Ch. 6 (HH)

2104 Kata
“Pacar lo gua yang bikin nangis. Gua udah minta maaf sama dia di mobil. Masalah dia maafin atau nggaknya, gua gak peduli.” Akbar menghela napas. Lelaki yang saat ini merangkul Davina itu hanya bisa menatap datar Fera yang masih di dalam mobil dan menutup kaca jendela. Sepertinya ia tidak perlu bertanya kenapa Fera mendadak berkata demikian. Ia sudah tahu kenapa Fera memiliki watak yang berubah seperti sekarang. Padahal beberapa jam yang lalu, gadis itu terlihat baik-baik saja. Tapi, apa gadis ini masih memiliki otak? Mengantarkan Davina yang menangis dini hari seperti ini dengan pakaian seadanya juga rokok yang menyala. Untung saja Fera menyerahkannya pada Akbar. Kalau sampai Davina diantarkan ke rumah gadis itu, sudah pasti Jenderal yang menjadi ayah Davina langsung menghabisi Fera saat itu juga. “Sialan!” Adalah u*****n yang Akbar dengar sebelum akhirnya mobil hitam itu pergi dari pekarangan rumhanya. Beruntungnya rumahnya saat ini sedang sepi. Kalau Mamanya melihat ini, sudah pasti ia akan ditanyai habis-habisan. Berbeda dengan Akbar yang langsung masuk ke dalam rumahnya, Fera yang masih menjalankan mobil itu hanya bisa terus mengumpat seraya mengusap air matanya yang entah sejak kapan turun. Ia hanya bisa berharap Akbar tidak melihat itu dan tidak mengaggapnya lemah. Memang mata yang tidak bisa mengendalikan emosi adalah mata yang tidak tahu diri. Fera akui dirinya semunafik itu. Bukannya bersyukur sudah memiliki mata yang bagus dan berfungsi. Ia malah memaki dan seakan merasakan jika matanya adalah hal yang sial. Salah satu dari perilaku buruk Fera yang tidak berubah sama sekali. “Kalau bisa cerai aja sekalian, b******n!” Teriaknya di dalam mobil saat melihat ponselnya yang terus berdering. Ia membuang ponsel itu ke bawah. Membuat layarnya retak dan mati. Fera sudah tidak peduli. Ia bisa membeli yang baru. Yang pasti, saat ini ia hanya butuh ketenangan. Dan ia butuh orang. Siapapun, Fera membutuhkannya. Memparkirkan mobilnya di dekat kedai nasi goreng yang buka, Fera lalu menangis dan meraung. Gadis kasar dan sarkas itu memukul kepalanya beberapa kali seraya menangis. Tangannya mengepal kuat dengan buku-buku jari yang memutih karena saking kuatnya ia mengepal. Hidungnya mulai mengalirkan darah. Ia yakin pasti karena tangannya yang terlalu keras memukul kepala dan juga hidungnya sejak tadi. Fera sudah tidak peduli. Jika besok ia mati pun, Fera benar-benar tidak peduli. Hanya satu yang ia tahu, Tuhan akan memberikannya tempat terburuk di akhirat nanti. Karena sudah membangkang dan tidak menjawab panggilan kedua orang tuanya sejak siang. “Mati badan b**o!” Umpatnya pada diri sendiri seraya meluruh dan menutup matanya. Punggung tangannya mengusap hidung yang tampaknya sudah berhenti mengeluarkan darah sialan itu. Tok. Tok. Tok. Fera berdecak. Gadis itu bisa melihat siapa yang ada di luar sana. Mengambil tisu dan mengusap sekitar hidungnya, Fera lalu menurunkan kaca mobilnya. Memperlihatkan sosok lelaki jangkung yang sedang menatapnya khawatir. Fera benci dengan tatapan itu. Tapi ia tidak bisa menolak jika ia sangat membutuhkan tatapan khawatir itu. Fera benar-benar membutuhkannya. Tapi bukan hanya tatapannya saja. Tapi juga perlakuannya. Bagaimana khawatir dan bagaimana paniknya lelaki itu saat tahu ia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Beberapa menit berlalu, keduanya masih dalam posisi yang sama. Lelaki itu masih menatap Fera dan menghembuskan napas lega secara terus menerus. Matanya yang tajam sama dengan Fera itu menatap adiknya dalam. Berusaha membuat gadis itu menolehkan kepala padanya dan memperlihatkan luka baru yang saat ini sedang ditutupi oleh tisu. “Kamu mau pulang?” Tanya lelaki itu seraya menarik paksa tangan Fera agar membuka tisu yang menutupi hidungnya. Darah segar yang beberapa menit lalu keluar itu kini terlihat sedikit mengering dan terhapus. Memejamkan matanya sekali, lelaki itu lalu membuka kunci pintu mobil dan membuka pintu itu tanpa meminta persetujuan adiknya. “Pulang sana,” sarkas Fera seraya menatap datar lelaki yang saat ini berjongkok di dekatnya. “Kamu gak akan pulang?” “Mau ngapain? Nyaksiin orang-orang teriak? Gimana? Rubuh gak rumah 35 M Papa?” Tanyanya dengan nada sinis. Lelaki itu menghela napas entah untuk yang keberapa kali. “Mama udah gak ada. Papa juga udah pergi, Fer.” “Gak usah banyak bohong! b******n itu baru telepon gua tadi,” jawba Fera seraya menunjuk ponselnya yang tergeletak mati di bawah sana. Lelaki itu mengambil tangan Fera dan menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih yang dibawanya sejak tadi. Mengoleskan tangan adiknya dengan lembut sebelum akhirnya memijat dengan penuh rasa. Berusaha agar adiknya agar sedikit lebih tenang. “Mama bentar lagi mau nikah. Kamu masih mau gini?” Tanya lelaki itu seraya mengusap tangan Fera dengan minyak kayu putih sekali lagi. Fera tidak menjawab. Gadis itu sepertinya sedang berusaha menenangkan diri. “Gak papa kalau gak mau pulang. Asal jangan keluar malam. Kakak nanti jaga siapa lagi kalau kamu gini. Kamu harus sayang nyawa kamu, Dek.” “Buat apa? Buat hadir di nikahan ibu lo?” Tanya Fera. Nadanya masih sarkas dan kasar. Lelaki itu menatap Fera yang juga menatapnya. “Itu Mama kamu juga.” “Sejak kapan? Papa nyumbang spermanya ke pembantu! Lo gak sadar gua bukan adek lo? Buka mata lo, Fero!” Bentak Fera seraya menunjuk kening lelaki yang ia panggil dengan sebutan Fero. Tidak ada jawaban dari lelaki yang baru saja Fera tunjuk tadi. Jarak umur yang hampir menginjak 5 tahun itu tidak membuat Fera takut akan sosok lelaki yang begitu sayang dan sangat menjaganya. Ia tidak akan kalah dan tidak akan menuruti semua keinginan lelaki itu lagi seperti beberapa tahun lalu. Ia tidak akan menjadi orang bodoh lagi. Ia tidak akan tunduk dan menyetujui semuanya hanya dengan menatap lelaki ini. Hidupnya sudah menjadi hidup sesungguhnya. Ia sudah 27 tahun. Bukan anak kecil yang masih bisa diatur. “Kalau anak pembantu, kenapa keras kepala kamu sama kaya Kakak? Kalau s****a Papa beneran dikasih ke dia, kenapa kamu mirip sama Kakak? Kenapa mata kamu biru? Kenapa gak hijau kaya Papa atau coklat kaya dia, hm?” “Karena mata gak harus sama.” “Coklat sama hijau aja jadinya gak akan biru, Sayang. Mama doang yang warnanya biru,” jawab Fero tenang. Lelaki itu lalu bangkit dan menatap arlojinya yang sudah menunjukan pukul tiga. Sebentar lagi akan pagi. Dan gadis dengan ranger rovernya ini hanya mengenakan baju kebesaran dan jaket hitam yang sama sekali tidak menutupi paha sama sekali. “Kalau Kakak penjahat kelamin, udah abis kamu sama Kakak tahu?” “Kenapa? Gak puas bukan?” Ujar Fera dan mendongkak. Menatap Fero yang kini hanya tertawa kecil. “Kakak ipar kamu udah lebih dari puas. Mau pulang dianter atau sendiri aja?” Tanya Fero seraya menunjuk mobil pajero putih yang jaraknya tak jauh dari tempat Fera berada. “Ada siapa di sana?” Tanya Fera seraya menunjuk mobil pajero yang terlihat ada orang lain di dalamnya. “Derren.” Keluarga? Omong kosong apa yang sedang kalian sebutkan? Mana ada di dunia ini yang namanya kleuarga? Sekalipun ia memang ada, apa mereka baik semua? Hah, rasanya Fera muak mendengarnya. Hanya sekedar melihat kata itu di dalam kertas saja, rasa mual Fera langsung naik dan muntah di tempat. Keluarga, ya? Sama dengan penjara rumah atau tempat latihan militer itu, kan? Yang ditindas habis-habisan sampai rasanya tidak lagi memiliki hati. Yang dibully karena status yang tidak jelas. Yang dihina dengan cacian dan juga tindakan tangan. Yang seperti itu yang namanya keluarga? Jika iya, Fera akan mengakui jika ia memilikinya. Firman Jayadi. Pria sukses yang memiliki 2 perusahaan penerbangan juga 7 cabang perusahaan cepat saji itu adalah bakal utama sosok Fera hadir di dunia. Pria berumur 60 tahun itu adalah ayah Fera yang senatiasa memberikan apapun yang Fera mau. Sekalipun Fera meminta agar dibuatkan rumah dengan desainnya sendiri. Rumah dengan total bersih hampir mencapai 36 miliar itu adalah rumah yang Fera inginkan. Sayangnya, tidak ada kenyamanan dalam rumah dengan total fantastis itu. Pembangunan yang selesai setelah 2 tahun lebih itu akhirnya bisa Fera tempati bersama dengan keluarga. Sebenarnya hanya beberapa orang saja yang mengisinya. Tapi setiap harinya, rasanya rumah itu sangat ramai. Sangat-sangat ramai. Sampai Fera saja jengah untuk pulang. Suara hantaman, barang pecah, teriakan, panggilan keras, makian, dan cacian, memenuhi seluruh penjuru rumah tersebut. Hebat, bukan? Awalnya Fera biasa saja. merasa jika apa yang ia lihat dan ia dengar setiap harinya adalah pertengkaran dua hewan yang belum jinak. Begitu pikirnya. Sebelum ia bertemu dengan sosok Rian, Angel, Akbar, Marcel dan Agung. Kelima orang yang berhasil membuat Fera akhirnya sadar jika keluarga yang sebenarnya adalah yang saling menyayangi dan saling membutuhkan satu sama lain. Keluarga adalah tempatnya pulang. Tempatnya menceritakan. Tempatnya membuat kesenangan. Tempatnya berbagi kebahagiaan. Tempatnya tertawa riang. Dan tempatnya untuk kembali merasakan ketenangan. Bukan tempat setan yang dipenuhi dengan segala amarah dan juga kekerasan. Fera akui ia tidak pernah dipukul, ditampar, didorong atau dilempari barang. Ia tidak pernah merasakan itu semua. Tapi justru itu yang menjadikan Fera seperti sekarang. Sejujurnya, Fera lebih ingin merasakan itu semua daripada sakit yang sama sekali tidak bisa diobati. Ia lebih menginginkan luka itu daripada luka yang nyatanya hanya bisa ia rasakan dan ia tekan agar tidak terlalu nyeri dan sakit. Ia justru akan sangat senang mendapatkan luka-luka semacam itu daripada yang sekarang. “Anak gak punya otak ya gitu. Udah bukan anak kandung, kerjaannya ngabisin duit orang mulu.” “Ya udah sih, Ma. Sabar aja. Lagian nanti kalau dia kerja kan bisa dibalikin lagi.” Kalimat laknat yang pertama kalinya Fera dengar saat umur 6 tahun. Benar. 6 tahun. Kalimat yang diam-diam ia dengar dari kamar kedua orang tuanya. 6 tahun itu Fera masih merasa tidak adil. Ia masih merasa jika ia harus menangis. Ia merasa jika apa yang Papa dan Mamanya katakan itu adalah hal yang sangat menyakitkan. 6 tahun diusianya, Fera menjadi sosok ganas. Memukul, menghina bahkan dikeluarkan dari sekolah karena hampir saja membuat anak lain jatuh dari lantai dua sekolah. Saat itu, ia hanya berfikir, apa salahnya? Toh ia hanya membantu anak itu yang katanya ingin pulpennya yang jatuh ke bawah. Tapi justru karena tindakanya itu, Fera mendapat cap dari banyak orang jika ia tidak waras. “Papa kan udah bilang buat jangan sekolahin dia. Kamu lupa kalau dia hampir lukai temen TKnya karena kita yang gak sengaja bentak dia?” “Lagian ngapain masih diurus sih, Mas? Kan aku udah bilang. Buang aja! Itu bukan anak aku! Dia cuman kesalahan kamu!” Kesalahan? Fera mulai mencari arti kata itu sampai umurnya 10 tahun. Sampai akhirnya ia tahu apa maksudnya. Menginjak 12 tahun, ia bertemu Agung. Awalnya ia kira Agung juga memiliki keluarga yang sama. Namun saat pertama kalinya ia berkunjung ke rumah lelaki itu untuk kerja kelompok, Fera tertegun. Terkejut sekaligus tidak percaya. Orang tua Agung ramah. Baik dan menanyakan bagaimana hari-hari Agung saat di skeolah. Ibu Agung juga sangat lembut. Bahasanya begitu baik. Tidak berteriak dan tidak menunjuk dengan kasar pada Agung yang melakukan kesalahan. Saat itu Fera tahu jika yang salah bukan dirinya melainkan keluarganya. “Agung punya ibu yang baik! Agung juga gak dimarahi! Kenapa Mama kasar?” “Sialan! Belajar ngomong yang bener dulu. Liat badan kamu. Dekil banget. kamu mau orang-orang gak ngaku kamu?! Udah bukan anak kandung, ngelunjaknya minta ampun.” Saat itu harusnya Fera sudah sadar jika Mamanya memang tidak suka padanya. Tapi Fero, Kakak lelakinya itu selalu datang saat malam dan mengatakan jika Mama hanya sedang lelah karena pekerjaan. Sayangnya, hari itu Fera mengiyakan dan setuju dengan apa yang Fero bilang. Selang 8 tahun, Fera bertemu dengan Rian dan keluarga lelaki itu. Dan saat itu juga, Fera benar-benar tersadar jika Mamanya selama ini tidak menyukainya. Ralat, bukan hanya Mamanya tapi juga Papanya. Dua orang yang menjadi manusia tertua di keluarganya itu adalah dua orang yang menjadi pelopor sosok Fera saat ini. Kasar, sarkas, sinis, tidak punya tatakrama, berantakan dan tidak punya sopan santun adalah hal yang melekat dalam diri Fera. Cibiran tentang penampilannya tidak lagi Fera dengar. Baginya itu hanya angin lalu. Karena ia masih memiliki Fero yang ada untuknya. Sampai kejadian 2 tahun lalu benar-benar merusak seluruh syaraf Fera. Firman Jayadi, pria agung itu menampar dan memukul Mamanya. Begitupun sebaliknya. Seluruh barang yang ada di dalam rumah tidak berbentuk. Jika kalian mengira Mamanya tidak bisa apa-apa. Maka semuanya salah. Mamanya adalah akar dari permasalahan ini. Ia merenggut semua milik Papanya dan memberikannya pada lelaki yang umurnya bahkan lebih muda dari Fera dengan alasan wanita tua itu menyukainya. Keluarga b******k yang paling b******k yang pernah Fera temui. Dan beberapa saat lalu, Fera mendapatkan pesan jika Papanya akan tetap bertahan dengan sang mama juga akan memiliki istri baru. Sedangkan sang mama mengatakan akan bercerai dan akan menikahi lelaki yang sudah dibelinya habis-habisan selama 2 tahun itu. Fera sudah tidak tahu harus melakukan apalagi. Ia benar-benar ingin mati. Kasih sayang? “Orang gila saja tahu mana yang harus dimakan dan mana yang harus dibuang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN