Di Klinik

1084 Kata
Omy terbangun dan mendapati dirinya terbaring dengan selang dan jarum infus tertancap di tangannya. Dia segera menyadari di mana dirinya berada sekarang. "Siapa yang membawaku ke sini?" gumamnya pelan. Perlahan diedarkannya tatapan matanya ke seluruh ruangan. Ada beberapa pasien lain yang berada dalam ruangan yang sama dengannya. Saat hendak menggerakkan tangannya, dia baru menyadari ada seseorang yang menelungkup di sisi ranjangnya yang kosong. "Ah, Anda sudah sadar?" Orang itu terbangun. Rupanya gerakan tangannya telah membangunkannya. Omy hanya mengangguk lemah. Orang itu, tepatnya seorang pemuda, segera berdiri dan membantunya menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang agar merasa nyaman. "Minumlah!" Dia kembali duduk di sisi ranjang dan membantunya meminum teh hangat yang tersedia di atas meja di samping ranjang. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya dengan hati-hati. Pemuda itu tidak lagi bersikap kaku dan berbicara dengan bahasa yang formal. "Lebih baik. Terima kasih sudah menolongku," sahut Omy masih dengan suaranya yang lemah. "Selamat pagi Nyonya Yan!" Seorang dokter dan perawat mengunjungi mereka dan menyapanya dengan ramah. Omy dan Xiao Yan saling berpandangan dan tersenyum tipis. Nyonya Yan? Entahlah dia harus tertawa atau menangis. Mungkin mereka mengira dirinya dan pemuda yang menolongnya adalah sepasang suami istri. "Saya akan memeriksa Anda." Dokter itu memeriksa denyut nadi, d**a dan juga perutnya. "Nyonya, Anda harus beristirahat total untuk mengembalikan kondisi Anda agar pulih seperti sedia kala. Setelah satu atau dua bulan, Anda sudah bisa memulai program kehamilan lagi." Dokter itu menjelaskan setelah selesai memeriksanya. Omy hanya mengangguk dan tersenyum lemah. Dokter dan perawat tadi meninggalkan mereka setelah pemeriksaan rutin. "Siapa namamu?" Omy bertanya dengan hati-hati pada pemuda yang sudah kembali duduk di sisi ranjangnya. "Panggil aku Xiao Yan," sahutnya seraya tersenyum manis. Omy tertegun. Senyum pemuda itu sangat manis. Xiao Yan pemuda yang tampan dengan tubuh tinggi dan tegap. Kulitnya putih bersih dan hidung mancung. Tiba-tiba saja hatinya terasa menghangat, saat pemuda itu kembali tersenyum manis. "Aku membawa smartphone, tetapi entah di mana?" Omy meraba-raba ranjangnya mencari-cari benda yang selalu berada di saku gaunnya. Semalam dia mengenakan gaun berbahan katun dan bersaku di bagian depan. Seingatnya dia menyimpan benda itu di sana. "Sebentar, aku akan tanyakan pada petugas yang menanganimu semalam." Xiao Yang bergegas pergi meninggalkannya. Omy tersenyum melihatnya. Xiao Yan kembali dengan seorang perawat yang kemudian membuka laci meja di samping ranjangnya. "Terima kasih Nona." Omy dan Xiao Yang mengucapkan terima kasih pada gadis itu bersamaan. Gadis itu hanya mengangguk dan pergi lagi. "Ini!" Xiao Yang memberikan smartphone itu padanya. "Syukurlah masih ada sisa daya meski sedikit." Omy tersenyum lega saat melihat masih ada sisa daya, setidaknya dia bisa menelepon seseorang. "Itu tidak cukup! Perlu diisi dulu dayanya." Xiao Yan mengambil sebuah charger dari dalam tas ranselnya dan mengambil smartphone di tangan Omy kemudian memasangkan charger dan mengisi data benda itu. "Terima kasih. Jika tidak ada dirimu aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku." Omy kini mulai bisa berbicara lebih panjang meski pelan. "Anggap saja kau beruntung. Oh ya kau harus makan agar cepat pulih. Aku akan menyuapimu sekarang karena sebentar lagi aku harus berangkat bekerja." Xiao Yan mengambil makanan di atas meja dan bersiap untuk menyuapinya. Omy tidak menolak dan mengangguk setuju. Dia belum bisa bergerak leluasa karenanya dia juga belum bisa untuk melakukan aktivitas seperti mengambil makanan di meja dan juga ke kamar mandi. "Makanlah yang banyak, agar kau kuat dan mampu melawan siapa pun yang menindasmu." Xiao Yan tersenyum dan menyuapkan bubur padanya. Omy tersenyum, tanpa terasa matanya berkaca-kaca. Air mata meleleh di pipinya tanpa bisa dicegah. Pemuda ini pasti tahu apa yang terjadi padanya semalam. "Hei jangan menangis. Jika ada yang menyakitimu katakan saja padaku, aku akan menghajarnya." Xiao Yan berkata dengan polos dan mengusap air mata di pipi Omy dengan ujung jarinya. Sikap polos dan apa adanya Xiao Yan telah menghibur hatinya. Omy tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Hatinya menghangat karena sikap pemuda yang baru dikenalnya. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tak pernah bersikap sehangat ini padanya. "Aku suka melihatmu tersenyum. Kau sangat cantik saat tersenyum seperti itu." Xiao Yan mengambil selembar tissue dan mengusap sudut bibir Omy dengan lembut. "Habiskan ya buburmu. Ingat kau harus kuat dan sehat." Xiao Yan kembali membujuknya dan lagi-lagi Omy hanya bisa mengangguk dan menuruti ucapannya. Tanpa terasa semangkuk bubur telah dihabiskannya. Dilanjutkan buah-buahan segar dan sepotong kue serta teh hangat. Setelah itu Xiao Yan membantunya meminum obatnya. "Ada obat tidur di dalam obatmu, setelah ini tidurlah. Aku harus bekerja sekarang. Nanti malam aku akan datang lagi. Jangan lupa untuk menghubungi keluargamu, pasti mereka mengkhawatirkan dirimu sekarang." Xiao Yan membantunya mengatur posisinya agar lebih nyaman saat tidur nanti. "Xiao Yan, terima kasih untuk semuanya." Omy tersenyum menatap pemuda yang jauh lebih muda darinya itu. "Tersenyumlah!" Xiao Yang menyentuh lengannya kemudian melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan. Omy tersenyum, membalas lambaian tangannya dan menatap punggung pemuda itu hingga dia menghilang di balik pintu. Setelah itu dirasakannya kantuk yang kembali menyerang dan tidak bisa ditahannya lagi. Omy kembali terlelap. Omy terbangun di sore hari, saat seorang perawat datang dan membantunya membersihkan diri serta menyiapkan makanan untuknya. Setelah itu Omy menghubungi seseorang untuk datang ke klinik. "Da Jie!" Angie, sekretarisnya berteriak panik melihatnya terbaring tak berdaya di atas ranjang klinik. "Aku baik-baik saja," gumam Omy seraya berusaha tersenyum. "Apa yang baik-baik saja? Lihat dirimu Jie? Kau tahu, aku semalaman mencarimu bahkan hingga ke rumah orangtuamu dan juga David." Angie mengomelinya sedangkan tangannya sibuk mengupas buah pear untuknya. "Apa kata mereka?" Omy memalingkan muka menatap ke samping. Di mana seorang pasien wanita tengah dibujuk suaminya untuk menghabiskan makanannya. Hatinya sedikit teriris iri pada wanita itu. Bagaimana pun dia lebih beruntung dibandingkan dengan dirinya yang seorang diri tanpa didampingi sang suami. "Tidak ada, mereka hanya mengatakan mungkin kau sedang menenangkan diri seperti biasanya." Angie menjawab dengan kesal. "Begitu ya? Angie apakah kau bisa membantuku?" Omy tiba-tiba bertanya pada gadis berkacamata itu. "Tentu saja, katakan saja dan aku akan segera melakukan perintahmu!" Angie nampak begitu bersemangat. "Hubungi Stevan. Aku akan mengurus perceraianku dengan David. Hubungi juga ayahku dan ibu tiriku, minta mereka secepatnya keluar dari rumahku. Aku akan kembali ke tempatku berasal." Omy mengucapkannya dengan santai dan pelan seakan-akan tanpa emosi. "Siap laksanakan!" Angie mengangkat tangannya dengan gaya militer. "Sebelum ini hubungi Dokter di sini dan minta visumku semua dan lunasi biayanya. Belikan aku juga makanan dan buah-buahan." Omy kembali memberinya sederet instruksi pada sekertarisnya itu. Angie mengangguk dan setelah selesai mengupas buah pearnya, dia segera melaksanakan perintah Omy. Menghubungi Stevan, pengacara Omy. Pria itu segera mengerti begitu dihubungi olehnya dan menyusulnya ke klinik untuk melihat hasil visum dan juga menyiapkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Omy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN