali tidak tergoda dengan bibir jelekmu itu. "Ya, tentu saja. Kau tidak perlu khawatir. Apa pun yang terjadi, perjodohan ini akan tetap berlangsung," balas Helena menginterupsi pertarungan batin kedua manusia beda jenis itu. Lily memalingkan wajahnya lebih dulu, tersenyum lalu mengucapkan terima kasih kepada Helena. Sementara Ryuga hanya bisa mendengus kesal dengan interaksi memuakkan itu. Sungguh, kalau ia memiliki sedikit saja kekuatan sihir, ingin sekali Ryuga menyihir Lily menjadi seekor bunglon. Sebab hewan itulah yang paling sesuai dengan karakter manipulatifnya. "Baiklah kalau begitu. Berhubung sekarang sudah terlalu malam, lebih baik kita akhiri saja pertemuan hari ini. Toh, Kenric sudah pasti tidak datang, kan?" Masih dengan mempertahankan lengkungan bulat sabit pada kelopak matanya, Lily sekali lagi memasukkan potongan terakhir daging steik ke dalam mulutnya. Mengunyahnya sebentar lalu diakhiri dengan tegukan tipis dari anggur merah. "Untuk nenek, terima kasih karena sudah mengundangku hari ini, juga terima kasih karena telah memberikan Kenric ... dan bukannya yang lain," lanjutnya seraya kembali melirik Ryuga. Tidak mau mengulur banyak waktu, setelah berpamitan sekilas dengan Helena, Lily kemudian melenggang pergi meninggalkan meja makan di rumah besar itu. Berjalan menyusuri lorong temaram yang menuntunnya menuju pintu utama. Akan tetapi, ketika baru saja ia menginjakkan kakinya di pelataran, sebuah tarikan dari arah belakang membuat tubuh wanita bergaun merah itu sontak berbalik dan mendapati Ryuga tengah menatapnya dengan raut wajah yang sulit ditebak. "Kumohon hentikan!" ujar pria berkaca mata itu kelewat datar. "Perjanjian apa pun yang telah kau sepakati dengan nenek, kuharap kau jangan melibatkan Kenric di dalamnya. Kau dengar sendiri kan tadi, selama ini dia sudah cukup menderita karena—” "Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Mengangkat satu alisnya, Lily terlihat santai kala menghadapi intimidasi Ryuga. "Kalau aku ingin Kenric terlibat kau mau apa? Mau menyentuhku? Merabaku? Atau mungkin kau mau meniduriku?" Sejenak, bisa Ryuga rasakan jika rahangnya sedikit berkedut menahan kesal. Perkataan wanita itu sungguh membuatnya ingin menghajar seseorang. Heran! Bisa-bisanya dia melemparkan kalimat-kalimat seduktif seperti itu. Namun, sebisa mungkin Ryuga begitu cepat dapat mengontrol emosinya lantas dengan tidak mau kalah ia balik menyerang. "Memangnya kau sendiri mau aku apakan?" tanyanya begitu enteng. "Ayo katakan saja! Aku cukup punya banyak pengalaman untuk bisa memuaskan nenek-nenek haus belaian seperti dirimu." "A-apa kau bilang! Nenek-nenek haus belaian!? Wah! Kurang ajar! Kau pikir setampan apa dirimu sampai—” "Ya, kenyataannya memang seperti itu, kan? Hanya nenek-nenek yang suka bergaul dengan sesama nenek. Dan hanya si nenek kurang belaianlah yang sampai harus meminta temannya untuk mencarikan pria sebagai pemuasnya. Bukan begitu?" Kali ini giliran Ryuga yang mengangkat sudut bibirnya, menyeringai kala melihat Lily kehabisan kata-kata. "Wah! Kau!" Lily terperangah. Jujur, untuk pertama kalinya ia merasa tercengang kala menghadapi seseorang. Selama ini, ia pikir Ryuga hanyalah si cupu dengan sifat benalunya. Siapa sangka jika pria itu ternyata memiliki bakat dalam bermain kata. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Tapi, bukan Lily namanya jika ia membiarkan dirinya kalah begitu saja. Dengan sedikit mengibaskan rambut hitam panjangnya, Lily mendekat ke arah Ryuga seraya mengangkat dagu penuh percaya diri. Kemudian, sedikit membelai kerah kemeja sang pria, ia tersenyum tipis lantas berbisik, "Jika aku adalah nenek-nenek kurang belaian, lalu kau anggap apa dirimu yang pecundang ini? Apa boleh aku sebut kau sebagai kakek-kakek pemuja si adik angkat?" "H-heh!" Seluruh tubuh Ryuga menegang, sementara Lily nampak menarik sudut bibirnya. Nah! Kena kau!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN