“Inget pulang kamu.”
Gadis dengan kaos merah tuanya itu menghentikan langkahnya dan menatap wanita yang kini sedang duduk dengan nyaman di sofa. Tatapannya sinis dengan senyum miring yang tercetak jelas. Seolah mengatakan jika ia tidak mungkin pulang tanpa alasan. Namun terlalu malas berdebat dengan wanita berumur itu. Sebab hanya akan menghabiskan waktu yang cukup panjang juga tenaga yang begitu besar. Fera cukup paham dengan gaya berdebat Mamanya yang tidak akan ada yang berani melawan. Wanita itu akan selalu menang.
“Gimana? Lebih puas dari Papa? Secara dia lebih muda, kan?” Tanya Fera dan berlalu. Ia tak sengaja melihat seorang lelaki yang kini sedang membuat kopi di dapur rumahnya. Ah, bukan. Rumah keluarganya. Bukan rumahnya. Sejak kapan ia menjadi pemilik rumah ini? Dan sejak kapan ia menjadi anggota dalam rumah ini?
Brak.
Senyum Fera semakin mengembang begitu mendengar suara majalah yang dibanting dengan keras. Memang hanya situ aja yang punya mulut tajam? Maaf, ya. Fera juga punya.
“Dari kapan kamu pulang? Kok gak telepon Kakak?”
Fera menolehkan kepala dan mengernyit. Bagaimana bisa lelaki itu ada di sini?
“Ngapain di sini? Kakak udah cerai juga?” Tanya Fera asal. Fero yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepala lalu melangkah memasuki kamar adiknya. “Dia yang katanya suka sama Mama? Kenapa gak suka sama aku aja? Aku lebih cantik. Emang gak kaya sih.”
“Hus! Kalau ngomong suka ngada-ngada.”
“Loh, emang bener, kan? Aku lebih muda dan lebih seger. Masih segel juga. Mama kan udah—“
“Fera, Kakak beneran marah kalau kamu masih terusin kalimat kamu,” ancam Fero yang berhasil membuat Fera diam. Namun tak urung gadis itu berdecak sebal. Bukan tanpa alasan gadis itu menuruti ucapan Fero. Ia juga melihat siluet Mamanya yang ada di depan pintu.
“Kakak ke sini cuman pengen jagain aku?” Tanya Fera seraya membuka lemari dan mengeluarkan koper berwarna ungu dari dalam sana. Membukanya dan mengeluarkan isi lemari sebelah kanan yang di mana berisi baju-bajunya yang selalu ia pakai untuk di rumah. Kebanyakan baju kebesaran dengan celana training hitam. Sisanya berisi dalaman dan juga kemeja putih.
“Nggak. Kebetulan Mama mau kenalin dia juga sama Kakak,” jawab Fero apa adanya. Fera tertawa. Gadis itu menggelengkan kepala dengan tangan yang melipat asal bajunya sebelum ia masukkan ke dalam koper.
“Mau dikenalin? Mama beneran udah gak waras, ya? Harusnya setiap hari kita rayain ulang tahunnya. Biar sadar sama umurnya.”
“Fera!” Bentak Fero seraya menarik tangan Fera dengan keras. Lelaki itu menatap tajam Fera yang kini tersentak. Gadis itu menatap Fero dengan tatapan tak percaya. Sebentar, apa ia tidak salah dengar? Fero baru saja membentaknya? Lelaki yang selalu menjaga dan juga mengatakan kata-kata sayang itu kini menatapnya dengan tajam.
“Oh, wow! Kakak sekarang nyatu sama Mama?” Tanya Fera seraya bertepuk tangan. Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali. Sungguh, ia tidak menyangka lelaki ini akan benar-benar menjadi sekutu Mamanya. “Kenapa? Papa udah gak kasih perusahaan sama Kakak lagi? Atau sebenarnya yang deket sama Mama itu temen Kakak?”
“Kamu makin ngawur! Bisa diem gak?”
“Aku? Bisa diem apa nggak?” Tanya Fera seraya menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu menatap tak percaya Fero. Sebelum akhirnya dengan gerakan cepat gadis itu melayangkan tinju ke arah wajah Fero. Sayangnya, gerakannya terlalu lambat. Membuat lelaki itu bisa melihatnya dan menangkis gerakan Fera dengan tangannya yang lain.
“Gak semua masalah bisa diselesaikan sama pukulan! Gak semua masalah bisa diatasi sama kekerasan.” Fero membawa adiknya untuk duduk di atas kasur. Ia terlihat tenang. Tidak terlihat takut atau merasa kesal dengan perbuatan adiknya. Malah sebaliknya, lelaki itu merasa bahagia melihat Fera yang berhasil masuk ke dalam rumah dan berani masuk ke dalam rumah seorang diri. Sebuah peningkatan yang sangat pesat.
“Kalau masalah gak bisa diselesaikan sama kekerasan. Kenapa Mama sama Papa gak pernah bicara baik-baik?”
“Fer..”
“Buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Kalimat yang bukan satu atau dua kali kita denger, Kak. Hebat banget Kakak bisa tahan dan mau dikenalin sama dia yang bahkan sama sekali gak tahu mana yang tua dan mana yang muda. Buta kali matanya. Cariin donor sana.”
“Fera, denger. Kalau kamu mau terus kaya gini, kamu gak akan bisa ngerti sama semuanya.”
Fera mengedipkan matanya beberapa kali. “Oke, Kakak paham sama semuanya, kan? Kalau gitu, lepasin tangan aku. Aku gak ngerti dan gak akan mau ngerti masalah apa yang terjadi di sini. Mau ada drama dia ternyata donorin sebelah ginjalnya buat Mama kek, atau gak jadi nikah kek—“
“Iya.”
“Bu—apa?”
“Kalau Mama batalin pernikahan itu, kamu mau pulang?” Fera melihat ke arah pintu. Di mana sang mama kini berdiri seraya bersedekap. Wajahnya yang terlihat datar dengan mata yang menatap kosong itu kini menghadap ke arah Fera. Yang mana bisa Fera lihat dengan jelas bagaimana wajah Mamanya saat ini. Tapi satu hal yang Fera tidak mengerti. Apa wanita itu tidak bisa memasang raut wajah yang lebih meyakinkan? Seperti menangis atau merasa bersalah? Atau merasa jika memang ini kebenaran yang sangat mengejutkan? Kenapa wajahnya tidak ada ekspresi sama sekali? Bagaimana bisa Fera percaya dengan semua itu?
“Seperti yang kamu dengar. Mama bakal batalin pernikahannya selama kamu mau pulang. Sekalipun dia udah kasih sebagian hidupnya buat Mama.”
“Oh, pantes Mama masih hidup. Ya udah, biayain aja. Gak papa, kok. Yang penting Fera gak ikut-ikutan dramanya. Lanjutin aja nikahnya, gak papa,” jawab Fera santai. Gadis itu melepaskan tangan Fero dan mulai kembali mengemasi baju-bajunya ke dalam koper.
“Apa gak bisa kamu diam di sini dan dengarkan semuanya?”
Fera menutup kopernya dan menatap wanita yang kini berjalan mendekat itu dengan tatapan remeh. “Apa? Fera gak bisa denger Mama bilang apa. Dengerin semuanya? Dari awal? Dari kalian yang selalu bilang kalau Fera bukan anak kalian, kan? Cuman sumbangan s****a Papa aja. Bagian mana yang harus Fera denger, Ma? Bagian mana? Anak aja bukan. Ngapain denger kaya begitu. Gak akan ada gunanya.”
Fera menarik kopernya dengan satu hentakan. Membuat Mamanya dan juga Fero menghela napas bersamaan. Entah harus bagaimana lagi membujuk Fera agar gadis itu mau mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Terlalu sulit dan sedikit berbahaya menceritakan semuanya pada Fera dalam waktu yang singkat. Belum lagi Fera sedikit tempramental. Menambah kesulitan yang harus dipecahkan oleh Fero sekarang.
“Mama harus gimana?” Tanya Kamelia dengan wajah jengahnya. Wanita itu mengusap wajahnya dengan kesal.
“Semua masalah aja gak pernah libatin Fera. Gimana dia mau percaya sama Mama? Dan apa tadi? Kenapa muka Mama datar banget, sih? Gak bisa apa kasih sedikit emosi?” Tanya Fero yang ikut kesal dengan perbuatan Mamanya. “Mana mau Fera percaya kalau Mama aja kaya triplek.”
“Dari dulu gini, Kak. Gak usah ngejudge Mama.”
“Tapi, Ma. Mama beneran bakal nikah lagi? Dan sama dia?” Tanya Fero dengan wajah yang kut khawatir.
“Emang apa salahnya sih?”
“Tuhan. Mama kayanya emang harus dirayain ulang tahunnya setiap hari.”
***
“Udah?”
Fera mengangguk. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkan Gean memasukkan kopernya ke dalam. Gadis itu lalu menarik sebuah kotak rokok yang berada di dashboard sebelum mencari pematik. Yang sayangnya tidak ada sama sekali. Ia yakin Gean membawanya dan mengetahui jika ia akan merokok. Berdecak pelan, Fera lihat ke belakang. Gean tersenyum miring dan mengedip. Sesuai dugaanya. Gean membawa pematik itu.
“Kenapa? mau ngerokok, hm?” Tanya Gean seraya menutup pintu mobil. Lelaki itu menatap gemas Fera yang kini bersedekap dan menatap ke depan. Tidak menjawab Gean yang sudah hampir tertawa.
“Gue butuh penenang. Udah siniin kenapa sih?!” kesal Fera yang sama sekali tidak direspon dengan baik oleh Gean. Lelaki itu malah menaruh dagunya pada tangan Fera yang tersodor meminta pematik api.
“Geandra…”
“Apa, Sayang?” Panggil Gean yang malah mendapat putaran malas dari mata Fera. Gadis itu menarik kembali tangannya yang hampir saja membuat Gean menjatuhkan dagunya ke bawah. Untung ia sigap menahan kepalanya. Matanya menatap Fera yang kini tampak sedang tidak mood diajak bicara dengan baik. Dan sepertinya ia tidak boleh menyenggol Fera sama sekali. Tapi untuk pematik. Gean tidak akan memberikannya bagaimanapun sikap Fera yang mungkin saja kesal setengah mati. Ia tidak peduli. Fera tidak perlu atau mungkin jangan sampai merokok untuk saat ini. Gadis itu akan menggila bahkan bisa menghabiskan setengah kotak rokok jika sedang dalam keadaan mumet. Dan memberikan pematik pada gadis itu berarti membuat Fera mati secara perlahan.
“Mau pulang ke rumah gue gak? Sekalian liat Mama,” ujar Gean yang mulai kembali membuka percakapan setelah sebelumnya terdiam cukup lama.
“Gue lagi gak mood ketemu orang,” jawab Fera seraya memejamkan matanya. Langit malam membuatnya mudah sekali terlelap. Belum lagi hari ini begitu banyak hal terjadi. Fera jadi sangat tidak menyukai hari-hari yang membosankan lagi melelahkan. Ia menyukai hari-harinya yang biasa saja seperti biasa. Atau mungkin hari-hari tanpa terkurasnya emosi terlalu banyak. Padahal uang sudah punya, rumah ada, pendamping ada, dan semua kebutuhan terpenuhi. Apalagi yang kurang? Sampai-sampai ia benar-benar merasa sesuatu kosong di hatinya?
Keluarga?
Memang sudah lama kosong dan tidak ada peran itu dalam hati Fera. Jadi untuk apa membahas hal yang sama sekali tidak diterima di hatinya itu?
Gean yang ada di sebelah Fera menolehkan kepala begitu suara decakan Fera tidak lagi terdengar. Rupanya gadis itu tertidur. Wajahnya yang polos dengan kening yang masih mengernyit itu terlihat sangat tenang. Dengan inisiatif kecil, Gean mengecup kening Fera. Membuat lipatan yang akhir-akhir ini terlihat itu memudar secara perlahan. Wajah Fera sangat tenang dan begitu damai. Seolah tidak ada yang akan mengganggunya dan tidak akan ada yang membuat beban di hatinya.
Menarik senyum manisnya, Gean usap pipi gadis itu sebelum mengecupnya kecil. “Selamat tidur, Nyonya,” bisiknya yang mendapat erangan kecil dari Fera karena merasa tidurnya terganggu.
Gean melirik sebentar jam tangannya. Sudah hampir pukul 9 malam. Pantas saja gadis itu sudah merasa lelah. Batas tubuhnya sudah habis. Dan Gean sudah tahu jika Fera memang sedang dalam kondisi yang tidak baik. Saat berciuman di depan kedai soto saja, Gean bisa merasakan napas Fera yang menghangat. Ditambah dengan tubuh gadis itu yang beberapa kali terasa lebih panas. Bukan karena aktivitas keduanya. Gean tahu hal itu. Fera bukan gadis dengan tubuh yang baperan. Tapi melihat wajah Fera yang pucat saat masuk ke dalam rumah, meyakinkan Gean jika memang gadis itu sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Memutar stir untuk memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah orang tuanya, Gean lalu mengklakson sekali. Pak Purna yang saat itu baru saja menjemput Rian langsung menghampiri Gean dan mengetuk kaca mobil lelaki itu.
“Ada apa, Mas Gean?”
“Saya kayanya gak bisa masukin mobil. Pak Purna bisa masukin mobil ke dalam? Saya juga minta sama yang lain buat antar koper di bagasi ke dalam ya, Pak.”
“Nggih, Mas. Nanti saya sampaikan,” jawab Pak Purna dengan sopan. Gean mengangguk lalu membuka pintu mobil. Lelaki itu dengan cepat memutari mobil dan membuka pintu di sebelahnya. Memperlihatkan Fera yang masih tenang dengan tidur malamnya. Merasa jika Fera sudah benar-benar pulas, Gean langsung menyelipkan tangannya di antara leher dan juga belakang lutut gadis itu. sebelumnya ia sudah mengatur tangan Fera agar berada di lehernya.
“Engghh, masih pagi. Masih mau tidur, Gean…”
Gean menahan tawanya mendengar suara Fera yang sedang mengigau. Lelaki itu lalu mengangguk pada Pak Purna seraya membawa Fera masuk ke dalam rumahnya. Beberapa tangga mampu memabut Gean sedikit kelelahan. Tubuh Fera memang kecil, tapi gadis itu sedikit berat jika sedang tidur dan digendong begini. Fera tidak bisa diam. Entah mencari dadanya atau menenggelamkan kepala ke lekukan lehernya, atau mungkin memeluknya erat. Hal itu sduah biasa Gean terima. Tapi masalahnya tangga rumahnya ini bukan satu dua saja. Depan saja sudah ada sembilan tangga. Belum nanti di dalam. Gean sudah yakin kakinya akan langsung tremor setelah menidurkan bayi besar ini.
“Ge dari mana aj—“
Gean menatap tajam Rian yang baru membuka pintu. Lelaki itu membulatkan matanya meihat siapa yang kini tengah Gean bopong. Matanya ikut menatap tajam Gean yang malah dibalas dengan senggolan kasar dari Gean.
“Lo harus—“
“Diem bocah! Ini berat!” Kesal Gean dan berjalan dengan langkah lebar untuk segera menidurkan Fera. Tubuhnya juga sebenarnya lelah. Tapi ia tidak tega untuk membangunkan Fera yang terlelap dengan tenang.
Tidak berbeda jauh dengan reaksi Rian, Riana dan Angel yang saat itu berada di ruang keluarga juga ikut menatap syok pada Gean yang berjalan dengan perempuan di gendongan lelaki itu. Riana bahan sampai menyusul anaknya untuk meminta penjelasan. Wanita dua anak itu meminta Angel untuk menemaninya mengintrogasi Gean nanti.
“Itu, Fera kan?”