bc

Terjerat Pernikahan Paksa

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
opposites attract
heir/heiress
tragedy
bxg
scary
loser
wild
like
intro-logo
Uraian

Gosip mengenai Erlang Gaviano beredar dengan cepat di kalangan elit kota. Pria kaya berusia 28 tahun ini, yang dikenal karena kesuksesannya dalam bisnis, tiba-tiba menjadi bahan perbincangan karena rumor tentang keterlibatannya dengan wanita-wanita bayaran. Kabar ini sampai ke telinga ibunya, Sonya Gaviano, seorang wanita yang sangat menjaga reputasi keluarga. Sonya, marah dan cemas, memanggil Erlang untuk membahas situasi ini. "Erlang, kamu harus menikah! Kita perlu memperbaiki nama baik keluarga kita!" serunya, suara penuh tekanan. Erlang, dengan sikap santai, menjawab, "Mama, aku tidak akan menikah. Semua ini tidak penting."Sonya tidak menyerah. Dalam pandangannya, satu-satunya cara untuk menutup aib adalah dengan menjodohkan Erlang dengan seorang gadis yang dapat dipersepsikan sebagai istri ideal. Ia akhirnya memilih Miranti Larasati, seorang gadis berusia 22 tahun dari desa yang terpinggirkan. Miranti adalah sosok manis dan sederhana, tanpa pengalaman hidup di dunia glamor Erlang. Dia dipilih karena dianggap tidak bisa melawan keputusan Sonya.

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Skandal Dan Keputusan Mama
Suasana pagi yang tenang di rumah keluarga Gaviano mendadak berubah saat Sonya Gaviano, ibu sekaligus nyonya besar keluarga tersebut, membaca berita terbaru yang membuat darahnya mendidih. Ia tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya di layar tablet, sebuah berita yang begitu menghancurkan martabat dan nama baik keluarga Gaviano. Judul beritanya tebal dan memancing perhatian: *"Skandal Tuan Muda Gaviano, Bermain dengan Wanita Bayaran dan Keluar Masuk Hotel."* Sonya melempar tablet itu ke sofa, hampir saja menghancurkan layar yang sudah retak akibat tekanan tangannya yang penuh amarah. “Tidak mungkin! Erlangga tidak akan mempermalukan keluarga seperti ini!” gumamnya, tangan terkepal dan wajah memerah menahan emosi. Erlangga Gaviano, putranya satu-satunya, adalah pewaris keluarga yang selama ini dia banggakan. Ia selalu berharap Erlangga akan tumbuh menjadi pria yang kuat, berwibawa, dan terhormat. Namun, berita itu telah membuatnya ragu. Ia tidak bisa tinggal diam. Tanpa menunggu lama, Sonya meraih ponselnya dan langsung menelepon Erlangga. Tidak peduli bahwa saat ini mungkin putranya sedang sibuk, Sonya hanya ingin mendengar penjelasan langsung darinya. Sementara menunggu panggilan tersambung, pikirannya sudah berkecamuk dengan berbagai prasangka. Mungkinkah Erlangga benar-benar melakukan semua hal buruk yang diberitakan? “Hallo, Ma?” Suara Erlangga terdengar tenang di seberang, seolah tidak tahu bahwa dunia keluarganya sedang bergejolak karena ulahnya. "Erlangga! Kamu harus pulang sekarang juga!” suara Sonya penuh ketegasan yang tak terbantahkan. Di seberang, Erlangga terdengar bingung. "Pulang? Ma, saya sedang sibuk. Ada banyak pekerjaan di kantor. Bisa nanti saja?" Nada suara Sonya mengeras. “Jangan menentang, Erlangga! Ini penting. Kamu harus pulang sekarang juga, atau Mama sendiri yang akan mendatangi kantormu dan menyeretmu keluar. Kamu dengar?” Mendengar ancaman ibunya, Erlangga terdiam. Ia tahu, ketika ibunya sudah berbicara seperti ini, tidak ada gunanya menolak. Dengan berat hati, ia menutup telepon dan bersiap-siap meninggalkan pekerjaannya di kantor, meski ia tidak suka dengan cara ibunya memperlakukannya seperti ini. *** Sesampainya di rumah, Erlangga menemukan ibunya sudah menunggu di ruang tamu, duduk di atas sofa dengan sikap kaku dan dingin. Matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah bisa mengiris hati siapa pun yang berani membantahnya. "Erlangga, duduk!" perintah Sonya dengan nada tegas. Erlangga menarik napas panjang dan duduk di hadapan ibunya, mencoba bersikap santai meskipun ia tahu suasana sedang tegang. “Ada apa, Ma? Kenapa memanggil saya tiba-tiba?” tanyanya, berusaha terlihat tenang. Sonya mengambil tablet yang tadi dilemparnya, menunjukkan layar yang menampilkan berita skandal yang menghebohkan. “Kamu bisa jelaskan ini?” tanyanya dengan nada penuh amarah, menunjuk ke arah layar. Erlangga terdiam, pandangannya melemah saat melihat artikel itu. Namun, ia segera memulihkan ekspresinya dan mencoba tersenyum kecut. “Ah, itu cuma berita gosip, Ma. Jangan terlalu diambil pusing. Mereka memang suka mencari sensasi.” “Gosip? Erlangga, foto-fotomu jelas-jelas ada di situ! Keluar masuk hotel bersama wanita-wanita yang….” Sonya tidak bisa melanjutkan kata-katanya, merasa jijik dan marah sekaligus. Erlangga hanya mengangkat bahu, berusaha untuk tetap tenang. "Ma, saya masih muda. Saya punya hak untuk menikmati hidup. Apa salahnya? Saya belum menikah, dan itu urusan pribadi saya." Sonya menatap putranya dengan penuh kekecewaan. “Kamu pikir ini hanya soal menikah atau tidak? Kamu adalah pewaris keluarga Gaviano. Setiap langkahmu akan selalu jadi sorotan. Kamu punya tanggung jawab, bukan hanya terhadap diri sendiri, tapi juga terhadap nama baik keluarga ini!” Erlangga mendengus pelan, seolah sudah muak dengan pembicaraan ini. “Ma, sepertinya Ma terlalu serius memandang masalah ini. Keluarga ini selalu menekan saya untuk sempurna. Saya hanya ingin sedikit kebebasan untuk menjadi diri sendiri.” Sonya menahan diri untuk tidak meledak lagi. Dengan nada yang lebih lembut namun penuh rasa sakit, ia berkata, “Kebebasan yang kamu inginkan itu seharusnya tidak menghancurkan harga dirimu sendiri. Tidak ada yang salah dengan bersenang-senang, Erlangga, tapi itu bukan alasan untuk merusak kehormatanmu sendiri dan keluarga ini.” Erlangga terdiam, kali ini dia benar-benar merasakan beban yang disampaikan oleh ibunya. Selama ini, ia memang merasa bahwa semua tuntutan keluarga terlalu berat. Ia ingin lari dari semua ekspektasi itu, namun tidak tahu bagaimana caranya. "Ma... mungkin selama ini saya hanya merasa tertekan. Semua orang memandang saya seolah saya harus menjadi pewaris yang sempurna, harus berhasil, harus kuat, harus bertanggung jawab. Itu membuat saya lelah," Erlangga mengakui dengan suara pelan. Sonya menghela napas panjang, mencoba memahami perasaan putranya yang mungkin selama ini tidak ia dengarkan. “Kamu tidak sendirian, Nak. Mama tahu bebanmu berat. Papamu pun tahu. Tapi itu bukan alasan untuk menghancurkan diri sendiri. Kita semua punya tanggung jawab, Erlangga, dan Mama hanya ingin kamu menjadi orang yang bisa membanggakan diri sendiri tanpa harus kehilangan jati diri.” Suasana berubah hening. Erlangga menunduk, perlahan mulai menyadari kesalahan-kesalahannya. Ia telah bertindak seolah hidup ini hanya tentang kesenangan dan kebebasan tanpa batas. Mungkin, ia perlu memahami apa yang dimaksud ibunya dengan kebanggaan dan tanggung jawab. “Aku minta maaf, Ma,” katanya akhirnya, suara Erlangga terdengar tulus. “Aku tahu aku sudah membuat Mama kecewa, dan mungkin juga Mama. Aku akan berusaha untuk berubah.” Sonya tersenyum puas ketika mendengar janji Erlangga untuk berubah. Namun, senyum itu segera diiringi dengan satu permintaan besar yang ia simpan di dalam hati selama ini. “Kalau kamu memang serius ingin berubah, maka ada satu hal yang harus kamu lakukan,” ujar Sonya tenang, meskipun matanya memancarkan harapan yang kuat. Erlangga menatap ibunya dengan sedikit curiga. “Apa, Ma?” tanyanya ragu. Sonya mendekat, meletakkan tangannya di bahu putranya. “Menikah, Erlangga. Itu yang Mama inginkan darimu. Sudah saatnya kamu berumah tangga, dan itu akan menjadi awal yang baru dalam hidupmu. Dengan menikah, kamu akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar, dan Mama yakin itu bisa mengubahmu.” Wajah Erlangga langsung tegang. Dia tidak pernah menyangka bahwa ibunya akan memberikan permintaan seperti ini. “Menikah? Ma, menikah bukan solusi dari masalah ini,” jawabnya cepat. “Aku berjanji untuk berubah, tapi menikah? Itu keputusan besar, Ma. Lagipula, aku belum siap.” Sonya menggeleng, seolah tidak mau mendengar bantahan. “Tidak ada alasan, Erlangga. Kamu sudah cukup dewasa. Usia yang sudah matang, dan ini saatnya. Keluarga Gaviano membutuhkan sosok istri yang mendampingi pewarisnya. Mama yakin, dengan berkeluarga, kamu akan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.” Erlangga mendengus, mengusap rambutnya dengan gerakan kasar. “Astaga, kenapa semua harus berubah jadi seperti ini, hah?! Ma, aku tidak ingin menikah hanya karena ini. Aku ingin menikah ketika aku memang sudah siap, dan bukan karena paksaan.” Namun, Sonya tidak bergeming. “Ini bukan soal paksaan, Erlangga. Ini soal masa depanmu dan masa depan keluarga kita. Kamu bisa saja terus berkata siap atau tidak siap, tapi faktanya, kamu tidak bisa terus hidup tanpa arah. Dengan menikah, kamu akan punya komitmen dan tanggung jawab yang lebih besar. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu.” Erlangga mendengarkan ucapan ibunya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia marah, bingung, dan merasa tidak nyaman. Dia merasa tidak perlu menikah untuk berubah. Namun, ibunya tampak begitu yakin bahwa pernikahan akan menjadi solusi. Dia menyadari bahwa ibunya mungkin tidak akan berhenti sampai ia setuju dengan keinginan tersebut. Dengan suara berat, ia berkata, “Baiklah, Ma, aku akan mempertimbangkannya. Tapi tolong jangan paksakan ini. Aku perlu waktu untuk memikirkannya.” Sonya tersenyum lembut, meski tetap penuh dengan keyakinan. “Ambillah waktu, Erlangga. Tapi Mama berharap kamu akan mengambil keputusan yang benar. Karena menikah bukan hanya soal memiliki pasangan, tapi soal menjadi sosok yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Ingat, ini bukan hanya untuk keluarga, tapi juga untuk dirimu sendiri.” Erlangga menghela napas panjang, menatap ibunya dengan ekspresi lelah. Ia tahu, meskipun ia mempertimbangkan, pada akhirnya ia harus menuruti keinginan ibunya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook