bc

ONE NIGHT STAND DENGAN DUDA MILYARDER

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
one-night stand
HE
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

One Night Stand dengan Duda Miliarder

Sepuluh tahun lalu, Keira Wilson kehilangan ibu yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Di hari pemakaman itu, ia sempat berpapasan dengan seorang pria asing yang juga sedang menguburkan cinta dalam hidupnya. Mereka hanya saling menatap sesaat, lalu berpisah tanpa mengetahui nama satu sama lain.

Pria itu adalah James Montgomery—CEO muda, miliarder, sekaligus duda yang bersumpah tidak akan pernah mencintai perempuan lain setelah kematian istrinya.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali.

Keira yang hidup dalam kesulitan kini bekerja di sebuah lounge eksklusif, sementara James tetap menjadi pria dingin yang hanya mendedikasikan hidupnya untuk perusahaan dan kedua putranya.

Sebuah malam yang tak terduga mengubah segalanya.

Satu kesalahan.

Satu rahasia.

Dan satu hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Ketika James berusaha melupakan malam itu, Keira justru harus menghadapi kenyataan yang akan mengikat hidup mereka selamanya.

Akankah James mengingkari janji yang pernah ia ucapkan di depan makam mendiang istrinya?

Atau justru takdir telah memilih Keira untuk mengembalikan hati pria yang telah lama membeku?

Karena terkadang... satu malam mampu mengubah seluruh sisa hidup seseorang.

chap-preview
Pratinjau gratis
Episode1
Sepuluh Tahun Lalu Langit di atas Greenwood Memorial Cemetery diselimuti awan kelabu. Awan-awan tebal menggantung rendah, menutupi cahaya matahari sore yang seharusnya masih menyisakan sedikit kehangatan. Angin musim gugur bertiup pelan, menggoyangkan pepohonan maple yang berjejer rapi di sepanjang jalan setapak menuju area pemakaman. Daun-daun merah, jingga, dan keemasan berjatuhan satu demi satu, berputar di udara sebelum mendarat di atas batu nisan marmer putih yang berdiri sunyi. Udara terasa begitu dingin hingga menusuk tulang. Namun, tidak seorang pun benar-benar memedulikan hawa musim gugur sore itu. Karena kehilangan selalu terasa lebih menyakitkan daripada dinginnya cuaca. Suara doa dari pendeta menggema pelan di antara keheningan. Isak tangis keluarga dan kerabat bercampur dengan embusan angin, menciptakan suasana yang begitu memilukan. Semua orang berdiri mengelilingi sebuah makam yang tanahnya masih tampak merah dan basah, pertanda bahwa seseorang baru saja dimakamkan beberapa menit yang lalu. Di depan makam itu, seorang pria masih berlutut tanpa bergeming. Namanya James Montgomery. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu dikenal sebagai CEO termuda sekaligus pewaris tunggal Montgomery Group, sebuah konglomerasi multinasional yang bergerak di bidang properti, investasi, perhotelan, dan teknologi. Wajahnya kerap menghiasi majalah bisnis internasional. Banyak orang menganggap hidupnya sempurna. Kaya. Berpengaruh. Berwajah tampan. Memiliki keluarga harmonis. Namun sore itu... Semua gelar, kekuasaan, dan miliaran dolar yang dimilikinya tidak mampu membeli satu hal yang paling ia inginkan. Kesempatan untuk memeluk istrinya sekali lagi. Setelan jas hitam buatan Italia yang dikenakannya dipenuhi bercak tanah. Rambut hitamnya berantakan diterpa angin. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya tak pernah lepas dari batu nisan di hadapannya. Di atas marmer putih itu terukir sebuah nama. Sophia Montgomery. Perempuan yang dicintainya sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Perempuan yang menemaninya membangun Montgomery Group hingga menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar. Perempuan yang selalu percaya kepadanya bahkan ketika semua orang meragukannya. Dan... Ibu dari kedua putranya. "Sleep well... my love." Suara James terdengar serak. Nyaris tenggelam bersama hembusan angin. "Aku akan menjaga Leon dan Nathan." "Aku akan membesarkan mereka menjadi pria yang baik." "Seperti yang selalu kau inginkan." Dadanya kembali terasa sesak. Bayangan beberapa hari sebelumnya terus menghantuinya. Telepon dari rumah sakit. Suara dokter yang terdengar hati-hati. Lalu satu kalimat yang menghancurkan seluruh dunianya. "We're sorry, Mr. Montgomery... We did everything we could." Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Tak peduli berapa kali ia mencoba melupakannya. James memejamkan mata. Air mata pertama akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia jarang menangis. Bahkan sejak kecil. Namun kehilangan Sophia membuat benteng yang selama ini ia bangun runtuh seketika. "Aku juga berjanji..." Ia menarik napas panjang. "Tidak akan ada perempuan lain." "Tidak akan ada yang menggantikanmu." "Hatiku akan tetap menjadi milikmu." "Sampai akhir hidupku." Di belakangnya, keluarga Montgomery hanya mampu saling berpandangan. Ayah James menundukkan kepala. Ibunya menyeka air mata. Tak seorang pun berusaha menghentikan janji itu. Mereka tahu... James tidak pernah mengingkari ucapannya. Hari itu... Seorang miliarder muda tidak hanya menguburkan istrinya. Ia juga menguburkan harapan untuk mencintai perempuan lain. Tak lama setelah upacara pemakaman selesai, satu per satu para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Mobil-mobil hitam berjejer keluar dari gerbang Greenwood Memorial Cemetery, meninggalkan suasana yang semakin lengang. Namun James masih tetap berlutut. Ia belum sanggup melangkah pergi. Baginya, meninggalkan tempat itu terasa sama seperti meninggalkan Sophia untuk kedua kalinya. "Mr. Montgomery..." Suara pelan terdengar dari belakangnya. Butler keluarga Montgomery, Henry Collins, mendekat dengan langkah hati-hati. "Sudah hampir satu jam sejak semua tamu pulang." "Tuan Edward meminta Anda kembali ke mansion." James tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada nama yang terukir di batu nisan. Sophia Montgomery. Nama yang selama bertahun-tahun menjadi alasan ia pulang lebih cepat dari kantor. Nama yang selalu muncul pertama kali di layar ponselnya setiap pagi. Nama yang kini hanya bisa ia lihat di atas sepotong marmer dingin. "Aku belum siap." Suara James hampir tidak terdengar. Henry menghela napas pelan. Selama dua belas tahun mengabdi kepada keluarga Montgomery, baru kali ini ia melihat pria itu benar-benar kehilangan kendali atas emosinya. "Young Master..." "Leon dan Nathan menunggu Anda di rumah." Kalimat itu akhirnya membuat James menutup mata. Leon baru berusia dua belas tahun. Sedangkan Nathan masih delapan tahun. Dua anak laki-laki yang bahkan belum benar-benar mengerti arti kematian. Mereka masih menunggu ibunya pulang. Masih berharap pintu mansion terbuka dan Sophia datang membawa senyum hangat seperti biasanya. James merasakan dadanya kembali diremas. Ia perlahan berdiri. Kakinya terasa berat. Sangat berat. Namun ia tahu... Mulai hari ini, tidak ada lagi waktu baginya untuk larut dalam kesedihan. Ia bukan hanya seorang suami yang kehilangan istri. Ia adalah seorang ayah. Dan kedua putranya kini hanya memiliki dirinya. James menatap makam itu untuk terakhir kalinya. Kemudian mengangkat tangan kanannya perlahan. "Aku akan kembali." "Bukan hanya untuk mengunjungimu." "Tapi untuk menceritakan semua hal tentang anak-anak kita." "Setiap pencapaian mereka." "Setiap ulang tahun mereka." "Dan setiap kali mereka merindukanmu..." Senyum tipis yang dipenuhi luka terukir di wajahnya. "Karena bagiku..." "Kau tidak pernah benar-benar pergi." Setelah mengucapkan kalimat itu, James akhirnya berbalik. Langkahnya perlahan meninggalkan makam. Namun tanpa ia sadari... Di sisi lain pemakaman, takdir sedang menyiapkan pertemuan kecil yang kelak akan mengubah seluruh jalan hidupnya. --- Beberapa meter dari makam keluarga Montgomery, seorang gadis berseragam sekolah berdiri seorang diri di depan sebuah makam yang jauh lebih sederhana. Namanya Keira Wilson. Usianya baru tujuh belas tahun. Blazer abu-abu sekolah swasta masih melekat di tubuhnya. Sebuah ransel lusuh tergantung di bahunya. Rambut cokelat panjangnya berantakan tertiup angin, sementara mata birunya sembap akibat menangis sejak pagi. Tidak ada keluarga besar. Tidak ada karangan bunga mahal. Tidak ada puluhan pelayat. Hanya dirinya... Dan sebuah batu nisan sederhana. Di atasnya tertulis nama yang paling berarti dalam hidupnya. Grace Wilson. Ibunya. Perempuan yang membesarkannya seorang diri setelah ayahnya meninggal beberapa tahun sebelumnya. "Bunda..." Suara Keira bergetar. Air mata kembali mengalir tanpa bisa dihentikan. "Bagaimana Keira harus hidup sendirian?" Tak ada jawaban. Hanya desir angin yang memainkan daun-daun maple di sekelilingnya. Keira berjongkok. Jemarinya mengusap perlahan nama sang ibu yang terukir di batu nisan. "Kalau Bunda masih bisa mendengar..." "Tolong minta kepada Tuhan..." "Kirimkan seseorang yang mau menjaga Keira." Ia tersenyum pahit. Senyum yang lebih menyerupai luka daripada kebahagiaan. "Seseorang yang mencintai Keira..." "Seperti Ayah mencintai Bunda." Air mata kembali jatuh. Ia menundukkan kepala sebelum mengecup batu nisan itu dengan lembut. "I love you, Mom." "Aku harus berangkat sekolah." "Aku janji akan sering datang." Keira berdiri perlahan. Ia mengusap pipinya menggunakan lengan blazer. Meski hatinya hancur, hidup harus terus berjalan. Ia masih harus sekolah. Masih harus mencari pekerjaan sambilan. Masih harus bertahan hidup sendirian. Dengan langkah pelan, Keira meninggalkan makam ibunya. Namun pikirannya masih dipenuhi kenangan bersama sang ibu hingga ia sama sekali tidak memperhatikan jalan di depannya. Bruk! Tubuhnya menabrak seseorang. Keira kehilangan keseimbangan. Sebelum sempat jatuh, sebuah tangan besar dengan sigap menangkap lengannya. Jantungnya berdegup kencang. "I'm... I'm sorry." Keira langsung menundukkan kepala. James menatap gadis di hadapannya beberapa saat. Seragam sekolah. Wajah pucat. Mata yang merah karena terlalu banyak menangis. Kesedihan yang begitu dalam di usia yang masih sangat muda. Entah mengapa... Untuk sesaat James merasa seolah melihat bayangan dirinya sendiri. Sama-sama kehilangan seseorang yang paling dicintai. "Be careful," ucapnya singkat dengan suara rendah. Keira mengangguk cepat. "Thank you." Tak ada percakapan lain. James melanjutkan langkah menuju mobil hitam yang telah menunggunya. Keira berjalan ke arah halte bus yang berada di luar area pemakaman. Mereka berpisah begitu saja. Tanpa nama. Tanpa saling mengenal. Tanpa mengetahui bahwa takdir baru saja mempertemukan mereka untuk pertama kalinya. Tak seorang pun menyadari... Pertemuan singkat yang berlangsung kurang dari satu menit itu akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka berdua. Sepuluh tahun kemudian... Takdir akan mempertemukan mereka kembali. Bukan sebagai dua orang asing yang sama-sama berduka. Melainkan sebagai dua hati yang sama-sama terluka, dengan rahasia dan ujian yang jauh lebih rumit daripada kehilangan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
738.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
971.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook