Interview tak Biasa
Ruangan interview pagi ini terlalu rapi sampai terasa dingin. Meja kaca, kursi hitam, dan aroma kopi yang masih hangat di sudut meja.
Miko duduk santai, satu kaki menyilang, bolpoin diputar-putar di jari. Sementara di sisi lain, Zevan berdiri dekat jendela, tangan di saku, pandangannya lurus ke luar—seolah interview ini bukan hal penting.
Pintu diketuk dua kali.
“Masuk,” jawab Miko.
Zevi masuk tanpa tergesa. Langkahnya tenang, gak cari perhatian, tapi juga gak ragu. Dia duduk setelah dipersilakan, punggung tegak, mata lurus.
Miko menyeringai kecil.
“Zevi, ya? Santai aja. Kita gak makan orang.”
Zevi mengangguk pelan.
“Saya juga gak takut, Kak.”
Miko langsung ketawa pendek.
“Wah, enak nih. Jarang ada yang jawab gitu di sini.”
Zevan masih diam. Tapi matanya sempat bergeser, memperhatikan.
Miko buka map.
“Oke, kita langsung aja. Kenapa kamu pilih kerja di sini?”
Zevi gak buru-buru jawab. Dia lihat sekilas isi map di tangan Miko, lalu kembali menatap.
“Karena saya bisa kerja. Bukan karena nama perusahaan.”
Miko mengangkat alis.
“Singkat banget jawabannya.”
“Kalau terlalu panjang, biasanya malah bohong.”
Miko melirik Zevan.
“Gimana, Van? Mulai menarik?”
Zevan akhirnya bicara, suaranya datar.
“Kamu tipe yang gak suka basa-basi?”
Zevi menoleh. Tatapan mereka ketemu.
“Iya.”
“Berarti kamu tahu konsekuensinya.”
“Kalau gak cocok, ya gak usah diterima.”
Ruangan jadi agak hening.
Miko menahan senyum.
“Berani juga kamu ngomong gitu di depan CEO langsung.”
Zevi cuma mengangkat bahu tipis.
“Kalau dari awal harus pura-pura, nanti capek sendiri.”
Zevan mendekat sedikit dari jendela, sekarang berdiri di belakang kursi Miko.
“Kamu pikir kerja di sini gampang?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Saya tetap daftar.”
Jawaban itu gak panjang, tapi cukup bikin Miko nyengir lagi.
“Gue suka gaya lo,” gumamnya.
Zevan menatap beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
“Kalau kamu gak suka diatur?”
“Saya gak masalah diatur. Asal jelas.”
“Dan kalau gak jelas?”
“Saya bakal tanya. Atau perbaiki sendiri.”
Miko menepuk meja pelan.
“Ini sih bukan kandidat biasa.”
Zevan menarik kursi, akhirnya duduk.
“Oke. Satu lagi.”
Zevi menunggu.
“Kalau suatu hari kamu harus pilih antara kerja dan perasaan?”
Zevi diam sebentar. Lalu jawab tanpa ragu.
“Kerja.”
Miko langsung nyeletuk,
“Cepet banget jawabnya.”
Zevi tersenyum tipis, bukan senyum manis, lebih ke jujur.
“Perasaan bisa nyusul. Kerja enggak.”
Zevan menyandarkan tubuhnya.
“Menarik.”
Miko menutup map.
“Udah, Van. Kita gak bakal nemu yang lebih jujur dari ini hari ini.”
Zevan gak langsung jawab. Dia masih lihat Zevi, seolah lagi menimbang sesuatu yang gak tertulis di CV.
Beberapa detik.
“Besok mulai kerja.”
Zevi berkedip kecil.
“Cepat juga.”
Miko tertawa.
“Biasanya kita lama. Tapi buat lo, kita percepat.”
Zevi berdiri, merapikan tasnya.
“Terima kasih.”
Dia gak banyak basa-basi. Cuma anggukan kecil, lalu berbalik ke pintu.
Saat pintu hampir tertutup—
“Zevi.”
Dia berhenti. Menoleh.
Zevan menatapnya lurus.
“Jangan berubah.”
Zevi mengernyit sedikit.
“Kenapa?”
“Kalau berubah, jadi biasa.”
Zevi diam sebentar, lalu jawab santai,
“Saya gak pernah niat jadi luar biasa.”
Dia keluar.
Pintu tertutup pelan.
---
Miko langsung menoleh ke Zevan, senyum lebar.
“Cocok juga, Zevan–Zevi.”
Zevan mendengus pelan.
“Gak lucu.”
“Namanya aja udah cocok. Tinggal orangnya.”
“Kerja, Mik. Bukan main jodoh-jodohan.”
Miko berdiri, masih santai.
“Justru yang kayak gini biasanya gak direncanain.”
Zevan mengambil file di meja.
“Dia cuma karyawan.”
Miko mendekat sedikit, menepuk bahu Zevan.
“Iya. Sekarang.”
Zevan menepis ringan.
“Udah selesai?”
“Belum, gue masih pengen ngeledekin lo.”
“Kerjaan lo kurang banyak?”
“Kerjaan gue banyak. Hiburan gue dikit. Lo salah satunya.”
Zevan menghela napas.
“Ganggu.”
Miko cuma tertawa.
---
Beberapa minggu kemudian
Kantor mulai ramai. Jam kerja baru saja berjalan.
Zevi berjalan cepat sambil membawa file. Wajahnya tetap tenang, tapi langkahnya jelas menunjukkan dia lagi kesal.
Dia berhenti di depan ruangan Zevan tanpa mengetuk, langsung masuk.
Zevan mengangkat kepala dari laptop.
“Kamu gak pernah ngetuk?”
Zevi meletakkan file di meja.
“Kalau ngetuk, nanti dibilang lama.”
Zevan menyandarkan tubuhnya.
“Siapa yang bilang?”
“Kamu.”
Zevan mengerutkan kening.
“Kapan?”
“Minggu lalu. Rapat pagi.”
Zevan diam sebentar, lalu mengangguk tipis.
“Oh.”
Zevi menatapnya datar.
“Jadi sekarang saya masuk aja.”
Zevan menahan senyum kecil.
“Silakan.”
Zevi menunjuk file.
“Ini revisinya. Tapi saya ubah beberapa bagian.”
“Kamu ubah tanpa izin?”
“Saya kasih hasil, bukan alasan.”
Zevan membuka file, membacanya cepat.
Beberapa detik hening.
“Kamu yakin ini lebih baik?”
“Iya.”
“Kalau salah?”
“Saya tanggung.”
Zevan menutup file.
“Kamu selalu sesantai ini kalau ambil risiko?”
Zevi melipat tangan.
“Kalau takut terus, gak jalan.”
Zevan menatapnya lebih lama.
“Kamu gak capek berdebat sama atasan?”
“Saya gak berdebat. Saya jelasin.”
“Bedanya?”
“Kalau berdebat, dua-duanya pengen menang. Kalau jelasin, saya cuma pengen dimengerti.”
Zevan tersenyum tipis.
“Dan sekarang kamu merasa dimengerti?”
“Belum.”
Zevan berdiri, mendekat sedikit.
“Berarti kamu harus jelasin lagi.”
Jarak mereka jadi lebih dekat dari yang seharusnya.
Zevi sedikit mundur.
“Kalau terlalu dekat, susah jelasin.”
Zevan gak langsung mundur.
“Kamu terganggu?”
“Iya.”
Zevan akhirnya mundur setengah langkah.
“Baik.”
Zevi menghela napas kecil.
“Kalau gak ada yang perlu dibahas lagi, saya keluar.”
Zevan menyilangkan tangan.
“Ada.”
Zevi menunggu.
Zevan bicara santai,
“Kamu makan siang sama gue nanti.”
Zevi langsung mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena gue mau.”
“Itu bukan alasan.”
Zevan menatapnya lurus.
“Sekarang alasan.”
Zevi menggeleng pelan.
“Saya kerja di sini, bukan jadi teman makan siang.”
Zevan mendekat lagi, tapi kali ini lebih santai.
“Siapa bilang teman?”
Zevi diam sebentar.
“Terus?”
Zevan menjawab tanpa ekspresi,
“Pacar.”
Zevi langsung menatap tajam.
“Maaf?”
Zevan tetap tenang.
“Kamu pacar gue.”
Hening.
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.
Zevi menghela napas pelan.
“Kamu lagi bercanda?”
“Enggak.”
“Saya gak pernah setuju.”
“Gue juga gak pernah nanya.”
Zevi menatapnya, jelas kesal.
“Ini kantor, bukan tempat kamu asal ngomong.”
Zevan mengangguk santai.
“Makanya gue ngomong di sini. Biar jelas.”
“Gak jelas sama sekali.”
Zevan mendekat sedikit, suara tetap rendah.
“Gue suka sama lo.”
Zevi terdiam.
Zevan melanjutkan,
“So what?”
Kalimat itu jatuh begitu aja. Ringan, tapi kena.
Zevi menatapnya lama, seolah lagi nyari apakah ini serius atau cuma permainan.
“Kamu selalu kayak gini?”
“Kayak gimana?”
“Seenaknya.”
Zevan mengangkat bahu.
“Kalau soal lo, iya.”
Zevi menahan napas, lalu menggeleng kecil.
“Saya gak ngerti kamu.”
Zevan menjawab santai,
“Nanti juga ngerti.”
Zevi mengambil file di meja.
“Saya gak punya waktu buat hal yang gak jelas.”
Zevan menatapnya, kali ini lebih dalam.
“Justru ini yang paling jelas.”
Zevi berhenti di pintu.
“Buat kamu.”
Dia keluar.
Pintu tertutup.
Zevan berdiri diam beberapa detik, lalu tersenyum tipis—bukan karena menang, tapi karena akhirnya ada sesuatu yang gak bisa dia kontrol.
Dan anehnya… dia gak keberatan.