Menemukan kebenaran
Kau Dimana, Ibu?
Penulis: Adeviaaa14
Part-1
"Putri, mana sarapannya? Cepat bawa kesini!" teriak ibuku dari ruang makan.
Menu utama sarapan pagi ini adalah ayam kecap dan sambal kesukaan Ibu. Aku sudah terbiasa melakukan hal ini setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah. "Iya Bu, sebentar lagi," sahutku.
Saat hendak memasukkan ayam kecap ke mangkuk besar, Ibu dan Adikku berteriak. "Ya ampun putri, cepat! ini sudah siang!"
"Teh, cepat! Nanti Dinda terlambat!"
Aku buru-buru membawa ayam kecap dan sambal ini, lalu menaruhnya di meja makan. Saat hendak menarik kursi, Dinda menghentikanku. "Eh, tunggu dulu, Teh. Buatkan Dinda s**u ya, sekarang!" titahnya "Bang Devan mau juga gak?" tawarnya, kepada seorang lelaki yang duduk di kursi sebelahnya.
Yang ditanya hanya diam dengan wajah datar, lalu menggelengkan kepalanya.
Aku mengurungkan niatku untuk makan, lalu bergegas menuju dapur. Saat aku di ambang pintu dapur, Ibu memanggilku. "Putri, buatkan kopi juga untuk ibu!"
Aku mengangguk, lalu membuang nafasku dengan kasar, aku langsung menjalankan perintah dari mereka untuk membuat s**u dan kopi.
Tak lama kemudian, Dinda kembali berteriak. "Teh, mana cepat susunya! Dinda mau berangkat!"
Gegas aku memberikan s**u dan kopi ini kepada Dinda dan ibuku.
Aku melirik ke arah jam, ternyata ini sudah jam tujuh, mungkin nanti saja aku sarapan di kantin karena sekarang tidak ada waktu untuk aku sarapan. Lebih baik aku segera mengganti bajuku dengan baju seragam sekolahku. Namun, saat aku akan melangkah ke arah kamarku, Ibu sudah mencekal lenganku.
"Heh Putri, kau mau kemana, hah?" tanya ibuku, dengan tatapan tajamnya.
"Putri mau ganti baju, Bu. Ini sudah siang. Putri harus sekolah," jawabku, berusaha melepaskan cekalan dari tangan ibuku.
"Tidak ada sekolah lagi untukmu, lebih baik kau cari kerja aja, sana!" titahnya, sembari mendorong tubuhku hingga aku tersungkur ke lantai. Terlihat Dinda menyunggingkan senyuman mengejek.
"Dinda sekolah dulu, Bu!" pamit Dinda, dengan mencium tangan Ibu.
Aku menengok ke arah Bang Devan yang berdiri di ambang pintu. "Bang ...." ucapku lihir, berharap aku dapat pembelaan darinya.
"Devan, Dinda. Udah sana kalian berangkat, jangan pedulikan dia!" titah ibuku.
"Bang, ayok cepet! Ini sudah siang, nanti Dinda terlambat!" ucap Dinda sembari menarik tangan Bang Devan. Namun, Bang Devan menengok ke arahku dengan tatapan sendu. Tak lama kemudian, suara deruman mobil yang ditumpangi oleh Bang Devan dan Dinda menjauhi rumah ini.
"Heh, Putri. Daripada kau sekolah, lebih baik kau cari kerja aja sana!" ucap ibuku dengan mendorong dadaku yang masih bersimpuh di lantai, lalu ibu duduk di kursi meja makan.
Aku berusaha untuk berdiri. "Tapi Bu, putri juga ingin sekolah sampai seperti Bang Devan," jawabku lirih, dengan menundukkan kepala, berusaha untuk menahan air mataku.
"Alah, sekolah-sekolah. Siapa yang akan membiayaimu sekolah, Putri? Ibu tidak sudi, karena Ibu sudah tidak punya biaya lagi. Lebih baik kau kerja saja, cari duit untuk biaya hidupmu," ujar ibuku, lalu menyeruput secangkir kopi.
"Tapi, Bu. Pekerjaan mana yang mau menerima anak di bawah umur sepertiku?"
"Kau mau kerja apapun itu bukan urusan Ibu, yang penting kau tidak membebankan Ibu lagi."
Setelah mendengar ucapan dari Ibu, air mata yang ku tahan akhirnya mengalir dengan deras. "A-apa selama ini Putri hanya jadi beban untukmu, Ibu?" tanyaku dengan isak tangis, sehingga membuat sesak di d**a.
Dengan lantang Ibu menjawab, "Ya, selama ini kau hanya beban untukku." teriaknya, lalu gegas pergi ke dapur dan membawa sapu.
Ibu melayangkan sapu itu, lalu melemparkannya ke wajahku. "Cepat, kau bersihkan dulu semua pekerjaan rumah! Lalu bersihkan gudang yang di belakang!" titahnya, dengan menghentakkan tubuhku.
Dengan Isak tangis yang ku tahan, aku segera membersihkan pekerjaan rumah.
Dulu saat ayahku masih hidup, ayah yang selalu bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan rumah ini tanpa kami merasakan kekurangan, dan keluarga ini pun sangat harmonis dan bahagia, bahkan Ibu juga sangat menyayangiku.
Namun semenjak kejadian itu, waktu aku masih kelas enam SD, aku masih ingat betul ketika aku sakit panas sampai mengalami kejang-kejang, ayahku dengan khawatir langsung membawaku ke rumah sakit. Akan tetapi, pada saat di perjalanan, aku dan Ayah mengalami kecelakaan.
