Elena memekik kaget melihat putranya begitu pucat dan banjir keringat dingin. Erland pun nampak gemetar, entah karena dingin atau memang sakit. Arlan sendiri langsung merapatkan tubuhnya memapah Erland, takut Erland tiba-tiba ambruk. Elena nyaris mengomel, namun Arlan memberi kode untuk tidak bicara dulu. Memarahi anak dikala sakit sepertinya bukan solusi terbaik. Erland tak banyak bicara. Ia sibuk meredam rasa sakit yang menikam nyaris setiap titik di tubuhnya. Dadanya berdebar cepat, terasa panas, nyeri, juga sesak. Perutnya mual. "A, tahan sebentar, ya? Ayah telfon dokter dulu," Arlan berujar pelan sembari membantu Erland berbaring di sofa. "Apa yang sakit, Sayang?" gantian Elena yang bertanya. Elena sebenarnya sangat marah pada putranya, karena nekat dan tak mau mendengar omongannya

