Pagi telah menjemput. Orang-orang terlihat sibuk di luar karena kedatangan tamu penting.
Tamu penting itu tak lain adalah wanita yang ditolong oleh Xiao Qi kemarin.
Wanita tua itu benar-benar membawa keluarganya untuk melamar Xiao Qi, termasuk membawa anak laki-lakinya yang memasang wajah datar sedari tadi.
Kedatangan mendadak mereka disambut dengan sangat baik meskipun para dayang terlihat kelimpungan.
Tuan Qi tersenyum senang di dalam hati melihat calon suami anaknya yang sangat tampan. Selain itu calon menantunya juga terlihat sangat berwibawa dan baik. Dia tidak akan menyesal menikahkan Xiao Qi dengan calon menantunya itu.
Setidaknya dengan menikahi pria itu, Xiao Qi-nya tidak akan bisa ditindas oleh istri dan anaknya.
"Maaf, tuan. Nona Xiao Qi tidak mau bangun." Lapor salah satu dayang yang ditugaskan membawa Xiao Qi ke tempat pertemuan ini.
Tuan Qi mengelus dagunya heran. "Tumben sekali dia tidak mau bangun. Apakah dia sakit?"
"Tidak, tuan. Nona Xiao Qi baik-baik saja tapi sepertinya nona terlihat sangat kelelahan."
"Bangunkan dia sekali lagi, bilang kalau calon suaminya sudah berada di sini. Jika dia tidak mau bangun, kalian saja yang bertindak. Bawa dia ke sini apa pun caranya asal jangan menyakitinya."
"Baik, tuan."
Tuan Qi tersenyum tidak enak ke keluarga calon menantunya. "Maafkan anakku, kemarin dia baru saja mengalami kejadian yang mungkin membuatnya tidak bisa tidur dengan baik."
"Kejadian apa?" Tanya wanita yang ditolong Xiao Qi kemarin dengan nada khawatir.
Ibu Xue Qi terlihat ketakutan. Takutnya nanti wanita itu -Qin Hera- menyebarkan anaknya bukan gadis baik sehingga tidak ada yang mau menikahi anaknya kelak.
"Ah, tidak usah dipikirkan, nyonya. Hanya kecelakaan kecil." Jawab Tuan Qi apa adanya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita menentukan tanggal pernikahannya sekarang?" Tanya Qin Hera semangat.
Suaminya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah semangat istrinya sedangkan anaknya menghela nafas kasar.
Sementara di dalam kamar, para dayang terlihat sibuk membangunkan Xiao Qi. Berbagai cara mereka lakukan, mulai dari mengguncang lembut bahkan sampai menampar pelan tapi tetap saja gadis itu tidak mau bangun dan malah menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Para dayang yang sudah kehabisan akal akhirnya kompak untuk menggotong tubuh Xiao Qi ke tempat pemandian.
Xiao Qi menjerit kaget ketika seluruh pakaiannya dibuka dan diceburkan ke dalam air dingin.
"AAAAA!! c***l!!! Jangan sentuh milikku!!"
"AAAAA!!! Mommy!! Tolongin anakmu!!"
"Dinginn!!"
"Lepaskan aku!"
"Aku masih sangat mengantuk!!" Teriakan cetar membahana Xiao Qi tidak mempengaruhi para dayang sedikit pun.
Mereka tetap memandikan tubuh Xiao Qi dengan telaten, membawa keluar, mengeringkan tubuh Xiao Qi, lalu kembali memakaikan pakaian yang indah. Tak lupa pula dengan riasan tipis di wajah cantiknya.
Xiao Qi yang sudah lelah berteriak akhirnya terdiam dengan wajah kesal. Kakinya pun juga dipaksa berjalan karena para dayang itu menggandeng tangannya kanan kiri.
"Ayah. Mereka menganiaya putrimu." Rengek Xiao Qi manja sambil memeluk lengan Tuan Qi. Tidak sadar semua perhatian teralihkan padanya.
"Aku masih sangat mengantuk, ayah. Semalam aku tidak bisa tidur karena takut disakiti oleh adik-adikku lagi. Aku bahkan baru bisa tidur saat ayam berkokok tapi para dayang itu memandikanku dengan paksa seperti memperlakukan anak kecil." Adunya.
Tuan Qi terkekeh geli. "Sebaiknya kau lihat siapa yang duduk di depan kita sekarang, putriku."
Xiao Qi yang tak mengerti langsung mengalihkan pandangannya.
Jantungnya terasa mendadak berhenti melihat orang asing di hadapannya menatapnya dengan tatapan beragam. Ada yang geli dan ada pula yang menghina.
Berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya seraya duduk tegak, Xiao Qi bertanya kalem. "Mereka siapa, ayah? Kenapa mereka di sini?"
"Mereka ini calon keluargamu di masa depan dan laki-laki itu calon suamimu."
Xiao Qi menelan ludahnya kasar. Ternyata wanita yang ditolongnya tidak main-main dalam ucapannya.
Gadis cantik itu menatap pria yang katanya calon suaminya itu.
Tampan, gagah, berambut putih, dan berwibawa. Sayangnya, laki-laki itu menatapnya dengan tatapan menghina dan merendahkan sehingga membuatnya tersinggung.
"Kami sudah mendiskusikannya tadi, kalian akan menikah sebulan lagi."
"APA?!!"
Bersambung...