Part 12. Hukuman Untuk Xue Qi

722 Kata
Melihat tangisan Xiao Qi yang semakin keras, Tuan Qi mendadak diliputi amarah. Ia tidak terima melihat putri kesayangannya di aniaya oleh putrinya yang lain. Dia akan memberikan pelajaran ke orang yang menyakiti Xiao Qi nya meskipun itu anaknya yang lain. Tidak ada yang boleh menyakiti putri kesayangannya!! Salah satu prajurit datang dengan cambuk di tangannya. Sesuai perintah Tuan Qi, prajurit itu mengambilkan cambuk untuk memberikan hukuman ke Xue Qi yang telah berani menyakiti putri kesayangannya. "Ayah, aku tidak sengaja. Jangan hukum aku." Mohon Xue Qi beruraian air mata. Bahkan gadis itu memeluk kaki Tuan Qi ketakutan. Sayangnya, perilakunya tak cukup mampu membuat hati batu Tuan Qi terketuk. "Lepaskan tanganmu dari kakiku dan berbalik!!" Perintah Tuan Qi tegas. Xue Qi menggeleng ketakutan. "Ayah, aku mohon jangan cambuk aku. Aku salah ayah. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Bujuknya ketakutan. Tuan Qi menggeleng tegas lagi. "Kau harus tetap di hukum! Berani berbuat maka berani bertanggung jawab!!" Xiao Qi tersenyum puas di balik bekapan tangannya melihat ketakutan Xue Qi. Rasakan itu!! Itu lah akibatnya jika berniat menganggu seorang Xiao Qi!! Tuan Qi mengancam akan memberikan hukuman yang lebih berat lagi jika masih menolak. Terpaksa Xue Qi berbalik dengan air mata yang semakin deras. Xiao Qi pun menangis tak kalah kencang dari Xue Qi. Gadis cantik itu merengek kesakitan seraya memegangi kedua pipinya. Tingkah Xiao Qi membuat Tuan Qi semakin marah dengan Xue Qi. Cambukan pertama melayang di punggung Xue Qi sehingga gadis itu menjerit kesakitan. Xiao Qi sok menutup mata ketakutan tapi dia tetap mengintip dari sela-sela jarinya. Menyenangkan sekali rasanya melihat orang lain tersiksa karenanya. Xiao Qi semakin menjerit kesenangan di dalam hati mendengar teriakan Xue Qi yang semakin menjadi. Teriakan yang terlampau keras itu membuat orang-orang di kediaman Qi berkumpul di sana. Mereka semua terlihat sangat terkejut, terutama ibu kandung Xue Qi. Selir ayahnya yang satu itu memohon untuk melepaskan Xue Qi namun Tuan Qi tidak mempedulikannya. Dia malah mendorong tubuh wanita itu kuat hingga tersungkur ke tanah, lalu kembali menghukum Xue Qi. Dapat Xiao Qi lihat kedua istri Tuan Qi yang lainnya tersenyum penuh kemenangan melihat ibu Xue Qi diperlakukan seperti itu, begitu pun dengan saudara mereka yang lain. Mereka semua terlihat begitu bahagia di atas penderitaan yang dialami Xue Qi. 'benar-benar keluarga yang penuh persaingan. Makanya jangan punya istri yang banyak. Apa salahnya sih punya istri satu orang saja? Memangnya kau akan mati jika hanya punya istri satu?' batin Xiao Qi mencemooh. 'tak habis pikir dengan orang zaman kuno yang selalu punya banyak istri.' bisik batinnya lagi. 'apa salahnya mereka setia dan Hanya punya satu istri kayak daddyku?' batinnya lagi. "Putriku, bangun lah. Ayah akan mengobatimu." Xiao Qi tersentak kaget bahunya disentuh oleh Tuan Qi. Gadis cantik itu memasang wajah lemahnya lagi lalu menatap Tuan Qi sayu. "Gendong aku, ayah. Aku ingin dalam gendongan ayah sekarang supaya sakit di pipiku tidak terasa lagi." Ujarnya lemah. Mampu membuat Tuan Qi semakin bersimpati. "Baiklah, putriku. Ayah akan menggendongmu." Tuan Qi menggendong Xiao Qi, membawa Xiao Qi meninggalkan kerumunan tanpa melirik anak dan istrinya yang lain. Sementara Xiao Qi semakin mengeratkan pelukannya di leher Tuan Qi supaya tidak terjatuh lalu kembali melancarkan aksinya. "Aku senang sekali ayah menolongku." Isaknya untuk kesekian kalinya. Tuan Qi tersenyum sendu. "Maafkan ayah. Ayah tidak mendisiplinkan suadaramu yang lain sehingga mereka menjadi berani menyakitimu. Apa selama ini saudaramu yang lain juga menyakitimu?" Xiao Qi mengangguk polos. "Mereka sering menampar, menendang, dan menjahatiku tubuhku, ayah." Tubuh Tuan Qi bergetar hebat mendengar jawaban polos Xiao Qi. "Maafkan ayah yang tidak becus menjagamu selama ini, putriku. Jika di atas sana ibumu tahu kau di sakiti, dia pasti akan sangat sedih. Maafkan ayah." "Tidak apa, ayah. Aku sudah terbiasa disakiti. Tapi, aku heran. Kenapa ayah bisa ada di sana tadi?" "Kedua anak kembar itu menemui ku dan mengatakan kau diganggu oleh orang lain. Makanya aku bisa ada di sana tadi, putriku." Xiao Qi manggut-manggut mengerti. Memejamkan matanya dan menyadarkan kepalanya di d**a Tuan Qi. "Aku lelah, ayah. Boleh kah aku tidur sejenak?" Tuan Qi mengangguk. "Tidur lah, putriku." Pria tua itu terdiam melihat wajah terluka dan lelah anaknya namun di dalam hati dia berjanji akan menekankan ke seluruh penghuni kediaman Qi untuk tidak menyakiti putri kesayangannya jika tidak ingin ditendang keluar tanpa hormat. Ia akan melindungi Xiao Qi dengan baik mulai sekarang. Ia tidak akan membiarkan Xiao Qi terluka. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN