Chapter 16

1968 Kata
Al-Mahad Harbor, Ghaliah 1560 Suara derap kuda di atas tanah berdebu itu sedikit teredam oleh ramainya aktifitas orang-orang. Suara gerungan-gerungan dari kapal yang datang dan pergi, dengan banyaknya orang-orang mengangkut peti-peti besar dari kapal ke tanah. Pemandangan pelabuhan Al-Mahad yang menjadi pusat berlabuhnya kapal-kapal dagang sudah menjadi pemandangan yang biasa, banyak orang-orang dari negeri lainnya untuk menjalin perdagangan dengan Ghaliah. Satu ekor kuda berhenti, dan satu sosok turun dari kuda dengan mengenakan dishdasha berwarna putih bersih juga turban berwarna sama. Sosoknya tinggi dan tampan dengan wajah dan senyum hangat. “Assalamu’alaikum, Sajad. Apa ada yang datang padamu?” tanyanya pada seorang pria yang mengatur orang-orang untuk mengangkut peti-peti besar. “Ah, wa’alaikumsalam, Rasyad Emir,” balas pria itu sambil membungkuk dengan tangan di d**a. “Tidak ada yang datang pada saya.” Sosok yang merupakan Rasyad itu mendekat sambil menuntun kudanya. Ia menatap aktifitas kapal-kapal yang baru saja datang dan pergi. “Seorang wanita dari Britania, berambut pirang dan memiliki mata biru safir. Dia sangat cantik dan ceria, namanya Keana,” ujar Rasyad menyebutkan ciri-ciri yang terdapat pada Keana. “Ah, tidak ada, Emir. Kapal dari Britania sudah berlayar, dan saya menunggu orang yang Anda sebutkan. Dia tak pernah datang pada saya, bahkan saya sudah mencarinya dan menanyakan setiap wanita Britania berambut pirang. Tidak ada wanita bernama Keana sampai kapal berlayar.” Rasyad mengerutkan dahinya dengan wajah berpikir sesaat. “Apakah dia tidak datang? Atau dia tersesat di ibu kota?” “Jika saya diperkenankan untuk tahu, siapakah Nona yang Anda sebutkan tadi, Emir?” “Dia hanya wanita yang tersesat dari Britania, sepertinya dia ikut ke kapal dari Britania. Sajad, beritahu aku secepatnya jika ada wanita bernama Keana mencariku,” titahnya kemudian melangkah hendak pergi. “Emir, Zayed Emir berada di kota Syad untuk menangani para perompak yang bersembunyi di sana. Apakah beliau tidak memberi Anda kesempatan untuk melakukannya?” tanya Sajad yang menghentikan langkah Rasyad. “Sajad,” kata Rasyad tanpa berbalik. “Kau tidak boleh membicarakannya di tempat umum, mereka akan tahu jika aku seorang Sheikh,” lanjutnya, kemudian berjalan menarik tali kekang kudanya. Sajad membungkuk meminta maaf, lalu mengikuti Rasyad di belakangnya. “Maafkan saya, Emir. Anda akan kembali ke istana?” “Aku akan pergi ke suatu tempat,” jawabnya lalu menaiki kudanya dalam sekaligus. “Sajad, kembalilah ke istana dan perhatikan semua tingkah Amati.” Sajad menatap Rasyad dengan wajah tak mengerti. Rasyad tersenyum kecil di atas kudanya. “Tingkah Amati berubah semenjak hari itu, dia menyembunyikan banyak hal dariku.” Selepas mengatakan itu, Rasyad memukulkan kedua kakinya pada tubuh kuda sambil menggerakan tali kekangnya. Kuda mengikik pelan dan mulai berjalan melewati jalanan berdebu yang kering dan dipenuhi oleh orang-orang di pelabuhan. Rasyad menatap tajam ke jalanan di depan, pikirannya sedikit merenung pada kejadian akhir-akhir ini yang berubah dalam hidupnya. Semenjak kepulangan Zayed dari medan perang, semenjak hari itu, semenjak kenaikan Zayed sebagai Putra Mahkota dan juga wanita berambut pirang dan berkilauan itu. Semuanya seakan berputar dalam benaknya. Sambil merenung, ingatannya kembali ketika dirinya berada di istana. Aku menemukan surat di kaki falcon yang dikirim oleh orang di paviliun milik Zayed, surat itu ditujukan untuk Ratu. Kenapa seseorang memberithu Ratu bahwa Zayed membawa seorang wanita dari bangsa asing ke paviliunnya? Kenapa orang itu harus memberitahu Ratu jika Zayed memiliki wanita simpanan? Rasyad terus bergumam dalam hati dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang dia pikrikan. Ketika melewati pemukiman, Rasyad mulai membawa kudanya berlari lebih cepat menuju bukit Had yang terletak di sebelah barat. Di sanalah, paviliun pribadi milik Zayed dibangun, untuk melihat siapa wanita yang disembunyikan Zayed, ia harus memastikannya sendiri. Jika wanita itu tidak istimewa, seseorang tidak akan memberitahu Ratu. “Setelah menemukan surat itu aku membakarnya hingga Ratu tidak mengetahuinya. Jika Ratu mengetahui Zayed menyembunyikan seorang wanita di paviliunnya, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada wanita itu.” Kudanya semakin jauh meninggalkan pemukiman, melewati jalanan yang berdebu dengan angin berembus cukup kencang. Rasyad menatap bukit yang semakin dekat, juga bangunan paviliun yang besar terlihat semakin jelas. Ketika semakin mendekat, ia memukul kudanya sedikit lebih kuat agar mempercepat larinya menaiki jalanan menanjak di bukit. Ketika berada di tengah bukit, ia menarik tali kekang hingga kuda memperlambat larinya. “Aku penasaran, wanita bangsa asing mana yang kau sembunyikan,” gumam Rasyad dengan senyum mencemooh. Pangeran tampan itu melompat turun dari kuda dan menuntunnya ke depan gerbang yang dijaga oleh dua penjaga dengan seragam pengawal dan tombak di tangan mereka. Ketika melihat kedatangan Rasyad, mereka membungkuk dalam sambil memberi salam. “Assalamu’alaikum, Rasyad Emir.” “Wa’alaikumsalam,” balas Rasyad. Ia melangkah dan hendak mendekati gerbang tapi dua penjaga segera menyilangkan tombak mereka seakan memblokir jalan untuknya. Dengan sebelah alis terangkat ia tersenyum kecil dan ramah. “Kenapa kalian menghalangiku?” “Maafkan kami, Emir. Karena Zayed Emir telah memberi titah agar tak ada yang masuk ke sini,” jawab salah satu pengawal. “Bukankah di dalam tidak ada apa-apa? Aku hanya mampir saja dari pelabuhan setelah mengatur sistem perdagangan yang baru. Apa kalian sudah tidak menganggapku sebagai Sheikh di Kerajaan ini?” Dua pengawal itu segera berlutut dengan kepala menunduk. “Maafkan kami, Emir. Anda tetaplah Sheikh pertama di Kerajaan ini, tapi kami hanya mendengar titah Zayed Emir.” “Mohon maafkan kami, Emir,” sahut pengawal yang satunya. Rasyad tersenyum kecil sambil menepuk kedua bahu mereka. “Bangunlah. Tidak apa-apa, kalian memang orang-orang yang sangat setia pada Zayed, aku senang kalian tetap setia padanya. Aku hanya ingin singgah saja sebelum kembali ke istana.” Rasyad berjalan mundur sambil berbalik hendak meninggalkan tempat itu, tapi dari bawah muncul dua kuda yang berderap cepat menuju ke arahnya. Rasyad tersenyum kecil ketika melihat sosok Zayed dan Ayaz di atas kuda. Ia menunggu sampai mereka tiba, dan kesempatan ini bisa digunakannya untuk melihat wanita yang disembunyikan Zayed darinya. Suara kuda mengikik pelan disusul dengan derap langkah kaki yang mendekat. Zayed dan Ayaz mendekat pada Rasyad dan memberinya salam hormat sebagai Pangeran tertua. Zayed melepaskan kain yang menutupi separuh wajahnya sambil memandang Rasyad dengan dingin. “Assalamu’alaikum, Rasyad.” “Wa’alaikumsalam, Zayed,” balas Rasyad. “Kau sudah kembali dari kota Syad?” Zayed memberikan tali kekang kudanya pada Ayaz kemudian berjalan melewati tubuh Rasyad dengan wajah dingin dan tatapan tajam, seakan keberadaan Rasyad tak diharapkan sama sekali olehnya. Akan tetapi, Rasyad tetap tersenyum memaklumi. “Kudengar kau berhasil mengatasi para perompak yang bersembunyi dan meresahkan rakyat Syad,” ujar Rasyad yang berjalan mengikuti Zayed. Zayed mendengkus pelan tanpa berbalik, sampai kedua penjaga membuka pintu gerbang untuk mereka. “Aku tidak butuh sanjungan. Aku hanya membantumu untuk mendamaikan kembali kota Syad sebelum kau memimpinnya.” Rasyad tertawa kecil sambil menggeleng pelan dan menyamai langkahnya dengan Zayed. “Kau tetap seperti itu. Aku bisa mengatasinya meski tanpa bantuanmu, Zayed. Jika kau naik takhta, kota itu akan menjadi milikku, dan kau tak bisa lagi mengatasinya selain aku.” Keadaan hening, hanya terdengar derap langkah mereka di halaman menuju bangunan utama paviliun. Rasyad mengedarkan pandangannya ke sana-sini untuk mencari keberadaan wanita itu––wanita yang membuatnya sangat penasaran. Zayed merupakan pria yang sangat tertutup dan dingin, hatinya begitu keras dan tak mudah disentuh wanita mana pun. Meski ada wanita yang akan tidur dengannya, dia tak akan membawa wanita itu ke paviliun miliknya. Rasyad bertanya-tanya, wanita seperti apa yang membuat Zayed tertarik padanya. Mereka tiba di bangunan utama paviliun, dan Zayed mempersilakan Rasyad untuk masuk. Disusul oleh Ayaz yang mengikuti mereka, mendekati Zayed kemudian membisikan sesuatu yang sedikit serius, dan lagi-lagi hal itu membuat Rasyad semakin penasaran. Ia tersenyum kecil, merasa tertantang untuk menguak apa pun yang orang-orang sembunyikan darinya. Di seluruh Kerajaan, ia terkenal sebagai Pangeran sulung yang cerdas dan berbakat dalam sastra dan ilmu pengetahuan. Pembawaannya yang sangat ramah dan bersahaja disenangi oleh orang-orang istana dan bangsawan. “Aku baru saja dari pelabuhan untuk mengawasi dan mengatur sistem perdagangan yang baru. Mulai beberapa bulan ke depan, akan datang beberapa kapal dari Britania. Kerajaan kita juga telah mengurangi permintaan pasokan sutera untuk Romawi,” ujar Rasyad seraya mendudukan diri di hadapan Zayed. Zayed menuangkan minuman dari poci berwarna perak ke cawan keramik dan memberikannya pada Rasyad. “Mungkin mulai beberapa bulan ke depan, perekonomian juga akan menjadi urusanku,” balas Zayed, mendongak dan menatap Rasyad dengan nada angkuh yang sangat jelas dan seringai tipis. “Ya, aku akan menyerahkan urusan perekonomian padamu dan mempersiapkan diri untuk pergi ke Syad.” Rasyad meneguk minumannya kemudian mendesah lega seakan tenggorokannya yang kering telah kembali basah. “Aku akan tinggal semalam di sini sebelum kembali ke istana.” Rasyad mengedarkan tatapannya ke penjuru ruangan yang besar dan megah itu. Ia juga menuangkan kembali minumannya dan meneguknya, sambil menatap Zayed dari balik cawannya. “Aku tidak mengizinkannya,” balas Zayed dengan nada tak bisa dibantah. “Kenapa?” Rasyad menaikan sebelah alisnya dengan senyum curiga. “Paviliunmu ini memiliki banyak ruangan dan kamar. Aku akan kembali ke istana besok pagi.” Dengan gerakan yang menawan dan wajah tanpa ekspresi yang seakan tak terusik sama sekali, Zayed mengambil cawan miliknya sendiri lalu meneguknya. “Karena aku tidak ingin kau ada di sini. Jarak dari sini ke istana hanya memerlukan beberapa saat, dan kau akan tiba di istana sebelum isya. Tidak memakan waktu banyak sampai kau beristirahat di kamarmu dan menemui haremmu.” Rasyad berdecak sambil terkekeh pelan. “Aku tidak memiliki kekasih atau harem, Zayed. Kau tahu itu kan? Aku tidak pandai merayu wanita dalam pelukanku.” “Benarkah? Sayang sekali. Jika kau ingin kembali ke istana, pintu gerbang akan segera terbuka,” kata Zayed seraya bangun dan mengibaskan jubah besarnya yang berwarna hitam dengan bordiran benang emas. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Zayed berlalu meninggalkan Rasyad dengan keangkuhan dan aura dingin yang selalu melingkupinya. Sampai Zayed menghilang di balik pintu, Rasyad masih duduk sambil menatap cawan di tangannya dengan senyum misterius. “Kau masih sama. Angkuh, tak bisa dibantah, dan tak peduli,” gumamnya sambil meletakkan cawan di meja. “Sebaiknya aku benar-benar kembali ke istana.” Rasyad bangun dan berjalan ke luar. Ia memandang ke sekeliling sambil menuruni undakan tangga pendek untuk tiba di halaman paviliun. Ketika ia hendak melangkah ke pintu gerbang, langkahnya terhenti dengan tatapan lurus ke sebelah selatan. Mata cokelat gelapnya menatap dua sosok yang sedang berjalan sambil tertawa. Yang membuatnya tertarik hingga tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, adalah satu sosok yang sedang mengenakan cadar lalu membukanya bersama dengan kerudung yang terjatuh di bahunya. Rambut pirang dan panjang itu terlihat berkilauan di bawah sinar matahari. Wajah cantik dan ceria itu... “Keana?” bisik Rasyad yang kini berubah terkejut, bersama dengan cadar yang dikenakan wanita itu terbuka. Kedua tangannya tanpa sadar mengepal erat, dan tatapannya tak lepas dari sosok Keana yang sedang tertawa bersama Fatimah sambil berjalan. “Kaukah wanita simpanan Zayed? Bagaimana bisa?” Tiba-tiba bayangan ketika ia pertama menemukan Keana di pinggir sungai dan hendak melompat. Ia menghentikannya melompat ke sungai, menolongnya dan mereka berjalan-jalan di ibu kota. Keana terlihat sangat memprihatinkan saat itu, bahkan wanita itu terlihat sangat malang. Keana juga pernah mengatakan ia datang bersama temannya yang bernama... “Zayed? Apakah dia Zayed yang kau maksud teman yang membawamu ke Ghaliah? Apa karena Zayed kau tidak datang ke pelabuhan hari ini?” Dengan senyum terkembang di wajah tampannya yang memancarkan kelembutan, Rasyad membawa langkahnya hendak menghampiri Keana yang sedang berdiri di taman yang dipenuhi tanaman bunga mawar. Lagi-lagi langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok lainnya datang dan menghampiri Keana. Sosok Zayed yang datang dengan wajah dingin dan tatapan tajam, lalu Keana memekik senang dan memeluk lehernya dengan erat. Rasyad mengepalkan kedua tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih dan siap meremukkan apa pun. Sambil mendengkus pelan, Rasyad berlalu meninggalkan area paviliun untuk kembali ke kudanya yang ada di luar gerbang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN