Malam harinya. Antony datang ke rumah untuk memberikan obat Daren yang tertinggal di tas miliknya. “Terima kasih, Antony. Jangan dulu suruh dia kerja, ya. Daren masih sakit kayaknya.” Antony mengangguk. “Iya, Devya. Aku ke sini hanya untuk memberikan obat Pak Daren, bukan untuk memintanya menyelesaikan pekerjaannya. Dokter juga meminta agar Pak Daren istirahat dalam beberapa hari ini.” Devya menatap wajah Antony. “Waktu operasi lima tahun yang lalu, kamu sudah kerja dengannya, kan?” Antony mengangguk lagi. “Ya. Baru beberapa bulan aku bekerja dengan Pak Daren. Dia memaksakan diri tetap bekerja atas tekanan dan tuntutan dari papinya padahal lambungnya sudah bengkak saat itu. “Dokter Beni yang merupakan dokter pribadi Pak Daren karena kondisi Pak Daren saat itu sedang di ambang kematia

