Gadis dengan dress ungu dan sepatu putihnya itu meminum kopi yang sejak setengah jam yang lalu itu tersaji di depannya. Matanya masih menatap keberadaan lelaki yang menjadi tunangannya itu. Beberapa kali ia menghela napas, mencoba membuat lelaki yang sibuk itu menolehkan kepala ke arahnya. Namun lelaki itu seakan tidak memperdulikan kehadirannya dan masih terus mengetikkan pesan dan beberapa data yang entah ia sendiri tidak paham dengan hal itu.
“Abang!” Panggilnya karena mulai gemas dengan lelaki tersebut.
“Kenapa, hm?”
“Daritadi sibuk mulu sama kerjaan. Angel di sini tau!” Gerutu gadis itu seraya menunjukkan raut kesalnya. Tertawa kecil, lelaki itu lalu mematikan ipad yang sejak tadi ia mainkan. Matanya menatap dalam gadis di depannya seraya menggenggam tangan kecil itu.
“Ada apa? Lagian gak biasanya kamu minta ketemu di café gini. Lagi ada masalah di butik?” Tanya lelaki itu pengertian. Angel mendengkus dan memilih membuang muka.
“Fera kemarin keliatannya lagi gak mood,” jawab Angel seraya menatap jalan yang ada di sebelah kanannya. Perempuan itu lalu menarik tangannya sebelum mengeluarkan ponsel. Merasa ponselnya beberapa kali berbunyi. Menandakan ada seseorang yang sedang mengirim beberapa pesan.
“Maksudnya? Dia kan emang kaya gitu.”
“Beda, Abang. Dia gak kaya biasanya. Dia kaya yang beneran marah sama kesel gitu. Kemaren aja Devina sampe dipulangin sama dia tengah malem.” Angel menghela napas dan memilih memasukkan kembali ponselnya. Namun baru akan memasukkannya ke dalam saku, tangan Rian sudah lebih dulu meminta agar ponsel itu diberikan padanya. Angel dengan patuh memberikan ponsel itu pada Rian sebelum akhirnya menarik kopi milik Rian untuk ia minum.
“Ada masalah?” Tanya Rian yang bermaksud membahas Fera.
“Apa yang ada masalah?”
“Fera lagi ada masalah? Kenapa bisa sampe anterin Davina tengah malem gitu? Kalian di apartemen emang ngapain? Kenapa bisa Davina sampe di anterin?”
“Aku juga gak ngerti. Tapi kayaknya masalah keluarga gitu. Davina ngerasa harus bujuk Fera dengan bilang dan coba deketin. Padahalkan kalau Fera lagi kayak gitu lebih baik dijauhin, kan?”
Rian mengangguk mengiyakan. Lelaki itu kebali menarik tangan tunangannya dan memutar gemas cincin yang ada di sana. “Kamu udah bilang sama Davina?”
“Sebelum Fera datang ke apart juga udah aku bilangin, Abang. Tapi dia kaya gak percaya gitu. Eh langsung ditebas pake omongan Fera.”
Rian ikut menghela napas. Lelaki itu menatap jalan yang mulai basah. Hujan sore mengguyur sekitar. Beruntung Rian sedang berada di dalam café. “Nanti aku minta Gean buat tanya sama Fera, deh. Kayaknya masalahnya mulai serius juga.”
“Abang tahu masalah Fera?” Tanya Angel yang mulai kepo.
“Gak terlalu tahu juga. Dia sebenarnya juga baik-baik aja. Cuman kondisi keluarganya aja kurang pas.”
“Kurang pas?”
“Aku gak mau ngomongin masalah itu sekarang. Kayanya terlalu berat. Daripada itu, kenapa kamu ajakin aku minum di sini, hm? Pasti sengaja, kan? Biar aku bolos dari kantor?”
“Ih, apaan! Nggak, ya! Abang aja yang terlalu merasa kaya gitu! Angel emang lagi pengen min—“
“Kenapa juga minumnya di gelas aku? Kan kamu juga pesen.”
‘”Ya—ya pengen aja. Emang ada masalahnya?”
Rian tertawa. Lelaki itu menjawil hidung Angel dengan gemas sebelum akhirnya mempercayai saja ucapan gadis itu.
***
Berbeda dengan Rian dan Angel yang tampak bahagia di café, Gean kini sedang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Melihat bagaimana sosok gadis yang baru akan ia jemput dari kantornya itu memilih memasuki mobil BMW hitam milik orang lain. Ditambah pakaian yang dikenakan gadis itu terlalu cantik untuk masuk ke dalam mobil lain. Sialan! Seharusnya ia menjemput lebih dulu! Kenapa ia bisa sebodoh itu untuk telat, sih? Padahal sudah jelas jika gadis itu sekarang banyak yang menyukai.
Drrt. Drrt.
Gean segera menolehkan kepala saat ponselnya bergetar. Mengangkatnya dan menghubungkan dengan bluetooth earphonenya, Gean terbelalak sesaat saat tahu nomor siapa yang meneleponnya.
“Gean?” Panggil seseorang di seberang sana.
“Ya Fer?”
“Sorry. Gue tahu lo ada di kantor. Tapi gue ada acara abis ini. Dan kayaknya bakal lama. Acara kantor. Makanya gua ikut Derren. Sekali lagi sorry.”
Gean tertegun sesaat. Jadi Fera sudah tahu dirinya ada di depan kantornya?
“Iya, gak papa, Fer. Kalau gitu have fun, ya!”
“Lo sibuk?” Tanya gadis itu seakan tidak membiarkan Gean mematikan teleponnya.
“Kebetulan lenggang. Kenapa?”
“Pulang dari acara kantor, bisa temenin gue?”
“Tentu. Kemana?”
“Gue kasih tahu nanti. Kalau gitu, gua tutup dulu.”
Gean terdiam. Lelaki itu memandangi layar ponselnya dan menatap mobil BMW hitam yang mulai melaju dan melewatinya. Ia bisa melihat kaca mobil sebelahnya terbuka. Menampilkan wajah Derren yang sedang tersenyum miring dengan Fera yang ada di kursi sebelahnya sedang menatap datar ke depan. Tangan Gean semakin mengepal. Jadi, lelaki itu mengibarkan bendera perang?
Cih.
Gean tidak takut sekalipun. Bahkan jika Derren melamar Fera duluan, ia yakin Fera akan menolak lelaki itu. Sejauh apa memangnya Derren tahu Fera? Hanya di kantor saja, kan? Sayangnya Gean tahu hampir keseluruhan gadis itu. Benar-benar semuanya. Tidak terkecuali. Bahkan tubuh gadis itu juga Gean sangat hapal. Tentu saja bentuk dan juga semuanya. Gean tahu.
“Derren, heh? Gak ada apa-apanya,” gumam Gean seraya berdecih kecil sebelum akhirnya memundurkan mobilnya untuk keluar dari depan kantor yang benar-benar membuatnya kesal setengah mati.
Beberapa jam sebelumnya.
“Wah selamat ya Kak Derren! Sekarang udah jadi Ketua Divisi. Makin semangat aku datang ke kantor!”
“Harus ada acara nih. Jarang-jarang kan Kak Derren bahagia gini.”
“Iya, Der. BBQ lah… sabi, dong?”
“Iya. Nanti gua liat jadwal dulu.”
Derren tersenyum kecil. Lelaki yang baru saja mendapat kenaikan jabatan setelah bekerja kurang lebih 7 tahun lamanya itu menatap ke arah kursi yang sejak tadi anteng dan tidak termakan obrolan yang lain. Seolah apa yang kini tengah dipeributkan bukan hal yang sangat penting. Di telinga orang itu masih ada earphone yang tersambung pada ponsel. Membaut Derren diam-diam tersenyum miring. Keluar dari gerombolan anak-anak yang masih sibuk menggodanya, Derren memilih mendekati gadis itu.
Mulanya, Derren hanya duduk di sampingnya. Namun saat melihat gadis yang fokus pada laptopnya dan tidak menghiraukan keberadaannya membuat Derren mendengkus hingga akhirnya menarik benda yang masih menyumpal telinga gadis itu. Berharap gadis itu langsung melihatnya dan mengucapkan selamat seperti yang lain. Namun lagi-lagi harapan Derren pupus begitu melihat gadis itu masih acuh dengannya. Derren berdecak dan tertidur di meja dekat dengan gadis itu. Matanya sengaja menatap dengan jelas gadis di sampingnya. Masih berusaha membuat gadis itu menganggap kehadirannya. Senyumnya mengembang kala mata kecil itu mendelik padanya sebelum akhirnya berhenti mengetik dan menatapnya seraya bersedekap d**a.
“Ucapan selamat?” Todong Derren seraya mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan senyum lebar.
“Bisa gak ganggu gue?” Tanya gadis itu dengan nada songongnya. Derren terkekeh sebelum akhirnya menarik kursi agar lebih dekat dengan gadis di depannya. Mempertipis jarak di antara keduanya yang hampir menyatu. Memiringkan kepala, Derren mencoba mengecup pipi gadis itu. Sebelum akhirnya sebuah hantaman keras ia dapatkan di pipinya. Gadis itu baru saja melayangkan tinju kosong. Sialan! Derren lupa jika gadis ini memang memiliki kekuatan sekuat baja. Ia buru-buru menjauh dan menatap gadis di depannya yang masih memasang raut datar seperti kejadian beberapa saat lalu bukanlah hal yang harus dijadikan ketakutan.
“Hari ini lo harus ikut dan bareng sama gue. Gak ada penolakan, Sayang.”
“Cih. Jadi, lo gunain Kak Fero? Cerdik juga otak lo,” decih gadis itu sebelum akhirnya menatap kembali ke layar laptopnya. Menganggap Derren tidak ada di depannya kembali.
Sedangkan Derren hanya bisa terkekeh kecil. Lelaki itu dengan lancang mengusap pipi Fera yang kini tertutup helaian rambut. “Gue gak tahu kalau lo ternyata lemah juga,” bisik lelaki itu sebelum akhrinya benar-benar pergi meninggalkan Fera yang langsung membatu.
Gadis yang kini masih menghadap laptopnya itu mengepalkan tangan. Semenjak malam di mana ia yang menangis dan ditenangkan oleh Fero—Kakaknya, Derren yang saat itu ikut langsung mengetahui kelemahannya. Derren memang tidak tahu keseluruhannya, hanya saja lelaki itu tahu jika Fera tidak akan melawan jika Derren menggenggam Fero di tangannya. Hal yang begitu Fera benci. Sebelumnya tidak ada yang tahu kelemahannya. Jujur saja, Fera menutup semua akses tentang dirinya bukan tanpa sebab. Ia hanya akan patuh dan mengikuti apapun yang diminta orang lain dengan suruhan Fero. Dan ia sangat yakin jika Derren sengaja mendekatkan diri pada Kakaknya setelah tahu jika kelemahan Fera pada Fero. Fera benci pada mereka yang menggenggam Kakaknya hanya agar apa yang mereka inginkan dipenuhi oleh Fera.
Seperti kedua orang tuanya.
“Mbak Fera bakal ikut ke acara Derren?” Tanya seseorang yang kini berhasil menyadarkan Fera.
“Gak tahu,” jawab Fera acuh.
“Tapi tadi Kak Derren, kalau Kak Fera gak ikut, acara batal,” ujar seorang gadis lain yang kini benar-benar membuat Fera terdiam cukup lama.
“Di mana Derren?” Tanya Fera seraya bangkit dari kursinya. Gadis itu mengambil ikat rambut di kantung bajunya dan mencepol asal rambut sebahunya. Melepaskan stiletto yang sejak tadi melekat di kakinya, Fera bahkan mengangkat sedikit rok spannya yang TERPAKSA ia kenakan agar tidak terkena denda selama bekerja. Menyimpan dokumen di laptopnya, Fera lalu menatap salah satu gadis yang tadi berbicara dengannya. Tangannya menunjuk pada ruangan khusus yang biasanya dipakai divisi pemasaran untuk mengadakan rapat.
“Ada rapat?”
“Nggak. Tadi Kak Derren kayak ambil berkas gitu. Mbak Fera mau ke sana?” Tanya gadis di sebelah Fera dengan was-was.
“Iya. Kalau nanti Pak Hamsah ke sini. Bilang saya ada urusan sebentar,” jawab Fera lalu pergi dengan sandal gunungnya yang sengaja ia persiapkan jika kakinya pegal menggunakan sepatu sialan itu. Matanya sesekali menatap pegawai yang lain. Matanya bisa melihat jika mata-mata orang di sekitarnya memohon agar ia ikut. Tangannya tanpa sadar mengepal. Memang Derren ingin dihabisi!
Ia paham dengan orang semacam Derren. Melimpahkan semuanya pada Fera agar merasa terbebani dan secara tidak langsung Fera akan ikut. Karena merasa tidak enak jika harus menolak dan membuat yang lainnya kecewa karena acara yang mereka tunggu-tunggu gagal. Ingin rasanya Fera hancurkan kepala Derren sekarang juga. Apa menurut lelaki itu ini adalah hal yang lucu? Fera benar-benar tidak suka dengan cara berfikir maupun cara main Derren yang terkesan murahan. Bukan seperti ini jika memang lelaki itu menginginkannya. Ada banyak cara yang bisa membuat Fera merasa takjub bahkan kagum pada Derren. Contohnya dengan cara mendekat tapi dengan batasan?
“Gua menolak ikut,” ujar Fera begitu melihat Derren yang sedang membereskan hasil rapat. Lelaki itu tidak sendirian. Ada lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah atasan Fera. Pak Hamsah. Sialan! Kenapa pria itu ada di sana?
“Kenapa Fera?”
“Ah, tidak, Pak. Maaf sudah masuk sembarangan. Saya kira hanya ada Derren di dalam. kalau begitu, saya permisi dulu, Pak,” ujar Fera kepalang malu. Bisa gadis itu lihat wajah Derren yang kini terenyum miring dengan wajah menyeramkannya. Oh, jadi ini memang sudah menjadi rencana lelaki itu juga? Awas saja jika di luar kantor. Fera tidak akan segan-segan membanting tubuh Derren ke aspal.
“Tunggu, Fera.” Hamsah, Pria yang menjadi ketua divisi bagian IT itu menghentikan Fera yang akan menutup pintu rapat.
“Ya, Pak?”
“Tadi saya denger Derren akan buat acara. Kamu ikut, kan? Derren bilang kalau kamu tidak ikut acaranya gagal.”
Fera menelan salivanya dan mengeraskan rahang. Matanya menatap tajam Derren yang tampak pura-pura tidak mendengar. Jadi begini cara bermain lelaki itu? baiklah. Fera akan ikuti sampai pada titik yang harus ia tentukan juga. Menurut Derren ia tidak punya cara lain, kan? Selain menerima daripada membuat beban kekecewaan dari para pegawai yang lain.
Oke… sekarang gua tahu pola main lo.
Fera menatap Derren sekali lagi sebelum akhirnya menatap Pak Hamsah yang menatapnya penuh harap seperti biasanya. Wajahnya sama sekali tidak memperdulikan jika Fera akan merasa keberatan karena sudah menerima. Tersenyum miring, Fera lalu membuka pintu lebar-lebar. Ia bisa melihat pegawai lain yang kini juga ada di belakangnya dan menatapnya penuh harap. Dengan tangan yang mengepal dan mencengkram kuat pegangan besi itu, Fera mengeraskan rahangnya begitu tatapan Derren yang begitu menjijikkan itu menatapnya. Baik, mari kita lihat apa yang akan dilakukan lelaki itu nantinya.
“Tentu, Pak. Saya akan ikut,” jawab Fera yang membuat belakangnya bersorak bahagia. Begitu juga dengan senyum miring Derren yang mengembang. Fera berdecih dan menutup pintu ruang rapat. Meninggalkan bekas cengkaraman pada besi yang bengkok di bagian gagangnya itu. Cap tangan gadis itu terlihat sangat dalam. Segala amarahnya ia lepaskan pada pegangan besi itu. Ia tidak takut hanya untuk mengganti gagang pintu kaca tersebut. Seluruh gajinya masih cukup untuk membenarkan satu ruangan. Tidak perlu merasa khawatir.
“Aku gak nyangka kalau Kak Fera bakal ikut. Aku kira Kak Fera gak akan terima.”
“Dan ngebiarin telinga saya sakit karena omongan kalian?” sarkas Fera pada salah satu anggota pemasaran yang begitu bahagia.
Lihat saja. main-main dengannya, kan?