Aku bersyukur masih diberi keselamatan, namun tidak dengan ayahku. Ayah pergi meninggalkan Ibu dan ketiga anaknya untuk selamanya. Sejak saat itulah Ibu selalu bersikap kasar padaku dan menyalahkan ku atas kepergian Ayah, dan kini sudah tiga tahun Ayah pergi meninggalkan kami dengan duka yang mendalam.
Setelah kepergian Ayah, terkadang aku merasa, Ibu hanya menyayangi Dinda dan Bang Devan saja, tetapi tidak dengan menyayangiku.
Dinda adalah adikku, kami hanya selisih satu tahun. Dia kelas dua SMP sedangkan aku sekarang kelas tiga SMP. Ibu selalu menuruti apapun kemauannya Dinda, namun berbeda padaku. Saat aku mengeluh kepada Ibu karena aku ingin punya sepatu baru, Ibu langsung memarahiku dan dengan lantangnya ibu bilang "Lebih baik kau berhenti sekolah, daripada aku membelikan mu sepatu." Aku yang mendengar jawaban Ibu, langsung mengurungkan niatku untuk meminta sepatu baru, karena aku akan lebih mempertahankan sekolahku daripada aku harus berhenti sekolah hanya gara-gara sepatuku yang sudah rusak.
Ketika aku kelas lima SD, saat itu aku mendengar bahwa ayahku memasukkan Bang Devan ke universitas terbaik, aku selalu berceloteh kepada ayah, bahwa aku juga ingin seperti Bang Devan bisa sekolah sampai pendidikan tinggi. Namun sekarang, aku merasa harus mengubur dalam-dalam keinginanku itu.
Tak terasa ini sudah siang dan aku sudah membersihkan pekerjaan rumah, dari mulai menyapu, mengepel, mencuci baju dan piring. Kini aku harus ke belakang rumah untuk membersihkan gudang. Sebenarnya aku merasa sangat lelah dan lapar, tetapi Ibu melarangku untuk makan sebelum aku menyelesaikan semua pekerjaanku.
Aku mengambil kunci gudang yang ada di dalam laci dekat tv, dan gegas berjalan ke arah gudang.
Aku membuka pintu gudang yang di kunci.
Ceklek!
Ketika pintu gudang kubuka, tikus-tikus berlarian mencari tempat persembunyian, laba-laba dan jenis serangga kecil yang membuat gudang tampak kumuh, aroma khas ruangan kotor dari dalam gudang sangat menyeruak di Indra penciumanku. Udara yang lembab dari atap rumah yang bocor. Sampah dan kotoran yang menumpuk di sisi ruangan.
Aku tidak tau kapan terakhir kali gudang ini di bersihkan, namun seingatku terakhir kali aku melihat gudang ini di bersihkan saat mendiang ayahku masih ada.
Aku melihat tas boneka kecil yang telah usang di atas kardus.
Uhuk! Uhuk!
Debu berterbangan saat aku meniupkan debu yang ada di tas ini. Aku masih ingat, waktu aku masih kelas tiga SD, tas boneka kecil ini adalah hadiah dari Ayah untukku. Tak terasa buliran air mataku mengalir begitu saja, aku merindukan sosokmu, Ayah.
Aku mulai membersihkan gudang, tak lupa aku memakai masker yang sudah kusiapkan. Aku mengelap lantai yang basah terlebih dahulu, lalu mengumpulkan sampah-sampah dan memasukkannya ke dalam kantong plastik besar. Perutku sudah keroncongan dari tadi, itu artinya aku harus cepat-cepat menyelesaikan semua ini.
Ketika aku menyusun kardus-kardus agar tersusun rapi, aku tak sengaja menyenggol kardus yang ada di sisi kananku ... brukk!
Sebuah kardus berbentuk kubus itu terjatuh tepat di bawah kakiku. Terlihat tali berwarna merah menjuntai ke luar dari dalam kardus tersebut. Aku penasaran isi dari dalam kardus itu, lalu aku segera mengambil kardus yang tergeletak di bawah kakiku ini, di dalamnya ada selimut bayi dan popok bayi dari kain yang berwarna merah polos. Namun, di dalam lipatan selimut bayi itu terlihat secarik kertas. Aku mengambilnya dan membuka kertas tersebut, terdapat sebuah tulisan yang sudah luntur dari tintanya, akan tetapi masih terlihat jelas tulisannya.
'Siapapun yang menemukan bayi ini, tolong beri nama Putri Diana Irawan. Tolong jaga dia dan rawat dia dengan sepenuh hati. Kami terpaksa melakukan ini, karena kami ingin menyelamatkan anak kami dari orang-orang jahat. Tolong katakan padanya kebenaran ini ketika dia berumur delapan belas tahun.
Palembang
Verry Irawansyah
Diana Muliawati.'
Mataku membulat sempurna, tanganku menangkup mulut setelah aku membaca isi dari tulisan ini.
Bulir-bulir bening yang keluar dari mataku mengalir begitu saja. "Jadi, a-apakah selama ini a-aku bukan anak Ibu Nira dan Ayah Ridwan?" ucapku terbata dengan mulut gemetar.
Secarik kertas itu masih ku pegang dengan tangan yang gemetaran, tubuhku seakan lemas, seolah tulangku tak lagi menjalankan tugasnya.
Aku berusaha untuk bangkit, namun aku merasa kepalaku terasa sangat berat, dan penglihatanku mendadak kabur, detik itu juga tubuhku ... brukk