"Xiao Yan, ada yang mencarimu!" Rekan kerjanya berteriak saat Xiao Yan tengah sibuk menghitung barang.
"Sebentar!" Xiao Yan segera keluar dari gudang dan menemui rekannya.
"Itu mereka!" Rekannya menunjuk sepasang lelaki dan wanita yang menunggunya di depan minimarket.
"Aku ke sana sebentar!" Xiao Yan berpamitan pada rekannya untuk menemui mereka berdua.
"Ah, kau Xiao Yan?" Wanita cantik berkacamata itu menyambutnya dengan ramah saat Xiao Yan keluar dari minimarket.
"Iya benar! Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyanya dengan sopan sekaligus heran.
Dia tidak mengenali kedua orang itu. Seorang wanita berpakaian formal dan berkacamata serta seorang pria yang berdiri di dekatnya dengan membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Aku Angie, kerabat wanita yang kau tolong semalam. Kami sangat berterima kasih padamu." Wanita berkacamata itu sepertinya memahami kebingungan Xiao Yan dan memperkenalkan diri padanya.
"Ah iya! Kalian sudah mengunjunginya di klinik?" Xiao Yan mengerti dan tersenyum lega. Akhirnya ada kerabat yang mengurusi wanita cantik itu.
"Sudah, dia kami pindahkan ke rumah sakit di pusat kota agar kondisinya cepat pulih. Oh iya ini untukmu!" Wanita itu mengulurkan sebuah amplop coklat padanya.
Xiao Yan menerimanya dan menatap amplop itu dengan bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu uang milikmu sendiri yang kau gunakan untuk membayar deposito di klinik. Sekali lagi aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu." Wanita itu membungkukkan tubuhnya di depan Xiao Yan.
"Eh jangan begitu. Aku hanya melakukan hal yang biasa." Xiao Yan merasa canggung dengan sikap sopan wanita itu.
"Ada sesuatu dari Omy untukmu. Dia meminta maaf tak sempat berpamitan padamu." Kini pria yang berdiri di sebelah Angie memberikan sebuah paper bag kecil dan sejumlah paper bag yang dibawanya pada Xiao Yan.
"Ini?" Xiao Yan ragu-ragu untuk menerimanya. Dia sungguh-sungguh tulus menolong wanita itu dan tidak mengharapkan sesuatu atau pun imbalan.
"Tolong terimalah! Itu hanya hadiah kecil bukan apa-apa." Pria itu kini menundukkan tubuhnya membuat Xiao Yan tidak enak hati.
"Baiklah! Sampaikan padanya aku juga berterima kasih atas hadiahnya. Tolong minta dia untuk cepat pulih dan kuat serta menjaga diri. Jangan lupa untuk selalu tersenyum." Xiao Yan kemudian menundukkan tubuhnya di depan keduanya.
Keduanya berpamitan setelah mengobrol sebentar dengannya. Mereka meninggalkan minimarket dengan sebuah mobil yang membuat Xiao Yan sedikit menduga-duga dari kalangan mana wanita yang semalam ditolongnya.
"Wah kau mendapat jackpot rupanya!" Rekan-rekannya berteriak saat dia masuk kembali ke dalam minimarket.
Xiao Yan tertawa dan membuka satu persatu paper bag dari pria tadi. Rekan-rekannya memperhatikan dengan penuh antusias.
"Wah makanan dan buah-buahan!" Mereka bersorak riang. Xiao Yan tertawa dan memberikan salah satu paper bag berisi makanan dan buah-buahan itu pada rekan-rekannya.
"Ini untuk kalian! Wanita semalam yang kita tolong memberikan ini untukku tetapi aku rasa ini untuk kalian juga!" Xiao Yan tertawa dan disambut sorak gembira rekan-rekannya.
"Apa isi paper bag yang lain Xiao Yan?" Seru mereka ingin tahu.
"Entahlah! Mari kita buka!" Xiao Yan tertawa dan membuka satu persatu paper bag itu.
Ada tas, sepatu, beberapa setel pakaian bahkan parfum. Xiao Yan tertegun menatapnya. Dia memang membutuhkan barang-barang ini.
"Wah ini bisa kau pakai saat audisi nanti Xiao Yan!" Rekan-rekannya berseru dan menepuk bahunya.
"Bagaimana dia tahu apa yang aku butuhkan?" gumam Xiao Yan seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Apa ini?" Tiba-tiba saja seseorang menunjuk pada paper bag kecil yang masih belum dibuka.
Xiao Yan baru teringat ada sebuah paper bag yang belum dibukanya. Dengan hati-hati dibukanya paper bag itu. Ada sebuah kertas terlipat dan sebuah kalung di dalamnya.
Xiao Yan mengambil kertas itu, membukanya dan ternyata itu sebuah surat yang sepertinya ditulis dengan tergesa-gesa.
"Hei, aku sangat berterima kasih padamu. Seperti yang kau katakan aku akan selalu tersenyum dan menjadi lebih kuat. Aku tidak memiliki apa pun untuk membalasmu, simpan dan pakailah kalung ini. Siapa tahu dia akan membawa keberuntungan untukmu. Omy"
Xiao Yan tersenyum setelah selesai membaca surat itu. "Jadi Omy namamu?" gumamnya seraya menimang kalung yang diambilnya dari dalam paper bag tadi.
Xiao Yan mengurai kalung itu dan menatapnya dengan seksama. Sebuah kalung yang berantai putih dengan sebuah liontin giok putih yang berbentuk naga.
"Kalung yang bagus. Baiklah mulai sekarang kau adalah milikku dan menjadi keberuntunganku," gumamnya dan mengenakan kalung itu dengan hati-hati.
Rekan-rekannya tidak memperhatikannya lagi dan sibuk bercanda sebelum akhirnya kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Begitu pun dengan Xiao Yan. Setelah menyimpan surat dan barang-barang tadi dia pun kembali bekerja.
Sementara itu di sebuah kamar perawatan di sebuah rumah sakit mewah, Omy berbaring dengan ditemani Stevan, pengacaranya. Pria itu duduk di sisi ranjang dan menatapnya dengan prihatin.
"Kau ingin aku melakukan sesuatu?" Stevan bertanya padanya dengan hati-hati.
"Maksudmu?" Omy menatap pria yang telah menjadi pengacaranya semenjak pengacaranya terdahulu yang tak lain adalah ayah Stevan meninggal dunia.
"Dengan bukti yang ada kau bisa menjebloskan laki-laki b******k itu ke penjara." Stevan memperjelas maksud ucapannya tadi. Kali ini ada sedikit emosi dalam ucapannya.
"Lakukan saja! Aku ingin tahu bagaimana keluarganya menyelesaikan masalahnya kali ini. Bagaimana dengan ayahku tersayang?" Omy tersenyum saat menanyakan ayahnya.
"Seperti biasanya. Dia dan ibu tirimu beralasan ingin menjagamu, tetapi aku tidak peduli. Aku memberi mereka waktu hingga besok pagi untuk mengemasi barang-barang mereka dan meninggalkan rumahmu." Stevan tersenyum tipis.
"Baguslah! Sudah saatnya aku kembali ke rumahku sendiri! Aku sudah terlalu berbaik hati pada mereka dan membuat mereka lupa diri!" Omy tersenyum getir.
Omy Wang adalah putri tunggal dari Veronica Wang seorang pengusaha sukses yang tak berumur panjang. Dia mewariskan seluruh kekayaannya pada sang putri yang masih di bawah umur waktu itu.
Di bawah bimbingan orang-orang kepercayaan mendiang ibunya, Omy melebarkan sayapnya dan kini dikenal sebagai salah satu pengusaha wanita yang tak kalah sukses dari ibunya.
Sayangnya dia tidak beruntung dalam cinta. Menikahi David Tang, kekasih masa remajanya ternyata tak seindah kisah cinta putri raja. Dia terpasung dalam rumah tangga penuh drama dan intrik.
"Aku lelah dengan semua drama ini, Stevan! Aku ingin hidup seperti orang-orang lain menjalani hidupnya," gumam Omy pelan.
"Aku yakin kau bisa! Kau hanya tinggal menyingkirkan orang-orang yang tidak penting itu!" Stevan tersenyum dan menepuk lengannya.
Omy mengangguk dan memejamkan matanya. Stevan mengerti, ini saatnya dia berpamitan dan membiarkan Omy beristirahat. Dia pergi setelah meyakinkan semuanya akan baik-baik saja selama dalam kendalinya.