3. Sebuah Kesepakatan

1692 Kata
“Siapa namamu?” “Jiera Ellison Park.” “Umur?” “26 tahun.” “Sudah menikah? Atau punya kekasih mungkin?” “Tidak keduanya.” “Bagus. Lalu anggota keluargamu? Masih ada? Tinggal di mana?” “Ada. Aku masih memiliki ibu. Saat ini kami tinggal berdua di sebuah flat kecil dekat pinggiran kota.” “Oh!” Kenric terdiam untuk beberapa saat, mengamati lamat Jiera yang nampak begitu menggoda saat duduk di pinggiran ranjang dengan balutan kemeja kebesaran miliknya. Pria itu tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan pertanyaan. “Berat dan tinggi badanmu?” “Kalau tidak salah 49kg dan 165cm.” “Sedikit kurus, tapi tidak masalah. Menstruasimu lancar?” “Hah!” Jiera mengerjap kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan Kenric. “I-itu … y-ya.” “Bagus. Lingkar d**a dan pinggulmu berapa?” “Hah!” Lagi-lagi Jiera nampak kebingungan. Pertanyaan macam apa ini? “A-aku tidak tahu.” “Ck! Kenapa tidak tahu? Belum pernah fitting baju sebelumnya?” “P-pernah. Tapi aku tidak mengetahui sampai sedetail itu. Maaf.” “Oke. Tidak masalah. Biar nanti aku yang akan mengukurnya sendiri.” Jiera semakin menganga. Sumpah! Demi kerumitan misteri dunia pararel yang sulit dimengerti, ternyata memahami pikiran seorang Kenric Matsui jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Jiera bahkan tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka pagi ini. “Ehm … Jiera Ellison, ya?” Kembali terdengar Kenric bersuara. Namun kini hanya sebuah gumaman kecil seakan ia tengah menerka makna tersembunyi dari nama yang tidak terdengar asing itu. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Jiera menggeleng, tidak membenarkan pertanyaan Kenric. Walaupun Jiera telah mengetahui siapa itu sosok Kenric Matsui, tapi Jiera bersumpah jika kemarin adalah pertama kalinya ia bertatap muka langsung dengan pengusaha terkenal itu. “Oh, tidak pernah, ya? Tapi kenapa aku seperti pernah mendengar namamu?” “Kurasa kau mungkin mengenal ayahku. Sebelum meninggal beliau adalah seorang pengusaha. Namanya Brandon Ellison.” “Ah! Pantas saja!” Kenric akhirnya menemui jawaban atas ketidakasingannya. Ternyata Jiera adalah anak dari Brandon Ellison. Pengusaha jaringan perhotelan yang telah bangkrut beberapa tahun lalu. “Kurasa Brandon pasti sangat menyayangimu sampai-sampai dia tidak pernah memperkenalkanmu ke muka publik sebelumnya.” “Y-ya … bisa dibilang seperti itu. Dulu ayah memang sedikit overprotektif.” “Oke, tidak masalah. Aku sama sekali tidak keberatan kau berasal dari mana. Entah kau anaknya Brandon atau anak alien sekali pun, yang jelas permintaanku hanya satu. Isi surat perjanjian itu harus mampu kau patuhi dengan baik. Bisa?” Perkataan Kenric mau tak mau membuat mata Jiera melirik ke arah lembar kertas perjanjian yang tadi sempat ia baca. Perjanjian yang memintanya untuk menjadi istri pura-pura dari sang pengusaha tampan itu. Jiera terdiam selama beberapa detik, sebelum mengangkat wajah menatap Kenric yang duduk begitu gagah di kursi sofa dekat ranjang mewah tempat Jiera terdiam saat ini. Bisa terlihat jelas ada banyak keraguan yang menyelimuti pikiran Jiera. Tapi demi sebuah perlindungan akan bahaya lain yang mengintai di luar sana, Jiera tidak punya pilihan lain selain melenturkan pergelangan dengan membubuhkan sebuah ukiran tanda tangan di atas kertas bermaterai itu. ‘Pihak kedua berkewajiban harus mengikuti perintah pihak pertama tanpa terkecuali, dan pihak pertama berkewajiban untuk memberi pihak kedua sebuah perlindungan baik itu secara mental maupun materi.’ Sejenak Jiera menyempatkan kembali membaca salah satu poin terpenting dari perjanjian itu, sebelum kemudian memasukkannya ke dalam map dan meletakkannya di tempat semula. Baiklah, Jiera! Kau sudah memutuskannya, jadi jangan pernah menyesali apa pun yang akan terjadi di masa depan! “Wow. Tidak kusangka kau bisa secepat itu memberikan tanda tanganmu.” Kenric terlihat takjub dengan keputusasaan Jiera. “Apa kau tidak ingin lebih dulu mengetahui detail setiap poin dari perjanjian yang kuberikan?” “Bukankah isinya sudah jelas? Menjadi istri pura-puramu dan melakukan semua … perintahmu,” jawab Jiera sedikit tersendat di akhir kalimatnya. “Wah! Mengagumkan!” gumam Kenric. “Kurasa Tuhan memang sengaja mengirimmu—” “T-tapi kalau diizinkan, apa aku boleh mengajukan satu pertanyaan?” sela Jiera membuat ucapan Kenric terhenti. Kenric mengangguk. “Katakanlah.” “Ehm … i-itu … mengenai pertanyaan yang sempat kau ajukan tadi. B-bolehkan aku tahu apa hubungannya perjanjian kita dengan jadwal … tamu bulananku?” Jujur, ingin rasanya Jiera mengubur dirinya hidup-hidup. Sungguh ia benar-benar sangat malu. Terlebih ketika Kenric justru tertawa kala mendengar pertanyaannya. “J-jangan salah paham dulu. M-maksudku bertanya seperti itu hanya ingin memastikan, apakah perintah yang harus aku patuhi termasuk dengan—” “Melayaniku di tempat tidur?” Kini giliran Kenric yang menyela dan Jiera hanya bisa mengangguk kikuk karenanya. “Kenapa memangnya? Ada masalah dengan perintah yang satu itu?” tanya Kenric terdengar menggoda. “Bukankah kemarin kau secara sukarela menawarkan tubuhmu untuk aku tiduri?” Wajah Jiera seketika memerah. Memikirkan kenekatannya tadi malam membuat ia benar-benar sangat malu. “Y-yang tadi malam itu ….” Kenric kembali tertawa. Entah kenapa ia gemas sendiri melihat raut malu-malu yang Jiera tunjukkan. “Astaga! Aku tidak menyangka jika anaknya Brandon Ellison ternyata selugu ini,” ujarnya disela tawa yang tidak bisa Kenric hentikan. “Tapi kau tenang saja, Jiera. Sejauh rencana yang sudah tercipta di dalam otakku, membawamu berada di bawah tubuhku sesungguhnya belum terbersit sama sekali. Aku tidak berpikir melibatkanmu sampai sejauh itu.” Terlihat ada bias kelegaan yang terpancar dari wajah Jiera. Walaupun kemarin ia terlihat begitu pasrah saat memohon pada Kenric, tapi percayalah, di saat kewarasaannya kembali, Jiera hanya bisa bergidik ngeri dengan ucapan konyolnya. “Lalu, maksud dari pertanyaanmu tadi, bagaimana?” tanya Jiera kembali. “Hanya untuk jaga-jaga,” jawab Kenric yang sama sekali tidak Jiera mengerti. “Begini, bisa dibilang nenekku adalah spesies langka yang tidak bisa ditebak pergerakannya. Bahkan oleh cucunya sendiri. Jadi aku jaga-jaga jika nanti dia akan menanyakan hal nyeleneh itu kepadamu.” “Ah, seperti itu rupanya.” Untuk kesekian kalinya Jiera terlihat menghembuskan nafas lega. “Tapi …, " lanjut Kenric membuat tubuh Jiera kembali menegang. “Jika suatu hari nanti keadaannya berubah di luar kendaliku, opsi membawamu ke tempat tidur mungkin bisa saja terjadi.” Seperti sebuah balon yang meledak di udara, Jiera merasa asanya yang sudah melambung tinggi kini dipaksa untuk terhempas begitu saja ke dasar bumi. Wajahnya kembali berubah pias dan itu benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi Kenric. Dia manis juga kalau sedang panik seperti itu. “Bagaimana? Kau keberatan? Masih belum terlambat jika ingin membatalkannya. Aku bisa menyerahkanmu kembali pada si tua bangka Brown—” “Oke. Tidak masalah!” jawab Jiera cepat. “Apa pun itu aku akan mematuhi segala perintahmu. Asal kau tidak ingkar dalam melindungi dan menjaga aku serta ibuku.” Kenric tersenyum puas. “Tentu, sesuai janjiku, Nona.” Kenric kemudian bangkit dari duduknya, mendekat ke arah Jiera dan sejenak memeriksa luka lebam yang tercetak jelas di sudut bibir sang wanita. “Baik. Kuanggap pembicaraan kita sudah menemui titik temu. Sekarang lebih baik kau mandi dan ganti pakaianmu dulu,” jeda Kenric seraya menunjuk paper bag berisi baju ganti yang ia telah siapkan sebelumnya. “Kau tidak ingin kan opsi menidurimu aku lakukan hari ini sebab tergoda dengan sesuatu di balik kemeja kebesaran itu?” Jiera melihat sekilas arah sorot pandangan Kenric dan sontak langsung menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Jika diizinkan untuk mengumpat, ingin rasanya ia menyumpahi pribadi bertubuh kekar itu dengan serangkaian kata-kata binatang. Bisa-bisanya Kenric menggoda kelewat sadis sampai membuat semburat merah di pipi Jiera muncul tidak tahu malu. Aish! Tali mana tali? Kenric menarik sudut bibirnya puas lantas mengacak puncak kepala Jiera sebelum pria itu memutuskan keluar dari kamar apartemennya. “Kalau sudah selesai, keluarlah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.” *** “Kau yakin dengan rencana ini?” tanya Ryuga menatap Kenric penuh sangsi. “Maaf, bukan maksudku meragukanmu, tapi … kau tahu nenek, kan? Dia pasti akan—” “Aku tahu, Ryu. Maka dari itu aku akan memastikan jika semua ada dalam kendaliku. Surat pernikahan palsu serta yang lainnya, aku akan membuatnya terlihat seasli mungkin. Bahkan bila perlu berkasnya akan ada di catatan sipil. Jadi tidak akan ketahuan walaupun nanti nenek menyelidikinya.” Sejujurnya, Ryuga memang tidak pernah meragukan sikap detail yang Kenric miliki. Dia tahu sang adik pasti sudah memikirkan sampai sejauh itu. Namun yang menjadi pikirannya saat ini justru adalah sosok wanita yang sedari tadi duduk di meja makan. Agaknya ada rasa iba yang Ryuga siratkan jika harus melibatkan sosok polos seperti itu ke dalam masalah keluarganya. “Bukan itu, tapi dia,” balas Ryuga seraya melirik ke arah Jiera. “Kau mungkin bisa menghadapi nenek, tapi kalau dia ….” “Kenapa? Dia sudah menyetujuinya. Iyakan, Ji?” Jiera hanya mengangguk tipis. Tidak berniat untuk membuka mulut dan ikut menginterupsi percakapan Kenric dengan seseorang yang ia ketahui sebagai kakak dari pria itu. Dia memilih untuk diam dan tetap menikmati sarapan yang disiapkan Kenric untuknya. “Iya, aku tahu. Tapi—” “Kau tenang saja. Aku yakin rencana ini akan berhasil. Dan masalah bagaimana Jiera menghadapi nenek, aku akan melatihnya sendiri. Aku pastikan nenek tidak akan berkutik kali ini.” Sorot mata Kenric memancar penuh keyakinan. Kali ini ia tidak akan membiarkan misinya gagal. Karena mau bagaimanapun, ia tidak mau jika sisa hidupnya dihabiskan untuk mengikuti keinginan sang nenek menikah dengan wanita pilihannya itu. “Kudengar dia si penyihir itu, kan?” “Siapa?” “Wanita pilihan nenek. Kemarin Miran memberitahuku.” Ryuga mengangguk. “Ya, siapa lagi. Entah kenapa nenek bisa begitu terpikat dengan wanita bar-bar seperti dia. Padahal kalau di pikir-pikir dia bukanlah orang yang berasal dari kalangan atas. Asal-usulnya pun tidak jelas.” Pun Kenric tidak bisa menjawab. Dia bahkan tidak pernah tahu bagaimana sang nenek mengenal wanita itu bahkan nekat untuk menjodohkannya. “Entahlah,” jawabnya kemudian. “Bagi nenek mungkin dia yang terbaik, tapi bagiku selamanya dia akan menjadi orang jahat. Dan tidak akan pernah berubah.” Keduanya kompak terdiam. Seolah sedang mengenang sekelibat ingatan pahit yang tidak bisa diceritakan. Pun begitu dengan Jiera. Dari percakapan samar yang ia dengar, bisa dipastikan jika tugas menjadi istri pura-pura seorang Kenric Matsui tidaklah mudah. Pasti ada banyak hal yang akan Jiera hadapi setelah ini. Sang nenek? Wanita itu? Ah! Entahlah! Mendadak hati Jiera kembali bimbang. Apakah keputusan yang aku ambil sudah benar, Tuhan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN