Sementara di Jerman baru jam lima sore. “Pak. Devya meminta Anda untuk pulang. Jangan terlalu banyak minum katanya.” Daren menoleh pelan. “Kenapa bilang kalau aku lagi di sini?” tanyanya dengan suara beratnya. Antony menghela napas kasar. “Karena Devya ingin tahu apa saja yang Anda lakukan di sini. Lalu, saya harus memberi kabar bohong padanya?” “Ck!” Daren menghela napasnya. Lalu menepuk pundak Mathew, ia harus kembali ke hotel karena besok masih ada pertemuan dengan koleganya di sana. “Devya udah tidur kali, ya? Di Indonesia udah jam sebelas malam.” Daren melihat jam Indonesia di ponselnya setelah satu jam lamanya ia mengembalikan kesadarannya karena mabuk tadi. Antony mengangguk. “Ya. Devya sempat pamit tidur sebelum meminta saya untuk membawa Anda pulang.” Daren menyandarkan pun

