“Zayed!” suara lembut seorang wanita menyapa pendengaran Pangeran Zayed.
Sang Pangeran segera menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dan anggun, dalam balutan gaun berwarna krem dari sutera dengan hiasan batu-batu yang indah di bagian d**a. Rambut cokelat gelapnya sewarna dengan rambut Pangeran Zayed, dan terdapat mahkota indah dari batu safir dan amber yang berkilauan dipadu dengan kerudung berwarna senada yang tersampir di bagian belakang rambutnya.
“Assalamu’alaikum, ya Amati,” sapa Pangeran Zayed dengan senyum bahagia. Ia mendekati Ratu Ameera yang merupakan sang ibu, untuk membungkuk dan menyentuh kakinya, sedangkan sang Ratu mengusap kepala Pangeran Zayed.
“Wa’alaikumsalam, ya abni. Aku sangat bahagia kau pulang tanpa kekurangan apapun,” kata Ratu Ameera dengan suara nyaris menahan tangis. Begitu merindukan putranya yang akan memanggil ‘amati’––panggilan hormat dan sayang kepada ibu––lalu ia akan memanggil ‘abni’ yang artinya putraku.
Pangeran Zayed tersenyum dan memeluk sang ibu dengan penuh kasih sayang. Pelukan yang sangat berarti baginya, karena sejak remaja ia jarang sekali bisa bertemu dengan ibundanya. Peperangan, merebut kekuasaan dan memperluas wilayan kekuasaan seakan sudah menjadi hidupnya. Semua ia lakukan demi Kerajaan dan Raja.
“Aku sangat merindukanmu, Amati,” bisik Pangeran Zayed.
“Aku juga sangat merindukanmu, abni. Ayo, Ayahandamu sudah menunggu.”
Pangeran Zayed dan Ratu Ameera memasuki istana yang besar dengan arsitektur yang sangat indah. Koridor istana dengan langit-langit tinggi dan lantai dari marmer yang mengkilap, juga pilar-pilar besar yang menyangga dengan pintu-pintu yang melengkung. Istana itu sangat mewah dan indah, dengan atap yang membentuk kubah berwarna hijau. Jendela-jendela besar berukiran, dinding-dinding yang indah juga mengkilap berwarna krem.
Mereka mendekati sebuah ruangan, dan dua orang penjaga segera membuka pintu besar dengan bentuk melengkung dan berukiran indah itu. Ketika pintu terbuka lebar, Pangeran Zayed berjalan masuk menggandeng sang ibu. Wajahnya tak menampakan ekspresi apapun selain dingin, tertutup dan tak tersentuh.
Di dalam ruangan itu, ada kursi singgasana untuk Raja yang memiliki kanopi berbentuk kubah dan tirai terikat di pilarnya. Duduk satu sosok yang terlihat agung dan penuh wibawa dengan aura kepemimpinan yang kental. Sosok Raja Ahmed Al-sheiraz, dalam balutan pakaian Raja yang indah dihiasi bordiran rumit juga bebatuan permata di setiap garis pakaiannya, ikat pinggang kulit yang juga dilapisi bebatuan permata. Jubah besarnya menjuntai sampai bawah dengan bordiran dari benang emas yang indah dan mewah.
“Ya abni Zayed,” kata Raja dengan senyum senang seraya bangun dan berdiri.
Di ruangan itu, tidak hanya ada sosok Raja. Akan tetapi ada sosok Perdana Menteri, Pangeran Pertama dan juga selir Mahrema yang cantik dan anggun. Selir yang diangkat setelah Raja menikahi Ratu Ameera, akan tetapi selir resmi Mahrema lebih dulu melahirkan daripada Ratu. Usia kedua Pangeran hanya berjarak beberapa bulan.
Pangeran Zayed membungkuk dengan hormat. Meski hatinya terasa semakin dingin mendengar ayahnya memanggil ‘putraku’ setelah sekian lama dirinya hanya menjadi Panglima perang dan memenangkan setiap peperangan dalam perebutan wilayah kekuasaan. “Salam hormat, Abati,” katanya dengan panggilan hormat dan sayang.
Ketika Pangeran Zayed mengangkat tubuhnya hingga berdiri tegap, pandangannya bertemu dengan seorang pria yang juga tampan dan penuh wibawa. Dalam balutan pakaian seorang Pangeran yang mewah, yang merupakan pakaian terusan dengan jubah berwarna hitam dan memiliki sulaman indah. Rambutnya hitam pekat dengan mata cokelat gelap. Sorot matanya lebih lembut dan menenangkan.
“Tiba hari ini, di mana aku akan mengumumkan siapa penerusku,” kata Raja Ahmed memulai, dan semua orang terdiam. “Meski Rasyad adalah sheikh pertama dan Zayed putra dari Ratu Ameera, aku tidak bisa memutuskannya secara langsung. Aku membutuhkan banyak sekali pertimbangan.”
Semua orang terdiam menanti keputusan Raja. Selir Mahrema terlihat begitu percaya diri dan arogan, senyuman kecil tak lenyap dari bibir merahnya. Di sampingnya Pangeran Rasyad Al-sheiraz, hanya diam dengan senyum ramah di wajahnya. Wajah ramah dan lembut itu, selalu menjadi dambaan setiap wanita.
Sedangkan Ratu Ameera meremas-remas kedua tangannya dengan gelisah, bersama Pangeran Zayed yang terlihat tenang seakan tak pernah mengharapkan takhta apapun yang akan ayahnya berikan.
“Aku telah memilih Zayed untuk menjadi penerusku. Kau telah membawa banyak kemenangan dan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan kita, membuat rakyat merasa aman dan damai. Aku sangat bangga padamu, Zayed.” Raja Ahmed tersenyum dengan kedua tangan terentang.
Ruangan itu mendadak senyap, semua mata memandang ke arah Pangeran Zayed yang seakan tak terlihat begitu bahagia mendapat gelar Putra Mahkota. Berbagai pandangan dan reaksi pun didapatkannya, begitu pun dengan selir Mahrema yang hanya tersenyum penuh kepalsuan, sedangkan Pangeran Rasyad menampilkan wajah datar.
“Zayed?” bisik Ratu Ameera.
Pangeran Zayed mendekati Raja Ahmed dan membungkuk dengan sebelah tangan di d**a tanda hormat. “Terima kasih, Abati,” katanya tanpa ada kebahagiaan dalam suaranya.
Raja Ahmed mendekat dan menepuk bahu Pangeran Zayed. “Mulai besok, kau harus terus berada di ibu kota. Setelah aku tiada, aku serahkan takhta dan Kerajaan ini untukmu. Aku juga akan mengirim Rasyad ke kota Syad untuk memimpin. Sebelum aku mangkat, carilah seorang Permaisuri untuk mendampingimu.”
“Baik, Abati.”
Raja Ahmed pun melangkah meninggalkan kursi kekuasaannya diikuti oleh para pelayan dan kasim setianya. Begitu pun dengan selir Mahrema yang terlihat kesal dan berlalu dari ruangan itu. ketika semua orang pergi, hanya tinggal Pangeran Zayed dan sang Ratu, juga Pangeran Rasyad yang mendekat.
“Aku ucapkan selamat. Kau memang pantas menjadi pemimpin Ghaliah, Zayed,” ujar Pangeran Rasyad dengan senyum simpul.
Pangeran Zayed tidak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk kecil kemudian menghadap sang ibu dan memeluk bahunya untuk diajak pergi dari ruangan itu. mereka berjalan melintasi koridor istana yang megah dengan pemandangan taman dengan rumput-rumput hijau dan bebungaan. Ada pohon-pohon palem yang menambah keindahan siang hari yang terik itu.
“Amati, kau bahagia?” tanya Pangeran Zayed.
Ratu Ameera tersenyum dengan begitu anggunnya. “Aku sangat bahagia, jika kau tidak terpilih menjadi Putra Mahkota maka aku akan semakin jauh denganmu.” Ratu Ameera berhenti melangkah dan menggenggam tangan sang putra dengan tatapan teduh dan penuh kasih sayang. “Zayed, carilah istri baru. Usiamu sudah cukup untuk menikah kembali, kau juga membutuhkan permaisuri Putra Mahkota.”
Pangeran Zayed menarik kedua bibirnya membentuk senyum. Mata cokelat keemasan itu terlihat lebih hidup dan hangat. “Aku akan mencari istri sesuai pilihanku sendiri,” balasnya.
Ratu Ameera mengangguk pelan, tangan halusnya terulur untuk menyentuh rahang tegas Pangeran Zayed. “Ayahandamu sudah menyiapkan beberapa putri bangsawan, mungkin mereka akan datang satu bulan lagi. Kau bisa mengenal mereka dan pilih yang sesuai dengan pilihanmu.”
“Amati, aku masih ingin sendiri dan akan memilih istriku sendiri.”
“Ini, simpanlah dan berikan pada istrimu nanti. Ini pemberian dari Kakekmu, dan bisa menjadi pelindung untuk istrimu kelak.” Ratu Ameera memberikan sebuah jepit rambut dipenuhi dengan batu safir berwarna biru dan merah yang indah dan mewah.
“Terima kasih, Amati.”