Ch. 9 (HH)

2286 Kata
Sekarang. “Gue kira lo gak bakal datang.” Gean keluar dari mobil dan tersenyum. Lelaki itu mengusap kepala Fera sekali sebelum akhirnya menyematkan kecupan pipi. Membuat Fera terkikik geli dan mendorong lelaki di depannya ini. “Masa keinginan Nyonya gak dikabulkan,” ujar Gean yang dibalas dengan cebikan dari mulut Fera. “Gue pamit ke dalem dulu. Lo tunggu di sini aja,” pesan Fera yang langsung diangguki Gean dengan semangat. Lelaki itu menatap Fera yang menjauh. Tubuh besarnya bersandar pada mobil seraya bersedekap. Sesekali tangannya memainkan kunci mobilnya. Yang mana mengundang tatapan mata dari para pegawai kantor lain yang tak sengaja berpapasan dengan Gean. Lelaki itu terlihat sangat tenang dengan kunci dan juga mobil. Seolah apa yang sedang ditunggunya akan kembali dengan cepat. “Kak, boleh minta foto?” Tanya seorang gadis dengan kemeja yang sama dengan yang dipakai Fera. Gean mendelik kecil sebelum menatap kembali ke dalam pintu restoran. “Dih, dingin banget.” “Gue bukan artis. Gak usah minta foto,” judes Gean yang berhasil membuat dua gadis yang sempat mendekat itu mendecih dan pergi. Sedangkan Gean hanya mengedikkan bahunya acuh. Matanya kembali menatap pintu restoran yang kembali terbuka. Di sana Fera keluar bersama dengan seorang lelaki. Dan Gean tahu siapa itu. Derren. “Gue gak bisa lama-lama,” ujar Fera dengan nada kesalnya. “Gue juga udah bilang dari awal.” “Ya gak gini juga, Fer. Kita baru mesen makanannya, lho… sama sekali belum makan. Lo juga cuman minum jus aja, kan?” “Gue udah datang sesuai yang lo mau. Jadi, gak usah paksa gue dengan hal yang lain.” Fera menghempaskan tangan Derren yang kini menggenggam tangannya. Gadis itu menatap jengah Derren yang kini tampak menatapnya dengan melas. “Gua udah bilang juga sama Kakak lo. Dia izinin lo lama di sini. Gak enak sama yang lain, Fer,” bujuk lelaki itu tak ingin kalah. Sesaat Derren melihat ke arah lelaki jangkung yang kini tersenyum miring. Membuat wajah kesal Derren tidak bisa lagi ditutup-tutupi. “Sekalian bilang kalau gue gak makan. Gue gak peduli,” sarkas Fera sebelum berjalan dan menghampiri Gean yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu masuk ke dalam dan meninggalkan Derren yang menggeram marah bersamaan dengan tatapan matanya yang menatap tajam Fera juga Gean. Memutar kunci di tangannya dengan gerakan pelan, Gean memiringkan wajahnya saat Derren menatapnya penuh amarah. “Gua menang!” Ujarnya tanpa suara dan tersenyum miring. Derren yang melihat itu tidak bisa untuk tidak menatap tajam Gean dan menghampiri lelaki itu. Namun belum jauh Derren melangkah, mobil yang Gean kendarai mulai mundur dan menjauh dari parkiran restoran. Derren mengepalkan tangannya melihat itu. Ia memang kalah telak kali ini. Tapi di lain wkatu, ia tidak akan kalah dan Derren bisa pastikan jika Fera akan bertekuk lutut padanya. Bagaimana pun caranya. Ia akan menjadikan Fera sebagai satu-satunya miliknya. Harus dan tidak boleh ada yang mengambil. Fera adalah miliknya. Gadis langka itu harus menjadi kekasih atau mungkin istrinya. Dengan posisi yang saat ini ia pegang, ia tidak akan gagal mendapatkan Fera. Tidak akan gagal. Tunggu saja, Gean. Waktu main yang ditentukan belum dimulai. Gean boleh memiliki Fera. Tapi Derren memiliki kelemahan dan keluarga gadis itu. digenggamannya ada harapan yang mungkin harus Fera dapatkan. Dan dengan itu, akan ia pastikan jika Fera akan kembali padanya. Sedangkan di dalam mobil, Fera dan Gean hanya bisa tertawa. Merasa bahagia melihat wajah kesal Derren dan juga kepalan tangan lelaki itu yang membuktikan jika ia ingin sekali menyerang Gean saat itu juga. Hal yang sama sekali tidak pernah Gean pikirkan jika Derren bisa semarah itu. Karena biasanya lelaki yang memiliki seribu macam omongan itu akan kalah hanya dengan tatapan maut dari Gean. Mungkin sekarang keberanian lelaki itu mulai muncul. Dan Gean tidak boleh diam saja. Akan sangat berbahaya jika Derren mengajaknya bertarung dan Rian mengetahui hal itu. Apalagi jika Mamanya yang tahu. Gean memilih angkat tangan. “Lagian tumben banget lo mau ikut acara kaya gituan,” seru Gean setelah merasa puas tertawa. Fera hanya mengedikkan bahunya acuh. Gadis itu tanpa malu membuka kemejanya dan menggantinya menjadi kaos biasa. Yang mana jelas membuat Gean membulatkan mata dan melihat sekitar yang kosong. Apa gadis itu sudah gila? Bagaimana jika ternyata ada pengendara lain yang melihat? “Kenapa?” Tanya Fera sok polos. Gean yang mendengar itu ingin sekali memukul kepala Fera saat ini juga. Apa gadis itu sudah benar-benar gila?! “Lo masih nanya kenapa? lo masih waras gak, sih? Kalau ada yang liat gimana, b**o!” Ucap Gean seraya mengatur napasnya yang memberat karena kesal. Ya, karena kesal? “Gak ada, kok. Gue juga udah liat-liat.” “Lo gak bisa kaya gitu di mobil orang, Fera!” peringat Gean geram. Fera hanya mengangguk patuh sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah permen karet dari dalam sakunya dan menguyah permen itu. Melihat Gean yang masih terlihat kesal, membuat Fera mendengkus. Lelaki itu terlalu khawatir. Atau sebenarnya Gean bukan khawatir orang lain akan melihatnya. Melainkan khawatir jika lelaki itu sendiri yang akan mebuat Fera tidak sadar di dalam mobil? “Buka mulut lo,” ujar Fera yang membuat Gean mengernyit namun tak urung membuka mulutnya. Satu buah permen karet Fera masukkan ke dalam mulut lelaki itu. Membuat Gean berdecak sebal. “Gue tahu gue salah. Gue minta maaf.” “Hmm,” jawab Gean marah. Lelaki itu mengunyah permen karet yang Fera suapi tadi. Membuat rasa manis itu menyebar ke seluruh mulutnya. Salah satu rasa kesukaannya rasa stoberi. “Lo gak lupa kalau kita mau ke rumah dulu, kan?” Tanya Fera saat melihat Gean yang membelokkan stirnya. “Gak laper?” Tanya Gean singkat dan memberhentikan mobilnya di depan kedai soto yang ada di pinggir jalan. Mematikan mesin mobilnya, Gean melirik Fera yang kini hanya tersenyum. Gemas dengan senyum Fera yang langka itu, Gean mengusap bibir Fera dengan tangannya dan mengecup ibu jarinya yang baru mengusap bibir gadis itu. “Kalo Rian tahu kelakuan lo kaya gini, apa yang bakal dia bilang ya?” Tanya Fera seraya menarik dasi lelaki di depannya. Gean mengangkat halisnya dan menatap Fera dengan wajah jahilnya. “Kira-kira, apa yang dipikirin sama Angel kalau liat lo yang ganas gini?” Tanya Gean seraya menatap wajah Fera yang dekat dengannya. Gadis itu menarik kembali dasi Gean yang memang belum dilepas. Sebab saat menjemput Fera, pakaiannya masih lengkap dan saat pulang ke rumah, ia terlalu malas mengganti pakaian. Apalagi saat tahu jika Rian akan datang. Rasa malasnya semakin menguat. Dan ternyata, rasa malas berganti pakaian itu cukup ampuh. “Dia bakal heboh, maybe?” bisik Fera sebelum akhirnya mengecup kecil bibir kehitaman Gean yang ada di depannya. “Kecup doang?” Tanya Gean dengan wajah memelasnya. Fera yang melihat itu tersenyum miring. Wajah Gean persis seperti kucing yang minta dielus. “Gue laper. Dan lo bibir ini gak bisa buat gue kenyang,” ujar Fera dan melepaskan tangannya dari dasi Gean. Namun sayangnya lelaki itu seakan tidak membiarkannya untuk lepas. “Three minutes.” “Soto aja? Gak akan pesen nasinya juga?” “Gak. Gue masih kenyang. Tadi di rumah sempet ngemil.” Fera menganggukan kepalanya. Gadis itu kembali menyantap makanan di depannya dan melupakan Gean yang saat ini sedang menatapnya. Seolah tidak risih dengan apa yang Gean lakuakn. Fera malah memberikan satu suapan pada lelaki di sampingnya. Membuat Gean mau-mau saja membuka mulutnya dan menerima suapan dari Fera dengan sendok yang sama—yang Fera pakai untuk makan. “Ke rumah cuman ambil baju aja?” Tanya Gean seraya mengusap bibir Fera yang terdapat satu butir nasi. Dan tanpa merasa jijik, lelaki itu memakan nasi tadi dan kembali membuka mulut kala Fera menyuapinya lagi. “Gak tahu. Di rumah kayanya masih ada Mama.” “Gak akan kenapa-napa?” Tanya Gean. Lelaki itu mengambil tisu. Mengusap keringat yang sudah menumpuk di kening Fera. “Males sih sebenarnya buat pulang. Tapi ya, baju semuanya baru di laundry. Besok masih harus kerja,” jawab Fera dan menyendok soto di mangkuk Gean untuk ia makan. Gean yang melihat itu tertawa kecil. “Laper, Mbak?” “Gak usah ngeledek!” Seru Fera yang membuat Gean kembali tertawa. Gadis di depannya ini memang sedikit aneh. “Kenapa gak beli aja? Atau pinjem aja yang Angel. Lo yakin bakal pulang?” Tanya Gean seraya menggeleng kala Fera akan kembali menyuapinya. Tangan Gean tidak bisa diam. Entah mengusap keringatnya atau hanya memainkan rambutnya, atau mungkin mengambil sisa nasi yang selalu saja menempel di ujung bibirnya. Lelaki itu seperti tidak ada kerjaan. “Bisa kan pesen lagi? Gak usah makan yang ada di deket mulut gue! Nanti disangkanya gue gak kasih lo makan,” ujar Fera yang mulai kesal dengan kelakuan Gean. Lelaki di samping Fera itu lalu tertawa dan menghentikan kebiasaan tangannya. Memilih memeriksa ponselnya, Gean melihat ada banyak pesan dari Mamanya. Tumben sekali wanita itu mengirim pesan. Mama. Adek bisa pulang ke rumah hari ini? Mama sendiri. Kepala Mama pusing. Abang katanya mau anter Angel ke rumah temennya malem ini. Sekalian mau nginep di apartemen juga. Tapi kalau Adek lagi sibuk, Mama bisa telepon Ciama atau Tante Chandra aja. Adek? Sial! Gean sengaja mematikan ponselnya sejak tadi karena merasa tidak akan ada yang memberinya pesan. Dan ia juga tidak mau acaranya dengan Fera terganggu. Tapi ia melupakan Mamanya. Dan pesan ini dikirim sejak satu jam yang lalu. “Kenapa?” Tanya Fera yang melihat Gean merubah raut wajahnya setelah melihat ponsel. Lelaki itu juga terlihat tidak tenang. Jelas saja membuat Fera mengernyit bingung. “Mama sendiri di rumah. Kayaknya kecapekan. Rian gak bisa pulang sekarang,” jawab Gean dengan raut panik. Lelaki itu berusaha membalas pesan Mamanya yang sayangnya tidak diterima langsung oleh wanita itu. Dengan tanda ceklis satu, Gean tahu kalau ponsel Mamanya pasti mati. “Pulang sana!” usir Fera. Gadis itu menatap Gean yang kini langsung menatap tajam. Seolah apa yang dikatakannya tadi adalah hal yang santai. “Gila! Lo sendiri gitu di sini?” “Jaga Mama lo. Selagi masih baik dan masih bisa bahagiain lo. Udah sana balik,” titah Fera lagi. Gadis itu mengambil minum yang ada di sampingnya sebelum menegak air itu sampai tersisa setengah. Wajahnya terlihat biasa saja dan terlihat tenang. “Gak. Lo mana bisa balik ke rumah sendiri!” “Terserah. Paling nanti lo dapet kabar Mama lo gak ada.” “Fera! Apa sih?! Gak pantes tahu gak, lo ngomong gitu.” “Makanya pulang, Sayang. Itu udah sejam. Siapa tahu sekarang lagi butuh lo, kan?” Bujuk Fera seraya mengusap lengan besar yang tertutup kemeja itu dengan sayang. Menatap Gean yang masih cemas dan bingung. Gean menghela napas. Ia sejujurnya takut dengan apa yang Fera katakan. Tapi ia lebih takut membiarkan Fera yang pulang sendiri ke rumah. “Bentar deh, gua telepon Ciama dul—“ “Lo gak mau denger apa yang gue omongin?!” Desis Fera kesal. Gadis yang entah sejak kapan merokok itu menatap Gean dengan tajam. “Terserah lo mau benci sama gue. Cuman orang b**o yang biarin lo balik sendiri.” “Ge—“ “Gue lagi gak mood debat sama lo. Diem. Gua mau telepon Ciama dulu.” Fera terdiam. Gadis itu menghela napas panjang. Sialan! Kenapa bisa Gean memperlakukannya sehangat ini? Apa lelaki itu sadar dengan apa yang dilakukannya? Hatinya bahkan menghangat hanya mendengar lelaki itu memilih menjaganya lebih dulu. “Halo, Bang? Kenapa?” “Lo ada di mana?” “Ada di rumah. Kenapa? Oh iya, Mama Ciama udah ke rumah Abang kok. Tante Riana juga gak kenapa-napa. Cuman kurang darah aja. Katanya gak usah pulang cepet-cepet. Abang Rian juga mau pulang abis anter Kak Angel ke rumah temennya,” ujar Ciama disebrang sana tanpa harus disuruh. Gean bernapas lega. Lelaki itu tesenyum seraya menatap Fera yang kini terlihat melamun. “Makasih ya, Ma. Abang nanti pulang.” “Oke.” “Kalau gitu Abang tutup dulu.” Gean menutup panggilan setelah menyebut salam. Lelaki itu lalu menatap Fera yang asik menghisap rokok di sampingnya. Dengan jahil, Gean menarik tangan Fera dan menghisap rokok yang sebelumnya Fera hisap dan mengambil rokok itu dari tangan Fera. Membuat gadis di sampingnya berdecak kesal. dan bersiap mengeluarkan rokoknya lagi. Namun belum sampai tangannya meraih kotak rokok di saku kirinya, Gean sudah lebih dulu mengambil tangannya dan mengecup tangan itu dengan mulut yang mengeluarkan asap rokok. Yang mana secara tidak langsung asap rokok itu menghembus di punggung tangan Fera. “Masih ada permen karet, kan?” Tanya Gean yang tidak dijawab oleh Fera. Gadis itu kembali sibuk dengan lamunannya. “Gimana?” Tanya Fera mengalihkan. “Apa?” “Mama,” jawabnya seraya menolehkan kepala pada Gean yang sibuk menghabiskan rokoknya. “Gak papa. Kurang darah aja kaya biasa. Udah ada Tante Chandra juga.” “Pasti gara-gara gue kan, lo matiin hape?” Tebak Fera yang langsung tepat sasaran. “Kata siapa?” “Jangan matiin hape lagi, Ge. Orang tua lo baik. Jangan sia-siain.” Gean tersenyum dan segera bangkit untuk membayar pesanannya. Lelaki itu lalu menarik Fera dan membawanya ke dalam mobil kembali sebelum akhirnya menjalankan mobil tersebut. Tanpa menjawab ucapan Fera, Gean sudah tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan gadis itu saat ini. menghentikan mobilnya di dalam perumahan rumah orang tua Fera, Gean lalu menarik wajah gadis itu dan segera mengambil bibir Fera dalam. Mengecup dan menariknya penuh damba. Menghisap dan mengeksplor semua yang ada di dalamnya dengan lidah panjangnya. Membuat gadis di depannya itu mulai ikut melakukan apa yang dilakukannya sejak beberapa menit lalu. Tangan gadis itu bahkan sekarang mengalung di lehernya. Gemas dengan tangan kecil itu, Gean segera mengangkat tubuh Fera dan mendudukkanya di pangkuan. Beruntung sekali ia tidak memasang sabuk pengaman pada Fera tadi. “Gak usah sedih. Selesai Rian nikah, Mama gue bisa jadi Mama lo juga. Sabar ya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN