Ch. 8 (HH)

2141 Kata
Gean menyesap rokok di tangannya dengan pelan. Matanya menatap Rian yang kini tampak tenang mengelus kepala tunangannya. Gean sama sekali tidak merasa iri atau terusik dengan keadaan yang ada di depannya. Hanya saja, apa pantas melakukan hal itu di depan jomlo sepertinya? Atau seharusnya Gean yang membuat lelaki itu peka? Pantaskah membuatnya merasa jengkel? Kalau memang mereka berdua hanya ingin membuat mood Gean semakin menurun, sebaiknya Gean tidak membuka pintu rumahnya untuk kedua manusia ini. Ingin Gean usir kedua manusia tidak berakhlak ini dari rumahnya dengan segera. “Sedekat apa hubungan lo sama Fera?” Gean spontan mendongkak dan menatap Rian yang masih fokus menatap televisi dengan tangan yang mengelus kepala Angel. Apa Gean tidak salah dengar? “Lo nanya sama gua?” Tanya Gean seraya menatap Rian yang hanya mengangguk kecil. Gean langsung menelan salivanya dan membuang pandangan begitu melihat Rian melihat ke arahnya. “Kenapa rumah sering kosong?” Tanya Rian dan menatap tajam adiknya yang kini asik membuang asap rokok. “Ya gua kan ke rumah Mama,” bohong Gean seraya mematikan rokoknya dan mengambil rokok barunya dari dalam kotak rokok. “Mama bilang lo gak pernah pulang ke rumah,” jawab Rian seraya melirik kecil pada Angel yang ternyata sudah terlelap. Gadis itu kini tertidur dengan paha Rian sebagai bantalnya. Senyum Rian mengembang sesaat. “Gua kan pulangnya malem. Ya pasti Mama gak tahu,” jawab Gean masih berusaha tenang. “Gak ada yang pulang malem. Gua udah cek cctv,” ucap Rian telak. Gean menggeram kecil. Merasa tidak bisa menghindari apa yang sudah Rian tanyakan. Kenapa juga lelaki itu sampai memeriksa cctv? “Gua yakin lo tahu masalah Fera yang gak mau pulang, kan? Kemana lo selama ini? Ke apartemen Fera?” Tanya Rian yang berhasil menohok Gean. Lelaki yang sengaja datang ke rumah setelah mendapat pesan tidak mengenakan dari Rian dan juga Angel itu menatap jengah Kakak kembarnya. Memangnya apa masalah Rian jika ia datang ke apartemen Fera? Lagipula gadis itu yang memintanya datang dan menemaninya. Apa salahnya? “Selama itu gak ngerugiin lo, apa jadi masalah?” Tanya Gean dingin. Rian menghela napas panjang. Ia sudah tahu jika Gean akan bertindak semaunya. Lelaki itu bukan hanya seperti ini sekali dua kali. Rian memang tidak bisa melarang apa yang Gean lakukan. Tapi ia berhak menentukan apa yang seharusnya Gean pilih jika suatu saat lelaki ini kebingungan, kan? Hidup dalam satu rumah, satu kamar bahkan satu kandungan selama hidup, membuat Rian tahu kebiasaan lelaki yang saat ini hampir menghabiskan dua batang rokok itu. Mengalihkan pembicaraan begitu Rian memberikan pertanyaan telak padanya. “Mama kasih pesan sama gua buat lo gak ambil hal yang seharusnya gak lo ambil,” ujar Rian yang akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah keduanya. Rumah yang dibuat oleh Papa dan Mamanya untuknya dan juga Gean. Terdapat tiga lantai. Lantai satu sampai dua milik Gean. Dan lantai terakhir miliki Rian. Gean mendapatkan lebih besar bagian rumah ini karena sang mama tidak mengizinkan Gean memiliki apartemen. Sedangkan Rian memiliki apartemen yang jaraknya cukup dekat dengan kantor. “Gua bukan anak kecil yang harus lo kasih tahu,” jawab Gean lalu pergi dari sofa. Lelaki itu membawa asbak dan juga pematik yang ada di meja. Seolah tahu jika Rian tidak akan memakai dua barang itu sampai kapanpun. “Gua tahu lo bukan anak kecil. Tapi selagi ada Mama dan dia masih kasih lo peringatan, jangan coba-coba lewatin batas, Ge.” Gean tertawa sinis. “Jadi, kalau Mama gak ada. Lo sama gua boleh lewatin batas dan coba-coba?” Tanya Gean yang hanya dibalas dengan helaan napas kasar. Entah bagaimana perasaan Rian saat ini. Gean tidak memperdulikan hal itu. ia sudah tidak ada keinginan memperpanjang perdebatan keduanya. Ditambah Angel yang sedang tertidur. Bisa bahaya jika nanti ia marah dan Angel terbangun. Sosok lembut Rian akan hilang dalam sekejap. Ting. Galak. Gue udah share loc, kan? Bisa lo datang sekarang? Jemput. Gean tersenyum senang. Lelaki itu segera menaruh asal asbak dan juga kotak rokoknya. Ia menyambar kunci mobil yang masih ia simpan di dekat nakas. Berlari dan keluar dari rumah tanpa berpamitan pada Rian, Gean benar-benar seperti remaja labil. Baru beberapa detik yang lalu ia merasa sangat kesal dan tidak mau melakukan apapun. Kini, hanya dengan pesan singkat itu, Gean langsung berubah dan menjadi sangat bahagia. Efek pengirim pesan itu sungguh luar biasa. Sosok Gean yang dingin dan begitu tempramen langsung mencair. Bersamaan dengan pesan lain yang datang. Temenin gua ambil baju ke rumah. Gean melajukan mobilnya dengan kencang. Ia tersenyum kecil. Tangannya segera meraup wajah saat merasakan telinga dan juga pipinya memanas. Sialan! Ia bahkan baru awal. Tapi ia sudah terbawa perasaan sejauh ini? Gila! Siap, Nyonya! Selesai mengirim balasan, Gean kembali memfokuskan diri ke jalan. Berusaha tetap tenang walau kini bagian dari tubuhnya berdetak dengan kencang. Seakan meberitahu jika saat ini hatinya sangat berbunga dan tidak bisa dibohongi jika ia sangat senang. Apalagi setelah mengingat apa yang baru saja dikatakan Rian. “Selagi gak melanggar, gua masih bisa hidup bebas, kan?” Beberapa bulan yang lalu. Gean menatap seksama gadis yang kini berjalan mendekatinya. Gadis dengan kemeja putih polos berenda dan rok span hitam sepaha. Kakinya yang panjang itu terlihat begitu memikat dengan stiletto hitam yang dipakainya. Gean tidak tahu siapa gadis yang sedang mendekatinya ini. Karena setahu Gean, gadis yang ia kenal tidak mungkin berpakaian serapi dan semenggoda itu. Apa ini karena matanya yang terlalu lama menatap laptop? Membuatnya berhalusinasi terlalu jauh? “Fera? Ini beneran lo?” “Menurut lo?!” Sarkas gadis itu dengan nada andalannya. Gean terperangah bahkan hampir menganga. Sedetik kemudian pandangannya turun pada kaki jenjang Fera yang begitu… sial! Buru-buru Gean menatap ke arah lain seraya menelan salivanya. Tidak! Ia tidak boleh menjadi m***m! Apa-apaan otaknya ini! “Lo masih ada tugas?” Tanya Fera tanpa basa-basi. “Hah?” “Lo masih ada tugas apa nggak?” “Kebetulan udah selesai. Kenapa?” “Cariin café yang comfy.” Fera mengeluarkan ponselnya dan berjalan lebih dulu. Membuat Gean yang sadar langsung mengikuti gadis itu dari belakang. Matanya terus memandang kaki jenjang itu melangkah. Sialan! Apa tidak bisa otaknya melihat ke arah lain saja? Baru akan mengangkat matanya dan menatap ke punggung Fera, Gean dikagetkan dengan tangan dingin dan kecil seorang gadis yang menutup matanya begitu juga dengan suara ketukan kaki yang terdengar nyaring. “Lo mau terus liat kaki gue?” “Eh?” “Mendadak b**o abis ngeliat gue apa gimana?” tanya Fera seraya melepaskan tangannya dari wajah Gean. Gadis itu menatap lelaki jangkung di depannya dengan wajah jengah. Gean yang merasa jika dirinya sudah ketahuan hanya bisa menyengir dan menggaruk tengkuknya canggung. Tidak mungkin Gean mengelak sedangkan gadis itu menyadarinya bahkan menutup matanya, kan? Yang ada Fera akan langsung meninjunya dan membuatnya jatuh tidak sadarkan diri. Jangan salah sangka dengan tubuh kecil gadis di depannya ini. karena nyatanya kekuatannya hampir sama dengan sumo. Tidak ada duanya malah. Gean jadi ingat bagaimana bisa Fera bertemu dengannya hari ini. sepertinya kalau bukan karena kerja sama antara kedua perusahaan, mungkin Fera dan dirinya bersama seperti sekarang adalah hal yang mustahil. Ini adalah kedua kalinya Fera dan dirinya bertemu di perusahaannya dengan Rian. Pertama saat promosi barang yang Fera buat. Saat itu penampilan gadis ini masih sangat berantakan bahkan masih terkesan tidak ada sama sekali kesopanan di sana. Tapi pertemuan kedua ini, Fera memperlihatkan keanggunannya. Yang sayangnya rapat tadi dipimpin langsung oleh Rian dan bukan dirinya. Alhasil ia tidak tahu jika Fera memakai baju dengan gaya yang kasual dan rapi seperti sekarang. Ditambah dengan riasan wajah itu. Apa Fera memang sengaja membuatnya tidak bisa berhenti melihatnya? Atau memang ini rencana gadis itu yang menginginkan otak Gean berisi dosa semua? “Di sini ada café. Tapi gak tahu sih, cocok atau nggaknya sama lo.” “Rian suka?” Tanya gadis itu dan memberikan satu kertas pada Gean yang jelas membuat Gean mengernyit dalam. “Suka. Dia biasanya diem di café itu sama Angel. Ini apaan?” Tanyanya pada Fera seraya mengangkat kertas di tangannya. “Nomor gue. Supaya lo gak harus ngintip di laptop Rian kalau kita lagi vicall sama yang lain,” ujar gadis itu tanpa beban. Yang mana langsung bereaksi pada telinga dan juga pipi Gean yang memerah. Lelaki itu bahkan berdehem menahan rasa gugup yang hinggap di dadanya. Benar-benar damage gadis di depannya ini tidak berubah sejak 8 tahun yang lalu. Masih tidak mengerti dengan keadaan hati Gean. “Oh iya, tadi rapat, kenapa lo gak ada?” Tanya Fera seakan apa yang dibicarakannya tidak mempengaruhi Gean sama sekali. Beberapa detik Gean yang berada di sampingnya itu tetap diam dan berjalan dengan langkah yang sama. Membuat Fera tersadar dengan apa yang diucapkannya. “Maksud gue, kenapa bukan lo yang mimpin rapat. Waktu rapat pertama kan lo yang mimpin.” “Ngapain? Lo nyariin gue?” Timpal Gean balik dengan senyum miringnya. Fera berdecih kecil. Memang lelaki ini tidak bisa ditanya dengan baik-baik. “Gak usah kepedean jadi orang,” sinis Fera dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku rok. Gadis itu menatap pintu kaca yang terbuka dengan sendirinya begitu Gean keluar bersamanya. Sesaat pikiran Fera berkelana. Pintu itu kalau tidak salah hasil buatan Gean, kan? Yang mendesain juga lelaki itu. Apa harus mencap sebuah inisial di pertengahan pintu itu dengan inisial FG di sana? Memang Fera yang menyarankan pada Rian saat renovasi besar-besaran Rian lakukan pada gedung ini. Tapi bukan ia yang membuat. Tanpa bisa dicegah, rona merah itu menjalar di kedua pipinya. Sialan! “Kenapa? lo kepanasan?” Tanya Gean perhatian seraya menghalangi matahari yang kini menyorot tajam pada wajah gadisnya. Menutup cahaya itu dengan menggunakan tubuhnya. Alhasil kini Fera berhadapan langsung dengan pembuat desain pintu itu. Tubuh jangkung Gean benar-benar berhasil membuat cahaya matahari itu tidak terasa. Tapi rona di pipinya malah makin melebar sampai ke telinga. Dan itu bisa diihat jelas oleh Gean. Sebab Fera kini menguncir rambut lurusnya menjadi satu. Membuat telinga putih yang berubah memerah itu terlihat. Senyum Gean tanpa bisa dihalangi itu muncul kembali. Entah untuk keberapa kalinya hari ini ia tersenyum hanya karena gadis di depannya. “Awas! Apaan sih! Ngapain lo senyum?” Galak Fera seraya menatap tajam Gean yang malah terkekeh dan menggelengkan kepalanya. “Gak ada. Gua gak tahu kalau ternyata ditutupin pake badan gua lo masih bisa kepanasan. Telinga lo udah kayak direbus,” ujar Gean dan menjauh. Lelaki itu lalu berjalan mendahului Fera yang saat ini sedang memegang wajahnya dengan tangan. Merasa malu dengan yang Gean ucapkan. Kalau saja ini kantor Fera, sudah dipastikan Fera akan menendang lelaki itu jauh-jauh. Sayangnya saat ini ia sedang tidak berada di kandangnya. Tidak akan ada yang mendukungnya. Yang ada ia akan dijatuhkan habis-habisan oleh para pegawai yang sama sekali tidak dikenalnya. Apalagi sosok Gean cukup populer dan sangat disegani orang-orang. “Mau jadi ngopi gak?” Tanya Gean sedikit berteriak. Fera tersadar dan mengangkat kepalan tangannya pada Gean yang malah tertawa. Lelaki yang kini berjarak beberapa meter dari Fera itu malah memeletkan lidahnya lalu melangkah lebar melihat Fera yang akan mengambil ancang-ancang berlari itu. “Sini gak lo!” Kesal Fera seraya berlari dengan tertatih karena sepatu sialannya. Gean yang melihat itu malah semakin meledek dengan berjalan perlahan. Sengaja memperlambat langkahnya karena tahu Fera akan lama sampai di tempat—nya? Hap. “Kena kan lo!” Gean membulatkan mata dan melihat Fera yang sudah ada di sampingnya. Bukankah gadis itu memakai stiletto? Kenapa langkahnya cepat sekali? “Kenapa? mau ngeledek lagi lo, hah?!” Kesalnya seraya mengangkat sepatu berhak tinggi itu ke depan wajah Gean. Seolah membuktikan jika ia bisa berlari cepat dengan membuka sepatu itu. Gean langsung tergelak di tempatnya. “Lo buka sepatu? Emang orang gila!” Jujur Gean seraya mengusap matanya yang berair karena tertawa lepas. Fera yang melihat itu langsung memukul bahu Gean dengan sepatunya. Membuat ringisan kecil terdengar dari mulut Gean yang awalnya tertawa keras. “Kenapa kalau gue buka sepatunya, hah?” “Galak banget. dari dulu garangnya kagak berubah,” gumam Gean seraya berlari kecil. Fera yang melihat itu langsung membulatkan mata dan ikut berlari. Mengejar Gean yang ternyata sedang menuju café tujuan mereka yang hanya terhalang beberapa rumah makan dan juga minimarket terdekat. “Udah dulu, Fer. Capek gue,” ujar Gean seraya mengatur napasnya. Begitupun Fera yang kembali memasang sepatunya dengan tangan yang memegang tangan Gean agar tidak terjatuh saat memakai sepatu. Dan dengan pekanya lelaki itu menahan tangan Fera dan merangkul bahu Fera agar gadis itu bisa lebih leluasa memakai sepatunya. Gean terkikik geli melihat Fera yang ternyata juga merasa lelah karena ikut berlari. “Nanti lagi gue ajak Rian aja, ah.” “Lah kenapa? Gue kan bisa,” ujar Gean tidak terima mendengar ucapan Fera. “Bengek gue kalau sama lo ke cafénya. Dikira lomba lari.” Gean tertawa. Lelaki itu mengusap kepala Fera kecil. “Iya, dah. Nyonya bersepatu ini tidak bisa lari. Gak akan gua ajak lari lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN