Pagi ini Zayed terlihat lebih segar dengan rambut yang sudah mengering, dishdasha berwarna abu-abu dan mengenakan keffiyeh dan egal. Bibir yang biasa mengetat tipis terlihat membentuk senyum amat samar, tatapan dari mata cokelat amber yang biasa tajam dan dingin sedikit lebih hidup dan cerah. Pikirannya kembali pada kejadian semalam, ketika Keana bersedia untuk bercinta dengannya. Wanita itu sangat luar biasa, meski untuk pertama kalinya. Dia menginginkan Keana, begitu pun sebaliknya. Akan tetapi kenyataan bahwa mereka dari dunia yang berbeda membuat Zayed seakan tertampar.
“Jika dia kembali ke dunianya, dia tidak akan pernah bisa kumiliki,” gumamnya dengan kedua tangan mengepal, meremas surat di tangannya. Tatapannya teralih ke atas ranjang yang ditutup kelambu, di mana tubuh Keana sedang berbaring dengan hanya ditutupi selimut.
Pintu kamarnya diketuk dari luar, dan Zayed segera bangun untuk membukanya. Ada sosok Ayaz yang membungkuk singkat sambil memberi hormat.
“Emir. Anda sudah membaca surat dari kota Syad?” tanya Ayaz.
Zayed mengangguk dan menunjukan suratnya. “Aku sudah membacanya. Ada para perompak yang bersembunyi di sana, dan aku harus menanganinya segera sebelum menjadi bencana bagi rakyat Syad.”
“Tidakkah Rasyad Emir saja yang pergi dan menanganinya? Beliau yang akan memimpin kota Syad nanti.”
“Aku harus menanganinya langsung. Rasyad tidak akan diperbolehkan untuk menangani Syad saat ini sebelum aku naik takhta.”
Ayaz mengangguk tapi ia terlihat sedikit tidak setuju. “Tapi, bukankah dengan mengirimkan Rasyad Emir dia akan mendapatkan reputasi yang baik dan disukai rakyat Syad?”
Zayed menatap Ayaz dengan tajam dan dingin, seakan bisa melukai bola matanya. “Rasyad tidak dibesarkan dalam pasukan militer. Yang akan dia tangani adalah para perompak yang bersembunyi di sana. Apa yang akan dia lakukan jika mereka bergerak dan mengancam kota?” tanya Zayed dengan nada sedikit mencemooh dan keangkuhan khas bangsawan yang kental.
“Anda benar, Emir,” balas Ayaz yang akhirnya paham.
“Siapkan kuda, dan kita pergi ke Syad hari ini.”
“Baik, Emir!” sahut Ayaz, ketika ia hendak berbalik terdengar suara lembut seorang wanita memanggil Zayed dari balik kelambu. Ayaz sedikit melongok dan membulatkan mata ketika melihat sosok Keana yang menyembulkan kepala dari balik kelambu hanya mengenakan selimut. Dengan rambut pirang berantakan, dan bahu telanjang.
Zayed yang melihat perbuatan lancang Ayaz pun hanya menatapnya dengan tajam dan menggeram tak suka. “Aku tak suka kau menjadi lancang, Ayaz,” katanya.
Ayaz buru-buru membungkuk dan mundur. “Maafkan saya, Emir. Saya memang lancang. Saya akan siapkan kudanya.”
Sebelum Ayaz pergi Zayed menahannya kembali. “Kau sudah menemukan siapa yang mengejarku malam itu?”
“Saya belum menemukan petunjuk apa pun, semuanya sangat tertutup rapat. Saya sudah menyelidiki di istana, dan tidak ada yang bisa saya temukan. Kecurigaan saya masih tetap sama seperti sebelumnya.”
“Ya, aku juga merasakan hal sama. Aku akan segera ke istal, kau tunggu di sana.”
Ayaz kembali membungkuk kemudian undur diri dan berlalu. Setelah orang kepercayaannya itu pergi, Zayed menutup pintu dan berjalan menghampiri ranjang di mana Keana masih duduk sambil menatap ke pintu.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Keana dengan wajah ingin tahu.
“Kau sudah bangun? Aku akan pergi karena ada urusan.”
Keana menggigit bibirnya dengan pipi bersemu merah sambil menahan selimut di dadanya. “Yang semalam... aku sudah tahu seperti apa para pria gurun di ranjang.”
Zayed menatap Keana dalam-dalam, ia berdeham untuk menyembunyikan senyum tipisnya dan tetap bertahan dengan wajah tenang dan tatapan tajam. “Kau harus bangun dan membersihkan diri. Fatimah akan mengantar sarapan ke kamarmu. Selama aku tidak ada di sini, kau harus tetap di sini dan jangan pergi. Aku akan kembali secepatnya.”
Keana turun dari ranjang dan berdiri di hadapan Zayed dengan selimut melilit di tubuhnya. “Berapa lama kau pergi?”
“Mungkin enam hari. Ada Fatimah dan Akhsan yang akan menemanimu dan kau bisa mengatakan apa pun yang kau butuhkan pada mereka.”
Zayed meninggalkan Keana dan berjalan ke pojok ruangan untuk mengambil jubah berwarna emasnya yang tergantung lalu mengenakannya. Ia juga mengambil sebilah pedang dengan sarung berwarna hitam dan berukiran kepala singa. Sebelum melangkah keluar, ia menatap Keana dan tersenyum kecil.
“Jaga dirimu baik-baik,” katanya pada Keana kemudian keluar dari kamar.
***
“Badanku pegal-pegal, rasanya pinggangku mau patah.” Keana menggerutu sambil merenung di taman, sambil memandangi tanaman bunga yang berwarna-warni di bawah sinar matahari yang terik. “Apa bercinta bisa semerepotkan ini? Semalam aku tidak merasa pegal, tapi paginya pinggangku terasa mau patah,” gerutunya lagi.
Keana menghela napas dan memetik bunga mawar merah, kemudian menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Di cuaca yang panas seperti ini, mengenakan abaya berwarna biru dan tebal dengan kerudung yang tersampir di kepalanya, membuatnya sedikit tak nyaman. Sambil membuka kerudungnya, Keana mengambil kipas dari bulu merak kemudian mengipasi wajahnya.
“Apa semua pria gurun seperti itu? Zayed benar-benar tidak punya rasa lelah sama sekali, meski aku nyaris pingsan semalam.” Dengan wajah memerah dan menghangat, ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Kegiatannya semalam bersama Zayed terus berputar di kepalanya, seakan tak mau pergi meninggalkannya. Keana menyentuh dadanya sendiri yang berdetak hangat. “Zayed memperlakukanku dengan sangat baik. Meskipun dia baik, tapi aku tak boleh jatuh cinta padanya. Dunia kami berbeda,” renungnya dengan sedikit muram.
Ketika sedang melamun, Fatimah datang menghampirinya sambil membawa nampan berisi cawan dan poci unik dengan leher panjang. Menaruhnya di meja kecil yang berada di samping Keana, menuangkan minuman berwarna keemasan yang menguarkan wangi mawar dan madu.
“Nona, ini minuman untuk Anda. Teh mawar dan madu,” kata Fatimah dalam bahasa Inggris.
Keana menoleh dan membulatkan matanya menatap Fatimah dengan tak percaya. “Kau bisa bahasa Inggris? Kenapa tidak mengatakannya sejak semalam? Aku seperti orang gila berbicara dengan menggunakan isyarat,” gerutu Keana dengan ketus karena kesal.
Fatimah membungkuk meminta maaf. “Maafkan saya, karena memang bahasa asing saya masih kurang. Zayed Emir memberi titah agar saya menggunakan bahasa Britania pada Nona.”
Dengan sebal Keana mengambil gelas berisi teh mawar, kemudian meneguknya dan menatap Fatimah dengan sinis. Manisnya madu dan wangi aroma mawar kering terasa begitu menenangkan ketika mengalir di tenggorokannya, dan Keana harus melupakan rasa kesalnya pada Fatimah.
“Tidak apa-apa, lupakan saja,” katanya seraya menaruh cangkirnya. “Eh, kalian selalu memanggil Zayed dengan sebutan Emir. Apa artinya?”
Fatimah diam tanpa mengatakan apapun, dan Keana menunggunya. Semilir angin berembus menerbangkan rambut pirang Keana dan cadar Fatimah. Tak ada yang berbicara, dan hal itu membuat Keana kembali kesal. Ia pun bangun dan menepuk pakaiannya.
“Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya. Menyebalkan sekali. Andai ada ponsel, aku bisa menghubungi Zayed dan bertanya padanya saja, atau bertanya pada google yang tahu segala hal. Apa di sini tidak ada televisi? Oh lupakan, ini kan abad 16. Aku harus apa ya? Berkuda? Berkebun? Atau...” Keana terdiam sejenak dengan dahi mengerut memikirkan sesuatu.
Fatimah yang melihat semua tingkah Keana hanya mengerutkan dahi dengan kebingungan. Bahasa Inggrisnya yang terbatas dan juga bahasa serta kata-kata yang Keana ucapkan terasa sangat aneh baginya.
“Fatimah! Pijat aku ya!” pintanya pada Fatimah dengan senyum cerah.
Tanpa menunggu Fatimah menyetujuinya, Keana sudah meraih tangannya dan mengajaknya untuk pergi ke kamarnya. Langkah Keana lebar dan berderap di koridor, membuat Fatimah mengikutinya setengah berlari. Begitu tiba di kamarnya, Keana segera melempar kerudungnya dan membuka pakaiannya sampai ia hanya mengenakan pakaian dalam saja.
“Badanku pegal semua. Aku punya satu kantung koin emas, nanti aku berikan untukmu ya,” kata Keana lagi seraya naik ke ranjang dan menelungkup.
Keana melihat Fatimah yang ragu-ragu, tapi kemudian wanita itu mengangguk dan membawa botol keramik berwarna putih, duduk di tepi ranjang dan mulai membaluri kaki Keana dengan minyak yang menguarkan aroma yang menenangkan. Tatapan Fatimah sedikit dialihkan ke arah lain ketika melihat tubuh putih Keana yang terdapat bercak-bercak merah bekas gigitan di beberapa bagian, seperti pinggul dan bahu, juga bagian paling pribadi––di b****g sekalnya. Siapapun yang melihat keadaan Keana akan tahu, telah terjadi sesuatu antara Keana dan Zayed.
“Apa aku perlu melepas ikatan dadaku?” tanya Keana yang dijawab gelengan oleh Fatimah. “Ah, ternyata dipijat menyenangkan juga. Zayed membuat seluruh tubuhku pegal.”
Keana bergumam dan menyandarkan pipinya ke tangan, ia memejamkan mata merasakan pijatan dari tangan halus Fatimah. Di punggung, kaki, bahu dan tangannya. Karena menikmati pijatannya, Keana sedikit terbuai dan memejamkan matanya. Tanpa sadar ia terlelap dengan napas yang menderu halus.
Ketika Keana sudah tertidur, Fatimah berhenti memijatnya. Wanita itu memastikan Keana benar-benar tertidur, kemudian pergi ke meja yang terdapat kertas-kertas dan juga kuas tinta. Sambil melirik Keana yang tertidur, Fatimah menulis sesuatu dalam bahasa Arab kemudian melipat kertasnya menjadi kecil. Ia berjalan ke arah Keana, mengambil selimut dan menyelimutinya sampai bahu.
“Selamat tidur, Nona keana,” gumam Fatimah lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Fatimah keluar dan berjalan cepat di koridor, sampai ia tiba di kandang burung falcon yang sudah terlatih milik Zayed, yang biasa digunakan untuk mengirim surat. Fatimah pun menyusupkan gulungan kertas kecil itu ke selongsong yang ada di kaki falcon, lalu menerbangkannya, hingga burung itu terbang tinggi ke udara meninggalkan paviliun.
***