Erland berusaha mengatur napasnya yang tersenggal. Sesekali ia mengusap pelipisnya yang terus mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin, sementara sebelah tangannya tertahan di daerah perut. Perasaan cemas mencengkramnya begitu erat. Hari ini, entah untuk keberapa kalinya Erland terbungkuk di toilet dan membiarkan semua isi perutnya keluar begitu saja, bahkan hingga membuatnya kelelahan. Setelah dirasa cukup, Erland segera menegakkan tubuhnya. Ia sudah terlalu lama di dalam sini, sepuluh menit terakhir sebelum bel pulang, dan ia tahu Alvin pasti akan mencemaskannya, atau guru-guru bisa menganggapnya membolos. Wajah Erland semakin memucat begitu mendapati pintu toilet sulit dibuka. Berkali-kali ia mencoba membukanya sembari memberikan dorongan-dorongan kuat dengan harapan pintu bisa terbuka

