“Jadi kenapa?” Fera yang masih terengah hanya bisa menatap Gean dengan wajah kesalnya. Gadis yang masih duduk di atas paha Gean itu hanya menjawab dengan kedikan bahu. Membuat Gean menghela napas kesal. “Gak ada apa-apa.” “Lo yang bilang mau cerita, kan? Kenapa sekarang malah bilang gak ada apa-apa? Apa sih, Fer? Masa mau gini terus? Sampe kapan?” Kesal Gean seraya menurunkan gadis itu dari pangkuannya. “Gua udah coba ngertiin lo dan berusaha paham sama apa yang lo lakuin selama ini. Apapun tentang lo dan permintaan lo, sebisa mungkin gua buat dengan baik dan lebih dari yang lo minta. Tapi, kalau lonya aja gini, gimana gua bisa ngertiin lo yang sekarang? Kita sama-sama dewasa, Fer. Kita juga—“ “Cuman lo yang dewasa, Ge,” potong Fera dengan wajah santainya. Mata gadis itu menatap mata

